Anda di halaman 1dari 33

KEBIJAKAN

PENGENDALIAN ISPA

dr. Nani Rizkiyati, M.Kes


Subdit ISPA. Dit. PPPL. Kemenkes RI
Jambi, 29 April 2014
INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA):
Infeksi akut yang menyerang salah satu bagian/lebih dari saluran napas mulai
hidung-alveoli termasuk adneksanya (sinus, rongga telinga tengah, pleura)

RUANG LINGKUP
1. Pengendalian Pneumonia Balita.
2. Pengendalian ISPA umur ≥ 5 tahun
3. Kesiapsiagaan dan Respon Pandemi Influenza serta penyakit saluran
pernapasan lain yang berpotensi wabah.
4. Faktor risiko ISPA.

INDIKATOR & TARGET

INDIKATOR
2015 2016 2017 2018 2019
Prosentase Kab/Kota yang 50%
Puskesmasnya melakukan
PROSES Tatalaksana Standar melalui 20 30 40 50 60
Pendekatan MTBS
Cakupan Penemuan Pneumonia Balita
OUTPUT 100 100 100 100 100
Prosentase Kab/kota degan cakupan
penemuan pneumonia balita minimal
RPJMN 80% 20 20 20 20 20
Dasar Hukum
• Undang – undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
• PP Nomor 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit;
• Permenkes Nomor 1144/MENKES/PER/VIII/2010 Tentang Organisasi
Dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan RI;
• Permenkes Nomor 1501/Menkes/Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit
Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya
Penanggulangan;
• Kepmenkes Nomor 1537A/MENKES/SK/XII/2002 tentang Pedoman
Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut
Penanggulangan Pneumonia Pada Balita
• Kepmenkes RI Nomor 1371/Menkes/SK/IX/2005 tentang Penetapan
Penyakit Avian Influenza (Flu Burung) sebagai Penyakit yang Dapat
menimbulkan Wabah;
• Kepmenkes RI No. 1372/Menkes/SK/IX/2005 tentang Penetapan
Kondisi Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung (Avian Influenza);
• Kepmenkes Nomor 300/MENKES/SK/IV/2009 tentang Pedoman
Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza
BALITA DI Pembunuh Balita di Dunia
Pneumonia
Pneumonia adalah Infeksi akut yang mengenai
jaringan paru-paru (alveoli)

WHO, 2011:1,3 juta kematian (14% dari seluruh


kematian balita) karena pneumonia.
WHO, Unicef, 2012 : Dari 6,6 juta balita yang
meninggal di dunia 1. 1 juta meninggal
akibat pneumonia
WHO, Unicef, 2013 : setiap 30 detik seorang balita
meninggal krn pneumonia ~ 1,054 juta
99% kematian pneumonia anak terjadi di negara
berkembang
Target MDGs_4 : reduksi 2/3 kematian bayi/Balita
pada akhir tahun 2015

Situasi di Indonesia :
• Indonesia: penyebab kedua kematian Balita (32.2%),
Riskesdas 2007
• Period prevalence* bayi 2.20% & 1.4% (Riskesdas
2007 & 2013)
• Period prevalence* Balita 2.13% & 1,85% (Riskesdas
2007 & 2013)
• Proporsi pada balita : 9,4 % (SRS, 2014)

http://worldpneumoniaday.org
PNEUMONIA
Faktor Risiko

Pencegahan
<<< ASI Paparan polusi
Gizi kurang
Eksklusif udara luar

 IMUNISASI
DPT- HIB
Pneumokok (PCV)
Campak

 Asupan gizi seimbang


Berat badan Kepadatan Tidak adanya  Pemberian ASI eksklusif
lahir rendah penduduk imunisasi  Hindari paparan asap rokok dan
polusi udara
Diagnostik,
Promotif Preventif Kuratif
Rehabilitatif

 Imunisasi :
 ANC,  DPT,
 Diagnostik : Hitung
 ASI eksklusif, nafas & lihat TDDK,
 Campak,
Kadar O2
 Gizi,  Hib,
 Kuratif : Antibiotik,
 PHBS,  Pneumokok
O2 terapi
 polusi udara (belum jadi
 Deteksi dini program)

