Anda di halaman 1dari 55

FAJAR RESDIANA 4101414079 (01)

PUTRI WIJAYANTI 4101415044 (08)


DEA AMARA PARAMITA 4101415053 (12)
ANGGITA WINDAYANI P. 4101415062 (14)
PUJI LESTARI 4101415105 (23)
Integral Garis serupa dengan Integral tunggal,
tetapi memiliki karakteristik yang berbeda.
Integral Garis bukan diintegralkan pada
selang 𝒂, 𝒃 melainkan pada sebuah kurva.

Misalkan kurva tersebut adalah kurva C pada


bidang, mempunyai persamaan parametrik:

𝒙 = 𝒙(𝒕) 𝒚 = 𝒚(𝒕) 𝒂≤𝒕 ≤𝒃


Atau dapat dinyatakan dalam persamaan
vektor:

𝒓 𝒕 = 𝒙 𝒕 𝒊 + 𝒚(𝒕)𝒋
Anggap kurva C adalah kurva mulus, artinya
𝑟’(𝑡) 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑖𝑛𝑢 dan 𝑟’(𝑡) ≠ 0
Jika interval [a,b] dipartisi menjadi n selang bagian
(sub interval) berlebar sama (misal 𝑥𝑖 = 𝑥(𝑡𝑖 ) dan 𝑦𝑖 =
𝑦(𝑡𝑖 ))
Maka titik terkait 𝑃𝑖 (𝑥𝑖 , 𝑦𝑖 ) membagi kurva 𝐶 menjadi
𝒏 busur bagian dengan panjang ∆𝑆𝑖 dengan 𝑖 =
1, 2, … , 𝑛
Pilih titik sebarang 𝑃𝑖 ∗ (𝑥𝑖 ∗ , 𝑦𝑖 ∗ ) dalam
busur bagian ke- 𝑖 . (Hal ini
berkaitan dengan titik 𝑡𝑖 ∗ dalam
𝑡𝑖−1 , 𝑡𝑖 ).
Jika 𝒇 adalah sebarang fungsi dua
variabel yang daerah asalnya
mencakup kurva 𝐶 , maka kita
hitung 𝒇 di titik (𝑥𝑖 ∗ , 𝑦𝑖 ∗ ) ,
mengalikannya dengan panjang
busur bagian ∆𝑆𝑖 dan membentuk
penjumlahan :
𝑛

෍ 𝑓(𝑥𝑖 ∗ , 𝑦𝑖 ∗ )∆𝑆𝑖
𝑖=1
Definisi
Jika 𝑓 didefinisikan pada kurva mulus 𝐶, maka
integral garis dari 𝑓 sepanjang 𝐶 adalah

න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠 = lim ෍ 𝑓(𝑥𝑖 ∗ , 𝑦𝑖 ∗ )∆𝑆𝑖


𝐶 𝑛→∞
𝑖=1

Jika limit ini ada.


Ingat kembali di Kalkulus 2, untuk mencari
panjang busur S adalah
 Sesuai konsep di Kalkulus 2, untuk
mencari panjang busur S adalah

𝑏 2 2
𝑑𝑥 𝑑𝑦
𝑆=න + 𝑑𝑡
𝑎 𝑑𝑡 𝑑𝑡

• Sehingga Rumus yang digunakan untuk


menghitung Integral Garis adalah sebagai
berikut :
𝑏 2 2
𝑑𝑥 𝑑𝑦
න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠 = න 𝑓[𝑥 𝑡 , 𝑦 𝑡 ] + 𝑑𝑡
𝐶 𝑎 𝑑𝑡 𝑑𝑡
Jika 𝑠(𝑡) adalah panjang C antara
𝑟 𝑎 dan 𝑟(𝑏), maka
2 2
𝑑𝑠 𝑑𝑥 𝑑𝑦
= +
𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡

atau dapat ditulis:

