Anda di halaman 1dari 54

KESEIMBANGAN AIR DAN Oleh

ELEKTROLIT DALAM TUBUH Edi Rosadi


DEFINISI
Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari
air (pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut).

Elektrolit adalah senyawa kimia yang terlarut


dalam suatu larutan yang dibentuk oleh ion-
ion.
• Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu
proses dinamik karena metabolisme tubuh
membutuhkan perubahan yang tetap dalam
berespon terhadap stressor fisiologis dan
lingkungan (Tarwoto & Wartonah, 2004).
• Keseimbangan cairan yaitu keseimbangan
antara intake dan output. Dimana pemakaian
cairan pada orang dewasa antara 1.500ml -
3.500ml/hari, biasanya pengaturan cairan
tubuh dilakukan dengan mekanisme haus.
FUNGSI
• Pelarut dan alat angkut /sarana transportasi
(nutrisi,hormon,dan protein)
• Katalisator dalam berbagai reaksi biologi sel,
memecah/menghidrolisis zat gizi kompleks
menjadi bentuk sederhana.
• Fasilitator pertumbuhan dan pembentuk
struktur tubuh (diperlukan utk pertumbuhan)
• Sebagai sarana metabolisme sel dan membantu
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme.
• Pengatur suhu (menyalurkan panas dan
mendistribusikan panas di dalam tubuh)

• Peredam benturan (spt. cairan di mata,


jaringan saraf tulang belakang, kantung
ketuban).
DISTRIBUSI CAIRAN

1. Total Body Water (TBW)

Pada orang dewasa 55-60 % dari berat badan (dlm kg) atau
70% dari bagian tubuh tanpa lemak (lean body mass)

Volume cairan tubuh :


- Pria (17-39 th): 60% BB
- Wanita (17-39 th) : 50% BB
2. Cairan Tubuh :
a. Cairan Intra seluler (CIS) :
• Cairan intraseluler yaitu cairan yang berada di dalam sel
di seluruh tubuh.
• Cairan ini menyusun sekitar 70% dari total cairan tubuh
(total body water/TBW).
• Pada orang dewasa, CIS menyusun sekitar 40% berat
tubuh ( ⅔ dari TBW ) sedangkan pada bayi 50% cairan
tubuhnya adalah cairan intraseluler.
b. Cairan Ekstra seluler (CES) :
• Cairan Exstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan
menyusun sekitar 30% dari total cairan tubuh.
• Pada orang dewasa CES menyusun sekitar 20% berat tubuh
• Cairan yang berada di luar sel tubuh meliputi :
1) Interstitial (CIT) (15 %BB), yaitu cairan yang terletak diantara
sel.
2) Intravaskuler (CIV)/plasma (5% BB) yaitu cairan di dalam
sistem vaskuler
3) Transeluler (CTS) yaitu cairan sekresi khusus seperti cairan
serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.
Terdapat dalam rongga badan 1-3 % dari berat badan.
DISTRIBUSI CAIRAN DI DALAM TUBUH

CAIRAN TUBUH TOTAL (TBW)


45 ℓ

INTRASELULER
30 ℓ

INTERVASKULER INTERSELULER/
(DARAH) INTERSTISIAL
Na : K = 1 : 10
3ℓ 12 ℓ
Na: K = 28 : 1 Na : K = 28 : 1
KOMPOSISI
1. Air (sebagai pelarut)
Pada pria dewasa 60 % dan
wanita dewasa 55 %.

• Faktor yang mempengaruhi:


 Sel-sel lemak ; mengandung sedikit air.
 Usia ; air tubuh menurun dengan peningkatan usia.
 Jenis kelamin ; wanita mempunyai air tubuh yang
kurang, karena lebih banyak mengandung lemak
tubuh.
PROSENTASE TOTAL CAIRAN TUBUH DIBANDINGKAN
BERAT BADAN
UMUR Total cairan tubuh (%) terhadap BB

Bayi Baru Lahir 77


6 Bulan 72
2 Tahun 60
16 Tahun 60
20 - 39 Tahun
 Pria 60
 Wanita 50
40 -59 Tahun
 Pria 55
 Wanita 47
Kebutuhan Intake Cairan Berdasarkan Umur Dan Berat Badan
2. Solut (terlarut)

• Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis


substansi terlarut (zat terlarut): elektrolit dan
non-elektrolit.

(a)Elektrolit
Substansi yang berdiasosiasi (terpisah) di
dalam larutan dan akan menghantarkan arus
listrik.
• Kation :
ion-ion yang mambentuk muatan positif dalam
larutan. Kation ekstraselular utama adalah
natrium (Na+), sedangkan kation intraselular
utama adalah kalium (K+).

