Anda di halaman 1dari 16

REFERAT

KERATITIS ACANTHAMOEBA ”

Pembimbing:
dr. Yulia Fitriani, Sp. M

Disusun Oleh:
Putri Rahmawati Utami G4A016113

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
SMF ILMU KESEHATAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PURWOKERTO
2017
Latar Belakang
Keratitis adalah suatu kondisi peradangan yang terjadi pada
kornea mata atau terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea yang
akan mengakibatkan kornea menjadi keruh sehingga tajam
penglihatan menurun (Ilyas, 2015).
Keratitis Acanthamoeba sering dihubungkan dengan
penggunaan lensa kontak yang dipakai semalaman, dan juga sering
terjadi karena mata terpapar air atau tanah yang tercemar. Angka
kejadian keratitis Acanthamoeba di U.S yaitu 1:250.000 orang
(Bisswell, 2010). Keratitis dapat menyebabkan komplikasi seperti
katarak, hipopion, dan meningkatkan tekanan intraocular (Cianflone,
2015)
Penulisan ini ditujukan untuk memahami tentang keratitis
Acanthamoeba mulai dari definisi, etiologi, klasifikasi, petogenesis,
diagnosis, tatalaksana, komplikasi serta prognosis. Selain itu, penulisan
referat ini juga untuk meningkatkan kemampuan menulis ilmiah di
bidang ilmu kedokteran.
Anatomi dan Fisiologi Kornea

Lapisan Kornea
1. Epitel
2. Membran Bowman
3. Stroma
4. Membran Descement
5. Lapisan Endotel
• Kornea merupakan bagian selaput mata yang tembus cahaya,
bersifat transparan, berukuran 11-12 mm horizontal dan 10-11
vertikal, tebal 0,6-1mm. Indeks bias kornea 1,375 dioptri
dengan kekuatan pembiasan 80%. Sifat kornea yang dapat
ditembus cahaya ini disebabkan oleh struktur kornea yang
uniform, avaskuler, dan disturgen atau keadaan dehidrasi
relatif jaringan kornea yang dipertahakan oleh pompa
bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan
endotel
Keratitis
Keratitis merupakan peradangan kornea. Radang kornea biasanya
diklasifikasikan dalam lapis kornea yang terkna, seperti keratitis
superficialis dan interstisial atau profunda. Keratitis dapat disebabkan
oleh infeksi bakteri, jamur, dan protozoa (Ilyas, 2015).
KERATITIS ACANTHAMOEBA
• DEFINISI
Keratitis Acanhtamoeba merupakan infeksi pada kornea yang
disebabkan oleh Acanthamoeba (Biswell, 2010).

• ETIOLOGI
1. Acanthamoeba merupakan protozoa hidup-bebas yang
terdapat dalam air tercemar
2. penggunaan lensa kontak
3. mata terpapar air atau tanah yang tercemar
• EPIDEMIOLOGI
Kasus keratitis Acanthamoeba meningkat pada tahun 1980
berhubungan dengan pemakaian lensa kontak yang disposable.
Rata-rata angka kejadian keratitis Acanthamoeba di U.S yaitu
1:250.000 orang.
PATOFISIOLOGI
PATOFISIOLOGI
proses terjadinya keratitis Acanthamoeba dibagi menjadi 3 tahap yaitu
perlekatan pada epitel dan deskuamasi, invasi stroma dan neuritis.
Patogenesis Acanthamoeba diawali dengan perlengketan mikroba
secara adhesi kedalam jairngan penjamu. Dalam banyak kasus,
interaksi awal antara mikroba dan penjamu dimediasi oleh system
carbohydrate-mediated recognititon. Selanjutnya Acanthamoeba
mengeluarkan protein virulen MBP (Mannose-binding protein) yang
berperan sebagai media melekatnya amoeba pada permukaan kornea.
MBP adalah protein transmembran yang memiliki karakteristik seperti
sel reseptor pada permukaan. Setelah dimediasi oleh MBP pada sel
penjamu, amoeba ini kemudian memproduksi contact dependent
metalloproteinase dan beberapa contact independent
serineproteinase. Proteinase tersebut bekerja secara bersamaan dan
menyebabkan cytophatic potent effect (CPE) yang berperan dalam
membunuh sel penjamu, degradasi dasar membrane epitel,
menghancurkan matriks stroma dan penetrasi ke lapisan yang lebih
dalam kornea.
PENEGAKAN DIAGNOSIS
• Anamnesis
Pasien mengeluhkan rasa nyeri yang tidak sebanding dengan
temuan klinisnya, mata merah dan fotofobia. Pasien bisanya
datang dengan keluhan nyeri hebat, pandangan kabur, merasa
silau, sensasi benda asing, dan keluar air mata pada sebelah
mata. Penting untuk menanyakan kebiasaan menggunakan
kontak lensa dan riwayat trauma yang disertai kontaminasi
tanah atau air ke dalam mata (Gross, 2003).
• Pemeriksaan fisik
Tanda klinis yang khas pada keratitis Acanthamoeba
adalah ditemukan ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan
infiltrat perineural, tetapi hanya sering ditemukan perubahan-
perubahan yang terbatas pada epitel kornea. Pada awalnya
terlihat abu-abu putih pada superfisial dan nonsupuratif infiltrat.
Seiringan dengan perkembangan penyakit sebagian atau
terbentuk infiltrat berbentuk cincin yang sempurna di daerah
parasentral kornea (Graffi, 2013). Infiltrat yang berbentuk cincin
(ring infiltrate) atau lesi satelit merupakan tanda yang dapat
membantu menegakkan diagnosis.
• B
• C