2 2
𝑑𝑥 𝑑𝑦
𝑑𝑠 = + 𝑑𝑡
𝑑𝑡 𝑑𝑡
Intepretasi Geometri Integral Garis

Jika 𝑓 𝑥, 𝑦 ≥ 0 maka ‫𝑥 𝑓 𝐶׬‬, 𝑦 𝑑𝑠 mewakili luas


satu sisi “pagar” dalam gambar di bawah,
yang alasnya adalah C dan yang tingginya di
atas titik (𝑥, 𝑦) adalah 𝑓(𝑥, 𝑦)
Contoh Soal
 Hitung ‫ 𝐶׬‬2𝑥 + 𝑥 2 𝑦 𝑑𝑠 dengan C adalah
setengah bagian atas dari lingkaran
satuan 𝑥 2 +𝑦 2 = 1
Penyelesaian:
 Mengubah persamaan kurva C menjadi
persamaan parametric. Lingkaran satuan
dapat diparameterkan dengan persamaan
𝑥 = cos 𝑡, 𝑦 = sin 𝑡
Setengah bagian atas lingkaran dijabarkan
oleh selang parameter 0 ≤ 𝑡 ≤ 𝜋
y

𝑥 2 +𝑦 2 = 1
(𝑦 ≥ 0)

x
-1 0 1

Gambar kurva C yang merupakan setengah bagian


atas dari lingkaran satuan
 Sehingga

න 2 + 𝑥 2 𝑦 𝑑𝑠 = න (2 +𝑐𝑜𝑠 2 𝑡 sin 𝑡) 𝑠𝑖𝑛2 𝑡 + 𝑐𝑜𝑠 2 𝑡𝑑𝑡


𝐶
0
𝜋 𝜋

= න(2 +𝑐𝑜𝑠 2 𝑡 sin 𝑡) 1𝑑𝑡 = න(2 +𝑐𝑜𝑠 2 𝑡 sin 𝑡) 𝑑𝑡


0 0
𝜋 𝜋 𝜋 𝜋

= න 2 𝑑𝑡 + න (𝑐𝑜𝑠 2 𝑡 sin 𝑡) 𝑑𝑡 = න 2 𝑑𝑡 + න(𝑐𝑜𝑠 2 𝑡 sin 𝑡) 𝑑(cos 𝑡)


0 0 0 0
𝜋 𝑐𝑜𝑠 3 𝑡 𝜋
= 2𝑡 + −
0 3 0
2
= 2𝜋 +
3
Definisi integral garis dapat diperluas di
mana C terdiri atas beberapa kurva
mulus 𝐶1 , 𝐶2 , … , 𝐶𝑛 . Maka didefinisikan
integral dari 𝑓 sepanjang 𝐶 sebagai
jumlah integral dari 𝑓 sepanjang masing
– masing potongan mulus dari 𝐶:

න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠 = න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠 + න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠 + ⋯ + න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠
𝐶 𝐶1 𝐶2 𝐶𝑛
Contoh Soal

Hitung ‫ 𝐶׬‬2𝑥 𝑑𝑠 dengan C terdiri atas busur 𝐶1 parabola


𝑦 = 𝑥 2 dari (0,0) ke (1,1) diikuti oleh ruas garis vertical 𝐶2
dari (1,1) ke (1,2)

Penyelesaian:

Kurva C seperti pada gambar. 𝐶1 adalah grafik fungsi 𝑥


sehingga kita dapat memilih 𝑥 sebagai parameter dan
persamaan 𝐶1
Diperoleh
𝑥 = 𝑥, 𝑦 = 𝑥 2 , 0 ≤ 𝑥 ≤ 1
y
(1,2)

𝐶2

(1,1)

𝐶1

x
(0,0)

Gambar kurva C yang terdiri atas busur 𝐶1 parabola 𝑦 = 𝑥 2


dari (0,0) ke (1,1) diikuti oleh ruas garis vertical 𝐶2 dari (1,1)
ke (1,2)
 Sehingga

