Anda di halaman 1dari 64

POLITIK HUKUM KENOTARIATAN

DR. EVITA ISRETNO ISRAHADI,SH. MH. M.Si


A. BASIS IDEOLOGIS.

Ideologi sebagai perangkat nilai – tidak lain


dari nilai-nilai, konsep-konsep, dan gagasan-
gagasan melalui mana dan dengan cara apa
sekelompok manusia memahami diri mereka dan
dunia di mana mereka hidup.

Sebuah Ideologi adalah sesuatu yang apriori


sifatnya. Ia berupa visi dan cita-cita. Dan karena
merupakan visi dan cita-cita, maka ia bersifat
NORMATIF sekaligus KONSTITUTIF.
• NORMATIF berfungsi sebagai prasyarat
transedental yang mendasari tiap keputusan atau
kebijakan. Menjadi landasan dan sekaligus tolok ukur
segala tindakkan.

• KONSTITUTIF berfungsi mengarahkan segala


kebijakan pada tujuan yang ingin dicapai.

• Ideologi berfungsi sebagai GUIDING PRINCIPLE,


norma kritik, dan nilai yang memotivasi tiap tindakkan
dan pilihan yang akan diambil.
• Perbedaan klaim nilai-nilai yang dianggap
sentral dan hakiki (ideologi) di balik tiap
sistem, memunculkan perbedaan, tidak
saja tataran isi norma hukum, tetapi juga
pada kontent asas, tujuan dari suatu
sistem hukum.
B.BASIS NORMATIF.

Politik Hukum berbicara tentang “apa yang


seharusnya” what must terhadap what is.
Politik Hukum bertugas menilai kenyataan
sekaligus merubahnya ke arah yang benar,
baik dan adil. Oleh karena itu butuh
kerangka Normatif tentang apa yang benar,
apa yang baik, dan apa yang adil – yang
mesti diperjuangkan dan diwujudkan.
Menurut ahli filsafat dalam kerangka normatif yang
disebut benar, baik dan adil, antara lain :

Immanuel Kant ada 2 (dua) patokan yang benar :

Pertama – Benar, jika apa yang kita lakukan itu


dapat berlaku sebagai hukum yang bersifat
universal apa yang kita lakukan itu benar, apabila
dimanapun dan kapanpun adalah yang seharusnya
dilakukan siapapun.
Kedua – benar, apabila kita memperlakukan manusia )
orang lain atau diri kita sendiri), di dalam setiap hal, sebag
tujuan, dan bukan sekedar alat suatu tindakkan itu past
salah, apabila ia memperlakukan manusia sebagai obyek
bukan subyek yang penuh sebagai manusia.

Bertindak menurut hukum, prinsip, norma obyektif adalah


benar. Menaati prinsip berarti benar. Melanggar prinsip,
berarti salah.
Thomas Aquinas ada 3 (tiga) kategori keadilan :

Pertama – ius distributiva (keadilan distributif), yang menunjuk


pada prinsip “kepada yang sama diberikan yang sama, kepada
yang tidak sama diberikan yang tidak sama pula
Kesederajatan Geometris.

Kedua – iustita commutativa (keadilan komutatif), menujuk


pada keadilan berdasarkan prinsip aritmetis, yaitu penyesuain
yang harus dilakukan apabila terjadi perbuatan yang tidak
sesuai dengan hukum.
Ketiga iustita legalis (keadilan hukum), yang menunjuk pada
ketaatan terhadap hukum.
C. BASIS KONSTITUSIONAL.

Fokus Konstitusi hakikatnya sebagai hukum


dasar, yang di satu pihak mengatur dan membatasi
kekuasaan, dan di lain pihak serentak menjamin
hak dan kepentingan warga negara/rakyat.

Dalam konstitusi pula, secara teoritis, memuat


tujuan-tujuan bersama yang hendak dicapai dalam
kehidupan berbangsa, bernegara, dan
bermasyarakat,
Konstitusi merupakan hukum tertinggi yang menjadi
titik tolak dan batu uji semua produk hukum di
bawahnya.

