Anda di halaman 1dari 66

Rihadini

Psikiater RSJD Dokter Amino Gondohutomo Semarang


Wawancara Psikiatrik (1)
 Menyusun laporan tentang keadaan
psikologi dan psikopatologi pasien 
status mental
 Fokus pada manifestasi fungsi mental,
emosional dan perilaku
 Diusahakan menciptakan dan
memelihara hubungan yang optimal
antara dokter dan pasien data yang
dapat diandalkan
Wawancara Psikiatrik (2)
 Bertujuan  diagnostik maupun terapeutik
 Perilaku pasien  respons terhadap apa
yang dikatakan, bagaimana mengatakan,
dan sikap dokter
 Pertanyaan  tidak mempermalukan atau
membuat tersinggung pasien (nyata atau
tidak nyata),
 Ucapan-ucapan pada pasien 
profesional, sesedikit mungkin tercampur
dengan unsur-unsur yang berasal dari
respons emosional subyektifnya sendiri
Wawancara Psikiatrik (3)
 Wawancara akan efektif  alamiah,
natural, dengan nada yang mirip
percakapan biasa, tidak kaku
 Tidak beri kesan dokter memburu gejala
atau tidak seperti melakukan interogasi
terhadap pesakitan.
Riwayat Psikiatrik (1)
 Catatan  riwayat gangguan psikiatrik dan
medis, kronologi gejala atau gangguan , ciri-
ciri kepribadian dan riwayat hidup pasien
 Diperoleh  dari pasien dan sumber lain
(orang tua atau pasangan hidup)
 Teknik  membiarkan pasien bicara dengan
perkataannya sendiri, sesuai dengan urutan
yang dirasakannya penting
 Terapis  terampil bertanya dan menelusuri
hal-hal yang bermakna diungkapkan pasien
baik yang tersurat maupun tersirat.
Riwayat Psikiatrik (2)
 Garis besar riwayat psikiatrik :
I. Data Pribadi
II. Keluhan Utama
III. Riwayat Gangguan Sekarang :
a) Awitan
b) Faktor Presipitasi
IV. Penyakit / gangguan sebelumnya
a) Psikiatrik
b) Medik
c) Penggunaan Zat
Riwayat Psikiatrik (3)
V. Riwayat Hidup
a) Prenatal dan Perinatal
b) Masa kanak awal ( sampai 3 tahun)
c) Masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
d) Masa remaja
e) Masa dewasa :
i. Riwayat pekerjaan, perkawinan / berpasangan /
pacaran
ii. Riwayat pendidikan
iii. Riwayat militer
iv. Riwayat agama / kehidupan beragama
v. Aktivitas sosial dan kehidupan sekarang
vi. Riwayat pelanggaran hukum
Riwayat Psikiatrik (4)
d) Riwayat psikososial
e) Riwayat keluarga
f) Impian , fantasi dan nilai-nilai
Data Pribadi
 Data demografi :
• Nama
• Alamat
• Umur/ jenis kelamin
• Status perkawinan
• Pendidikan
• Pekerjaan
• Suku bangsa
• agama
 Tempat/ situasi saat wawancara dilakukan
 Sumber informasi
 Gangguan yang dialami  pertama atau yang kesekian
 Pasien datang sendiri, dibawa anggota keluarga atau
dikonsultasikan oleh sejawat
Keluhan Utama
 Dimulai dengan perkenalan singkat,
 Pertanyaan pembuka  bagaimana saya bisa
menolong saudara, gangguan kesehatan apa
yang saudara alami (dalam bahasa pasien
sendiri, pasien dibiarkan menceritakan dengan
gaya dan caranya sendiri)
 Keluhan utama  dapat bersifat kabur, dapat
pula tegas dan menyolok, keluhan somatik,
tidak mengemukakan keluhan tertentu (tidak
menderita gangguan, penyakit), dapat berasal
dari keluarga
 Pasien tidak berbicara  diskripsikan
keadaan yang dijumpai saat wawancara.
Riwayat Gangguan Sekarang (1)
 Kapan masalah dimulai ? Bila
berlangsung lama dan hilang timbul
kapan terakhir kali merasa sehat ?