Keratitis Acanthamoeba A. Stadium dini infeksi epitelial yang


membentuk gambaran dendritik, B. Stadium dini infeksi
epitelial. C. Stadium dini pembentukan infiltrat berbentuk cincin
(ring infiltrate).
• (Sumber: photo courtesy of Dan B. Jones, M.D. )
• Pemeriksaan penunjang
Diagnosis ditegakkan dengan biakan di atas media khusus
(agar nonnutrien yang dilapisi E.coli). Pengambilan sampel
lebih baik dilakukan dengan biopsi kornea karena
kemungkinan diperlukan pemeriksaan histopatologi untuk
menemukan bentuk-bentuk amoeba (trofozoit atau kista).
TATALAKSANA
• Chlorhexidine 0,02 % sering digunakan dalam kombinasi
dengan diamines aromatic seperti propamidine isethionate
Brolence 0,1 %, dibromopropamidine 0,15 %, hexamidine 0,1
% desomedine dan neomisin
• Debridement epitel (untuk mengangkat organism utama) dan
keratoplasty
• Antimikroba topikal ini diberikan perjam secepatnya setelah
debridement kornea atau untuk beberapa hari pada terapi
awal. Kemudian dilanjutkan perjam selama 3 hari (dianjurkan
9 kali perhari) tergantung respon klinis.
• keratoplasty atau transplantasi kornea merupakan terapi
pilihan bila gagal pada terapi topikal
• KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin namun jarang terjadi adalah
Sclerokeratitis Acanthamoeba,

• Prognosis
Dipengaruhi oleh derajat keparahan penyakit saat dimulainya
terapi yang tepat. Semakin dini diagnosis ditegakkan semakin
baik pula prognosisnya.
DAFTAR PUSTAKA
• American Academy of Ophthalmology. External Eye Disease and Cornea. San Fransisco; American Academy of Ophthalmology; 2008-2009.
p179-90.

• Anatomi kornea. [homepage on internet]. Diakses pada 10 maret 2017. Dapat diakses di:
http://www.researchgate.net/figure/262608568_fig1_Figure-1-anatomical-structure-of-the-retina-and-cornea-the-retina-upper-blowout-
panel.

• Biswell D. 2010. Kornea. Dalam: Riordan-Eva P, Witcher JP, editor. Vaughan & Ausbury oftalmologi Umum ed 17. Jakarta: EGC; p125-49.

• Cabral FM, Cabral G. 2003. Acanthamoeba spp. As Agents of Disease in Human. American Society for Microbiology. 2003 Apr;16:273-307.

• Cassidy L, Oliver J. 2005. Kelainan pada Kornea. In: Ophthalmology at a Glance. Massachusetts. p66-8.

• Cianflone NF .2015. Acanthamoeba. Medscape.

• Fancis S et al. 2007. Special report: Acanthamoeba keratitis. American Sociaty of Cataract and Refractive Surgery.

• Graffi S et al. 2013. Acanthamoeba Keratitis. Medical Association Journal, 182-5.

• Gross E. 2003. Complications of Contact Lenses, In: Duane’s clinical Opthalmology, (fourth volume). Lippincott williams & wilkins. USA.

• Ilyas S . 2015.Keratitis. In: Ilmu Penyakit Mata ed 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

• Image of Acanthamoeba keratitis.[homepage on internet]. Diakses pada 23 Oktober 2017. Dapat diakses di:
https://www.cdc.gov/parasites/acanthamoeba/health_professionals/acanthamoeba_keratitis_images.html

• Life Cycle of Acanthamoeba. [home page on internet]. Diakses pada 23 Oktober 2017. Dapat diakses di:
http://www.cdc.gov/parasites/Acanthamoeba/biology.html

• Lorenzo JM, et al. 2015. An Update on Acanthamoeba Keratitis: Diagnosis, Pathogenesis and Treatment. Jurnal: Parasite. 22,10.
• Siddiqui R, Khan NA .2012. Biology and Pathogenesis of Acanthamoeba. Biomed Central Ltd. 2012; 5-6.

• Zeitz PF, Zeitz J. facharzte fur augenheilkunde in dusseldorf. [Cited 2017 Mart 15]. Available from:
http://zeitzfrankozeitz.de/index.php/fachwoerterbuch.html?L0=EN&L1=ALL&x=1&w=keratitis+punctata&lang=EN&piconly=1.