Sesuai prinsip STUFENBAU (HANS KELSEN)


Konstitusi menjadi dasar justifikasi validitas
peraturan perundang-undangan di bawahnya.

Untuk disebut hukum yang valid, maka peraturan


perundang-undangan tidak boleh bertentangan
dengan konstitusi.
Hakikat Konstitusi sebagai :

Kumpulan kaidah tentang pembatasan


kekuasaan negara terhadap rakyat.

Dokumen tentang pembagian tugas dari


lembaga-lembaga negara.

Deskripsi kerangka kerja bagi lembaga-lembaga


negara.

Penegasan HAM rakyat yang diperintah.


D. BASIS MORAL

Politik Hukum memerlukan basis moral, karena


kebijakan yang mutu dan berorientasi pada
perubahan bagi kepentingan orang banyak,
hanya bisa lahir dari lembaga/pengambil
keputusan yang memiliki tingkat kesadaran moral
yang mumpuni,
Bahwa basis moral yang dibutuhkan
dalam pengelolaan politik hukum
adalah “moralitas taat asas”,
“moralitas akal kritis” dan
“moralitas hati nurani”.
1. Politik Hukum dalam Ajaran Plato

Plato hukum sebagai sarana keadilan.

The Philosopher Kings sebagai pemimpin negara. Karena


mereka adalah orang-orang pilihan – kaum arif bijaksana, maka
di bawah pemerintahan dimungkinkan adanya partisipasi
semua orang dalam gagasan keadilan.

Bahwa tanpa hukumpun, keadilan bisa dimungkinkan tercipta,


sebab kaum arif bijaksana ini pasti mewujudkan THEORIA
(pengetahuan dan kebijaksanaan terbaiknya) dalam tindakkan.
Kaum arif tidak saja memerintah secara
bijaksana dan adil, melainkan juga menjadi
guru moral bagi warganya.

Dalam negara yang dipimpin para guru


moral inilah, maka manusianya yang
menjadi warganya dimungkinkan mencapai
kesempurnaan jiwa, dalam arti menjadi
pelaku dan serentak penikmat keadilan.
Tapi ketika negara tidak lagi dipimpin oleh mereka
kaum arif dan bijaksana, sehingga tidak mungkin
adanya partisipasi semua orang dalam keadilan.

Di sinilah Plato mengusulkan pentingnya hukum.

Hukum dibutuhkan sebagai sarana keadilan.

Sarana keadilan melawan ketidakadilan penguasa


yang serakah, korup dan kesewenang-wenangan.
Untuk memastikan tercapainya tujuan tersebut, maka hukum
yang membawa misi keadilan itu, haruslah :

PERTAMA aturan-aturan hukum mesti dihimpun dalam satu


kitab, supaya tidak kekacauan hukum.

KEDUA setiap undang-undang harus didahului Preambule


tentang motif dan tujuan undang-undang tsb. Manfaatnya agar
setiap orang dapat mengetahui dan memahami kegunaan dan
menaati hukum tersebut.
KETIGA tugas hukum adalah membimbing para
warga negara pada suatu hidup yang saleh dan
sempurna.

KEEMPAT orang yang melanggar undang-


undang harus dihukum. Tapi hukuman tersebut
bukan balas dendam, melainkan memperbaiki
sikap moral si penjahat.
2. Politik Hukum dalam Ajaran
Agustinus

Ajaran Agustinus nilai-nilai deligere


(dihargai dan dicintai) dan delicto
proximi (mengasihi sesama). Kedua
nilai tersebut sebagai bagian dari
keadilan.
Idealisme Agustinus tentang “komunitas cinta kasih”
sebagai jalan menuju tercapainya hidup bersama
yang damai.
Komunitas ini merupakan agenda untuk melawan
rezim regnum – yang menunjuk pada kerajaan
Romawi – sebagai segerombolan perampok karena
tidak memiliki keadilan.

