Anda di halaman 1dari 13

ANTI JAMUR

DI SUSUN OLEH :
Amalia Eka Saputri 15330013
Rahmadyaning Agustini 15330037
Siti Bariah 15330057
Aryati Mutmainnah 15330121
Pengertian Infeksi
Jamur

•Jamur merupakan organisme


uniseluler maupun multiseluler •Infeksi karena jamur disebut
(umumnya berbentuk benang mikosis, umumnya bersifat
disebut hifa, hifa bercabang- kronis. Mikosis ringan
cabang membentuk bangunan menyerang permukaan kulit
seperti anyaman disebut (mikosis kutan), tetapi dapat
miselium, dinding sel juga menembus kulit sehingga
mengandung kitin, eukariotik, menimbulkan mikosis subkutan.
tidak berklorofil.

• Penyakit yang disebabkan oleh jamur


biasanya akan tumbuh pada daerah-daerah
lembab pada bagian tubuh kita, diantaranya
seperti pada bagian ketiak, lipatan daun
telinga, jari tangan, kaki dan juga bagian
lainnya
Patofisiologi Infeksi Jamur
• Infeksi jamur ini dapat diawali dengan masuknya spora
ke dalam tubuh atau berlekatan terhadap permukaan
kulit. Infeksi sistemik umumnya diawali dengan
masuknya spora ke dalam organ tubuh seperti paru–paru
atau pada Candidiasin vulvovaginal infeksi dapat terjadi
karena spora masuk melalui lubang vagina.

• Pada dasarnya saat mikroorganisme ini masuk ke


dalam tubuh, tubuh memiliki sistem pertahanan tubuh
yang memungkinkan untuk melawan zat asing yang
masuk ke dalam tubuh.
Lanjutan…

• Pada kulit, mulut, usus halus, dan vagina seperti contohnya


Candida sp. Tetapi saat sistem pertahanan tubuh terganggu
maka dapat memungkinkan terjadinya infeksi oportunistik
seperti kandidiasis. Obat–obat seperti antibiotik kontrasepsi
oral dan imunosupresi dapat mengubah sistem pertahanan
tubuh. Penggunaan obat antineoplastik dan imunosupresan
akan memberikan kesempatan infeksi jamur sistemik
berkembang dengan cepat.
Obat Antijamur Untuk
Infeksi Sistemik

• Antijamur untuk infeksi sistemik dibedakan


menjadi beberapa golongan, antara lain :

1. Golongan imidazol 4. Golongan caspofungin

2. Golongan amfoterisin B 5. Golongan terbinafen

6. Golongan kalium
3. Golongan flusitosin
iodida
Obat Antijamur Untuk Infeksi Dermatofit
dan Mukokutan (Topikal)

1. Griseofulvin
2. Nistatin (Mikostatin)
3. Haloprogin
4. Kandisidin
5. Salep Whitfield
6. Natamisin
Contoh Obat Yang Sering
Digunakan Untuk Antijamur
1. Ketoconazol

b. Indikasi dan Kontraindikasi :


a. Mekanisme Kerja : Ketoconazol terutama efektif terhadap
Obat ini masuk ke dalam sel jamur histoplasmosis paru, tulang, sendi, dan
dan menimbulkan kerusakan pada jaringan lemak. Tidak dianjurkan untuk
dinding sel. Mungkin juga terjadi meningitis kriptokokus karena penetrasinya
gangguan sintetis asam nukleat atau kurang baik. Ketoconazol tidak bermanfaat
penimbunan peroksida dalam sel untuk kebanyakan infeksi jamur sistemik
yang merusak jamur. yang berat. Ketoconazol dikontraindikasikan
pada penderita yang hipersensitif, ibu hamil
dan menyusui serta penyakit hepar akut.
c. Dosis :