 Faktor pencetus, dampak pada
hubungan pribadi dan kemampuan
bekerja
 Menurut pasien  penyebab penyakit,
atau saat kambuh, membaik atau
memburuk
Riwayat Gangguan Sekarang (2)
 Kasus psikosis  pandangan pasien terhadap suatu
kejadian berbeda dibanding dengan keluarga, teman
atau sumber lainnya.
 Perasaan cemas sifatnya situasional? Ada
serangan panik ?, suasana hati, nafsu makannya
 Situasi awal (awitan) timbulnya penyakit  akut dan
dramatik (prognosis baik), berkembang lambat laun
atau kelainan yang pada awalnya hampir tidak
ketahuan (prognosis buruk). Gangguan diawali
kejadian yang dahsyat (prognosis baik), atau
gangguan tanpa kaitan yang jelassuatu kejadian
(prognosis buruk )
 Dampak gangguan  terhadap kehidupan pasien
sekarang, sifat disfungsinya
Riwayat Gangguan Sebelumnya
 Riwayat gangguan psikiatrik :
 Episode terdahulu  gejala, derajat disfungsi,
terapi, lama gangguan, kepatuhan terapi
perhatian khusus pada episode pertama
 Riwayat gangguan medik :
 Penyakit medik, bedah, trauma kepala, penyakit
neurologis, tumor, gangguan kesadaran, HIV,
gangguan psikosomatis
 Penggunaan zat psikoaktif :
 Stimulan, alkohol, morfin  kapan, berapa
lama, terakhir pakai
Riwayat Hidup (1)
 Prenatal dan Perinatal :
 Kehamilan direncanakan atau tidak
 Proses kelahiran, cedera lahir
 Kesehatan ibu selama hamil, kondisi emosi
ibu sewaktu melahirkan, penggunaan obat
ibu sewaktu hamil
Riwayat Hidup (2)
 Masa kanak awal (0-3 tahun) :
 Kualitas interaksi ibu-anak  toilet training,
problem anak
 Gangguan perkembangan  gangguan pola
tidur, body rocking , sering membenturkan
kepala
 Hubungan dengan saudara
 Sifat masa kanak  pemalu, gelisah, hiperaktif,
akrab, atletis, aktif, pasif
 Pola permainan dengan anak lain, pola
pemberian makanan
 Gejala gangguan tingkah laku
Riwayat Hidup (3)
 Masa kanak pertengahan (3-7 tahun)
 Identifikasi gender, hukuman,masuk sekolah,
perasaan saat perpisahan dengan ibu,
perkawanan
 Partisipasi dalam aktivitas sekolah, taat / tidak
pada peraturan,
 Impulsivitas, agresivitas, pasif-aktif, perilaku
antisosial,
 Perkembangan membaca, intelektual dan
motorik, gangguan belajar
 Mimpi buruk, fobia, main api,ngompol, kejam
pada binatang
Riwayat Hidup (4)
 Masa kanak akhir dan remaja :
 Tokoh idola (orang tua atau orang lain)
 Nilai kelompok sosial pasien
 Identitas & Citra diri ideal
 Riwayat sekolah, hubungan dengan guru,
minat bidang pelajaran sekolah & diluar
sekolah, olah raga, hobi, problem sekolah,
bolos
 Penggunaan zat, aktivitas seksual &
hubungan seksual
 Rasa rendah diri atau benci diri, pikiran
Riwayat Hidup (5)
 Masa kanak akhir dan remaja :
 Penggunaan waktu senggang, hubungan
dengan orang tua
 Perasaan terhadap perkembangan alat
kelamin sekunder, menarche, sikap pacaran
 Perkembangan kognitif, problem emosional
dan fisik
 Seksualitas : awal pengetahuan tentang
seks, sex abuse, pubertas & perasaannya,
sikap terhadap lawan jenis, praktek seks &
orientasi seksual (heteroseksual, biseksual,
homoseksual)
Masa Dewasa (1)
 Riwayat pekerjaan :
 Jenis pekerjaan, konflik, ambisi perasaan
terhadap pekerjaan,
 Sikap terhadap teman sejawat, atasan
 Riwayat pekerjaan
 Riwayat perkawinan ;
 Lamanya, sifat, keakraban, harapan
terhadap pasangan
 Konflik, perceraian, kegagalan perkawinan
 Aspek positif & negatif perkawinan
Masa Dewasa (2)
 Agama :
 Latar belakang agama, pendidikan agama
 Sikap terhadap agamanya & agama org lain
 Konflik dalam pendidikan agama
 Aktivitas keagamaan,
 Pandangan agama terhadap gangguan jiwa
 Moralis menjalankan agama sesuai
keyakinannya atau
 Moralizer  menggunakan nilai agama