Tujuan akhir dari perjuangan ini terwujudnya


“masyarakat cinta kasih” sebagai jalan menuju
tercapainya hidup bersama yang damai.
3. Politik Hukum dalam Ajaran Aquinas.

Ada 2 (dua) ajaran Aquinas berkaitan dengan Politik


Hukum :

Usahanya melawan sistem hukum yang melegalkan


faham patrimonial dalam kekuasaan berdasarkan hak
milik perdata (every man must have a lord).

Hukum merupakan produk akal sehat, bukan kehendak


yang arbitrer.
Distingsi ini penting dalam rangka mencegah
penyusupan kepentingan selera, dan nafsu
para pembuat dan pelaksana hukum ke dalam
ruang hukum.

Peluang penyusupan ini terbuka lebar


mengingat hukum merupakan produk politik,
dan pelaksanaannya pun dijalankan oleh
lembaga kekuasaan.
3. Karena hukum ditujukan bagi kebaikan dan
kesejahteraan umum, maka isi pelaksanaannya
harus dapat diterima akal sehat semua orang.

4. Hukum perlu dipublikasikan karena ia


mengandung aturan yang memandu hidup manusia,
maka aturan itu mesti mereka ketahui agar memiliki
nilai kewajiban.
Teori Aquinas tentang hukum :
Hukum dan perundang-undangan harus rasional dan
masuk akal karena ia merupakan aturan dan ukuran
tindakkan manusia.

Hukum ditujukan bagi kebaikan umum. Karena hukum


merupakan aturan bagi perilaku, dan karena tujuan
dari segala perilaku itu adalah kebahagiaan, maka
hukum mesti ditujukan bagi kebaikan bersama.
4. Politik Hukum dalam Ajaran Thomas Hobbes
Politik Hukum dalam ajaran Thomas Hobbes
terletak pada upaya teoritisnya mencegah konflik total
dalam masyarakat
kecenderungan alamiah manusia mementingkan egonya.

Dalam gambaran Hobbes, manusia sejak zaman purbakala


dikuasai oleh nafsu-nafsu alamiah, dan tidak care pada soal-
soal keadilan, karenanya bayang-bayang bellum omnium
contra omnes selalu menghantui mereka.
Menghadapi realitas yang demikian, hukum harus
mengambil peran menentukan, terutama untuk
menjamin keamanan tiap individu dalam masyarakat.

Jaminan keamanan dimaksud, merupakan kebutuhan


bersama dari tiap individu, sehingga melalui kontrak
sosial, mereka bersedia menyerahkan kebebasannya
kepada penguasa untuk mengatur kehidupan bersama
yang damai.
• Menurut Hobbes, hukumlah yang merupakan
instrumen paling pokok untuk mencapai tujuan
bersama yang damai.

• Dalam dimensi Politik Hukum, maka hukum


ditugaskan mengemban misi mulia dan khusus
untuk mewujudkan common goal masyarakat,
yakni hidup damai, dan tidak saling memangsa
(homo homoni lupus).
Untuk mencapai hidup yang damai tsb,harus dapat
dipastikan bahwa hukum benar-benar berfungsi efektif
melindungi keamanan individu-individu warga
masyarakat.

Agar hukum berfungsi efektif,maka dibutuhkan


pemerintah dengan kekuasaan besar untuk menjalankan
hukum tsb, tanpaadakekuasaan pemerintah yang efektif
dan kuat, maka tiap orang akan mengandalkan
kekuatannya sendiri.
Menurut Hobbes :
tanpa kekuasaan yang efektif, maka
hukum dan keadilan sama-sama
tidak memiliki makna.

