Anda di halaman 1dari 30

KONSEP REFLECTIVE PRACTICE

DALAM PELAYANAN KEBIDANAN


Siska Nawang Ayunda Maqfiro, M.Keb
Miskinnya pengalaman ber-
refleksi juga dicerminkan
oleh menggejalanya perilaku
spontan destruktif, yang
mencerminkan pola pikir,
“tanpa pikir panjang dulu‟ di
masyarakat
Refleksi: Belajar dari
Pengalaman
• Kata reflection yang kita
terjemahkan menjadi refleksi
bermakna sebagai pikiran, gagasan,
pandangan yang terbentuk, atau
catatan yang dibuat berdasarkan
hasil pertimbangan atau pemikiran
yang serius‟.
• Dalam bahasa sehari hari kata
refleksi sering diartikan sama seperti
instropeksi atau berkaca-diri.
• Jadi, refleksi adalah tanggapan secara mendalam dan kritis seseorang
atas pengalamannya sendiri. Melalui proses itu orang berusaha semakin
memahami arti (makna) dan konsekuensi dari pengalamanya itu sehingga
mampu memilih tindakan yang cocok untuk pengembangan dirinya.
Pengertian Reflective Practice dalam
Pelayanan Kebidanan

• →Suatu bentuk pedoman/acuan


yang merupakan kerangka kerja
seorang bidan dalam
memberikan asuhan kebidanan,
dipengaruhi oleh filosofi yang
dianut bidan (filosofi asuhan
kebidanan) meliputi unsur-unsur
yang terdapat dalam paradigma
kesehatan (manusia-perilaku,
lingkungan & pelayanan
kesehatan).
Dalam praktek kebidanan, pemberian asuhan
kebidanan yang berkualitas sangat dibutuhkan.

Upaya meningkatkan kualitas pelayanan


kebidanan juga ditentukan oleh:
• ketrampilan bidan untuk
berkomunikasi secara
efektif dan melakukan
konseling yang baik kepada
klien.
Kualitas pelayanan kebidanan
ditentukan dengan cara
• bidan membina hubungan
baik dengan sesama rekan
sejawat
• bidan membina hubungan
baik dengan orang yang
diberi asuhan.
• Bidan merupakan ujung
tombak memberikan
pelayanan yang berkulitas
dan sebagai tenaga
kesehatan yang professional,
bekerja sebagai mitra
masyarakat, khususnya
keluarga sebagai unit
terkecilnya
• bidan memiliki posisi
strategis untuk memberikan
pelayanan kesehatan yang
bersifat holistik komprehensif
(berkesinambungan, terpadu,
dan paripurna),

• Jadi seorang bidan dituntut untuk menjadi individu yang


professional dan handal memberikan pelayanan yang
berkualitas karena konsep kerjanya berhubungan dengan
nyawa manusia
Pelayanan praktik
Pelayanan Rumah Sakit
kebidanan

• tenaga bidan bertanggung jawab memberikan pelayanan kebidanan


yang optimal dalam meningkatkan dan mempertahankan mutu
pelayanan kebidanan yang diberikan selama 24 jam secara
berkesinambungan.
• Bidan harus memiliki keterampilan professional, ataupun global.
• Agar bidan dapat menjalankan peran fungsinya dengan baik, maka
perlu adanya pendekatan sosial budaya yang dapat menjembatani
pelayanannya kepada pasien.
• Bidan dapat menunjukan otonominya dan
akuntabilitas profesi, melalui pendekatan
sosial dan budaya yang akurat.
• Terdapat beberapa bentuk pendekatan
yang dapat digunakan atau diterapkan
oleh para bidan dalam melakukan
pendekatan asuhan kebidanan kepada
masyarakat misalnya paguyuban, kesenian
tradisional, agama dan sistem banjar.
• Hal tersebut bertujuan untuk
memudahkan masyarakat dalam
menerima, bahwa pelayanan atau
informasi yang diberikan oleh petugas,
bukanlah sesuatu yang tabu tetapi sesuatu
hal yang nyata atau benar adanya
Proses refleksi dapat digambarkan
seperti berikut :
Dalam gambar tersebut tampak
bahwa proses refleksi pada intinya
meliputi tiga (3) tahap kegiatan,
yaitu

TAHAP MENGHADIRKAN KEMBALI


PENGALAMAN,

TAHAP MENGELOLA PERASAAN,

TAHAP MENGEVALUASI KEMBALI


PENGALAMAN.
1. Tahap Menghadirkan Kembali
Pengalaman
Pada tahap ini, pelaku refleksi mencoba mengumpulkan
kembali peristiwa peristiwa yang menonjol dan
menghadirkan kembali peristiwa tersebut dalam pikirannya.

