Anda di halaman 1dari 59

Skenario Modul VI

TRAUMA DAN PENATALAKSANAAN NYA


Pulang… balik lagi
Pak yasir, 55 tahun, beserta keluarga besarnya dalam perjalanan
pulang dari RSCM menjemput istri dan anaknya yang baru lahir.
Dalam perjalanan mobil yang mereka tumoangi mengalami KLL,
sehingga pak yasir dan anggota keluarganya harus dilarikan ke IGD.
Setelah dilakukan penanganan awal, dokter berencana untuk
melakukan operasi cyto pada pak yasir akibat open fraktur os femur
dextra dan cruris sin. Anak perempuannya yang berusia 9 tahun
mengalai dislokasi sendi lutut dan akan segera direposisi. Bayi yang
berusia 5 hari mengalami luka robek di bagian dahi, serta istrinya
hanya mengalami luka ringan. Ibunya berusia 68 tahun mengalami
fraktur collum femur sin. Keluarga sangatkhawatir dan menanyakan
apakah fraktur yang dialami ibunya dapat segera sembuh mengingat
ibunya memiliki riwayat osteoporosis serta penyembuhan luka robek
pada bayinya apakah akan menimbulkan sikatrik.
Bagaimana andamenjelaskan kasus diatas?
Jump 5
1. Konsep Umum trauma
2. Masalah dan penanganan trauma
a. Dewasa
b. Kelompok khusus
3. Proses penyembuhan dan faktor yang mempengaruhi
a. luka
b. fraktur
Konsep Umum Trauma
Trauma adalah hilangnya kontinuitas dari jaringan.
Klasifikasi trauma berdasarkan sifat dan penyebab trauma :
1. Trauma mekanik
a. Trauma tumpul  ok benda yg permukaannya tidak mampu
mengiris.
Sifat luka:
- Memar (kontusio, hematom).
- Luka lecet, luka lecet di bagi menjadi dua, yaitu : luka lecet tekan
dan luka lecet geser .
- Luka robek.
- Patah tulang .

b. Trauma tajam  ok benda yg permukaannya mampu untuk


mengiris sehingga kontinuitas jaringan hilang.
Sifat luka: luka iris, luka tusuk dan luka bacok.

c. Senjata api.
2. Trauma fisika
a. Suhu panas (luka bakar)
• Eritem dengan ciri – ciri epidermis intak, kemereahan, sembuh
tanpa meninggalkan sikatriks.
• Vesikel, bulla dan bleps dengan albumin atau NaCl tinggi.
• Necrosis coagulativa dengan ciri- ciri warna coklat gelap hitam dan
sembuh dengan meninggalkan sikatriks (litteken).
• Karbonisasi (sudah menjadi arang).

b. Trauma dingin (hipotermia dan frostbiteHipotermia)


• Kulit pucat akibat vasokonstriksi kemerahan akibat vasodilatasi
karena paralisis vasomotor center.
• Kulit berubah menjadi merah kehitaman, membengkak (skin
blister), gatal dan nyeri. Kemudian timbul gangren superfisial yg
irreversibel.
3. Trauma kimiaa.
a. Asam kuat → mengkoagulasikan protein →
luka korosif yg kering, kertas seperti kertas
permanen.
b. Basa kuat → membentuk reaksi
penyabunan → luka basah, licin → kerusakan
sampai kedalam.
Respon sel, jaringan, organ terhadap trauma
1. Aktivasi sistem saraf simpatik peningkatan tekanan
arteri dan vena, bronkodilatasi, takikardia, takipneu,
capillary shunting ,dan diaforesis.

2. Peningkatan heart rate Cardiac output sebanding


dengan stroke volume dikalikan heart rate. Jika stroke
volume menurun, heart rate meningkat.

3. Peningkatan frekuensi napas. Saat inspirasi, tekanan


intrathoracik negatif. Aksi pompa thorak ini membawa
darah ke dada dan pre-loads ventrikel kanan untuk
menjaga cardiac output.
4. Menurunnya urin output. Hormon anti-diuretik dan
aldosteron dieksresikan untuk menjaga cairan vaskular.
Penurunan angka filtrasi glomerulus menyebabkan respon
ini.