Di mana tidak ada kekuasaan, di situ


tidak ada hukum. Dan di mana tidak
ada hukum, di situ tidak ada
keadilan.
• 5. Politik Hukum Menurut Locke :
• negara wajib menghormati dan serentak menjaga hak-hak tersebut
agar tidak terciderai.
• Instrumen yang paling efektif untuk mengawal dan menjaga
kelestarian hak-hak dimaksud, adalah hukum.
• Negarapun harus tunduk pada hukum yang melindungi hak-hak
alamiah tsb.
• Maka parlemenlah yang harus membuat hukum, khususnya aturan
yang menyangkut tiga hak tsb.
• Hak rakyat (lewat parlemen) menyusun undang-undang adalah
bersifat primer, asli dan tidak bisa dicabut.
Jadi sistem hukum yang dibutuhkan untuk
menjamin hak-hak alamiah tsb, adalah Sistem
Hukum Kodifikasi yang dibuat parlemen yang
berisi pelestarian masyarakat dan pelestarian tiap
anggota masyarakat, melarang menghancurkan
hidupnya, dan melarang merampas hidup dan
kekayaan orang lain.
Menurut Locke :
-prinsip posisi rakyat/parlemen dalam fungsi legislasi
-produk undang-undang yang dihasilkan parlemen pun
tidak dapat diganggu gugat
- asas undang-undang tidak dapat diganggu gugat.

Yudikatif hanya bertugas menjalankan saja apa yang


dirumuskan dalam undang-undang
la bouche de la lois (hakim merupakan mulut undang-
undang) dan hakim harus menuruti secara harfiah apa
kata undang-undang (les juges suivent la lettre de lois)
6. Politik Hukum dalam Ajaran Montesquieu
:
dimensi politik hukum untuk menjamin hak dan
kebebasan politik warga negara,
yaitu hak warga negara untuk melakukan apapun
yang diperbolehkan oleh hukum, dan hak warga
negara memperoleh rasa aman.
Dalam hal ini tugas hukum adalah menjaga dan mengawal hak-
hak tersebut.

Untuk memastikan bahwa hak-hak itu aman, maka harus dihindari


pemusatan kekuasaan dalam negara.

Kekuasaan membuat hukum (LEGISLATIF) tidak boleh berada di


satu tangan dengan kekuasaan yang melaksanakan hukum
(EKSEKUTIF) maupun dengan kekuasaan yang mengadili
(YUDIKATIF). Fungsi pemisahan tsb dilakukan agar terjadi chek
and balances.
Bagan dari implementasi teori Trias Politica
Dalam gagasan TRIAS POLITICA :
Rakyat diposisikan sebagai pemegang kekuasaan negara.
Dan melalui parlemen dengan kekuasaan legislasinya,
kepentingan rakyat dapat terwakili secara baik.

Jadi pemisahan kekuasaan dalam Trias Politica demi


memperoleh kepastian bahwa kebebasan warga negara tidak
diciderai.
Montesquie : pemisahan kekuasaan yang ketat di antara tiga
kekuasaantsb, merupakan prasyarat kebebasan politik bagi
warga negara.
Bagan pergeseran teori Trias Politica dalam negara hukum
modern/welfare state
7. Politik Hukum dalam Ajaran Karl Marx
Dalam gagasan Karl Marx : menghilangkan struktur yang
menindas dalam hubungan ekonomi (ketimpangan ekonomi).

Perjuangan Marx untuk menghilangkan struktur yang menindas


tsb (termasuk penindasan yang terselubung dalam hukum),
merupakan proyek politik hukum
Menurut Marx: keadaan yang penuh penindasan dan
penghisapan harus dihapus.

Maka negara dan hukum dipakai sebagai alat perjuangan


demi terciptanya masyarakat egaliter.

Dalam masyarakat egaliter, tidak ada ada lagi eksploitasi,


karena semua diatur bersama.

Tidak ada lagi pemilikan modal (alat produksi) secara


pribadi, baik oleh individu maupun kelompok.
Modal dimiliki secara kolektif oleh semua anggota
masyarakat.
Untuk mewujudkan hal tersebut hukum yang
dikendalikan oleh diktator proletariat, dibutuhkan
untuk membantu kaum buruh merealisasi sejarah,
yakni masyarakat sosialis sempurna.