Takaran ketoconazol tergantung pada jenis infeksi, tingkat keparahannya,


serta bentuk obat yang diberikan.
• Krim dan sampo ketoconazol yang disarankan adalah dengan kandungan
2%. Krim ketoconazol umumnya dioleskan sebanyak 1-2 kali sehari pada
bagian yang terinfeksi dan sampo ketoconazol dapat digunakan sebanyak 1
kali sehari selama maksimal 5 hari.
• Sedangkan ketoconazol dalam bentuk tablet, diminum dengan dosis 200
mg per hari. Dosis ini bisa ditingkatkan oleh dokter hingga 400 mg apabila
dibutuhkan. Khusus untuk anak-anak, takaran ketoconazol oral akan
disesuaikan dengan berat badan pasien.
d. Farmakokinetik :
Ketoconazol merupakan antijamur pertama
yang diberikan peroral. Ketoconazol diabsorpsi
dengan baik melalui oral yang menghasilkan kadar
yang cukup untuk menekan pertumbuhan berbagai
jamur. Absorpsi obat ini akan menurun pH cairan
lambung yang tinggi. Setelah pemberian oral, obat
ini akan ditemukan dalam urin, kelenjar lemak, air
ludah, kulit yang mengalami infeksi, tendon, dan
cairan synovial.

e. Farmakodinamik :
Ketoconazol aktif sebagai antijamur baik
sistemik maupun nonsistemik yang efektif terhadap
Candidia, Cocsidioides immitis, Cryptococcus
neoformans, H. capsulatum, B. dermatitidis, Aspergillus,
dan Sporotrix spp.
2. Nistatin (Mikostatin)

a. Mekanisme Kerja : b. Indikasi dan Kontraindikasi :


Dengan jalan berikatan dengan sterol •Indikasi : nistatin digunakan
membran sel jamur, terutama terutama untuk infeksi kandida di
ergosterol. Oleh karena itu, terjadi kulit, selaput lendir, dan saluran
gangguan pada permeabilitas cerna. Paronikia, vaginitis, dan
membran sel jamur dan mekanisme kandidiasis di mulut, esofagus dan
transportnya. Akibatnya, sel jamur lambung biasanya merupakan
kehilangan banyak kation dan komplikasi dari penyakit darah yang
makromolekul. Resistensi dapat timbul ganas terutama pada pasien yang
karena menurunnya jumlah sterol mendapat pengobatan imunosupresif.
pada membran sel jamur atau terjadi •Kontraindikasi : penderita
perubahan sifat struktur atau sifat hipersensitif terhadap nistatin dan
ikatannya. wanita hamil trimester pertama.
c. Dosis :
• Dosis nistatin dinyatakan dalam unit, tiap 1 mg obat ini mengandung tidak
kurang dari 200 unit nistatin. Untuk pemakaian klinik tersedia dalam bentuk
krim, bubuk, salep, suspensi, dan obat tetes yang mengandung 100.000 unit
nistatin per gram atau per ml.
• Untuk pemakaian oral tersedia tablet 250.000 dan 500.000 unit. Tablet vagina
mengandung 100.000 unit nistatin. Untuk kandidiasis mulut pada dewasa
diberikan dosis 500.000-1.000.000 unit, 3 atau 4 kali sehari. Obat tidak
langsung ditelan tetapi ditahan dulu dalam rongga mulut. Pemakaian pada kulit
disarankan 2-3 kali sehari, sedangkan pemakaian tablet vagina 1-2 kali sehari
selama 14 hari.

d. Farmakodinamik :
Nistatin tidak memberikan efek terhadap bakteri atau protozoa, tetapi
secara in vitro menghambat banyak jamur termasuk kandida, dermatofit,
dan organisme yang dihasilkan oleh mikosis dalam badan manusia. Secara in
vivo, kerjanya terbatas pada permukaan dengan obat yang tidak diserap dan
dapat kontak langsung dengan ragi atau jamur. Secara in vivo, tidak
ditemukan resistensi terhadap nistatin, tetapi dapat ditemukan galur
kandida yang resisten terhadap nistatin.
e. Farmakokinetik :
Setelah pemberian oral, nistatin hanya sedikit
diabsorpsi dari saluran cerna. Pada dosis yang dianjurkan,
tidak akan terdeteksi dalam darah. Hampir seluruhnya
diekskresi melalui feses dalam bentuk tidak diubah.