6
TINDAK LANJUT STRATEGI KE DEPAN
•Perbaikan metode perhitungan
TANTANGAN - Mengirimkan umpan balik
sasaran penemuan
secara berkala
- Melakukan sosialisasi & bimtek •Merangkul organisasi profesi
terintegrasi secara berjenjang (IDI/IDAI, IBI, PPNI) dalam
•Komitmen - Melakukan review dengan ahli sosialisasi penemuan dan
(termasuk pengendalian ISPA tatalaksana
pendanaan) - Menggalang dukungan
•Meningkatkan KIE kepada
•SDM organisasi profesi
- Memasukkan dalam Pre service nakes dan masyarakat
•Pelaporan •Koordinasi lintas program &
training untuk pendidikan
•Sasaran dokter dan nakes lainnya lintas sektor (MTBS,
penemuan kasus - Memperbaharui dasar Lingkungan, anti rokok dll)
•Koordinasi LP - LS penghitungan target cakupan
•Meningkatkan peran serta
•Peran serta dan penemuan Pneumonia Balita
masyarakat
berdasarkan evidence (hasil
kemandirian SDKI dan Riskesdas) •Meningkatkan
masyarakat - Meningkatkan awareness surveilans/sistem pencatatan
masyarakat dan nakes melalui dan pelaporan
media KIE, seminar, World
•Memasukkan ke dalam
Pneumonia Day (12 Nov)
kurikulum pendidikan
kesehatan/kedokteran
FIGHT PNEUMONIA
SAVE CHILDREN LIVE
TAHUN ISPA-PHEIC
1918 FLU SPANYOL (A H1N1)-KEMATIAN 40-50 JUTA JIWA
1957 FLU ASIA (A H2N2)- KEMATIAN 4-5 JUTA JIWA
1968 FLU HONGKONG (A H3N2)-KEMATIAN SATU JUTA
JIWA
2003 SARS-SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROME
2005- FLU BURUNG H5N1
SEKARANG
2009 PANDEMI INFLUENZA A BARU H1N1-DERAJAT
KEPARAHAN SEDANG
PANDEMI INFLUENZA JARANG TERJADI
TETAPI CENDERUNG BERULANG
DALAM RANGKA KESIAPSIAGAAN

PENGEMBANGAN
SURVEILANS ISPA BERAT
INDONESIA (SIBI)
PENGANTAR
Kegiatan surveilans epidemiologi & virologi ISPA Berat termasuk
influenza musiman, kasus baru influenza seperti H5, H7, dan
Middle-East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS CoV).
Tujuan: informasi epidemiologi & virologi ISPA berat sebagai
refferensi pengambil kebijakan untuk pengendalian penyakit dalam
kondisi rutin maupun pandemi.
Batasan ISPA Berat; demam ≥ 38°C atau riwayat demam; dan
disertai dengan semua gejala atau kondisi (batuk, gejala timbul
tidak lebih dari 10 hari, memerlukan perawatan rumah sakit)
Lokasi: 1. RSUD Deli Serdang, Sumatera Utara
2. RSUD Wonosari, DI Yogyakarta
3. RSUD Provinsi NTB, Mataram
4. RSD Prov Kaltim dr Kanujoso, Balipapan
5. RSUD dr. M. Haulussy, Maluku
6. RSUD Bitung, Sulawesi Utara
SIBI SENTINEL SITES & REFFERAL LABORATORY

: Hospital
: CBBTH Laboratory

Lokasi Kegiatan SIBI


(Surveillans ISPA Berat di Indonesia)
Proporsi Kasus Influenza Berdasarkan Kelompok Umur,
Surveilans ISPA Berat di Indonesia (SIBI):
1 Mei 2013 – 31 Januari 2015
100%