Proses ini akan sangat tertolong jika yang bersangkutan


bersedia menuliskan dalam kertas atau menceritakannya
kepada orang lain.

Dalam pembelajaran proses ini dapat berupa proses de-


briefing yang merupakan salah satu langkah dalam
rancangan tugas tugas untuk pembelajaran kooperatif
2. Tahap Mengelola Perasaan

memanfaatkan
perasaan-perasaan
yang positif
2 KEGIATAN
UTAMA
mengubah
perasaan-perasaan
yang mengganggu.

Memanfaatkan perasaan- Upaya mengubah perasaan-


perasaan positif perasaan yang mengganggu
• misalnya meliputi kesadaran untuk • merupakan awal yang diperlukan agar
mengumpulkan kembali seseorang dapat mempertimbangkan
pengalaman-pengalaman yang baik, peristiwa peristiwa yang telah dialaminya
memberikan perhatian pada aspek- secara rasional.
aspek yang menyenangkan dari • Hal itu misalnya dapat dilakukan dengan
lingkungan, atau mengantisipasi mentertawakan pengalaman yang
keuntungan yang mungkin bisa memalukan.
didapat dari peristiwa tersebut.
3. Tahap Mengevaluasi Kembali
Pengalaman.

ASOSIASI

INTEGRASI

VALIDASI

APROPRIASI
MENGEVALUASI KEMBALI PENGALAMAN

ASOSIASI INTEGRASI

• proses mempertautkan gagasan- • proses mencari keterkaitan di


gagasan dan perasaan-perasaan antara data yang ada. Dalam
yang merupakan bagian dari integrasi pertama-tama dicari
pengalaman asli dengan gagasan- sifat sifat hubungan yang telah
gagasan dan perasaan-perasaan terjadi dalam proses asosiasi.
baru yang muncul dalam refleksi. Kemudian dilakukan penarikan
kesimpulan tentang pengalaman
yang direfleksikan itu agar
sampai pada tilikan-tilikan baru.
MENGEVALUASI KEMBALI PENGALAMAN

VALIDASI APROPRIASI

• proses menguji keotentikan


gagasan dan perasaan yang telah • proses menjadikan
dihasilkan. pengetahuan baru itu menjadi
milik pelaku refleksi.
• Dalam validasi pelaku refleksi
melakukan pengujian konsistensi
internal antara apresiasi-
apresiasi baru dengan
pengetahuan dan
kepercayaankepercayaan yang
telah ada.
Kejelasan atas isu
isu
Cara baru
melakukan
sesuatu
Berkembangnya
keterampilan/pem
ecahan masalah

HASIL
KOMPLEKS Rangkaian
gagasan baru

Lahir sudut
Peta kognitif
pandang baru

Perubahan sikap
dan perilaku
3. Signifikasi Refleksi dalam Pembelajaran

• Refleksi dalam proses pelayanan kebidanan


penting baik bagi bidan.
• Bagi bidan yang memiliki kemampuan untuk
melakukan refleksi merupakan salah satu indikator
dari bidan yang baik yaitu mampu berpikir
mendalam, dan kritis pada tindakan yang dilakukan,
mengevaluasi hasil keputusannya di masa lalu guna
membuat keputusan yang lebih baik di masa
depan.
Pentingnya Refleksi Dalam Upaya Membangun Sikap Berpikir
Kritis
yaitu disposisi untuk menyelidiki dan merekonstruksi aspek aspek sosial dan
moral dari lingkungan untuk mencapai pencerahan dan emansipasi
sepenuhnya.
• REFLEKSI penting bagi pengembangan
ketrampilan ketrampilan belajar.
• REFLEKSI merupakan bagian penting dari proses
pembelajaran “eksperiential‟ atau pembelajaraan
berbasis pengalaman.
• REFLEKSI merupakan salah satu pilar penting
dalam pembelajaran yang berwatak konstruktivis,
karena refleksi dapat membantu pebelajar
mengembangkan kesadaran META-KOGNITIF.
• Kesadaran META KOGNITIF →kesadaran akan pikiran
sendiri sebagaimana tampak dalam cara seseorang
mengerjakan tugas tugas dan penggunaan kesadaran
itu untuk mengendalikan hal hal yang akan dikerjakan
PENERAPAN PEMBELAJARAN
REFLEKTIF
• Dapat diterapkan pada semua layanan kebidanan
• Memungkinkan para bidan meningkatkan pengetahuan, lebih
aktif dan bertanggung jawab.
• Memungkinkan bidan melakukan tindakan dengan
menghubungkan teori dengan pengalaman mereka dan belajar
dari pengalaman hidup mereka.
• Penerapan Pembelajaran Refleksif secara konsisten dan
berkelanjutan akan membantu pembentukan kebiasaan
berefleksi terlebih dulu sebelum melakukan sesuatu/berpikir
sebelum bertindak
• Membangun kepekaan nurani terhadap hubungan-hubungan
manusiawi, dengan pasien, dengan tenaga kesehatan yang lain
Model Pembelajaran Reflektif

