Anda di halaman 1dari 44

Apothecary Degree, Faculty of Pharmacy, Andalas University

SUB SISTEM 2
PEMBIAYAAN KESEHATAN
DALAM SISTEM KESEHATAN
NASIONAL

Nama : Fandi Harmiki


BP :1941012012
Bentuk & cara penyelenggaraan berbagai upaya penggalian,
pengalokasian & pembelanjaan dana kesehatan untuk
mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna
mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
 Ialah besarnya dana yang harus disediakan untuk
menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya
keshetan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga,
kelompok dan masyarkat.

 Berdasarkan pengertian ini, maka biaya kesehatan dapat


ditinjau dari dua sudut yaitu
1. Penyedia Pelayanan Kesehatan (Health
Provider)
2. Pemakai Jasa Pelayanan (Health
consumer)
 Adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat
menyelenggarakan upaya kesehatan, maka dilihat pengertian
ini bahwa biaya kesehatan dari sudut penyedia pelayanan
adalah persoalan utama pemerintah dan ataupun pihak swasta,
yakni pihak-pihak yang akan menyelenggarakan upaya
kesehatan.
 Besarnya dana bagi penyedia pelayanan kesehatan lebih
menunjuk kepada seluruh biaya investasi (investmen cost)
serta seluru biaya operasional (operasional cost)
 Adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat
memanfaatkan jasa pelayanan.
 Dalam hal ini biaya kesehatan menjadi persoalan utama para
pemakai jasa pelayanan, namun dalam batas batas tertentu
pemerintah juga turut serta, yakni dalam rangka terjaminnya
pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat
yang membutuhkan
 Besarnya dana bagi pemakai jasa pelayanan lebih menunjuk
pada jumlah uang yang harus dikelurakan (out of pocket) untuk
dapat memanfaatkan upaya kesehatan
 Penggunaan teknologi dari pelayanan kesehatan dengan
teknologi tinggi
 Dominasi pembiayaan pelayanan kesehatan dengan
mekanisme pembayaran tunai (fee for service)
 Lemahnya kemampuan dalam penatalaksanaan sumber-
sumber dan pelayanan itu sendiri (poor management of
resources and service)
 Tingkat Inflasi
 Tingkat permintaan
 Kemjuan ilmu dan teknologi
 Perubahan pola penyakit
 Perubahan pola pelayanan kesehatan
 Perubahan pola hubungan dokter-pasien
 Lemahnya mekanisme pengendalian biaya
 Penyalahgunaan asuransi kesehatan
 Kebutuhan pelayanan kesehatan muncul secara sporadic dan
tidak dapat diprediksikan
 Biaya pelayanan kesehatan pada kondisi tertentu sangan mahal
 Orang miskin tidak saja lebih sulit menjangkau pelayanan
kesehatan, tetapi juga lebih membutuhkan pelaynan kesehatan
 Apa bila individu menderita sakit dapat mempengaruhi
kemampuan untuk berfungsi termasuk bekerja, sehingga
mengurangi kemampuan membiayai.
 Dalam UU No 36 tahun 2009 mengamanatkan biaya kesehatan ,
yakni 5% dari APBN dan 10% dari APBD.
 Realisasi anggaran dari tahun 2008-2014 belum bisa mencapai
amanat UU tersebut, tetapi sudah mengalami peningkatan
 Data dana kesehatan dari APBN
Tahun 2008 : 18,55 Triliun
Tahun 2009 : 20,93 Triliun
Tahun 2013 : 38,61 Triliun
Tahun 2014 : 46,59 Triliun
 Who menyatakan alokasi anggaran untuk kesehatan ideal
adalah sekurang kuranagnya 6% dari anggaran belanja Negara
(APBN).
 Alokasi anggaran kesehatan Negara-Negara maju untuk
kesehatan mencapai 6- 15 %.
 Tersedianya pembiayaan kesehatan dalam jumlah yg mencukupi,

teralokasi secara adil, merata & termanfaatkan secara berhasil guna &
berdaya guna, untuk menjamin terselenggaranya pembangunan
kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yg
setinggi-tingginya.
 Risk Spreading

 Risk Pooling

 Connection between ill-health and poverty

 Fundamental importance of health


 Direct payment by patient
 User payment
 Saving based
 Informal
 Insurance based
Dana

Pengelolaan
Dana Sumber Daya
Kesehatan
SDM
pengelola

Kelembagaan Sarana
Sumber
Daya

Regulasi Standar
Prosedur/mekanisme pengelolaan dana
kesehatan adalah seperangkat aturan yang
disepakati dan secara konsisten dijalankan
oleh para pelaku subsistem pembiayaan
Pengelolaan kesehatan, baik oleh Pemerintah,
Dana
Pemerintah Daerah secara lintas sektor,
Kesehatan
swasta, maupun masyarakat yang
mencakup mekanisme penggalian,
pengalokasian, pembelanjaan dana
kesehatan, dan mekanisme
pertanggungjawabannya.
Kecukupan

Adil & Transparan

Efektif & Efisien


PENYELENGGARAAN SUBSISTEM PEMBIAYAAN
KESEHATAN

Penggalian
dana

Pengalokasian
dana

Pembelanjaan
Penggalian dana untuk pembangunan kesehatan yang bersumber dari
Pemerintah/Pemerintah Daerah dilakukan melalui pajak umum, pajak
khusus, bantuan atau pinjaman yang tidak mengikat, serta berbagai
sumber lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Dana yang bersumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip


kemitraan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat yang
didukung dengan pemberian insentif.