• Anion :
ion-ion yang membentuk muatan negatif dalam
larutan. Anion ekstraselular utama adalah klorida
( Clˉ ), sedangkan anion intraselular utama adalah
ion fosfat (PO4-).
Unsur Utama Kompartemen Cairan Tubuh

Na+ K+ Cl - HCO3 ‫־‬ PO4-


Kompartemen
(mEq/L) (mEq/L) (mEq/L) (mEq/L) (mEq/L)

Intravaskuler 142 4,5 104 24 2,0


Interstitial 145 4,4 117 27 2,3
Intraselular 12 150 4,0 12 40
Transselular 60 7 100 0 -
Asam lambung 130 7 60 100 -
Getah pancreas 45 5 58 0 -
Keringat
Kandungan Elektrolit Cairan Tubuh
Jumlah Kehilangan Air dan Elektrolit Per 100
Kcal Bahan Metabolik dalam Keadaan Normal
Maupun Sakit
Intake dan Output Rata - rata Harian
Dari Unsur Tubuh yang Utama
Intake (range) Output (range)
Natrium(mEq)=70 (50-100)  Urine = 65 (50-100)
 Faeces = 5 (2-20)
Kalium (mEq) = 100 (50-120) Urine = 90 (50-120)
 Faeces = 10 (2-40)
Magnesium (mEq) = 30 (5-60)  Urine = 10 (2-20)
 Faeces = 20 (2-50)
Kalsium (mEq) = 15 (2-50)  Urine = 3(0-10)
 Faeces = 12 (2-30)
Protein (g) = 55 (30-80)
Nitrogen (g) = 8 (4-12)
Kalori = 1800-3000
( b) Non elektrolit
Non elektrolit adalah zat terlarut yg tidak terurai
dalam larutan dan tidak bermuatan listrik, seperti
protein, glukosa, oksigen, karbon dioksida dan
asam-asam organik.
Substansi seperti glukosa dan urea yang tidak
berdisosiasi dalam larutan dan diukur
berdasarkan berat (milligram per 100 ml atau
mg/dl).
Non elektrolit lainnya yang secara klinis penting
mencakup kreatinin dan bilirubin.
Insensible Water Loss (IWL)
Merupakan Kehilangan cairan melalui kulit
(difusi) & paru
Untuk mengetahui “Insensible Water Loss (IWL)”
dapat menggunakan penghitungan sebagai
berikut :
o DEWASA = 15 cc/kg BB/hari
o ANAK = (30 – usia (th)) cc/kg BB/hari
Jika ada kenaikan suhu :
o IWL= 200 (suhu badan sekarang – 36.8C)
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan
cairan dan elektrolit

1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Sel-sel lemak
4. Stres
5. Sakit
6. Temperatur lingkungan
7. Diet
Keseimbangan cairan dan
elektrolit
• Keseimbangan cairan tubuh adalah
keseimbangan yang masuk dan keluar tubuh.
• Melalui mekanisme keseimbangan, tubuh
berusaha agar cairan di dalam tubuh setiap
waktu berada di dalam jumlah yang tetap
(konstan).
Keseimbangan Air
Masukan air Jumlah (ml) Keluaran air /eksresi jumlah
Cairan 550 - 1500 Ginjal 500 - 1400
Makanan 700 - 1000 Kulit 450 - 900
Air metabolik 200 - 300 Paru - paru 350
Feses 150
Total 1450 - 2800 Total 1450 - 2800
Sumber : whitney,E.N. dan S.R Rolfer, Understanding Nutrition, 1993,
hal.372
Sumber-sumber cairan (input & output)
2500 ml GIT 100 ml
Metabolik 200 ml
Paru 300 ml
2000 ml Makanan
700 ml Kulit 600 ml

1500 ml

1000 ml
Minum Ginjal
1600 ml 1500 ml
500

0
Input Output
• Metabolik  respirasi seluler aerobik (produksi ATP)
 sintesis dehidrasi
(glukosa + fruktosa  sukrosa + H2O)
Perpindahan Cairan dan Elektrolit
1. Difusi
Yaitu perpindahan larutan dari area berkonsentrasi tinggi
menuju area berkonsentrasi rendah dengan melintasi
membrane semi permiabel. Kecepatan difusi dipengaruhi oleh
tiga hal, yakni ukuran molekul, konsentrasi larutan, dan
temperatur larutan
2. Filtrasi
Yaitu pergerakan cairan dan zat terlarut dari area dengan
tekanan hidrostatik tinggi ke area dengan tekanan hidrostatik
rendah. Filtrasi penting dalam mengatur cairan keluar dari arteri
ujung kapiler. Ini memungkinkan kekuatan yang memungkinkan
ginjal untuk memfilter 180 liter/hari.
3. Transport Aktif
Yaitu proses pengangkutan yang digunakan oleh molekul
untuk berpindah melintasi membran sel melewati gradien
konsentrasinya (gerakan partikel dari konsentrasi satu ke
konsentrasi lain tanpa memandang tingkatannya).