5. Berkurangnya tekanan nadi menunjukkan turunnya


cardiac output (sistolik) dan peningkatan vasokonstriksi
(diastolik).

6. Capillary shunting dan pengisian trans kapiler dapat


menyebabkan dingin, kulit pucat dan mulut kering.
Capillary refill mungkin melambat.

7. Perubahan status mental dan kesadaran disebabkan oleh


perfusi ke otak yg menurun atau mungkin secara
langsung disebabkan oleh trauma kepala.
Komplikasi
1. Komplikasi trauma tumpul, tajam, dan
tembak (trauma abdomen)
– Perforasi
– Perdarahan
2. Komplikasi trauma fisika
– Syok
– Infeksi
– Ketidak seimbangan elektrolit (inbalance elektrolit)
– Masalah distres pernapasan
3. Komplikasi trauma
– Kehilangan penglihatan
– Glaukoma
– Katarak
– Ulkus/perforasi kornea
– Sikatrik kornea
– Retinal detachment
– Konjungtiva, dan
– Palpebra
Masalah dan penanganan
trauma
Trauma Dewasa
Trauma
• Trauma dada
seperempat dari jumlah kematian trauma terjadi akibat cedera
dada.
Sebagian besar pasien trauma dada dapat dikelola dengan
cara-cara sederhana tanpa pembedahan.
Distres nafas (sesak) dapat disebabkan oleh :
• Fraktura iga / flail chest
• Pneumotoraks
• Pneumotoraks “tension”
• Hemotoraks
• Kontusioo paru
• Penumotoraks terbuka
• Aspirasi
Syok akibat perdarahan dapat terjadi karena hemotoraks atau
hemomediastinum
• Trauma abdomen
Pada trauma ganda, abdomen merupakan
bagian yang tersering mengalami cedera.
Organ yang tersering cedera pada trauma
tembus adalah hepar/hati dan pada trauma
tumpul adalah lien/limpa.
Evaluasi awal terhadap pasien trauma
abdominal harus menyertakan A (airway
and C-spine), B (breathing), C
(Circulation), dan D (disability dan
penilaian neurologis) dan E (exposure).
Ada dua jenis dari trauma abdominal :
I. Trauma penetrasi dimana penting dilakukan
konsultasi bedah sbb.:
A. Luka tembak
B. Luka tusuk
II. Trauma non-penetrasi sbb.:
A. Kompresi
B. Hancur (crash)
C. Sabuk pengaman (seat belt)
D. Cedera akselerasi / deselerasi
Patologi berikut ini harus cepat di kenali dan dikelola dengan baik:
• Perdarahan ekstradural (epidural)
• Perdarahan subdural akut
Kedua keadaan tersebut diatas memerlukan pembedahan dan
harus diupayakan dekompresi dengan burr-hole.