1 2 2
𝑑𝑥 𝑑𝑦
න 2𝑥𝑑𝑠 = න 2𝑥 + 𝑑𝑥
𝐶1 𝑑𝑥 𝑑𝑥
0
1
= ‫׬‬0 2𝑥 1 + 4𝑥 2 𝑑𝑥
3
1 2 1
= . (1 + 4𝑥 2 )2
4 3 0
5 5−1
=
6
Pada 𝐶2 kita pilih 𝑦 sebagai parameter, sehingga
persamaan 𝐶2 adalah
𝑥 = 1, 𝑦 = 𝑦, 1 ≤ 𝑦 ≤ 2
2 𝑑𝑥 2 𝑑𝑦 2
‫ 𝐶׬‬2𝑥𝑑𝑠 = ‫׬‬1 2(1) 𝑑𝑦
+
𝑑𝑦
𝑑𝑦
2
2
= ‫׬‬1 2 0 + 1𝑑𝑦
1
= 2𝑦
0
=2−0=2
5 5−1
Jadi, ‫ 𝐶׬‬2𝑥 𝑑𝑠 = ‫ 𝐶׬‬2𝑥𝑑𝑠 + ‫ 𝐶׬‬2𝑥𝑑𝑠 =
1 2 6
Jika 𝜌(𝑥, 𝑦) menyatakan kerapatan linear di titik (𝑥, 𝑦)
dari kawat tipis berbentuk seperti kurva 𝐶, maka massa
bagian kawat dari 𝑃𝑖−1 ke 𝑃𝑖 , sehingga massa total
kawat secara hampiran adalah σ 𝜌(𝑥𝑖∗ , 𝑦𝑖∗ )∆𝑠𝑖 yang
merupakan Jumlah Riemann. Jadi Massa Total
Kawat adalah limit dari jumlah riemann
𝑛

𝑚 = lim ෍ 𝜌(𝑥𝑖∗ , 𝑦𝑖∗ )∆𝑠𝑖 = න 𝜌 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠


𝑛→∞
𝑖=1 𝐶
Pusat Massa Kawat dengan fungsi kerapatan
terletak di titk 𝑥,ҧ 𝑦ത ,dengan:

1 1
𝑥ҧ = න 𝑥𝜌 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠 𝑦ത = න 𝑦𝜌 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠
𝑚 𝑚
𝐶 𝐶
Contoh Soal

Suatu kawat mengambil bentuk setengah


lingkaran 𝑥 2 + 𝑦 2 = 1, 𝑦 ≥ 0 , dan lebih
tebal dekat alasnya daripada dekat puncak.
Carilah pusat massa kawat jika kerapatan
linear di sebarang titik sebanding terhadap
jaraknya dari garis 𝑦 = 1.
Penyelesaian:
Diketahui: Suatu kawat mengambil bentuk setengah lingkaran
𝑥 2 + 𝑦 2 = 1, 𝑦 ≥ 0.
Ditanya: Pusat massa kawat jika kerapatan linear di sebarang titik
sebanding terhadap jaraknya dari garis 𝑦 = 1
Jawab:

Persamaan setengah lingkaran adalah 𝑥 2 + 𝑦 2 = 1.

Ubah persamaan lingkaran menjadi persamaan parametrik


dengan parameterisasi 𝑥 = cos 𝑡 dan 𝑦 = sin 𝑡 dengan 0 ≤ 𝑡 ≤ 1
dan kita telah menemukan bahwa 𝑑𝑠 = 𝑑𝑡 untuk kasus lingkaran.
Kerapatan linearnya adalah sebarang titik sebanding
terhadap jaraknya dari garis 𝑦 = 1 maka
𝜌 𝑥, 𝑦 = 𝑘 1 − 𝑦
dengan 𝑘 konstanta. Massa kawat diperoleh:

𝑚 = න 𝜌 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠
𝐶

= න 𝑘 1 − 𝑦 𝑑𝑠
𝐶
𝜋

= න 𝑘 1 − sin 𝑡 𝑑𝑡
0
𝜋
= 𝑘 𝑡 + cos 𝑡
0
=𝑘 𝜋−2
Dari persamaan di atas maka pusat massa:
1
𝑦ത = න 𝑦 𝜌 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠
𝑚
𝐶