Penggalian dana yang bersumber dari masyarakat dihimpun secara aktif


oleh masyarakat sendiri atau dilakukan secara pasif dengan memanfaatkan
berbagai dana yang sudah terkumpul di masyarakat.

Penggalian dana untuk pelayanan kesehatan perorangan dilakukan dengan


cara penggalian dan pengumpulan dana masyarakat dan didorong pada
bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan.
Pengalokasian dana Pemerintah dan Pemerintah Daerah
dilakukan melalui perencanaan anggaran dengan
mengutamakan upaya kesehatan prioritas secara bertahap
dan terus ditingkatkan jumlah pengalokasiannya sehingga
sesuai dengan kebutuhan. Hal ini termasuk program bantuan
sosial dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk
pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak
mampu (Program Jaminan Kesehatan Masyarakat).

Dana Pemerintah untuk pembangunan kesehatan diarahkan


untuk membiayai upaya kesehatan primer, sekunder, dan
tersier dengan mengutamakan masyarakat rentan dan
miskin, daerah terpencil, perbatasan, pulau-pulau terluar dan
terdepan, serta yang tidak diminati swasta, termasuk
program-program kesehatan yang mempunyai daya ungkit
tinggi terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Pengalokasian dana untuk pelayanan kesehatan
perorangan dilakukan melalui kepesertaan dalam
jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh
Pemerintah.

Pengalokasian dana yang dihimpun dari


masyarakat dilaksanakan berdasarkan asas
gotong-royong sesuai dengan potensi dan
kebutuhannya.
 Suatu upaya utk memberikan perlindungan thd kemungkinan2
yg dpt mengakibatkan kerugian ekonomi. (Breider dan
Breadles,1972)
 Perjanjian dimana sipenanggung dgn menerima suatu premi
mengikatkan dirinya utk memberi ganti rugi kpd tertanggung
yg mungkin diderita karena terjadinya suatu peristiwa yg
mengandung ketidak pastian dan yang akan mengakibatkan
kehilangan,kerugian atau kehilangan suatu keuntungan. (Kitab
UU Hukum Dagang,1987)
 Klasik --- ada 3 pihak yg saling berhubungan dan
mempengaruhi
1. Peserta (client)
2. Asuransi (health insurance institution)
3. Penyedia pelayanan (health provider)
1. Pengelola dana
a. Pemerintah (govertment health insurance)
b. Swasta (private health insurance )

2. Keikutsertaan angggota
a) Asuransi kesehatan wajib ---> setiap penduduk (national
health insurance)
b) Asuransi kesehatan sukarela
 Insurable interest
 Utmost good faith
 Proximate cause
 Indemnity
 Subrogation
 Contribution
 Asuransi bersifat umum,yaitu mencakup semua golongan
masyarakat
 General Taxation
 Earmarked Payroll tax

 Asuransi Bersifat khusus, untuk kelompok masyarakat tertentu


 Social Insurance
 Voluntary community
 Private insurance
 Funding/Donation
 Dari mana saja sumber dana BPJS ?
 Pembiayaan apa saja yg dibiayai BPJS?
 Bagaimana mekanisme iuran BPJS untuk masyarakat tidak
mampu?
 Alokasi dana untuk tiap tiap pelayanan kesehatan bagaimana?
 Berapa jumlah penduduk kota padang yang telah mengikuti
atau terdaftar serta yang belum terdaftar di BPJS ?
 Apakah ada peningkatan dana yang diberikan oleh
pemerintah setiap tahun
 Obat-obat dan alkes apa saja yang ditanggung oleh BPJs
 Apa saja perbedaan pelayanan kesehatan di setiap tingkatan
atau kelas di BPJS?
2016 2017 2018
Katastrofik
No Kasus Biaya Kasus Biaya Kasus Biaya
Cirrhosis
1 Hepatitis 2254 Rp 4.597.490.300 4.018 Rp 7.531.576.300 1.519 Rp 3.704.392.700

2 Gagal Jantung 16.537 Rp 31.458.308.100 4.500 Rp 36.607.447.264 3.010 Rp 19.421.912.496

3 Haemophilia 586 Rp 1.310.266.284 733 Rp 2.888.084.300 264 Rp 1.345.099.400

4 Jantung 83.650 Rp 65.020.310.030 163.165 Rp 126.225.521.380 78.350 Rp 60.414.135.894

5 Kanker 2.190 Rp 32.234.228.100 32.478 Rp 50.735.866.800 12.772 Rp 23.774.040.600

6 Leukaemia 1.291 Rp 4.855.406.500 2.323 Rp 12.247.725.700 1.116 Rp 7.474.095.900

7 Stroke 7.262 Rp 11.626.504.600 3.696 Rp 20.411.507.200 5.172 Rp 8.691.902.716

8 Thalassaemia 537 Rp 2.645.208.833 952 Rp 5.453.009.296 457 Rp 2.577.270.772

Total 114.307 Rp 153.747.722.747 211.865 Rp 262.100.738.240 102.660 Rp 127.402.850.478