90%

80%
Proporsi kasus Influenza

70%

60%

50%
40%
40%
38%

30%
28%
21%
20% 15%
11% 10% 11% 11%
10% 6% 6%
3%
0%
< 1 tahun 1 - 4 tahun 5 - 14 tahun 15 - 49 tahun 50 - 64 tahun >65 tahun

% Kasus SIBI % Positif Influenza

Kasus ISPA Berat banyak ditemukan pada kelompok umur 1 – 4 tahun (38%),
< 1 tahun (28%), dan 5 – 14 tahun (15%). Kasus influenza banyak diidentifikasi
pada kelompok umur 1-4 tahun (40%).
Grafik 1. Jumlah Kasus ISPA Berat dan Proporsi spesimen ISPA Berat positif influenza berdasarkan
subtipe virus,
Surveilans ISPA Berat (SIBI): Mei 2013 - Februari 2015
40 60%

35
50%
30
40%
25
Jumlah Kasus

20 30%

15
20%
10
10%
5

0 0%
18 21 24 27 30 33 36 39 42 45 48 51 2 5 8 11 14 17 20 23 26 29 32 35 38 41 44 47 50 53 3 6
Minggu Epidemiologi
2013 2014 2015
Flu B A(H3N2) A (H1N1)pdm09 Negatif % Influenza Positif
MERS – CORONA VIRUS
 Penyakit sindroma pernapasan yang disebabkan oleh
virus Corona yang menyerang saluran pernapasan
mulai dari ringan s/d berat
 Gejala : demam, batuk dan sesak nafas, bersifat akut,
biasanya pasien memiliki penyakit ko-morbid
(penyakit penyerta)
 Kemungkinan penularannya dapat melalui :
Langsung : melalui percikan dahak (droplet) pada saat
pasien batuk atau bersin.
Tidak Langsung : melalui kontak dengan benda yang
terkontaminasi virus
 Vaksin belum tersedia.
 Pengobatan yang bersifat spesifik belum ada, dan
pengobatan yang dilakukan tergantung dari kondisi
pasien.

 Pencegahan :
 PHBS,
 menghindari kontak erat dengan penderita,
menggunakan masker,
SITUASI GLOBAL Situasi Nasional
(data 23 April 2015)
(DATA 15 APRIL 2015)

Jumlah kasus sampai dengan Minggu ke 15


Tahun 2015: 1106 kasus, 421 kematian (CFR
38,06%) - Data per tanggal 15 April 2015.
 Kasus pada tahun 2014
sumber:
 Total kasus dalam investigasi Mers-
http://apps.who.int/ihr/eventinformation/ CoV pada tahun 2014 sebanyak
event/2012-e000288 199 orang. Hasil pemeriksaan lab:
196 negatif, 2 tidak diambil
spesimen, 1 tidak dapat diperiksa
Menjangkiti 25 negara:
 WNI positif Mers-CoV sebanyak 2
Jordania, Kuwait, Oman, Qatar, Saudi orang.
Arabia, Uni Emirat Arab, Mesir,
Perancis, Jerman, Belanda, Italia,
Inggris (UK), Yunani, Austria, Turki,  Kasus pada tahun 2015
Amerika Serikat, Tunisia, Philipina, Hasil lab: 29 Negatif (kss dlm
Malaysia, Libanon, Iran, Yaman,
Aljazair, Tunisia investigasi)
Global (WHO)
 Belum merupakan PHEIC
 Mengapa menjadi perhatian ?
Virus ini dapat menyebabkan infeksi serius
pada manusia dan kematian
Dapat menyebar lewat perjalanan
internasional
WNI banyak yg menunaikan ibadah haji,
umrah, TKI, dll
Kasus tidak hanya di Jeddah tapi sampai
dengan di Mekkah, Madinah, yang merupakan
kota-kota yang dikunjungi Jemaah Indonesia.
STRATEGI
 Penguatan Koordinasi lintas program dan lintas
Sektor.
 Advokasi dan Sosialisasi
 Surveilans di pintu masuk ke Indonesia
 Surveilans di Pelayanan Kesehatan Dasar dan
Rumah Sakit
 Penguatan jejaring laboratorium
 Komunikasi Risiko /KIE
 Penguatan kapasitas
 Tata laksana kasus
 Pengendalian Infeksi
TATALAKSANA KLINIS & PENGENDALIAN
INFEKSI
Dari 100 rumah sakit rujukan flu burung -> hanya 19 yang
siap melayani kasus khususnya Ebola (terkait ruang
isolasi) yaitu :
RS Lokasi RS Lokasi
1. RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh 11. RSU Ulin Banjarmasin
2. RSU Adam Malik Medan 12. RSU Dr. Wahidin S Makassar
3.perlu
RSU M.direview
Jamil kembali
Padangtentang SOP merawat
13. RSU Prof. Kandaudan Manado
merujuk
4.kasus suspek
RSU Abdul Moeloek Bandar Lampung 14. RSU Johanes Kupang
5. RSU Dr. Sarjito Yogyakarta 15. RSU Aloe Saboe Gorontalo
6. RSU dr. Kariadi Semarang 16. RSU Kendari Kendari
7. RSU Dr, Soetomo Surabaya 17. RSU Jayapura Jayapura
8. RSU Sanglah Denpasar 18. RSPI SS Jakarta
9. RSU dr. Sudarso Pontianak 19. RSUP Persahabatan Jakarta
10. RSU Dr. Kanujoso Balikpapan
SARAN
JAMAAN HAJI/UMROH PETUGAS KESEHATAN
Meningkatkan kewaspadaan dan deteksi
1. Menjaga perilaku hidup
bersih dan sehat dini akan munculnya kasus MERS CoV

