Anda di halaman 1dari 43

BIAS AND

CONFOUNDING
Rosa Dwi Wahyuni
Departemen Clinical Pathology
Faculty of Medicine & Health Sciences
Tadulako University
BIAS
Definisi:

Suatu proses penyimpulan setiap tahap


penelitian yang cenderung menghasilkan
kesimpulan berbeda secara sistematis dari
kebenaran sebenarnya.
BIAS dapat terjadi akibat:
1. Cara seleksi subyek penelitian

2. Cara mendapatkan informasi yang diperlukan

3. Cara pelaporan informasi

4. Cara interpretasi informasi


JENIS BIAS
• BIAS SELEKSI
setiap kesalahan yang timbul pada proses
identifikasi populasi penelitian

• BIAS INFORMASI/OBSERVASI
setiap kesalahan sistematis dalam pengukuran
informasi/data pada exposure atau outcome
BIAS SELEKSI
• Akibat cara yang digunakan pada seleksi individu
yang dimasukkan dalam penelitian

• Terjadi berdasarkan:
- perbedaan cara survei

- perbedaan cara diagnosis

- perbedaan sistem rujukan


BIAS SELEKSI

• Contoh:

status exposure: pada studi cohort

status outcome: pada studi case control


BIAS SELEKSI
Berkson’s bias
(admission rate bias)

- Bias seleksi yang terjadi sehubungan dengan


penelitian yang menggunakan data di RS
- Terjadi jika terdapat perbedaan admission rate
antara kelompok expose, non expose, dan kontrol
BIAS SELEKSI
Attrition bias

Bias akibat terjadinya drop out (non-responden,


loss of follow up, perpindahan penduduk, dsb)
yang tak seimbang antar grup yang diteliti
BIAS INFORMASI
• Jika data yang digunakan tidak akurat atau
tidak komplit, sehingga terjadi hubungan palsu
karena data-data tersebut bisa berpengaruh
pada kelompok yang dibandingkan secara
tidak seimbang

• Contoh: recall bias, interviewer bias


CARA MENGHINDARI BIAS
1. Tahap rencana sampling
- mempunyai kesempatan yang sama
- Batasan kerangka sampling yang baik
- konfirmasi komparabilitas kelompok
penyakit dan pembanding
- metode seleksi grup pembanding harus
dapat mengendalikan variabel perancu
CARA MENGHINDARI BIAS
2. Menghindari drop-out
- Data diperoleh dari beberapa set yang
independen
- Mengusahakan follow up tambahan
- Teliti sifat-sifat subsampel
CARA MENGHINDARI BIAS
3. Hati-hati terhadap self selection

- gunakan sukarelawan

- identifikasi sifat-sifat subyek

- lakukan randomisasi sukarelawan

- perhatikan waktu yang diperlukan


CARA MENGHINDARI BIAS
4. Subyektivitas dapat dihindari dengan:

- cara/teknik double blind

- tes obyektivitas

- tatacara yang terstandar dan seragam


CARA MENGHINDARI BIAS
5. Variasi interobserver

- menggunakan observer/pengamat yang sama

- catat dan sesuaikan perbedaan yang ada

- tukar-menukar observer/pengamat

pemeriksaan/tes reliabilitas

- hindari data dari observer yang tak cakap


CARA MENGHINDARI BIAS
6. Misklasifikasi dapat diminimalisir dengan
menggunakan:

- kriteria obyektif

- pelatihan pewawancara & kolektor data

- definisi yang jelas

- latian dan biasakan dengan ketelitian


CARA MEMINIMALKAN BIAS
• Buat instrumen yang spesifik
BIAS DAPAT TERJADI PADA TAHAP

1. Pencarian referensi
2. Seleksi dan spesifikasi sampel
3. Intervensi pada studi eksperimental
4. Pengukuran exposure dan outcome
5. Analisis data
6. Interpretasi analisis
7. Publikasi hasil
BIAS PADA PENCARIAN REFERENSI