untuk menilai / menghakimi nilai agama atau
perilaku orang lain(diri sendiri paling benar)
Masa Dewasa (3)
 Riwayat militer (kalau ada):
 Kemampuan adaptasi, disiplin, cedera
 Aktivitas sosial:
 Hubungan sosial & sifat, perkawanan lawan
jenis & sejenis, apa yang dicari dalam
perkawanan, sifat terasing, antisosial, rasa
takut, cemas bergaul, teman akrab
Masa Dewasa (4)
 Situasi kehidupan sekarang:
 Rumah tangga, tetangga, siapa yang tinggal
serumah
 Pengaturan tempat tidur, privacy,
 Sumber keuangan, dana bila pasien dirawat,
siapa yang menjaga anak
 Riwayat hukum:
 Pernah ditangkap, riwayat tindak kejahatan,
riwayat tindak kekerasan
 Sikap terhadap hukum
Riwayat Psikoseksual
 Awal pengetahuan tentang seks
 Riwayat pencederaan/ pelecehan seks
 Awitan pubetas, perasaannya
 Masturbasi, perasaannya,
 Sikap terhadap seks  malu, takut, agresif
 Orientasi seksual  heteroseksual / homoseksual,
parafilia
 Sikap terhadap pelbagai aktivitas seks, hubungan
seks diluar perkawinan,
 Kontrasepsi dan pandangannya
 Penyakit akibat hubungan seks
 Promiskuitas ( hubungan seks bebas).
Riwayat Keluarga
 Data pasien faktor keturunan & adanya
penyakit jiwa dalam keluarga dan pada
generasi sebelumnya
 Hubungan antar anggota keluarga, antar
keluarga, dengan kesukaan/ ketidak
sukaan, ketegangan, loyalitas,
ketergantungan atau sengketa
 Sifat anggota keluarga, mertua, latar
belakang keluarga, sikap keluarga
terhadap penyakit
Mimpi, Fantasi dan Nilai-nilai
 Ditanyakan mimpi buruk berulang,
 Fantasi, khayalan tentang masa depan
 Nilai pribadi tentang moral  moralis
atau moralizer, sosial, seks,anak, orang
tua, budaya, pekerjaan , hal yang salah
atau benar
PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
 Didapat  observasi pemeriksa dan
kesan yang dimunculkan oleh pasien
saat wawancara.
 Status mental  dapat berubah-ubah
dari hari ke hari bahkan jam ke jam.
 Observasi cermat  didapat informasi
yang memadai meskipun sama sekali
tidak berbicara, inkoheren atau menolak
untuk menjawab pertanyaan.
Gambaran Status Mental (1)
1. Deskripsi umum
a. Penampilan
b. Perilaku dan aktivitas psikomotor
c. Sikap terhadap pemeriksa
2. Mood dan afek
a. Mood
b. Afek
c. Keserasian afek
3. Pembicaraan
Gambaran Status Mental (2)
4. Persepsi
5. Pikiran
a. Proses dan bentuk pikir
b. Isi pikir
6. Sensorium dan kognisi
a. Kesadaran
b. Orientasi dan daya ingat
c. Konsentrasi dan perhatian
Gambaran Status Mental (3)
d. Kemampuan membaca dan menulis
e. Kemampuan visuospasial
f. Pikiran abstrak
g. Intelegensi dan kemampuan informasi
h. Bakat kreatif
i. Kemampuan menolong diri sendiri
7. Pengendalian impuls
8. Daya nilai dan tilikan
9. Taraf dapat dipercaya
Deskripsi Umum (1)
 Penampilan :
 Gambaran tampilan  postur, sikap, cara
berpakaian dan berdandan
 Perhatikan  tatapan mata, kerutan dahi,
tremor, keringat dimuka
 Menggambarkan  tampak sehat, tampak
sakit, tampak tenang, tampak lebih tua,
tampak lebih muda, tidak rapi, kekanak-
kanakan, bizzarre
Deskripsi Umum (2)
 Perilaku dan aktivitas motor :
 Pengamatan  kualitas & kuantitas
psikomotor  mannerism, tics, kejang,
stereotipik, ekopraksi, hiperaktivitas, agitasi,
rigiditas, fleksibilitas,kegelisahan, hipoaktiv,
aktivitas tanpa tujuan
 Sikap terhadap pemeriksa :
 Digambarkan  kooperatif, bersahabat,
penuh perhatian, berminat, jujur, merayu,
defensif, merendahkan, bingung, berbelit-
belit, apatis, bercanda, menyenangkan,
mengelak atau berhati-hati
Mood dan Afek (1)
 Mood :
 Pengertian  suasana perasaan yang
bersifat pervasif dan bertahan lama, yang
mewarnai persepsi seseorang terhadap
kehidupannya.