Keadaan di bawah ini memerlukan pengelolaan medik konservatif,


karena pembedahan tidak akan membawa hasil lebih baik.
• Fraktura basis cranii
• Comotio cerebri - ditandai dengan gangguan kesadaran temporer
• Fraktura depresi tulang tengkorak
• Hematoma intracerebral
• Trauma spinal
Kerusakaan yang sering terjadi adalah
pada syaraf jari, plexus brachialis dan
sumsum tulang belakang (medula
spinalis).
Pemeriksaan korban trauma tulang
belakang harus dilakukan dalam posisi
netral (tanpa melakukan fleksi, ekstensi
dan rotasi pada tulang belakang).
Bila terdapat trauma tulang belakang (yang mungkin disertai)
kerusakan sumsum tulang belakang, periksalah :
• Apakah ada nyeri tekan.
• Deformitas dan tanda “step-off” posterior
• Pembengkakan
Tanda klinis yang menyertai kerusakan akibat trauma tulang leher
adalah :
• Kesukaran bernafas (pola nafas diafragma, pola nafas paradoksal)
• Kelumpuhan otot dan hilangnya refleks (periksa sfinkter ani)
• Hipotensi dengan bradikardia.
Jika tersedia alat sinar X maka foto tulang leher dilakukan pada
posisi AP dan posisi lateral yang menampakkan sendi atlas-axis
dan tujuh ruas tulang leher.
• Trauma ekstremitas
Pemeriksaan harus meliputi :
• warna dan suhu kulit
• perabaan nadi distal
• tempat-tempat yang berdarah
• deformitas ekstremitas
• gerakan ekstremitas secara aktif dan pasif
• gerakan ekstremitas yang tak wajar dan
adanya krepitasi
• derajat nyeri bagian yang cedera
Pengelolaan cedera ekstremitas harus
ditujukan pada :
• Memelihara aliran darah ke jaringan perifer
• Mencegah infeksi dan nekrosis kulit
• Mencegah kerusakan pada syaraf perifer
Penanganan trauma
• Primary survey
a. Airway
 menilai jalan nafas bebas.
- Bicara pada pasien
- Berikan oksigen dengan sungkup muka
atau kantung nafas
- Menilai jalan nafas
- Menjaga stabilitas tulang leher
- Pertimbangkan untuk memasang jalan
nafas buatan
b. Breathing
 menilai pernafasan cukup
- Inspeksi
- Palpasi
- Auskultasi
c. Circulation
 menilai sirkulasi atau peredaran darah.
d. Disability
menilai kesadaran dengan cepat,apakah
pasien sadar, hanya respon terhadap nyeri
atau sama sekali tidak sadar.
e. Eksposure
Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien
agar dapat dicari semua cedera yang
mungkin ada.
• Secondary survey
 head to toe examination
- Pemeriksaan kepala
- Pemeriksaan leher
- Pemeriksaan neurologis
- Pemeriksaan dada
- Pemeriksaan abdomen
- Pelvis dan ektremitas
- Sinar X
Masalah Trauma Pada Usia
Neonatus
• Masalah-masalah yang terjadi pada bayi
baru lahir yang diakibatkan oleh tindakan-
tindakan yang dilakukan pada saat
persalinan sangatlah beragam.

• Trauma akibat tindakan, cara persalinan


atau gangguan kelainan fisiologik
persalinan yang sering kita sebut sebagai
cedera atau trauma lahir. Partus yang
lama akan menyebabkan adanya tekanan
tulang pelvis
• Trauma pada bayi baru lahir adalah
trauma yang diterima dalam atau karena
proses kelahiran. Istilah trauma lahir
digunakan untuk menunjukkan trauma
mekanik dan anoksik, baik yang dapat
dihindarkan maupun yang tidak dapat
dihindarkan, yang didapat bayi pada masa
persalinan clan kelahiran.
• Trauma dapat terjadi sebagai akibat
ketrampilan atau perhatian medik yang
tidak pantas atau yang tidak memadai
sama sekali, atau dapat terjadi meskipun
telah mendapat perawatan kebidanan
yang terampil dan kompeten clan sama
sekali tidak ada kaitannya dengan
tindakan atau sikap orang tua yang acuh
tak acuh
Beberapa kondisi karena trauma
pada bayi baru lahir :
• 1. Trauma pada bayi baru lahir perlukaan
kulit.
Kelainan ini mungkin timbul pada persalinan
yang mempergunakan alat-alat seperti cunam
atau vakum. Infeksi sekunder merupakan
bahaya yang dapat timbul pada kejadian ini. Bila
perlu dapat juga digunakan obat-obat antiseptik
lokal. Biasanya diperlukan waktu 6-8 minggu
untuk penyembuhan.
Kaput suksedaneum
Kaput suksedaneum merupakan benjolan yang difus
dikepala terletak pada prosentasi kepala pada waktu
bayi lahir.

Kelainan ini timbul akibat tekanan yang keras pada


kepala ketika memasuki jalan lahir hingga terjadi
pembendungan sirkulasi-kapiler dan limfe disertai
pengeluaran cairan tubuh ke jaringan ekstra vasa.

Gambaran klinisnya, benjolan kaput berisi cairan serum


dan sering bercampur sedkit darah. Kaput suksedaneum
dapat terlihat segera setelah bayi lahir dan akan hilang
sendiri dalam waktu dua sampai tiga hari umumnya tidak
memerlukan pengobatan khusus.
Sefalohematoma
Sefalohematoma merupakan suatu perdarahan
subperiostal tulang tengkorak berbatas tegas pada
tulang yang bersangkutan dan tidak melewati
sutura.