• Bias rhetoric

penggunaan teknik yang meyakinkan pembaca


tanpa alasan yang menarik

• The all’s well literature bias

publikasi laporan penelitian dengan


menghindari hasil yang kontroversi/berbeda
BIAS PADA PENCARIAN REFERENSI

• One-sided reference bias

pembatasan referensi yang menunjang


pendapat peneliti saja

• Positive result bias

peneliti cenderung menerima dan


mengumpulkan hasil penelitian yang positif
BIAS PADA SELEKSI DAN
SPESIFIKASI SAMPEL
• Popularity bias

pasien terkonsentrasi pada institusi/prosedur


tertentu yang dipengaruhi ole kondisi/sebab
tertentu

• Centripetal bias

pasien terkonsentrasi pada reputasi


dokter/institusi
BIAS PADA SELEKSI DAN
SPESIFIKASI SAMPEL
• Referral filter bias
akibat sistem rujukan, pasien kasus jarang,
derajat terminal, dan diagnosis ganda
terkonsentrasi pada institusi tertentu
• Diagnostic access bias
perbedaan status geografi dan ekonomi
menyebabkan perbedaan diagnosis yang
dilakukan
BIAS PADA SELEKSI DAN
SPESIFIKASI SAMPEL
• Diagnostic suspicion bias
pengetahuan subyek terhadap kausal/paparan
tertentu dapat berpengaruh terhadap
intensitas & outcome proses diagnosis
• Previous opinion bias
cara & hasil proses diagnosis sebelumnya
dapat mempengaruhi pelaksanaan pada kasus
berikutnya
BIAS PADA SELEKSI DAN
SPESIFIKASI SAMPEL
• Wrong sample size bias
dari sampel kecil tak dapat membuktikan sesuatu, tapi
dari sampel besar dapat membuktikan
• Admission rate (Berkson) bias
biasanya terjadi pada studi yang menggunakan subyek
yg dirawat di RS (terutama case control)
Mis: indikasi rawat kasus beda dgn kontrol
Hindari: klp kontrol bebas bias: sehat, penyakit ringan,
sedang, berat
BIAS PADA SELEKSI DAN
SPESIFIKASI SAMPEL
• Procedure selection bias
pemilihan subyek berdasar karakteristik tertentu
shg kedua klpk menjadi tdk seimbang
bias ini mudah terjadi pd uji klinis yang tdk
dilakukan randomisasi

• Diagnnostic vogue bias

suatu penyakit terdiagnosis secara berbeda pada


saat yang berbeda
BIAS PADA SELEKSI DAN
SPESIFIKASI SAMPEL
• Missing clinical data bias
data klinis hilang, karena normal, negatif, tak
diperiksa/diukur, atau diukur tapi tak dicatat
• Non-contemporaneous (yg terjadi pada waktu
yg tidak bersamaan) control bias
perubaan definisi exposure, diagnosis,
penyakit dan terapi dapat menyebabkan grup
pembanding tak dapat dibandingkan
BIAS PADA SELEKSI DAN
SPESIFIKASI SAMPEL
• Starting time bias

tak sama waktu mulai terpapar atau terkena


penyakit menyebabkan misklasifikasi

• Unacceptable disease bias

penyakit/outcome yang tak dapat diterima


secara sosial (veneral dis, suicide, insanity)
cenderung tidak dilaporkan
BIAS PADA SELEKSI DAN
SPESIFIKASI SAMPEL
• Migrator bias

perpindahan penduduk dapat memperngaruhi hasil

• Non-respondent bias

subyek terpilih menolak ikut penelitian atau


sebaliknya.

pada studi yang membolehkan adanya relawan

mis: obat anti alergi pada pasien dengan alergi berat >
relawan (alergi ringan)
INTERVENSI PADA STUDI
EKSPERIMENTAL
• Contamination bias
sampel pembanding secara tak sengaja menerima
intervensi yang diteliti
• Compliance (kerelaan) bias
perbedaan kepatuhan menerima intervensi

mis: pemberian obat A 1xsehari, obat B 3xsehari.