1 න sin 𝑡 𝑑𝑡 = − cos 𝑡
= න 𝑦 𝑘 1 − 𝑦 𝑑𝑠
𝑘 𝜋−2
𝐶

𝑘 න 𝑠𝑖𝑛2 𝑡 𝑑𝑡
= න 𝑦 1 − 𝑦 𝑑𝑠
𝑘 𝜋−2
𝐶
1 − cos 2𝑡
1 =න 𝑑𝑡
= ‫׬‬ 𝑦 − 𝑦 2 𝑑𝑠, ingat 𝑦 = 𝑠𝑖𝑛 𝑡 2
𝜋−2 𝐶
𝜋
1 1 sin 2𝑡
= න sin 𝑡 − 𝑠𝑖𝑛2 𝑡 𝑑𝑡 = 𝑡−
𝜋−2 2 2
0
Maka diperoleh,
𝜋
1
𝑦ത = න sin 𝑡 − 𝑠𝑖𝑛2 𝑡 𝑑𝑡
𝜋−2
0
1 1 sin 2𝑡 𝜋
= − cos 𝑡 − 𝑡−
𝜋−2 2 2 0
1 𝜋 1 𝜋
= 1− − −1 = 2−
𝜋−2 2 𝜋−2 2
1 4−𝜋 4−𝜋
= =
𝜋−2 2 2(𝜋 − 2)

Berdasarkan simetri diperoleh 𝑥ҧ = 0 sehingga pusat massanya

4−𝜋
adalah 0,
2(𝜋−2)
Dua integral garis lain diperoleh dari penggantian ∆𝑆𝑖 dengan
∆𝑥𝑖 = 𝑥𝑖 − 𝑥𝑖−1 atau ∆𝑦𝑖 = 𝑦𝑖 − 𝑦𝑖−1 . Dua integral tersebut
disebut Integral garis 𝒇 sepanjang garis 𝑪 terhadap 𝒙 dan 𝒚
𝑛

න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑥 = lim ෍ 𝑓(𝑥𝑖∗ , 𝑦𝑖∗ )∆𝑥𝑖


𝑛→∞
𝐶 𝑖=1
𝑛

න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑦 = lim ෍ 𝑓(𝑥𝑖∗ , 𝑦𝑖∗ )∆𝑦𝑖


𝑛→∞
𝐶 𝑖=1

Sedangkan integral garis ‫𝑥 𝑓 𝐶׬‬, 𝑦 𝑑𝑠 disebut Integral Garis


terhadap Panjang Busur.
Integral garis terhadap 𝑥 dan 𝑦 juga dapat
dihitung dengan mengekspresikan semua dalam
𝑡: 𝑥 = 𝑥 𝑡 , 𝑦 = 𝑦 𝑡 , 𝑑𝑥 = 𝑥 ′ 𝑡 𝑑𝑡,
𝑑𝑦 = 𝑦 ′ 𝑡 𝑑𝑡 sehingga
𝑏

න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑥 = න 𝑓 𝑥 𝑡 , 𝑦(𝑡) 𝑥 ′ 𝑡 𝑑𝑡
𝐶 𝑎

න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑦 = න 𝑓 𝑥 𝑡 , 𝑦(𝑡) 𝑦 ′ 𝑡 𝑑𝑡
𝐶 𝑎
න 𝑃 𝑥, 𝑦 𝑑𝑥 + න 𝑄 𝑥, 𝑦 𝑑𝑦 = න 𝑃 𝑥, 𝑦 𝑑𝑥 + 𝑄 𝑥, 𝑦 𝑑𝑦
𝐶 𝐶 𝐶

Representasi vektor dari ruas garis yang berawal di 𝑟0


dan berakhir di 𝑟1 diberikan oleh

𝑟 𝑡 = 1 − 𝑡 𝑟0 + 𝑡𝑟1 0≤𝑡≤1
Dengan 𝑣 = 𝑟1 − 𝑟0
B
(Perhatikan Gambar
C
A di Samping).
 Nilai Integral Garis
terhadap panjang
busurnya tidak berubah
a b t walaupun orientasi kurva C
B dibalik, atau dapat ditulis

A -C න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠 = න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑠
−𝐶 𝐶

Hal ini dikarenakan, nilai ∆𝑆𝑖 selalu positif


Akan tetapi, nilai integral garis
terhadap 𝑥 dan nilai integral garis
terhadap 𝑦 mengalami perubahan
apabila orientasi kurva C dibalik.