 Pemeriksaan  menilai pernyataan yang
disampaikan, ekspresi wajah, perilaku
motorik dan ditanyakan suasana perasaan
yang dialaminya
Mood dan Afek (2)
 Mood dapat digambarkan :
a. Eutimia : penghayatan perasaan yang luas
dan serasi dengan irama hidupnya
suasana perasaan dalam rentang “normal”
b. Hipotimi : kesedihan dan kemurungan
c. Disforia : suasana perasaan tidak
menyenangkan (jenuh, jengkel, bosan)
d. Hipertimia : semangat & kegairahan yang
berlebihan terhadap berbagai aktivitas
kehidupan
Mood dan Afek (3)
e. Eforia : perasaan gembira dan sejahtera secara
berlebihan
f. Ekstasia : kegairahan yang meluap-luap
g. Aleksitimia : ketidakmampuan individu untuk
menghayati suasana perasaannya, sulit
mengungkapkan perasaannya, kedangkalan
kehidupan emosi
h. Anhedonia : kehilangan minat dan kesenangan
terhadap aktivitas kehidupan
i. Kosong : kehidupan emosi yang sangat dangkal 
kehilangan keterlibatan emosi dengan kehidupan
sekitar
j. Labil : berubah-ubah dari waktu kewaktu
k. Iritabel : sensitif,mudah tersinggung, mudah marah.
Mood dan Afek (4)
 Afek :
 Respon emosional saat sekarang,
mencerminkan situasi emosi sesaat
 Dinilai  ekspresi wajah, pembicaraan,
sikap dan gerak-gerik tubuh :
a. Afek luas : afek pada rentang “normal” ,
ekspresi emosi luas, ekspresi wajah, irama
suara maupun gerakan tubuh serasi dengan
suasana yang dihayatinya.
Mood dan Afek (5)
b. Afek menyempit : ekspresi emosi terbatas &
keluasan ekspresi emosi berkurang 
ekspresi wajah dan bahasa tubuh kurang
bervariasi
c. Afek menumpul : penurunan kemampuan
ekspresi emosi tatapan mata kosong,
irama suara monoton & bahasa tubuh
sangat kurang
d. Afek mendatar : kehilangan kemampuan
ekspresi emosi ekspresi wajah datar,
tatapan mata kosong, sikap tubuh kaku,
gerakan sangat minimal, irama suara datar
seperti “robot”
Mood dan Afek (6)
e. Afek serasi : keadaan normal dari ekspresi
emosi yang terlihat, keserasian ekspresi
emosi dan suasana perasaan yang dihayati
f. Afek tidak serasi : ekspresi emosi tidak
sesuai dengan suasana perasaan yang
dihayati
g. Afek labil : perubahan irama perasaan yang
cepat dan tiba-tiba, tidak berhubungan
dengan stimulus eksternal
Pembicaraan
 Bicara spontan atau tidak
 Gambarkan :
 Kuantitas : banyak bicara, mengomel, fasih,
pendiam
 Kecepatan produksi : spontan/ tidak, cepat/
lambat, tertekan, ragu-ragu, dramatik, keras,
monoton, berbisik, cadel, terpatah-patah,
bergumam
 Kualitas : hendaya berbicara
Persepsi (1)
 Gangguan persepsi :
1. Depersonalisasi : suatu kondisi patologis,
perasaan subyektif terhadap gambaran
seseorang mengalami atau merasakan diri
sendiri tidak nyata atau khayali (asing,
tidak dikenali). Contoh : merasa bahwa
tangan kanannya bukan miliknya tetapi
diganti tangan orang lain.
