Anda di halaman 1dari 29

ALVEOLOPLASTI

( Mata Kuliah Bedah Mulut )

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Di susun oleh :
• Nessia Aidila P. (04081004013)
• Ratna Sartika (04081004012)
• M. firmansyah (04081004014)
• Dwi Surista V (04081004016)
• Endah Fatonah (04081004017)
• Nur Isya Sagita (04081004018)
• Andri Corentus L (04081004020)
• Ariyanti Agustini (04081004021)
• Gusti Tri Wahyuni (04081004022)
• April Andra leka (04081004023)
• M. Septiady (04081004024)
• Nuzzul Izzati Fath (04081004025)
2.1. Definisi Tulang Alveolar
• Tulang alveolar adalah bagian dari
rahang atas dan rahang bawah yang
membentuk dan mendukung soket gigi
(alveoli).
Bagian dari tulang alveolar :
•bagian dalam dan luar lempeng kortikal
•bagian tulang yang melapisi soket
•bagian interior tulang cancellous
Tulang Alveolar dan Bagiannya

2.2. Devinisi Alveoloplasti
• Alveoplasti adalah mempertahankan, pembentukan
kembali linggir yang tersisa (dengan pembedahan)
supaya permukaannya dapat dibebani protesa dengan
baik.

• Alveoplasti merupakan prosedur yang biasanya


dilakukan untuk mempersiapkan linggir, berkisar mulai
satu gigi sampai seluruh gigi dalam rahang, dilakukan
segera setelah pencabutan atau sekunder, dilakukan
tersendiri sebagai prosedur korektif yang dilakukan
kemudian.2
2.3. Etiologi Kelainan Tulang Alveolar

• Faktor sistemik dan lokal secara umum berpengaruh


pada variasi dalam jumlah dan pola resorpsi
tulang alveolar.
• Faktor umum termasuk adanya kelainan
gizi dan penyakit tulang sistemik seperti
osteoporosis, disfungsi endokrin atau kondisi
sistemik lainnya
yang dapat mempengaruhi metabolism tulang.
• Faktor lokal, misalnya trauma saat pencabutan gigi
dan penggunaan gigi tiruan
2.4. Perbedaan alvelektomi dan
alveolotomi
• Alveolektomi adalah suatu tindakan bedah yang radikal
untuk mereduksi atau mengambil prosesus alveolaris
sehingga bisa dilakukan aposisi mukosa, yaitu suatu
prosedur yang dilakukan untuk mempersiapkan linggir
sebelum dilakukan terapi radiasi.2
• Sedangkan Alveolotomi adalah Perapihan lapisan paling
luar prosesus alveolaris setelah dilakukan alveolektomi
septum agar prostesa dapat ditempatkan lebih
prostetik.5
2.5. Pemeriksaan Klinis
• Pemeriksaan tulang yang mendukung harus
mencakup visual, inspeksi, palpasi, pemeriksaan
radiografi, dan dalam beberapa evaluasi kasus
model.
• Palpasi dari semua bidang rahang atas dan rahang
bawah, termasuk daerah vestibular,
diperlukan. Evaluasi daerah denture-bearing
rahang atas
mencakup evaluasi keseluruhan bentuk tulang ridge.
2.5. Pemeriksaan Klinis
• Setelah pencabutan gigi, recontouring yang tepat dari
prosesus alveolar dan perawatan luka diperlukan sebagai
prasyarat untuk penempatan alat prostetik. Kadang-
kadang, residual crest memperlihatkan penyimpangan
,undercut , atau spikula tulang yang jika tidak dihapus
sebelum penempatan gigi tiruan sebagian atau lengkap
menyebabkan cedera dan stabilitas atau masalah retensi.

• Jika alveolar ridge diduga memiliki morfologi abnormal


setelah ekstraksi satu atau gigi lebih, untuk menghindari
kemungkinan seperti itu, alveoloplasty harus dilakukan.6
2.6. Pemeriksaan Radiologis

• Radiograf yang tepat merupakan bagian penting dari


awal diagnosis dan rencana perawatan. Panoramic
radiografi teknik memberikan penilaian gambaran
yang sangat baik yang mendasari struktur dan
condisi patologi
• Radiografi memperlihatkan lesi patologis
tulang, dampak gigi atau bagian dari akar yang
tersisa, pola ridge alveolar, dan ukuran dan
pneumatisasi dengan sinus maksilaris .9
Gambar 3. Gambaran radiografi periapikal
dari regio kaninus dan premolar satu pada
mandibula yang menunjukkan supraerupsi
dan alveolar ridge yang tinggi.
2.7. Macam – Macam alveoloplasti