න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑥 = − න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑥
−𝐶 𝐶

න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑦 = − න 𝑓 𝑥, 𝑦 𝑑𝑦
−𝐶 𝐶

Hal ini dikarenakan, nilai ∆𝑥𝑖 dan ∆𝑦𝑖


berganti tanda bila orientasi C dibalik
 Dipunyai kurva C dalam ruang yang
diberikan dalam persamaan parametrik

𝑥=𝑥 𝑡 𝑦=𝑦 𝑡 𝑧=𝑧 𝑡 𝑎≤𝑡≤𝑏

• Dalam persamaan vektor menjadi

𝑟(𝑡) = 𝑥(𝑡)𝒊 + 𝑦(𝑡)𝒋 + 𝑧(𝑡)𝒌


Definisi
Jika 𝑓 adalah fungsi tiga variabel yang
kontinu pada suatu daerah yang
memuat 𝐶, maka definisi integral garis 𝒇
sepanjang 𝑪 (terhadap panjang busur)
serupa dengan definisi integral garis
untuk kurva bidang.

න 𝑓 𝑥, 𝑦, 𝑧 𝑑𝑠 = lim ෍ 𝑓 𝑥𝑖∗ , 𝑦𝑖∗ , 𝑧𝑖∗ ∆𝑠𝑖


𝑛→∞
𝐶 𝑖=1
 Panjang C adalah

𝑏 2 2 2
𝑑𝑥 𝑑𝑦 𝑑𝑧
𝑠=න + + 𝑑𝑡
𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡
𝑎

Jika 𝑠(𝑡)adalah panjang 𝐶 antara 𝒓(𝑎)dan


𝒓(𝑏), maka
2 2 2
𝑑𝑠 𝑑𝑥 𝑑𝑦 𝑑𝑧
= + +
𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡

2 2 2
𝑑𝑥 𝑑𝑦 𝑑𝑧
𝑑𝑠 = + + 𝑑𝑡
𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡
 Sehingga diperoleh rumus untuk
menghitung integral garis
𝑏 2 2 2
𝑑𝑥 𝑑𝑦 𝑑𝑧
න 𝑓 𝑥, 𝑦, 𝑧 𝑑𝑠 = න 𝑓(𝑥 𝑡 , 𝑦 𝑡 , 𝑧(𝑡)) + + 𝑑𝑡
𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡
𝐶 𝑎

 Apabila dituliskan dalam notasi vektor diperoleh

න 𝑓 𝑥, 𝑦, 𝑧 𝑑𝑠 = න 𝑓 𝒓 𝑡 |𝒓′ 𝑡 | 𝑑𝑡
𝐶 𝑎

• Untuk Kasus khusus 𝑓 𝑥, 𝑦, 𝑧 = 1, didapatkan


𝑏

න 𝑑𝑠 = න |𝒓′ 𝑡 | 𝑑𝑡 = 𝑆 Dengan 𝑆 adalah


𝐶 𝑎 panjang kurva 𝐶.
• Dengan mengekspresikan semuanya dalam
bentuk parameter 𝑡:

𝑥 = 𝑥(𝑡) 𝑦 = 𝑦(𝑡) 𝑧 = 𝑧(𝑡)


𝑑𝑥 = 𝑥 ′ 𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑦 = 𝑦 ′ 𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑧 = 𝑧 ′ 𝑡 𝑑𝑡
• Integral garis sepanjang 𝐶 terhadap 𝑥, 𝑦, dan 𝑧 dapat
juga didefinisikan sebagai berikut
𝑏
න 𝑓 𝑥, 𝑦, 𝑧 𝑑𝑧 = න 𝑓 𝑥 𝑡 , 𝑦 𝑡 , 𝑧 𝑡 𝑧 ′ 𝑡 𝑑𝑡
𝐶 𝑎

𝑏
න 𝑓 𝑥, 𝑦, 𝑧 𝑑𝑥 = න 𝑓 𝑥 𝑡 , 𝑦 𝑡 , 𝑧 𝑡 𝑥 ′ 𝑡 𝑑𝑡
𝐶 𝑎

𝑏
න 𝑓 𝑥, 𝑦, 𝑧 𝑑𝑦 = න 𝑓 𝑥 𝑡 , 𝑦 𝑡 , 𝑧 𝑡 𝑦 ′ 𝑡 𝑑𝑡
𝐶 𝑎
Apabila integral garis terhadap 𝑥, 𝑦, dan 𝑧
terjadi bersama, maka berdasar sifat
integral diperoleh:

න 𝑃 𝑥, 𝑦, 𝑧 𝑑𝑥 + න 𝑄 𝑥, 𝑦, 𝑧 𝑑𝑦 + න 𝑅 𝑥, 𝑦, 𝑧 𝑑𝑧
𝐶 𝐶 𝐶

= න (𝑃 𝑥, 𝑦, 𝑧 𝑑𝑥 + 𝑄 𝑥, 𝑦, 𝑧 𝑑𝑦 + 𝑅 𝑥, 𝑦, 𝑧 𝑑𝑧)
𝐶
 Kerja yang dilakukan oleh gaya variabel 𝑓(𝑥)
dalam menggerakkan partikel dari 𝑎 ke 𝑏
𝑏
sepanjang sumbu- 𝑥 adalah 𝑊 = ‫ 𝑥𝑑 )𝑥(𝑓 𝑎׬‬.
Kemudian kita menemukan bahwa kerja yang
dilakukan oleh gaya konstan 𝐹 dalam
menggerakkan benda dari titik 𝑃 ke titik lain 𝑄 di
ruang adalah 𝑊 = 𝐹. 𝐷 , dengan 𝐷 = 𝑃𝑄 ,
merupakan vektor simpangan (perpindahan).
Andaikan F = P𝐢 + Q𝐣 + R𝐤 adalah
medan gaya kontinu pada R3 . Kita
akan menghitung kerja yang dilakukan
oleh gaya ini dalam menggerakkan
partikel sepanjang kurva mulus C.
Z
𝐅i∗ xi∗ , yi∗ , zi∗

𝑇(𝑡𝑖∗ )

Pi-1 Pi Pn
0 𝑷i xi , yi , zi Y
∗ ∗ ∗ ∗

P0
X
Kita bagi 𝐶 menjadi busur bagian 𝑃𝑖−1 𝑃𝑖
dengan panjang ∆𝑆𝑖 dengan cara membagi
selang parameter 𝑎, 𝑏 menjadi selang bagian
berlebar sama. Pilih titik 𝑃𝑖∗ 𝑥𝑖∗ , 𝑦𝑖∗ , 𝑧𝑖∗ pada
busur bagian ke-𝑖 yang berkaitan dengan nilai
paramater 𝑡𝑖∗ . Jika ∆𝑆𝑖 kecil, maka ketika
partikel bergerak dari 𝑃𝑖−1 ke 𝑃𝑖 sepanjang
kurva, busur bagian ini maju kira-kira dalam
arah 𝑻 𝑡𝑖∗ , vektor singggung satuan di 𝑃𝑖∗ . Jadi,
kerja yang dilakukan oleh gaya 𝑭 dalam
menggerakkan partikel dari 𝑃𝑖−1 ke 𝑃𝑖 adalah:

Fi∗ xi∗ , yi∗ , zi∗ . ∆Si 𝐓 t ∗i = Fi∗ xi∗ , yi∗ , zi∗ . 𝐓 t ∗i ∆Si
 Kerja total yang dilakukan dalam
mengerakkan partikel sepanjang 𝐶adalah
n

෍ 𝐅i∗ xi∗ , yi∗ , zi∗ . 𝐓 t ∗i ∆Si


i=1
 Kerja 𝑾 yang dilakukan oleh medan gaya 𝑭
didefinisikan sebagai limit dari jumlah Riemann

W = න 𝐅(x, y, z) . 𝐓 x, y, z ds = න 𝐅 . 𝐓 ds
C C
 Persamaan diatas mengatakan bahwa kerja
adalah integral garis terhadap panjang busur dari
komponen tangensial (singgung) dari gaya.
Jika kurva C diberikan oleh persamaan vektor 𝐫 t =
𝐫′(t)
x t 𝐢 + y t 𝐣 + z t 𝐤, maka 𝐓 t = , berdasarkan
𝐫′ t

b
persamaan ‫׬‬C f x, y, z ds = ‫׬‬a 𝐅 𝐫 t |𝐫 ′ t | dt, diperoleh:

b
𝐫′(t) ′
W=න 𝐅 𝐫 t . ′ |𝐫 t | dt
a 𝐫 t
b
= න 𝐅(𝐫 t ) . 𝐫 ′ t dt
a
Definisi
Misalkan 𝐅 adalah medan vektor kontinu
yang terdefinisi pada kurva mulus C yang
diberikan oleh fungsi vektor 𝐫 t , a ≤ t ≤ b.
Maka integral garis dari 𝐅 sepanjang 𝐂
adalah:
b
න 𝐅 . d𝐫 = න 𝐅 𝐫 t . 𝐫 ′ t dt = න 𝐅 . 𝐓 ds
C a C

