Anda di halaman 1dari 9

TAHAPAN DAN FENOMENA DAN MASALAH-

MASALAH DALAM MENGUKUR CAKUPAN


WHITE COLLAR CRIME

OLEH :
-MARISA PRATIWI
-MUHAMMAD FAHMI ARIF NST
-TUTI DAHRIYANTI MATONDANG
A. RUANG LINGKUP WHITE COLLAR CRIME

• Istilah “white collar crime” sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia


sebagai “kejahatan kerah putih” ataupun “kejahatan berdasi”. ( I Wayan
Landrawan ) White collar crime ini pertama kali dikemukakan dan
dikembangkan oleh seorang kriminolog Amerika Serikat yang bernama
Edwin Hardin Sutherland sekitar tahun 1939 didepan American sosiological
society, jenis kejahatan ini dipandang muncul bersamaan dengan terjadinya
pengelompokan masyarakat dalam kategori upper class dan lower class
dalam perusahaan-perusahaan juga kelas-kelas seperti itu white collar (upper
class), dan Blue Collar (Lower Class)
• White Collar Crime (WCC) : Kejahatan oleh orang – orang yang memiliki
jabatan tertentu yang menyangkut manajemen. “tidak menjangkau yang
diluar hukum pidana”
• Pelanggaran hukum pidana oleh orang yang memiliki kedudukan social
ekonomi tinggi. Sedangkan menurut EIDEL (Noach Simanjuntak, 1984) ;
tindakan illegal yang dilakukan dengan cara non fisik dan dengan
penyembunyian atau tipu muslihat untuk memperoleh uang atau harta benda
dan pemanfaatan perorangan.
• “ Joan Miller “ membagi WCC kedalam empat kategori :

• Organizational of occupational crime yaitu kejahatan yang


dilakukan para eksekutif demi keuntungan perusahaan berakibat
kerugian pada masyarakat. Dimanapun mereka berada. Misalnya
: manipulasi pajak, penipuan iklan.
• Governmental occupational crime yatu kejahatan yang dilakukan
oleh pejabat atau birokrat misalnya perbuatan sewenang –
wenang yang merugikan masyarakat yang terkait dengan
kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki dan sangat sulit
terdeteksi karenadilakuakn berdasarkan keahlian dan
berbarengan dengan kejabatanya.
• Profesional occupational crime yaitu pelaku kajahatan ini
mencakup berbagai pekerjaan atau profesi. Disamping
kerugian yang bersifat ekonomis juga mengancxam
keselamatan jiwa seseorang. ( tidak menutup
kemungkinan timbulnya kriminogen / kejahatan dalam
bentuk lain. Misalnya : dokter, pengacara, akuntan.
Contoh : aborsi, eutasia / suntik mati, tindakan dokter
diluar profesi.
• Individual occupational crime yaitu kejahatan
yang dilakukan oleh individu artinya pekerjaan yang
dilakukan dengan menyimpang yang menimbulkan
kerugian perusahaan.
B. WHITE COLLAR CRIME DALAM KAJIAN HUKUM

• Penegakan hukum di dalam Sistem Peradilan Pidana


bertujuan untuk menanggulangi setiap kejahatan, hal ini
dimaksudkan agar setiap tindakan-tindakan yang melanggar
aturan hukum dan peraturan perundang-undangan serta
membuat kehidupan menjadi terganggu dapat untuk
ditangulangi, sehingga kehidupan masyarakat menjadi aman,
tenteram dan terkendali serta masih dalam batas-batas
toleransi masyarakat. Setiap komponen dalam setiap sistem
peradilan pidana masyarakat dituntut untuk selalu
bekerjasama, hal ini seperti pendapat yang dikemukakan
oleh Mardjono Reksodiputro, bahwa : keempat komponen
sistem peradilan pidana (kepolisian, kejaksaan, pengadilan
dan lembaga pemasyarakatan) diharapkan dapat
bekerjasama dan dapat membentuk suatu “integrated
criminal justice system”.
• Beberapa pemikiran yuridis agar sanksi atau hukuman
terhadap pelaku tindak kejahatan white collar crime dapat
efektif dan memiliki efek penjeraan atau mencegah
(deterrent) agar tindak kejahatan yang sama tidak terulang
kembali, antara lain :
• Pelaku Di Permalukan Di Muka Umum
• Pengucilan Terhadap Pejabat Atau Eksekutif Tersebut
• Denda Diperberat
• Pelayanan Masyarakat
• Intervensi Pemerintah / Pengadilan
C. WHITE COLLAR CRIME DALAM PERSPEKTIF
HUKUM ISLAM
• White Collar Crime Dalam Perspektif Hukum Islam merupakan
sesuatu yang pantas dihindari dan dijauhi bahkan diberantas.
Kejahatan adalah perbuatan yang menimbulkan kegoncangan pada
jiwa seseorang dan menimbulkan kegusaran di dalam hati serta
stabilitas masyarakat. Syari'ah Islam menegaskan bahwa segala bentuk
kejahatan hendaknya ditanggulangi dengan sungguh-sungguh,
diberantas tuntas dan diberi hukuman yang setimpal. Pelaku-pelaku
kejahatan harus ditindak tanpa ragu-ragu dan hukuman harus
dikenakan dengan tegas. Apa yang disebutkan di dalam Syari'ah
sebagai dosa besar pada hakikatnya merupakan kejahatan yang besar.
Kejahatan yang menggoyahkan stabilitas keamanan dan merusak
masyarakat.
• Kejahatan jabatan (occupational crime) atau kejahatan kerah putih
(white collar crime) meliputi juga larangan memakan harta orang lain
dengan jalan yang tidak sab (korupsi), menyogok dan atau menyuap
untuk memperoleh sesuatu, membuat sumpah palsu atau menjadi saksi
palsu. AI-Qur'an menegaskan tentang tindak korupsi dan Iain-lain
sebagaimana tersebut di bawah ini:
• "Dan janganlah engkau memakan harta sebagian
yang lain di antara engkau dengan jalan yang batil
dan (janganlah) engkau membawa (umsan) harta
itu kepada hakim hakim,supaya engkau dapat
memakan sebagaan dari harta-benda orang lain itu
dengan (jalan berbuat) dosa, padalial engkau
mengetahuinya)."(QS 2:188)
• TERIMA KASIH