a. ALVEOLOPLASTI PRIMER

1. ALVEOPLASTI TUNGGAL
• Alveoplasti tunggal bisa dilakukan bersamaan
dengan tindakan pembedahan atau dilakukan
sesudah pencabutan.
• Prosedur Kerja :
• Setelah ekstraksi gigi, flap dibuat dan rongeur yang
digunakan untuk memotong bagian soket gigi yang
bergerigi, sampai ruang interarch klinis yang sesuai
dibuat.
• Setelah itu, permukaan tulang diperhalus
menggunakan dan file tetapi tulang dan gingiva
kelebihan dipangkas dengan gunting jaringan lunak.
• Permukaan tulang dihaluskan dengan file tulang
dengan tekanan tarikan
• Irigasi dengan salin 0,9 %
• Mukoperiosteum dijahit, satu mesial dan satu distal.
• 2. ALVEOLPLASTI MULTIPLE
¤ Alveoplasti Konservatif
Menghindarkan pemotongan mukoperiosteal
dan pengambilan tulang alveolar yang berlebihan.

• Prosedur ini meliputi:


a. Ekstraksi.
b. Refleksi gingiva tersebut.
c. Smoothing tulang alveolar.
d. Perawatan luka.
e. Penjahitan dari mucoperiosteum

b. ALVEOPLASTI SEKUNDER
• Alveoplasti tertunda. Memperbaiki cacat pada linggir
yang tetap tertinggal sesudah pencabutan atau
karena resorpsi atau atrofi yang tidak teratur.
Prosedur Kerja :
1.Incisi mukoperiost tunggal bagian lingual dari linggir
yang akan diperbaiki, diperluas ke anterior posterior.
2.Perluasan flap kontinu ke bukal dan lingual menuju
daerah operasi untuk memperoleh jalan masuk.
3.Pengambilan tulang dan perbaikan kontur dengan
menggunakan rongeurs/bur, haluskan & irigasi
dengan saline.
2.8. Prosedur Pembedahan

Teknik Alveoloplasti
a) Teknik Alveolar Kompresi
b) Teknik Simpel Alveoloplasti
c) Teknik Kortiko-Labial Alveoloplasti
d) Teknik Dean Alveoloplasti
e) Teknik Obwegeser Alveoloplasti
• Syarat dan Bentuk flap

Persyaratan Desain Flap


Suplai Darah
Persayarafan
 Pendukung
Ukuran
Ketebalan
Bentuk Flap
Berdasarkan Outline
• Envelope
• Dalam kebanyakan kasus, desain ini sudah cukup.
Pada teknik ini biasanya dilakukan insisi horizontal
pada tepi gingival, kemudian dimodifikasi seperlunya,
beberapa modifikasi tersebut,
• Pedikel
• Flap pedikel dibuat baik di bukal, lingual atau palatal.
Biasanya digunakan untuk migrasi atau transportasi
untuk memperbaiki suatu cacat, misalnya fistula
oroantral atau nasoalveolar.2
• Semilunar
• Biasanya ditempatkan pada permukaan bukal
prosessus alveolaris disebelah apikal dari pertemuan
antara mukosa bergerak dan cekat.
• Keuntungan desain ini adalah perlekatan gingival dan
sebagian besar mukosa cekat tetap terpelihara dengan
baik, walaupun tetap diperoleh jalan masuk ke region
apikal dan sekitarnya.
• Flap semilunar digunakan untuk menghindari tepi
mahkota protesa, untuk pembedahan periradikular dan
untuk mendapat jalan masuk ke sinus maxillaries dan
region yang jauh lainnya.2
• Pemotongan dan Penghalusan tulang

Tepi tulang yang tajam dipotong dengan


menggunakan Rounger .
• Kemudian Tulang dihaluskan dengan a bone
file, sampai permukaan tulang terasa halus
saat disentuh
Teknik Penjahitan Luka Bedah
• Teknik terputus/unkontinu
• Jahitan kontinyu
• Jahitan Mattress. Ini adalah jahitan jenis
khusus dan dideskripsikan sebagai horisontal
(terputus dan kontinu)
Control post operasi
• Daerah bekas pencabutan dijepit dengan ibu
jari dan telunjuk,
hal ini merupakan perlakuan sederhana pada
tindakan post operatif tehnik alveolopalstis.
Tindakan menyempitkan alveolus ini sangat
terasa pada lengkung rahang atas karena
adanya peningkatan kompresibiltas tulang
• Ketidaknyaman rasa sakit, perdarahan, dan
pembengkakan dalam berbagai tingkatan
• Rasa sakit bisa di atasi dengan pemberian obat non-
narkotik dan narkotik. Yang paling sering digunakan
adalah aspirin dan asetaminofen

• Perdarahan, Perdarahan pasca pencabutan bisa


dikontrol dengan baik dengan penekanan.

• Edema,
• Meskipun edema pasca pencabutan biasanya tidak
terlalu berat, tetapi perlu dicegah dengan aplikasi dingin.
Gambran klinis post operasi ,2 bulan
setelah tindakan pembedahan