Sefalohematoma timbul pada persalinan dengan


tindakan seperti tarikan vakum atau cunam, bahkan
dapat pula terjadi pada kelahiran sungsang yang
mengalami kesukaran melahirkan kepala bayi

sifatnya perlahan-lahan benjolan timbul biasanya


baru tampak jelas beberapa jam setelah bayi lahir
(umur 6 – 8 jam) dan dapat membesar sampai hari
kedua atau ketiga
• Sefalohematoma pada umumnya tidak
memerlukan pengobatan khusus.
Biasanya mengalami resolusi sendiri
dalam 2 – 8 minggu tergantung dari besar
kecilnya benjolan
• 2. Trauma pada bayi baru lahir enitema,
ptekiae, abrasi, ekimosis dan
nekrosislemak subkutan.

Jenis persalinan yang sering menyebabkan


kelainan mi yaitu presentasi muka clan
persalinan yang diselesaikan dengan
ekstraksi cunam clan ekstraksi vakum.
Kelainan mi memerlukan pengobatan khusus
dan menghilang pada minggu pertama.
• 3. Trauma pada bayi baru lahir
perdarahan subaponeurotik

• Perdarahan ini terjadi di bawah aponeurosis akibat


pecahnya vena-vena yang menghubungkan
jaringan di luar dengan sinus-sinus di dalam
tengkorak. Perdarahan dapat terjadi pada
persalinan yang diakhiri dengan alat, dan biasanya
tidak mempunyai batas tegas, sehingga kadang-
kadang kepala berbentuk asimetnis. Kelainan ini
dapat menimbulkan anemia, syok, atau
hiperbilirubinemia.
• Pendarahan tali pusat pada bayi adalah trauma yang
disebabkan ikatan tali pusat yang longgar, atau kegagalan
pembentukan thrombus yang normal

• Kemungkinan lain sebab perdarahan adalah penyakit


perdarahan pada neona Ins dan infeksi lokal maupun sistemik

• Perdarahan tali pusat dapat disebabkan oleh robekan arteri


umbilikus

• Robekan umbilikus disebabkan pula oleh Hematoma, varises


dan aneunisme pembuluh darah, tetapi pada sebagian kasus
tanpa penyebab yang jelas. Kadang-kadang secara sepintas
tidak nampak adanya perdarahan eksternal, karena darah
yang keluar langsung masuk ke dalam jaringan plasenta.
• Perdarahan tali pusat atau umbilikus mungkin dapat
terjadi karena kelalaian tersayatnya dinding
umbilikus atau plasenta sewaktu seksio sesarea

• . Pada kasus robekan pembuluh darah umbilikus


tanpa adanya trauma, hendaknya di pikirkan
kemungkinan kelainan anatomik pembuluh darah,
seperti pembuluh aberan, insersi velamentosa tali
pusat, atau plasenta multilobulanis
Fraktur clavicula
• Fraktur adalah retaknya tulang, biasanya
disertai dengan cedera di jaringan sekitarnya.
Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma
dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada
tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma
tidak langsung.
• Clavicula adalah tulang yang paling pertama
mengalami pertumbuhan pada masa fetus,
terbentuk melalui 2 pusat ossifikasi atau
pertulangan primer yaitu medial dan lateral
clavicula, dimana terjadi saat minggu ke-5 dan
ke-6 masa intrauterin.
• Kernudian ossifikasi sekunder pada epifise
medial clavicula berlangsung pada usia 18
tahun sampai 20 tahun

• Dan epifise terakhir bersatu pada usia 25 tahun


sampai 26 tahun.

• Fraktur clavicula bisa disebabkan oleh benturan


ataupun kompressi yang berkekuatan rendah
sampai yang berkekuatan tinggi yang bisa
menyebabkan terjadinya fraktur tertutup ataupun
multiple trauma
• Penyebab fraktur clavicula biasanya disebabkan
oleh trauma pada bahu akibat kecelakaan
apakah itu karena jatuh atau kecelakaan
kendaraan bermotor, namun kadang dapat juga
disebabkan oleh faktor-faktor non traumatik.
Berikut beberapa penyebab pada fraktur
clavicula yaitu :
– Fraktur clavicula pada bayi baru lahir akibat tekanan
pada bahu oleh simphisis pubis selama proses
melahirkan.
– Fraktur clavicula akibat kecelakaan termasuk
kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dari ketinggian
dan yang lainnya.
– Fraktur clavicula akibat kompresi pada bahu
dalam jangka waktu lama, misalnya pada
pelajar yang menggunakan tas yang terlalu
berat.