2. Derealisasi : perasaan subyektif bahwa
lingkungan menjadi asing, tidak nyata.
Contoh: saat sekarang saya berada di kota
samarinda (riil berada di kota semarang)
Persepsi (2)
3. Ilusi : persepsi yang keliru/ menyimpang
dari stimulus eksternal yang nyata
4. Halusinasi : persepsi yang keliru/ palsu
tidak berhubungan dengan stimulus
eksternal yang nyata, menghayati gejala-
gejala yang dikhayalkan sebagai hal yang
nyata. Jenis halusinasi :
a. Halusinasi hipnagogik  terjadi ketika mulai jatuh
tertidur, tidak ada nilai patologis.
b. Halusinasi hipnapompik  terjadi ketika mulai
terbangun, tidak ada nilai patologis.
Persepsi (3)
c. Halusinasi auditorik
d. Halusinasi visual
e. Halusinasi penciuman
f. Halusinasi pengecapan
g. Halusinasi taktil
h. Halusinasi somatik : dikenal juga sebagai
cenesthesic hallucination, sensasi keliru
yang terjadi di dalam tubuhnya, lebih sering
menyangkut organ dalam.
i. Halusinasi liliput micropsia
Persepsi (4)
 Contoh cara memeriksa :
 Bapak/ibu apakah pernah mendengar suara
ditelinga (mis. Memanggil nama,
berkomentar, menyuruh, mengancam atau
pembicaraannya tidak jelas) dan tidak dapat
didengar orang lain atau ketika tidak ada
orang lain disekitar anda? Kapan terjadi ?
Sudah berapa lama? Terakhir kali? Apakah
suara tersebut muncul setiap hari setiap
saat atau kadang-kadang? Apakah bapak/
ibu merasa terganggu dengan suara-suara
tersebut?
Persepsi (5)
 Cara menyimpulkan : didapat halusinasi
akustik , terjadi sejak 2 bulan, sampai
dengan sekarang masih ada, muncul setiap
hari dan penderita merasa sangat terganggu
 halusinasi akustik ada dan menonjol.
Pikiran (1)
 Proses pikir :
1. Proses pikir primer : pikiran dereistik, tidak
logis, magis. Normal ditemukan pada
mimpi, tidak normal pada psikosis
2. Gangguan bentuk pikir/ arus pikir :
a. Asosiasi longgar : ide-ide berpindah dari satu
subyek ke subyek lain yang tidak berhubungan
sama sekali.
b. Inkoherensi : pikiran yang secara umum tidak
dapat dimengerti, pikiran/ kata keluar bersama
tanpa hubungan yang logis  disorganisasi pikir.
Pikiran (2)
c. Flight of ideas/ lompat gagasan : pikiran
yang sangat cepat, verbalisasi berlanjut atau
permainan kata yang menghasilkan
perpindahan yang konstan dari satu ide ke
ide lain; ide biasanya berhubungan dan
dalam bentuk yang tidak parah (mis.
Asosiasi bunyi, asosiasi pengertian)
d. Sirkumstansial: pembicaraan yang tidak
langsung sehingga lambat mencapai point
yang diharapkan
e. Tangensial: ketidamampuan untuk
mencapai tujuan secara langsung &
seringkali tidak mencapai tujuan yang
diharapkan
Pikiran (3)
 Gangguan isi pikir : gangguan pada
buah pikir atau keyakinan seseorang,
bukan cara penyampaian. Jenis
gangguan :
1. Kemiskinan isi pikir :pikiran yang hanya
sedikit menghasilkan informasi.