2. Cukup istirahat
Meningkatkan dan menerapkan infection
3. Jangan merokok control di pelayanan kesehatan
4. Rajin mencuci tangan dengan
sabun (CTPS)
5. Bila mungkin menghindari
kerumunan bila tidak
gunakan masker
6. Bila batuk agar tutup mulut
dengan tisu atau lengan
7. Kalau ada infeksi saluran
pernapasan agar berobat ke
fasilitas kesehatan terdekat
MARI PERKUAT
SDM

Kemitraan &
jejaring
Tatalaksana

Pemberdayaan
masyarakat Dana

Logistik RR
PENYAKIT VIRUS EBOLA
 Salah satu penyakit demam berdarah virus yang sering
berakibat fatal pada manusia dan primata (s.d 90%)
 Virus Ebola ditularkan melalui kontak langsung (melalui kulit
yang terluka atau membran mukosa) dengan darah, cairan
tubuh, dan jaringan orang atau hewan (simpanse, gorila,
monyet, antelop hutan, kelelawar buah) terinfeksi
 Masa inkubasi 2-21 hari, belum ada vaksin , belum ada
pengobatan spesifik

 Gejala : demam mendadak, lemah, nyeri otot, sakit


kepala, sakit tenggorokan, diikuti dengan
muntah, diare, ruam, gangguan fungsi ginjal
dan hati, dalam beberapa kasus terjadi
perdarahan internal maupun eksternal,
dapat timbul kapan saja, umumnya 8-10
hari setelah terinfeksi
PENCEGAHAN