Di mana 𝐅 𝐫 t = 𝐅 x t , y t , z t , d𝐫 = 𝐫 ′ t dt
Misalkan medan vektor 𝐅 pada 𝑅3
diberikan dalam bentuk komponen oleh
persamaan 𝑭 = 𝑃𝐢 + 𝑄𝐣 + 𝑅𝐤 . Integral
garisnya sepanjang C yaitu:

b
න 𝐅 . d𝐫 = න 𝐅 𝐫 t . 𝐫 ′ t dt
C a
𝑏
= න ( 𝑃𝐢 + 𝑄𝐣 + 𝑅𝐤). 𝒙′ 𝒕 𝒊 + 𝒚′ 𝒕 𝒋 + 𝒛′ 𝒕 𝒌 𝒅𝒕
𝑎
𝑏
= න ( 𝑃 𝑥 𝑡 , 𝑦 𝑡 , 𝑧 𝑡 𝑥′(𝑡) + 𝑄 𝑥 𝑡 , 𝑦 𝑡 , 𝑧 𝑡 𝑦′(𝑡)
𝑎
+ 𝑅 𝑥 𝑡 , 𝑦 𝑡 , 𝑧 𝑡 𝑧′(𝑡))
Sehingga persamaan tersebut dapat
disederhanakan

න 𝑭 . 𝑑𝒓 = න 𝑃 𝑑𝑥 + 𝑄 𝑑𝑦 + 𝑅 𝑑𝑧
𝐶 𝐶
dengan 𝐹 = 𝑃 𝑖 + 𝑄 𝑗 + 𝑅 𝑘
Contoh Soal:
Carilah kerja yang dilakukan oleh medan
gaya 𝐹 𝑥, 𝑦 = 𝑥 2 𝑖 + 𝑥𝑦 𝑗 dalam
menggerakkan partikel sepanjang
seperempat lingkaran 𝑟 𝑡 = cos 𝑡 𝑖 + sin 𝑡 𝑗,
𝜋
0 ≤ 𝑡 ≤ 𝑦.
2

𝑥
0 1
Penyelesaian:

Karena 𝑥 = cos 𝑡 dan 𝑦 = sin 𝑡, kita mempunyai


𝐹 𝑟 𝑡 = 𝑐𝑜𝑠 2 𝑡 𝑖 − cos 𝑡 sin 𝑡 𝑗
dan
𝑟 ′ 𝑡 = − sin 𝑡 𝑖 + cos 𝑡 𝑗
Karena itu, kerja yang dilakukan adalah
𝜋 𝜋
2 2
න 𝐹 . 𝑑𝑟 = න 𝐹 𝑟 𝑡 . 𝑟 ′ 𝑡 𝑑𝑡 = න (−2𝑐𝑜𝑠 2 𝑡 sin 𝑡) 𝑑𝑡
𝐶 0 0
𝜋
𝑐𝑜𝑠 3 𝑡2 2
=2 ቉ =−
3 0 3
 Teorema 1 (Teorema Dasar Kalkulus)

𝑏
න 𝐹 ′ 𝑥 𝑑𝑥 = 𝐹 𝑏 − 𝐹(𝑎)
𝑎

Dengan 𝐹′ kontinu pada 𝑎, 𝑏

Kita juga menyebut Teorema 1 sebagai


teorema perubahan total: Integral laju
perubahan adalah perubahan toal.
• Teorema 2 (Teorema Dasar Integral Garis)
Misalkan C adalah kurva mulus yang diberikan
oleh fungsi vektor 𝑟 𝑡 , 𝑎 ≤ 𝑡 ≤ 𝑏. Misalkan
𝑓 adalah fungsi dua atau tiga variabel yang
vektor gradiennya 𝛻𝑓 kontinu pada C, maka