2. Waham/ delusi : suatu keyakinan atau
kepercayaan yang keliru tentang
kenyataan eksternal, tidak konsisten
dengan intelegensia & latar belakang
budaya pasien, tidak bisa diubah lewat
penalaran atau dengan jalan penyajian
Pikiran (4)
 Jenis-jenis waham :
a. Waham bizzare : keyakinan yang keliru,
mustahil dan aneh (misal: makhluk luar
angkasa menanamkan elektrode di otak
manusia)
b. Waham sistematik : keyakinan yang keliru
yang tergabung dalam satu tema (misal :
saya setiap tahun pindah rumah karena
suami saya itu suka selingkuh dengan
tetangga, setiap gajian uang habis sehingga
saya tidak pernah mendapat nafkah dari
suami)
Pikiran (5)
c. Waham nihilistik : merasa bahwa diri atau
lingkungan dan dunia tidak ada atau menuju
kiamat. (misal: saya sudah mati)
d. Waham somatik : keyakinan salah yang
melibatkan fungsi tubuh. (misal: otaknya
meleleh)
e. Waham paranoid :
• Waham kebesaran  merasa dirinya orang yang
sangat kuat, sangat berkuasa atau sangat besar
• Waham kejaran (persekutorik)  mengira bahwa
dirinya adalah korban dari usaha untuk
melukainya, atau yang mendorong agar dia gagal
dalam tindakannya
Pikiran (6)
• Waham rujukan (delution of reference) :
meyakini bahwa tingkah laku orang ini pasti
akan memfitnah, membahayakan atau akan
menjahati dirinya.
• Waham dikendalikan : keyakinan bahwa
keinginan, pikiran atau perasaannya
dikendalikan oleh kekuatan dari luar, termasuk
didalamnya :
Thought withdrawal – pikiran ditarik
Thought insertion – pikiran disisipi
Thought broadcasting – pikiran tersiar/ diketahui
Thought control – pikiran dikendalikan
Pikiran (7)
f. Waham cemburu : cemburu patologis
tentang pasangan yang tidak setia
g. Erotomania : merasa yakin bahwa
seseorang sangat mencintainya (biasanya
pada wanita)
3. Obsesi : ide yang kuat, menetap &
seringkali tidak rasional, tidak dapat
dihilangkan dengan usaha yang logis,
berhubungan dengan kecemasan.
Biasanya disertai suatu kompulsi untuk
melakukan suatu perbuatan.
Pikiran (8)
4. Kompulsi : kebutuhan dan tindakan
patologis untuk melaksanakan suatu
impuls, jika ditahan akan menimbulkan
kecemasan, perilaku berulang sebagai
respons dari obsesi atau timbul untuk
memenuhi satu aturan tertentu
5. Fobia : ketakutan patologis, atau irasional
yang persisten, berlebihan dan selalu
terjadi berhubungan dengan stimulus atau
situasi spesifik yang menyebabkan
keinginan yang memaksa untuk
menghindari stimulus tersebut,
Pikiran (9)
 Contoh fobia :
a. Fobia spesifik – ketakutan terbatas pd obyek tertentu
b. Fobia sosial - takut berbicara, atau tampil di depan
umum (takut dipermalukan)
c. Akrofobia – takut berada di tempat tinggi
d. Agorafobia – takut berada ditempat terbuka, ramai
atau sulit melarikan diri
e. Klaustrofobia – takut berada di tempat sempit
f. Ailurofobia - takut pada kucing
g. Zoofobia – takut pada binatang
h. Xenofobia – takut pada orang asing
i. Fobia jarum – takut berlebihan menerima suntikan
Sensorium dan Kognisi (1)
 Untuk menilai fungsi otak organik, taraf
intelegensia, kapasitas berpikir abstrak,
tingkatan tilikan dan daya nilai
(judgment).
 Mini Mental State Examination (MMSE)
instrumen singkat untuk menilai fungsi
kognitif, orientasi, daya ingat, kalkulasi,
kemampuan membaca dan menulis,
kemampuan visuospasial dan
berbahasa, nilai total 30.