4. Osmosis
Yaitu perpindahan cairan melintasi membran semi permiabel
dari area berkonsentrasi menuju area yang berkonsentrasi
tinggi. Osmosis dapat melewati semua membran bila
konsentrasi yang terlarut keduanya berubah.
Faktor - Faktor Keseimbangan Cairan
dan Elektrolit

• Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari
usia, karena usia akan berpengaruh pada luas
permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan.
Bayi dan anak-anak lebih mudah mengalami
gangguan keseimbangan cairan dibanding usia
dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan
keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi
ginjal atau jantung.
• Iklim
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi)
dan kelembaban udaranya rendah memiliki
peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit
melalui keringat. Sedangkan seseorang yang
beraktifitas di lingkungan yang panas dapat
kehilangan cairan sampai dengan 5 ℓ per hari.
• Diet
Diet seseorang berpengaruh terhadap intakecairan
dan elektrolit. Ketika intake nutrisi tidak adekuat
maka tubuh akan membakar protein dan lemak
sehingga akan serum albumin dan cadangan protein
akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan
dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini
akan menyebabkan edema.
• Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa
darah, dan pemecahan glikogen otot.
Mekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan
retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat
meningkatkan volume darah.
• Kondisi Sakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh Misalnya :
– Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan
kehilangan air melalui IWL.
– Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat
mempengaruhi proses pasien dengan penurunan
tingkat kesadaran.
– Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan
mengalami gangguan pemenuhan intake cairan
karena kehilangan kemampuan untuk
memenuhinya secara mandiri.
Pengaturan Asam Basa
• Faktor-faktor yang mempengaruhi asam basa
Pemberian asam melalui makanan
Penambahan secara endogen dari hasil metabolisme
(laktat)
Penambahan secara endogen yang tidak fisiologis (DM)
Pengeluaran asam/basa oleh ginjal dan usus
Pengeluaran asam karbonat (H2CO3) oleh paru
Pembentukan asam dalam jumlah besar oleh sel-sel
lambung
Keseimbangan Asam & Basa
• Keseimbangan asam-basa  pengaturan
konsentrasi ion H+ dalam cairan tubuh
• Ion H+ sbg hasil dari metabolisme:
C6H12O6 + O2  CO2 + H2O  H2CO3  H+ + HCO3-

• [H+] dlm plasma  pH plasma darah = 7,4


• Sistem dapar (buffer) menghambat perubahan
pH yang besar jika ada penambahan asam
atau basa

faal_cairan-asam-basa/ikun/2006 38
Sistem Dapar
1. Asam karbonat:Bikarbonat
 sistem dapar di CES untuk asam non-karbonat
2. Protein
 sistem dapar di CIS & CES
3. Hemoglobin
 sistem dapar di eritrosit untuk asam karbonat
4. Phosphat
 sistem dapar di ginjal dan CIS
Komposisi Ion pada Cairan Tubuh
Keseimbangan ion H+
Mekanisme Regulasi Keseimbangan
Asam-Basa
• Sistem dapar hanya mengatasi ketidakseimbangan
asam-basa sementara
• Ginjal: meregulasi keseimbangan ion H+  dengan
menghilangkan ketidakseimbangan kadar H+ secara
lambat; terdapat sistem dapar fosfat & amonia
• Paru-paru: berespons scr cepat thd perubahan kadar
H+ dalam darah & mempertahankan kadarnya
sampai ginjal menhilangkan ketidakseimbangan
tersebut
Regulasi Pernapasan dlm
Keseimbangan Asam-Basa
• Kadar CO2 meningkat  pH menurun
• Kadar CO2 menurun  pH meningkat
• Kadar CO2 & pH merangsang kemoreseptor yg
kemudian akan mempengaruhi pusat
pernapasan
 hipoventilasi meningkatkan kadar CO2
dlm darah
 hiperventilasi menurunkan kadar CO2
dlm darah
Regulasi Ginjal dlm
Keseimbangan Asam-Basa
• Sekresi H+ ke dalam filtrat & reabsorpsi HCO3-
ke CES menyebabkan pH ekstrasel meningkat
• HCO3- di dlm filtrat diabsorbsi
• Laju sekresi H+ meningkat akibat penurunan
pH cairan tubuh atau peningkatan kadar
aldosteron
• Sekresi H+ dihambat jika pH urin < 4,5