Hukum itu harus dipegang oleh diktator proletariat


supaya bisa cepat dan efektif melaksanakan misi
proletariat.
• Nilai politik hukum dalam pemikiran Marx
pada agenda kritiknya, yaitu:
• menggunakan hukum untuk mengadakan
perubahan menuju yang lebih baik tapi bukan
pada revolusi proletariatnya melainkan pada
penggunaan hukum untuk memperbaiki keadaan
demi kepentingan umum.
• 8. Politik Hukum dalam Teori Henry Maine
• Movement from Status to Contract secara
implisit memiliki implikasi pada politik hukum
bahwa tingkat perkembangan masyarakat
menentukan tipe hukum yang dibutuhkan untuk
melayani masyarakat tersebut.
Menurut Maine :
• Dalam masyarakat tradisional yang beruang lingkup
sempit dan lokal (static societis), di mana anggota-
anggotanya ter stratifikasi dalam lapisan-lapisan sosial
yang serba berjenjang menurut status, maka hukum
hanya bertugas meneguhkan hubungan-hubungan
antar status.

• Di sini hak dan kewajiban dibagi-bagi secara


berbeda (diskriminatif) menurut kriteria “status
bawaan” masing-masing.
Persoalan menjadi lain sama sekali, mana kala struktur-struktur status
yang bersifat feudal mulai luntur, berkaitan dengan meningkatnya
interdependensi antara segmen-segmen social dalam kehidupan ekonomi
(progressive societis).

Di sini hubungan-hubungan yang berbasis prestasi, keahlian, dan


kompetensi menjadi lebih menonjol.

Manusia tidak lagi dilihat dari segi “bawaannya” atau “status’nya, tapi
dari prestasi yang dibuatnya. Prestasi harus dibalas kontraprestasi
Teori Maine :
• Mendorong adanya politik hukum tertentu yang kondusif
untuk menangani masalah-masalah khas dalam suatu
masyarakat sesuai tingkat pertrumbuhannya.

• Jika yang diinginkan adalah sebuah masyarakat yang maju,


modern, produktif dan efisien, maka dibutuhkan hukum yang
lebih objektif dan rasional demi memudahkan hubungan-
hubungan kontraktual yang berbasis kebutuhan masyarakat
modern.
• Politik hukum harus mengarahkan dan
mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki
untuk menopang kebutuhan dan tujuan masyarakat
tersebut, bukan sebaliknya mengijinkan perangkat-
perangkat hukum yang justru menghambat kebutuhan
dan tujuan masyarakat yang bersangkutan.
• 9. Politik Hukum dalam Teori Gustav Radbruch
keadilan sebagai CORE dari tata hukum.
• Hukum sebagai pengemban nilai keadilan, menjadi ukuran bagi
adil dan tidak adilnya tata hukum.

• Tidak hanya itu, nilai keadilan juga menjadi dasar dari hukum
sebagai hukum.

• Dengan demikian, keadilan memiliki sifat normatif sekaligus


konstitutif hukum. Ia normatif, karena berfungsi sebagai prasyarat
transedental yang mendasari tiap hukum positif yang bermartabat.
• Dalam konteks Politik Hukum Radbruch >>>keadilan
merupakan titik sentral dalam hukum.
• Adapun dua aspek lainnya >>>KEPASTIAN dan
FINALITA/KEMANFAATAN, bukanlah unit yang
berdiri sendiri dan terpisah dari keadilan.
• Kepastian dan Kemanfaatan harus diletakan dalam
kerangka keadilan itu sendiri. Sebab tujuan keadilan
adalah untuk memajukan kebaikan dalam hidup manusia.
• Pemikiran Radbruch:
Fungsi kepastian hukum, tiada lain adalah memastikan
bahwa hukum (yang berisi keadilan dan norma-norma
yang memajukan kebaikan manusia), benar-benar
berfungsi sebagai peraturan yang ditaati.

Dengan adanya kepastian hukum bahwa aturan-aturan itu


ditaati, maka keadilan benar-benar mendatangkan
manfaat bagi kebaikan manusia, baik sebagai individu
maupun sebagai komunitas.
10. Politik Hukum dalam teori Talcott Parsons.
• Menurut Parsons :
Peranan tatanan normatif (hukum), merupakan
unsur paling depan dari integrasi sebuah sistem.