– Fraktur clavicula akibat proses patologik,


misalnya pada pasien post radioterapi,
keganasan clan lain-lain.
• Penyebab farktur clavicula biasanya disebabkan
oleh trauma pada bahu akibat trauma jalan lahir
dengan gejala:
1. Bayi tidak dapat menggerakkan lengan secara
bebas pada sisi yang terkena,
2. Krepitasi dan ketidakteraturan tulang,
3. Kadang-kadang disertai perubahan warna pada
sisi fraktur,
4. Tidak adanya refleks pada sisi yang terkena,
5. Adanya spasme otot sternokleidomastoideus yang
disertai dengan hilangnya depresi supraklavikular
pada daerah fraktur
• Faktor predisposisi fraktur klavikula adalah:
1. Bayi yang berukuran besar
2. Distosia bahu
3. Partus dengan letak sungsang
4. Persalinan traumatic .

• Hasil pemeriksaan
– Adanya pembengkakan pada sektor daerah
fractur.
– Krepitasi.
– Pergerakan lengan berkurang.
– Iritable selama pergerakan lengan
PENATALAKSANAAN
• Adapun penatalaksanaan terhadap bayi yang
mengalami fraktur klavikula, yaitu:
1. Bayi jangan banyak digerakkan
2. Immobilisasi lengan dan bahu pada sisi yang
sakit dan abduksi lengan dalam stanhoera
menopang bahu belakang dengan memasang
ransel verband
3. Rawat bayi dengan hati-hati
4. Nutrisi yang adekuat (pemberian asi yang
adekuat dengan cara mengajarkan pada ibu
acar pemberian asi dengan posisi tidur, dengan
sendok atau pipet)
5. Rujuk bayi kerumah sakit
• Umumnya 7-10 hari sakit berkurang,
pembentukan kalus bertambah beberapa
bulan (6-8 minggu) terbentuk tulang
normal.
• Fraktur Tulang Humerus
Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada
kelahiran letak sungsang dengan tangan
menjungkit ke atas.
• Kesukaran melahirkan tangan yang menjungkit
merupakan penyebab terjadinya tulang humerus
yang fraktur. Pada kelahiran presentasi kepala
dapat pula ditemukan fraktur ini, jika ditemukan
ada tekanan keras dan langsung pada tulang
humerus oleh tulang pelvis. Jenis frakturnya
berupa greenstick atau fraktur total
Faktor lain
• Berapa faktor risiko yang dapat menaikkan
angka kejadian trauma lahir antara lain
adalah makrosomia, malprensentasi,
presentasi ganda, disproporsi sefala
pelvik, kelahiran dengan tindakan
persalinan lama, persalinan presipitatus,
bayi kurang bulan, distosia bahu, dan
akhirnya faktor manusia penolong
persalinan
• Gejala Klinis
1) Berkurangnya gerakan tangan yang sakit
2) Refleks asimetris
3) Terabanya deformitas dan krepotasi di daerah fraktur
disertai rasa sakit
4) Terjadinya tangisan bayi pada gerakan pasif