න 𝛻𝑓 ∙ 𝑑𝑟 = 𝑓 𝑟 𝑏 − 𝑓(𝑟 𝑎 )
𝑐

Teorema 2 mengatakan bahwa kita dapat


menghitung integral garis dari medan Vektor
konservatif (medan vektor gradien dari fungsi
potensial f) cukup dengan mengetahui nilai f di titik-
titik ujung C. Nyatanya, Teorema 2 mengatakan
bahwa integral garis dari 𝛻𝑓 adalah perubahan total
dalam f.
Jika 𝑓 adalah fungsi dua variabel dan C
adalah kurva bidang dengan titik awal
𝐴(𝑥1 , 𝑦1 ) dan titik akhir 𝐵(𝑥2 , 𝑦2 ) , maka
teorema 2 menjadi

න 𝛻𝑓. 𝑑𝑟 = 𝑓 𝑥2 , 𝑦2 − 𝑓(𝑥1 , 𝑦1 )
𝐶

𝐴(𝑥1 , 𝑦1 ) 𝐵(𝑥2 , 𝑦2 )

0 𝑥
𝐶
Jika 𝑓 adalah fungsi tiga variabel dan 𝐶 adalah
kurva ruang yang menghubungkan titik 𝐴(𝑥1 , 𝑦1 , 𝑧1 )
dan 𝐵(𝑥2 , 𝑦2 , 𝑧2 ) maka kita mempunyai :

න 𝛻𝑓. 𝑑 𝑥 𝑑𝑥 = 𝑓(𝑥2 , 𝑦2 , 𝑧2 ) − 𝑓(𝑥1 , 𝑦1 , 𝑧1 )


𝐶
𝑧

𝐴(𝑥1 , 𝑦1 )
𝐶 𝐵(𝑥2 , 𝑦2 )

0
𝑦

𝑥
Kebebasan Lintasan
Jika 𝐹 merupakan medan vektor kontinu
dengan daerah asal 𝐷, kita katakan bahwa
integral garis ‫𝐹 𝑐׬‬. 𝑑𝑟 adalah bebas lintasan
jika ‫𝑓𝛻 𝑐׬‬. 𝑑𝑟 = ‫𝑓𝛻 𝑐׬‬. 𝑑𝑟 untuk sembarang
1 2
dua lintasan 𝐶1 dan 𝐶2 di 𝐷 yang
mempunyai titik awal dan titik akhir sama.
Dengan istilah ini kita dapat mengatakan
bahwa integral garis dari medan vektor
konservatif adalah bebas lintasan.
• Kurva disebut tertutup jika titik akhirnya
berimpit dengan titik awalnya yaitu 𝑟(𝑏) =
𝑟(𝑎)

Kurva Tertutup
Jika ‫ 𝐹 𝐶׬‬. 𝑑𝑟 adalah bebas lintasan dalam 𝐷,
kita dapat memilih sebarang dua titik A dan B
pada C dan memandang C sebagai sedang
dibangun dari lintasan 𝐶1 mulai dari A ke B
diikuti oleh lintasan 𝐶2 mulai dari B ke A.
𝐶2

𝐴
𝐶1

න 𝐹 . 𝑑𝑟 = න 𝐹 . 𝑑𝑟 + න 𝐹 . 𝑑𝑟 = න 𝐹 . 𝑑𝑟 − න 𝐹 . 𝑑𝑟 = 0
𝐶 𝐶1 𝐶2 𝐶1 −𝐶2

Karena 𝐶1 dan −𝐶2 mempunyai titik awal dan titik akhir


yang sama
• Teorema 3
‫ 𝑟𝑑 ∙ 𝑭 𝐶׬‬adalah bebas lintasan dalam D jika
dan hanya jika ‫ = 𝑟𝑑 ∙ 𝑭 𝐶׬‬0 untuk setiap
lintasan tertutup 𝐶 dalam 𝐷.

• Teorema 4
Andaikan 𝑭 adalah medan vektor yang kontinu
pada daerah terhubung terbuka 𝐷.
Jika ‫ = 𝑟𝑑 ∙ 𝑭 𝐶׬‬0 adalah bebas lintasan dalam 𝐷,
maka 𝑭 adalah medan vektor konservatif pada 𝐷,
yakni terdapat fungsi 𝑓 sedemikian rupa sehingga
𝛻𝑓 = 𝑭

Anda mungkin juga menyukai