Anda di halaman 1dari 16

Berdasarkan ASTM, Analisa batubara terbagi atas :

1. Analisa Proximate

2. Analisa Ultimate

3. Nilai Kalor
ANALISA PROXIMATE

Analisa Proximate → untuk mengetahui komposisi utama pembentuk


batubara. Analisa ini menggambarkan jumlah relatif dari komponen
organik ringan (Volatile Matter), Material Organik Non-Volatile (Fixed
Carbon), Moisture dan Kandungan Material Anorganik.

Analisa proximate cukup sederhana tetapi memerlukan peralatan khusus


dan berstandarisasi.

Analisa ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kemanfaatan batubara


didalam industri penggunaan batubara.
Sifat – sifat batubara dapat dilihat dengan analisa sebagai berikut :

1. Kandungan Air (Moisture Content or Lengas)


Terdiri dari :
 Lengas Bebas (Free Moisture)
 Lengas Bawaan (Inherent Moisture)
 Lengas Totas (Total Moisture)

Untuk menghitung Lengas Bebas :


Selisih antara berat batubara dari front dikurangi berat batubara
setelah dikeringkan (diangin-anginkan) hingga kering.

Untuk menghitung Lengas Bawaan :


Selisih antara berat batubara dari front dikurangi berat batubara
setelah dikeringkan (digeruskan dan dipanaskan pada suhu 110℃)
2. Kandungan Abu (Ash Content)
Merupakan komponen anorganik yang tidak terbakar ketika batubara
dibakar dengan oksigen yang melimpah (Residu Anorganik).

Cara menghitung kadar abu dengan membakar batubara pada suhu


815℃ dan mengalirkan udara dalam tungku secara lamabat, kemudian
menimbang abu yang telah terbakar.

Perlu diketahui :
• Semakin banyak mineral dalam batubara maka kadar abu semakin
tinggi
• Untuk menurunkan kadar abu maka kadar mineral harus diturunkan
(Mineral Matter) dengan metoda sederhana yakni operasi pencucian
batubara.
3. Zat Mudah Menguap (Volatile Matter)
Merupakan komponen yang terbebaskan (hilang) apabila dipanaskan
pada suhu yang tinggi yakni 900℃ dengan kondisi oksigen terbatas
kecuali moisture.

Zat yang mudah menguap baik senyawa organik maupun anorgani.


Contoh : CH4

Analisis Volatile Matter:


Batubara ditempatkan dalam krusible silika

Dibakar dalam tungku ± 7 menit

Residu Padat (Tidak selamanya abu)


4. Karbon Tertambat (Fixed Carbon)
Merupakan komponen karbon dalam batubara apabila kandungan
moisture, ash dan volatile matter dihilangkan.

Fixed Carbon :

Fixed Carbon = Batubara Total – (Moisture + Ash + Volatile Matter )

Contoh Data Analisis Proximate Batubara (%)

Sumber Moisture Ash VM FC Total

Batubara A 2,2 4,9 41,3 51,6 100

Batubara B 1,4 11,4 31,4 55,8 100


ANALISA ULTIMATE

Analisa Ultimate → untuk menentukan kelas/rank dari batubara. Analisa ini


menunjukkan unsur pembentuk batubara dengan mengabaikan senyawa –
senyawa kompleks yang ada dengan hanya menentukan unsur – unsur kimia.

Analisa ultimate menganalisis unsur :


• Carbon (C)
• Hidrogen (H)
• Nitrogen (N)
• Sulfur (S)
• Oksigen (O)
• Posfor (P)
Kadar Sulfur

Unsur sulfur umumnya dijumpai dalam batubara dengan jumlah yang


bervariasi mulai dari 1 % sampai 4 %, bahkan hingga puluhan persen.