 Biaya penyakit yang ditanggung BPJS dengan jumlah
pengeluaran terbesar untuk tahun 2018 di kota Padang adalah
penyakit Jantung dengan jumlah kasus sebanyak 78.350
dengan biaya Rp 60.414.135.894, bahkan dari tahun 2016-2018
penyakit jantung adalah pengluaran
 Biaya terbesar kedua untuk tahun 2018 adalah untuk penyakit
kanker dengan jumlah kasus sebanyak 12.722 dengan biaya RP
22.774. 040.600, dari tahun 2016-2018 kanker tetap nomor 2
terbesar.
 Biaya terbesar ketiga untuk tahun 2018 adalah penyakit gagal
jantung dengan 3.010 kasus dengan biaya 19.421.912.496
Kelas I Kelas II KELAS III
Kabupaten %
No PBPU PBPU PBPU PBU % PBPU PBU %
/Kota Menungga
Aktif Menunggak Aktif Menunggak Menunggak Aktif Menunngak Menunggak
k
Kota
1
Padang 14.425 13.977 49.22% 17.459 17.414 49.52% 80.255 86.772 51.95%
FKTP (FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PRATAMA)
KLINIK TOTAL
PUSKESMAS TNI/POLRI DPP DRG RS D PRATAMA
PRATAMA FKTP
23 59 8 21 6 117

FKRTL (FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUT) FASILITAS LAINNYA


SWASTA PEMERINTA TNI/POLRI KLINIK TOTAL APOTEK BIDAN
OPTIK
A B C D A B C D A B C D UTAMA FKRTL PRB JEJARING
14 1 2 2 1 1 1 2 24 14 20 70
 Sumber dana BPJS berasal dari alokasi dana pemerintah dan
iuran keanggotaan peserta BPJS.
 Masyarakat tidak mampu membayar iuran BPJS dengan iuran
untuk kelas 3, sebesar 25.500/bulan, akan tetapi tidak ada
perbedaan fasilitas terhadap peserta untuk kelas 3 terhadap
kelas 2 dan 1, hanya jika pasien berobat rawat inap ruangan
yang dibedakan dengan kelas lainnya
 Lama rawat inap pasien peserta JKN tergantung dari penyakit
yang diderita, sebagai contoh seseorang yang dirawat kerena
operasi penyakit usus buntu dibantu oleh bpjs sebanyak Rp
7000.000 lama rawat inapnya tergantung dari kondisi pasien,
jika 3 hari sudah sembuh dan biaya yang 3 hari kurang dari Rp
7000.000 jadi pasien tersebut tidak membayar biaya
perawatannya lagi, kalau lebih biaya kelebihan ditanggung
oleh pasien.
Sistem pembiayan kesehatan BPJS pasien berdasarkan sistem
gotong royong, dimana setiap anggota bpjs yang sakit akan
dibantu sebesar Rp 5000 dari anggota bpjs yang tidak, jadi
setiap anggota menolong anggota bpjs yang sakit.
BPJS membayarkan biaya kesehatan kepada rumah sakit atau
klinik berpaket, dimana pelayanan untuk konsultasi dokter
dan rawat inap ditentukan oleh tiap tiap rumah sakit atau
klinik tersebut.
Untuk dikota padang penunggakan biaya oleh peserta baik
peserta iuran kelas 1 kelas 2 maupun kelas 3 hamper 50%
rata ini mengindikasikan kurangnya sosialisasi oleh BPJS
BPJS cenderung untuk menyalahkan kecilnya iuran yang harus
diberikan sehingga menyebutnya dengan defisit terencana
padahal dari data di kota padang, tunggakan peserta BPJS
memiliki andil defisitnya keuangan BPJS kesehatan, terlihar
dari hanya 50% rata rata baik dikelas 1, 2 maupun 3 peserta
yang membayar iuran tepat waktu. Masih banyak masyarkat
yang belum memahami pentingnya membayar iuran
asuransi kesehatan BPJS.
 BPJS menyalahkan iuran yang kecil yang menyebebakan
menunggaknya biaya kesehatan dan deficit keuangan
 Iuran peserta JKN BPJS tidak mencukupi untuk memenuhi biaya
kesehatan
 Hanya 50% rata rata peserta bpjs di kelas 1, kelas 2 dan kelas 3
mengindikasikan belum sadarnya masyarakat tentang
pentingnya membayar iuran
 Naikan iuran peserta BPJS
 BJPJS harus bisa menarik iuran sampai 100% peserta BPJS
 Sosialiasi ke masyarakat tentang pentingnya membayar iuran
BPJS
Terima kasih