 Hindari kontak langsung dengan orang sakit, terutama dengan


gejala penyakit virus ebola
 Hindari kontak dengan hewan penular yang sakit atau mati,
Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), termasuk Cuci Tangan
Pakai Sabun (CTPS)
 Mengkonsumsi makanan yang diolah dengan baik
 Dalam waktu 21 hari setelah bepergian dari daerah terjangkit
dan mengalami sakit (demam) maka segera mencari
pertolongan ke sarana pelayanan kesehatan terdekat
STRATEGI UPAYA PERLINDUNGAN
JAMAAH HAJI
• Komunikasi risiko dan promosi kesehatan kepada
masyarakat secara berkala melalui media (leaflet,
banner, website, dll) 1. Menyampaikan komunikasi risiko dan promosi
kesehatan kepada calon jamaah haji
• Peningkatan kegiatan pemantauan di pintu masuk mempraktekkan PHBS
negara Penguatan surveilans epidemiologi di wilayah
2. Mengkonsumsi makanan yang diolah dengan baik
• Penyusunan pedoman pengendalian
3. Segera cari pertolongan ke sarana pelayanan
• Pemberitahuan ke dinas kesehatan (provinsi, kesehatan terdekat bila timbul gejala sakit.
kab/kota) dan rumah sakit tentang kesiapsiagaan
menghadapi penyakit virus ebola, disampaikan secara 4. Menghindari kontak dengan jamaah haji dari
berkala sesuai perkembangan negara terjangkit yang menderita gejala penyakit
• Menyiapkan laboratorium rujukan yaitu Balitbangkes, virus ebola (demam tinggi mendadak, nyeri otot,
termasuk penyediaan reagen dan alat diagnostik nyeri kepala, ruam, manifestasi perdarahan, dll).
• Menyiapkan rumah sakit rujukan, sesuai RS rujukan flu 5. Bagi jamaah haji yang mengalami gejala sakit
burung penyakit virus ebola dalam masa 21 hari setelah
kepulangan, agar segera mencari pertolongan ke
• Khusus dalam rangka penyelenggaraan ibadah haji, sarana pelayanan kesehatan terdekat.
disiapkan pelayanan kesehatan haji di seluruh
embarkasi/debarkasi haji dan memberikan pembekalan 6. Melakukan deteksi dini di pintu masuk negara
kepada seluruh petugas kesehatan haji dalam terhadap jamaah sakit yang bergejala penyakit
menghadapi penyakit virus ebola virus ebola yang kembali dari perjalanan haji.
• Meningkatkan koordinasi lintas program dan lintas
sektor seperti Kemenkokesra, Kementerian 7. Membekali petugas kesehatan haji dengan
Perhubungan, Kementerian Agama, Kementerian pengetahuan menghadapi penyakit virus ebola.
Pertanian, Kementerian Luar Negeri, dll
8. Menyediakan APD yang sesuai bagi petugas di
• Meningkatkan komunikasi internasional melalui WHO BPHI dan klinik sektor
serta jejaring regional dan global lain
EBOLA VIRUS DISEASE (EVD)
1 2 3 4

• Wajib • Wajib bersiap • Wajib • Wajib


memberikan mendeteksi, menyediakan menyediakan
komunikasi risiko menginvestigasi, informasi yang fasilitas evakuasi
dan informasi melakukan relevan dan bagi warga
kepada pelaku manajemen akurat bagi negaranya yang
perjalanan ke kasus, masyarakat terpapar virus
negara terjangkit menyiapkan lab tentang KLB EVD ebola.
atau berisiko diagnostik yg dan cara
terjangkit berkualitas EVD, menurunkan
melakukan risiko penularan.
kewspadaan
terhadap pelaku
perjalanan dari
negara terjangkit
dengan demam
yang tidak dapat
dijelaskan
sebabnya.
MARI PERKUAT
SDM

Kemitraan &
jejaring
Tatalaksana

Pemberdayaan
masyarakat Dana

Logistik RR
POSKO KLB
Telp : 0214257125 –
02142877588 -
081219241850 HALO KEMKES
SMS : 021-36840901 • Telp : (kode lokal)
Fax : 021- 42802669 500567
Surel : • SMS : 081281562620
poskoklb@yahoo.com • Faks : (021) 52921669
• Email :
kontak@depkes.go.id

WEBSITE
www.infopenyakit.org
www.puskeshaji.depkes.go.id
POSKO KLB
Telp : 0214257125 –
02142877588 - HALO KEMKES
081219241850
SMS : 021-36840901 • Telp : (kode lokal)
500567
Fax : 021- 42802669
Surel : • SMS : 081281562620
poskoklb@yahoo.com • Faks : (021) 52921669
• Email :
kontak@depkes.go.id

WEBSITE
www.infopenyakit.org
www.puskeshaji.depkes.go.id
TERIMA KASIH