PENGENALAN PENYAJIAN REFLEKSI


KONTEKS PENGALAMAN

AKSI EVALUASI
a. Pengenalan Konteks

• Pengalaman manusiawi,
yang merupakan titik tolak
dalam Pembelajaran
Refleksif, tidak
berlangsung dalam ruang
hampa. Hal itu terjadi
dalam sebuah konteks
tertentu. Oleh karena itu,
bidan perlu mengenali
secara baik kenyataan-
kenyataan kontekstual
dunia klien maupun dunia
bidan sendiri.
b. Penyajian Pengalaman

Pengalaman bisa dibedakan menjadi dua, yaitu :


• Pengalaman langsung, biasanya berupa: diskusi,
penelitian, kegiatan lapang, aksi sosial, dll.
• Pengalaman tidak langsung dalam situasi
pembelajaran adalah upaya memperoleh informasi
mengenai sebuah peristiwa melalui kegiatan
membaca, mendengarkan atau menyimak gambar.
Untuk itu, biasanya dilakukan proses perangsangan
indera dan daya imajinasi melalui simulasi,
permainan peran, atau tayangan audio-visual.
c. Refleksi

• Istilah refleksi di sini


dipahami dalam pengertian
khas, yaitu suatu upaya
menyimak dengan penuh
perhatian terhadap bahan
studi tertentu,
pengalaman, ide-ide, usul-
usul, atau reaksi spontan
untuk mengerti pentingnya
pemahaman mendalam
sampai pada makna dan
konsekuensinya.
d. Aksi
Istilah aksi di sini merujuk pada pertumbuhan sikap batin
dan tindakan yang ditampilkan berdasarkan pengalaman
yang telah direfleksikan.

• Pilihan-pilihan dalam batin


(komitmen). Dalam refleksi,
seseorang telah
mempertimbangkan
pengalamannya dari sudut
pandang dirinya (personal) dan
manusiawi. Berdasarkan
pemahaman kognitif maupun
perasaanperasaan yang muncul
(baik positif maupun negatif)
pilihan-pilihan komitmen. Hal
ini bisa dalam bentuk pilihan
prioritas-prioritas dalam diri.
e. Evaluasi

• Pembelajaran refleksif tidak hanya peduli pada pertumbuhan dan


perkembangan akademis, melainkan perkembangan pribadi dan
kepeduliannya kepada sesama.
• Evaluasi ini terutama sebagai sarana untuk melihat tingkat perkembangan.
• Sehingga hasilnya perlu ditindak lanjuti dengan memberikan ucapan
selamat dan memberi semangat untuk lebih berkembang, bagi yang sudah
berkembang dengan baik.
• Di sisi lain, bagi yang mengalami hambatan perkembangan, perlu ditindak
lanjuti dengan mendorongnya untuk berefleksi lebih lanjut. Misalnya,
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan bijaksana, memberikan
informasi yang dibutuhkan, mengajak memahami masalah dengan sudut
pandang lain, dan lain sejenisnya.
• Uraian di atas menunjukkan bahwa refleksif
merupakan upaya pembelajaran untuk mengolah
pengalaman melalui proses refleksi, sehingga
bermanfaat bagi perkembangan pribadi seorang
bidan dalam memberikan pelayanan kepada klien
dan masyarakat.
• Di samping itu melalui dalam pelayanan kebidanan
ini hendak ditumbuhkan :
membangun kepedulian terhadap
kebiasaan untuk berrefleksi, dalam
pengalaman-pengalaman
arti mau menjadikan pengalaman
manusiawi dengan segala makna
sebagai guru terbaik
dan konsekuensinya

membiasakan untuk membuat


pilihan hidup dalam bentuk
komitmen dan tindakan nyata.