Ia harus menjinakkan sub-sub sistem yang lain


agar bisa berjalan sinergis tanpa saling
bertabrakan.

Hukum memiliki tugas khusus menjamin


integrasi dalam sebuah sistem atau masyarakat.
• Parsons :
sebuah sistem (keluarga, masyarakat, ataupun negara),
selalu terdiri dari 4 subsistem, yaitu :
-subsistem budaya/nilai-nilai,
-subsistem politik/otoritas
-subsistem ekonomi.
-subsistem norma/hukum,
Untuk menjaga berjalannya keempat subsistem tersebut ,
hukum ditugaskan menata keserasian dan gerak sinergis dari
tiga subsistem yang lainnya hukum sebagai sarana integrasi
Mengapa posisi hukum begitu penting dalam menjalankan fungsi
integrasinya ?
Menurut Parsons : Tiap-tiap subsistem memiliki logika, mekanisme,
dan tujuan yang berbeda.

Di satu sisi, subsistem budaya cenderung konservatif dan setia


mempertahankan pola-pola ideal.
Pada sisi yang lain, subsistem ekonomi sangat dinamis dan cenderung
melahirkan terobosan-terobosan baru yang bisa saja asing dan liar dari
ukuran pola-pola ideal budaya.

Sedangkan subsistem politik senantiasa mencari berbagai cara untuk


mencapai tujuan – yang boleh jadi cara-cara yang dipakai tidak sesuai
dengan pola budaya dan realitas sumberdaya materil.
11. Politik Hukum dalam Teori Bredemeir.

Terletak pada peran pengadilan dalam melahirkan


putusan-putusan yang berbobot bagi terjaminnya
integrasi sistem bahwa fungsi hukum adalah untuk
menyelesaikan konflik-konflik yang timbul dalam
masyarakat
Kedudukan hukum sebagai suatu institusi yang
melakukan pengintegrasian terhadap proses-proses
yang berlangsung dalam masyarakat, menyebabkan
hukum harus terbuka menerima masukan-masukan
dari bidang ekonomi, politik dan budaya, untuk
kemudian diolah menjadi keluaran-keluaran yang
produktif dan berdayaguna.
Kesimpulan dari Politik Hukum dalam teori
Bredenmeir

Bahwa putusan-putusan pengadilan yang harus


menyumbang manfaat bagi subsistem2 yang lain,
baik untuk subsistem politik, budaya, maupun
ekonomi. Tujuan akhirnya adalah, menjamin
integrase dan kelangsungan hidup sistem.
12.Politik HukumdalamTeori Roscoe Pound
Hukum tidak boleh dibiarkan mengambang dalam
konsep-konsep logis-analitis atau tenggelam dalam
ungkapan-ungkapan teknis yuridis yang terlampau
eksklusif. Sebaliknya hukum itu harus membumi dalam
dunia nyata, yaitu dunia sosial yang penuh sesak dengan
kebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang saling
bersaing.
Fokus utama Pound dengan konsep social
engineering adalah interest balancing, dan
karenanya yang terpenting adalah tujuan akhir
dari hukum yang diaplikasikan dan mengarahkan
masyarakat kearah yang lebih maju
Kesimpulannya :

Hukum sebagai sarana social engineering (law as tool of


social engineering), tertuju pada penggunaan hukum
secara sadar untuk mencapai tertib atau keadaan
masyarakat sebagaimana dicita-citakan.
Hukum tidak lagi dilihat sekedar sebagai
tatanan penjaga status quo, tetapi diyakini
sebagai sistem pengaturan untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu secara terencana, yakni
terciptanya masyarakat beradab yang
produktif, minim konflik, dan tidak boros.
SELESAI UNTUK SESI INI

SAMPAI JUMPA PADA SESI


BERIKUTNYA

Anda mungkin juga menyukai