• Diagnosa pasti ditegakkan dengan pemeriksaan


radiologik.
Pengobatan trauma lahir fraktur tulang humerus
1) Imobilisasi selama 2 – 4 minggu dengan fiksasi bidai
2) Daya penyembuhan fraktur tulang bagi yang berupa
fraktur tulang tumpang tindih ringan dengan deformitas,
umumnya akan baik.
3) Dalam masa pertumbuhan dan pembentukkan tulang
pada bayi, maka tulang yang fraktur tersebut akan
tumbuh dan akhirnya mempunyai bentuk panjang yang
normal
Cedera Kranioserebral
• Laserasi kulit kepala(vulnus laseratum)
• Hematom scalp
• Fraktur tulang tengkorak
• Komusio serebri
• Edema serebri traumatik
• Kontusio serebri
• Psa
• Edh
• Perdarahan subdural (sdh)
• Cedera kepala / trauma : benturan langsung
/tdak langsung sehinggabmenyebabkan
gangguan defisit neurologis
• Laserasi otak: kerusakan jaringan otak, jar otak
robek, disertai fraktur tengkorak
• Trauma capitis ;
1 . Komusio serebri (ckr), gcs (13-15)
tidak ada jaringan otak yang rusak,kehiangan
fungsi otak sesaat ,penurunan kes < 10
menit
2 . kontusio serebri (cks),gcs (9-12)
kerusakan jar otak, defisit neurologis, ada riw
pingsan ,penurunan kes >10 menit

3. ckb ,gcs (3-8)


pingsan >6 jam dan defisit neurologis
• Tatalaksana
– ABC
– Head up 30
– Px fisik: vs, status neurologis
– Penunjang; lab,ro,ct scan
LANSIA
• Jatuh merupakan kejadian yang
mempercepat patah tulang pada orang
dengan kepadatan mineral tulang rendah
Faktor lingkungan
• F. Intrinsik  disebabkan oleh proses
penuaan dan berbagai penyakit (stroke dan
TIA), gangguan penglihatan, gangguan
sistem KV atau diare.
• F. Ekstrinsik  alat rumah tangga yang
sudah tua atau tergeletak di bawah,tempat
tidur tidak stabil atau kamar mandi yang
rendah dan ttempat berpegangan yang tidak
kuat atau tidak mudah dipegang, lantai licin
dan tidaak datar
Pencegahan
• Latihan fisik
• Managemen obat-obatan
• Modifikasi lingkungan
• Memperbaiki kebiasaan pasien lansia
• Alas kaki
• Alat bantu jalan
• Periksa fungsi penglihatan dan pendengaran
• Memelihara kekuatan tulang
Proses penyembuhan dan
faktor yang mempengaruhi
Inflamasi
• Terjadi setelah luka terjadi dan melibatkan platelet. Pengeluaran
platelet akan menyebabkan vasokonstriksi yang bertujuan untuk
hemostasis sehingga dapat mencegah perdarahan lebih lanjut (5-10
menit)vasodilatasi dan pelepasan substansi vasodilator.
• Terdapat pergerakan leukosit (terutama neutrofil)neutrofil
memfagositosis dan membunuh bakterimasuk ke matriks fibrin dan
persiapan pembentuk jaringan baru.
• Neutrofil sangat aktif selama 3 hariselanjutnya diganti oleh makrofag
yang berperan lebih banyak dalam proses penyembuhan luka.
• Beberapa fungsi makrofag:
- Sintesis kolagen
- Pembentukan jaringan granulasi bersamaan dengan fibroblast
- Produksi GF untuk re-epitelisasi
- Angiogenesis
• Proliferasi
– Proses granulasi untuk mengisi ruang kosong pada
luka
– Angiogenesis untuk menyuplai oksigen ke jaringan
– Proses kontriksi untuk menarik kedua tepi luka agar
berdekatan
• Maturasi
– Fase terakhir dan terpanjang pada proses
remodeling. Dimulai pada minggu kek-3 dan berakhir
1 tahun atau lebih.
– Akhir dari penyembuhan adalah saat luka yang
matang memiliki kekuatan 80% disbanding kulit
normal.
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi
Faktor Lokal Faktor Umum
1. Usia 1. Kelembaban luka
2. Penyakit penyerta 2. Temperatur luka
3. Vaskularisasi 3. Manajemen luka
4. Kegemukan 4. Tekanan, gesekan,
5. Gangguan sensasi tarikan
dan pergerakan 5. Benda asing
6. Faktor psikologis 6. Infeksi luka
7. Terapi radiasi
8. Oat-obatan
Faktor-Faktor yang
Menghambat
• Hipoksia
• Dehidrasi
• Eksudat berlebihan
• Penurunan temperatur
• Jaringan nekrotik, krusta, benda asing
berlebihan
• Hematoma
• Trauma berulang
• Pergantian balutan terlalu sering