Sensorium dan Kognisi (2)
a. Kesadaran / sensorium : kemampuan
seseorang untuk melakukan relasi dan
limitasi dalam menanggapi rangsang
dari luar maupun dari dalam diri, td :
1. Kompos menits
2. Apatia
3. Somnolensi
4. Sopor
5. Koma
6. Kesadaran berkabut
Sensorium dan Kognisi (3)
7. Delirium
8. Kesadaran seperti mimpi (dream like state)
2. Twilight state
b. Kognisi
c. Perhatian / konsentrasi
1. Distraktibilitas
2. Inatensi selektif
3. Kewaspadaan berlebih (hyper-vigilance)
Sensorium dan Kognisi (4)
d. Orientasi : kemampuan untuk
mengenali obyek atau situasi
sebagaimana adanya, td :
1. Orientasi personal
2. Orientasi ruang/ spasial
3. Orientasi waktu
4. Orientasi situasional
e. Memori / daya ingat : proses
pengelolaan informasi  perekaman,
penyimpanan dan pemanggilan kembali
Sensorium dan Kognisi (5)
1. Amnesia :
a. Amnesia anterograd
b. Amnesia retrograd
2. Paramnesia :
a. Konfabulasi
b. Deja Vu
c. Jamais Vu
d. Hiperamnesia
e. Screen memory
f. Letologika
Sensorium dan Kognisi (6)
 Berdasarkan rentang waktu daya ingat
dibedakan :
1. Memori segera
2. Memori baru
3. Memori jangka menengah
4. Memori jangka panjang
Reality Testing of Ability (RTA)
 Kemampuan seseorang untuk menilai
realita.
 Kemampuan ini akan menentukan
persepsi, respon emosi dan perilaku
dalam berelasi dengan realitas
kehidupan .
 Contoh gangguan berat dalam
kemampuan menilai realitas  adanya
kekacauan perilaku, waham, halusinasi.
Daya Nilai
 Kemampuan untuk menilai situasi
secara benar dan bertindak sesuai
dengan situasi tersebut, td:
1. Daya nilai sosial : kemampuan seseorang
untuk menilai situasi secara benar dan
bertindak yang sesuai dengan situasi tersebut
dengan memperhatikan kaidah sosial yang
berlaku didalam kehidupan sosial dan
budayanya.
2. Uji daya nilai : kemampuan seseorang untuk
menilai situasi secara benar dan bertindak
yang sesuai dengan situasi imajiner yang
diberikan
Tilikan (1)
 Kemampuan memahami sebab
sesungguhnya dan arti dari suatu situasi
(termasuk didalamnya gejala itu sendiri)
 Pemahaman seseorang terhadap
kondisi dan situasi dirinya dalam
konteks realita sekitarnya (arti luas)
 Pemahaman pasien terhadap
penyakitnya (arti sempit)
Tilikan (2)
 Jenis-jenis tilikan :
1. Tilikan derajat 1 – penyangkalan total
terhadap penyakitnya
2. Tilikan derajat 2 – ambivalensi terhadap
penyakitnya
3. Tilikan derajat 3 – menyalahkan faktor lain
sebagai penyebabnya penyakitnya
4. Tilikan derajat 4 – menyadari bahwa
dirinya sakit dan butuh bantuan namun
tidak memahami penyebab penyakitya
5. Tilikan derajat 5 – menyadari penyakitnya
dan faktor-faktor yang berhubungan
dengan penyakitnya namun tidak
menerapkan dalam perilaku praktisnya
6. Tilikan derajat 6 (sehat) - menyadari
sepenuhnya tentang situasi dirinya disertai
motivasi untuk mencapai perbaikan.
Evaluasi Multiaksial (1)
 Untuk memahami pasien secara
menyeluruh baik dari segi
1. Ada tidaknya gangguan jiwa
2. Kepribadian
3. Kondisi medik/ fisik
4. Problem psikososial dan lingkungan
5. Fungsinya sebagai makhluk psikososial
secara menyeluruh
Evaluasi Multiaksial (2)
 Diagnosis Multiaksial :
 Aksis I : semua gangguan jiwa yang terdapat
dalam blok F0 samapi F90 kecuali F60
 Aksis II :
1. Gangguan kepribadian – F60 dan F61
2. Retardasi Mental (F7)
 Aksis III : kondisi medik umum
 Aksis IV : problem psikososial dan lingkungan
 Aksis V : penilaian fungsi secara global
(menyeluruh), dalam fungsi psikologis, sosial
dan okupasional
 Contoh :
 Aksis I : F20.0 skizofrenia paranoid
 Aksis II : gangguan kepribadian skizoid
 Aksis III : Diabetes Melitus
 Aksis IV : diberhentikan dari pekerjaan
 Aksis V : GAF 40 (mutakhir)
GAF 70 (1 tahun terakhir)