Subyek obat B kurang taat; subyek obat A taat.
Hasil yang baik pada obat A bisa karena ketaatan.
INTERVENSI PADA STUDI
EKSPERIMENTAL
• Therapeutic personality bias

pada metode blind, pendirian peneliti akan


mempengaruhi hasil

• Bogus control bias

penggantian sampel mati/sakit/drop out dgn


sampel baru
BIAS PADA PENGUKURAN
EXPOSURE & OUTCOME
• Insensitive measure bias

jika pengukuran outcome tak dapat


mendeteksi perubahan klinik

• Underlying cause bias (rumination bias)

ingatan penyebab penyakit yang dialami


sampel
BIAS PADA PENGUKURAN
EXPOSURE & OUTCOME
• End-digit preference bias

perbedaan ketepatan/digit alat pengukur

• Apprehension bias

perbedaan hasil ukuran karena kondisi


psikologis sampel (mis: nadi, tek darah, dll)
BIAS PADA PENGUKURAN
EXPOSURE & OUTCOME
• Unacceptability bias

pengukuran yang asal-asalan, atau mengenai


pribadi akan dapat ditolak subyek penelitian

• Obsequiousness (menurut) bias

subyek dapat mengubah respon kuesioner


untuk menyenangkan peneliti
BIAS PADA PENGUKURAN
EXPOSURE & OUTCOME
• Expectation bias

pengamat membuat kesalahan pengukuran


supaya sesuai dengan yang diharapkan

• Substitution game

pengubahan faktor risiko yang ternyata tidak


berhubungan dengan outcome
BIAS PADA PENGUKURAN
EXPOSURE & OUTCOME
• Family information bias

akibat informasi yang didapat dari keluarga


sampel

• Exposure suspicion bias

pengetahuan penyakit subyek bisa


mempengaruhi intensitas dan outcome grup
yang terpapar
BIAS PADA PENGUKURAN
EXPOSURE & OUTCOME
• Recall bias

pertanyaan paparan ditanyakan berulang pada grup


kasus, tapi hanya sekali pada grup pembanding

• Attention bias

sampel mengubah perilakunya jika mengetahui sedang


diteliti

• Instrument bias

kesalahan/kerusakan kalibrasi alat yang dipakai


BIAS PADA ANALISIS DATA
• Scale degradation bias
pembulatan angka/hasil pengukuran bisa
mengaburkan/menyembunyikan perbedaan
antar grup yg dibandingkan
• Tidying-up bias
penghilangan hasil yang tak
teratur/berantakan tak dapat diatasi dengan
analisis statistik
BIAS PADA INTERPRETASI
HASIL ANALISIS
• Mistaken identity bias
pada studi intervensi, hasil baik akibat
kepatuhan yg sgt tinggi diartikan sbg efek
intervensi
• Cognitive dissonance bias
kepercayaan thd mekanisme penelitian dpt
meningkatkan pengakuan thd bukti yg
sebenarnya berlawanan
BIAS PADA INTERPRETASI
HASIL ANALISIS
• Magnitude bias

interpretasi thd hasil pengukuran alat canggih


cenderung berpengaruh thd interpretasi

• Significance bias

hasil bermakna secara statistik, kadang tidak


bermakna secara klinis
BIAS PADA INTERPRETASI
HASIL ANALISIS
• Correlation bias

menginterpretasikan korelasi sama dengan


hubungan kausal (sebab akibat)
KESIMPULAN
• Bias harus selalu dipertimbangkan dalam
mengamati hubungan statistik antar variabel,
baik positif, negatif maupun tak ada hubungan

• Bias lebih efektif untuk diminimalkan melalui


desain dan pelaksanaan penelitian yg
cermat/teliti
CONFOUNDING
• Variabel perancu

• Jenis variabel yg berhubungan dg variabel


bebas dan variabel tergantung, tetapi bukan
merupakan variabel antara
CONTOH CONFOUNDING
• Kebiasaan minum kopi berhubungan dengan
kebiasaan merokok; perokok lebih sering
minum kopi daripada bukan perokok
• Kebiasaan merokok berhubungan dengan
insidens PJK
• Jadi kebiasaan merokok memenuhi syarat
sebagai perancu karena mempunyai hub
dengan kebiasaan minum kopi dan insidens
PJK
CARA MENGONTROL PERANCU

1. Mengidentifikasi variabel perancu


2. Menyingkirkan perancu:
a) Dalam desain
restriksi
matching
randomisasi
b) Dengan analisis
stratifikasi
analisis multivariat