Sulfur dalam batubara terbentuk :


a) Sulfur Piritik, jumlahnya sekitar 20 – 30 % dari sulfur total. Sulfur ini
terasosiasi dengan abu dan dapat dihilangkan dengan operasi
pencucian.
b) Sulfur Organik, jumlahnya sekitar 20 – 80 % dari sulfur total. Secara
kimia, sulfur ini terikat didalam batubara dan biasanya berasosiasi
dengan sulfat selama proses pembatubaraan.
c) Sulfur Sulfat, jumlahnya sekitar 20 % dari sulfur total. Berupa Kalsium
Sulfat, Natrium Sulfat, Besi sulfat.
Contoh Data Anlisis Ultimate Batubara (%)

Karbon Hidrogen Nitrogen Oksigen Sulfur


82,8 5,73 2,0 8,5 0,83
86,8 5,71 1,7 5,1 0,38

Perlu diketahui :
Jika suatu batubara mengandung sulfur 1% maka dalam pembakaran
batubara sebanyak 100 ton per hari akan menghasilkan sulfur maksimal
sebanyak 1 ton (31,25 kmol) membentuk gas SO2 sebanyak 31,25 kmol
dan polutan SO2 maksimal 0,1 ppm dalam 1,4 x 10 m³.
Pengendalian Emisi Sulfur

 Batukapur (Limestone atau dolomit) dimanfaatkan untuk mengurangi


emisi gas SO2. Dimasukkan dalam tanur, setelah terkalsinasi oleh gas
pembakaran yang panas akan membentuk kalsium sulfat
(penghilangan SO2 berkisar 24 – 45 %)
 Lumpur limestone atau larutan magnesium oksida dimanfaatkan
sebagai penangkap gas SO2, dengan Metode Wet Scrubbing (sekitar
80-95%)
 Material – material pengabsorb seperti karbon aktif, char, alumina
yang dicampur tembaga, dengan Metode Dry Sorbent Systems (sekitar
90%)
NILAI KARBON (Heating Value)

 Dinyatakan dalam kkal/kg, banyaknya jumlah kalori yang dihasilkan oleh

batubara tiap satuan berat (dlm kilogram) → kal/gr, kkal/kg, MJ/kg.

 Dikenal nilai kalor net (net calorific value/low heating calorific value), yaitu nilai

kalor hasil pembakaran di mana semua air (H2O) dihitung dalam keadaan

gas. Nilai kalor gross (grosses calorific value dan high heating value) yaitu

nilai kalor hasil pembakaran dimana semua air (H2O) dihitung dalam keadaan

cair.
 Semakin tinggi nilai HV, makin lambat jalannya batubara yang akan

diumpankan sebagai bahan bakar setiap jamnya, sehingga kecepatan umpan

batubara (coal feeder) perlu disesuaikan.

 Persamaan standar untuk menghitung NCV :

ISO R 1928

NCV = GCV – 0,212 (H) – 0,0008 (O) – 0,0245 M ............................(MJ/kg)

 Faktor konversi :

1 BTU = 0,2520 kkal

1 BTU/lb = 0,55555 kkal/kg

1 MJ/kg = 238,85 kkal/kg


IMPURITIES (Pengotor)

1. Inherent Impurities
→ Pengotor bawaan dalam batubara

2. External Impurities
→ Pengotor luar dari batubara
1. Inherent Impurities

 Pengotor bawaan ini tidak mungkin dihilangkan sama sekali, tetapi dapat
dikurangi dengan melakukan pembersihan, yang biasa dikenal dengan
teknologi batubara bersih.
 Pengotor bawaan ini terjadi bersama - sama pada waktu proses pembentukan
batubara (masih berupa gelly)
 Batubara yang sudah dicuci (washing) dan dikecilkan ukuran
butirnya/diremuk (crushing) sehingga dihasilkan ukuran tertentu, ketika
dibakar habis masih memberikan sisa abu.
 Pengotornya dapat berupa gipsum (CaSO42H2O), inhidrit (CaSO4), pirit
(FeS2), silika (SiO2), dapat juga berbentuk tulang binatang.
2. External Impurities

1) Pengotor ini timbul pada saat proses penambangan, antara lain


terbawanya tanah yang berasal dari lapisan penutup
(Overburden)
2) Mutu batubara mempunyai peranan penting dalam memilih
peralatan yang akan dipergunakan dan pemeliharaan alat,
sehingga dalam penentuan mutu/kualitas batubara maka hal
yang perlu diperhatikan diantaranya : Heating value, moisture
content, ash content, sulfur content, volatile matter, fixed
carbon, dll.