faal_cairan-asam-basa/ikun/2006 44
Akibat ketidak seimbangan air
dan elektrolit

• Ketidak seimbangan terjadi pada dehidrasi


(kehilangan air secara berlebihan) dan
intoksikasi air (kelebihan air).
1. Hipervolemia (kelebihan Volume Cairan)
• Hipervolemia (FVE) yaitu keadaan dimana seorang
individu mengalami atau berisiko mengalami
kelebihan cairan intraseluler atau interstisial.
(Carpenito, 2000).
• Disebut juga oedam, terjadi karena kelebihan cairan
pada interstisial sebagai akibat dari beberapa
gangguan sirkulasi cairan tubuh seperti infeksi dan
kongesti paru.
• Hipervolemia ini dapat terjadi jika :
– Stimulus kronis pada ginjal untuk menahan natrium dan
air.
– Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi
natrium dan air.
– Kelebihan pemberian cairan intra vena (IV).
– Perpindahan interstisial ke plasma.
• Akibat lanjut dari kelebihan volume cairan adalah :
– Gagal ginjal, akut atau kronik, berhubungan dengan
peningkatan preload, penurunan kontraktilitas, dan
penurunan curah jantung.
– Penyakit jantung (Infark miokard,Gagal jantung kongestif,
Gagal jantung kiri, Penyakit katup, Takikardi/aritmia
– Penyakit hepar : Sirosis, Asites, Kanker, berhubungan
dengan kerusakan arus balik vena.
2. Hipovolemia (Kekurangan Volume cairan)

Kekurangan Volume cairan (FVD) terjadi jika air dan


elektrolit hilang pada proporsi yang sama ketika
mereka berada pada cairan tubuh normal sehingga
rasio elektrolit serum terhadap air tetap sama
(Brunner & suddarth, 2002)
Hipovolemia adalah suatu kondisi akibat kekurangan
volume cairan ekstraseluler (CES)
Hipovolemia ini terjadi dapat disebabkan :
– Penurunan masukkan.
– Kehilangan cairan yang abnormal melalui :
kulit,
gastro intestinal, ginjal abnormal, dll.
– Perdarahan.

Akibat lanjut dari kekurangan volume cairan :


– Dehidrasi (Ringan, sedang berat).
– Renjatan hipovolemik.
– Kejang pada dehidrasi hipertonik.
• Dehidrasi
Terjadi apabila total output cairan melebihi intake bisa di
akibatkan : muntah dan diare serta luka bakar.
Macam-macam dehidrasi
Dehidrasi Isotonis adalah dehidrasi dimana adanya
kekurangan pada cairan extraseluler.
Dehidrasi Hipertonik adalah kekurangan banyak cairan yang
melebihi kekurangan elektrolit dimana air keluar dari sel ke
ECF.
Dehidrasi Hypotonik adalah kebanyakan air dalam tubuh,
tanpa peningkatan elektrolit sehingga air masuk ke dalam sel
menyebabkan sel bengkak.
3. Gangguan Ketidak Seimbangan Elektrolit
• Hyponatremia dan hypernatremia
• Hipokalemia dan hiperkalemia
• Hipokalsemia dan hiperkalsemia
• Hipokloremia dan hiperkloremia
• Hipofosfatemia dan hiperfosfatemia
3. Gangguan keseimbangan asam dan basa
• Asidosis Respiratorik
Yaitu gangguan keseimbangan asam basa yang disebabkan
oleh retensi CO2 akibat kondisi hiperkapnia. Tanda dan gejala
klinisnya meliputi : Napas dangkal, gangguan pernapasan yang
menyebabkan hipoventilasi, Adanya tanda-tanda depresi
susunan saraf pusat, gangguan kesadaran, dan disorientasi.
• Asidosis Metabolik
Yaitu gangguan yang mencakup semua jenis asidosis yg bukan
disebabkan oleh kelebihan CO2 dalam cairan tubuh. Tanda dan
gejala klinisnya : Pernapasan kussmaul (pernapasan cepat dan
dalam), Kelelahan (malaise), Disorientasi, Koma