Anda di halaman 1dari 19

REFRESHING

ASMA BRONKIAL
Pembimbing: dr. Toton Suryotono, Sp. PD

STASE INTERNA RSUD CIANJUR


M. Ramandhika T.P 2011730067
DEFINISI

Asma adalah penyakit heterogen yang biasanya


ditandai oleh peradangan saluran napas yang kronis.
Penyakit ini diketahui dari riwayat gejala-gejala
penyakit pernapasan seperti wheezing, sesak napas,
sesak dada, dan batuk yang kadang timbul bersama
dengan keterbatasan saat eksiprasi.
(GINA Report 2016 hal 2)
Epidemiologi

Asma merupakan masalah yang mendunia dan


mengenai kira –kira 300 juta individu dengan prevalensi
global sebanyak 1 – 18 % yang menurun pada Amerika
Utara dan Eropa Barat serta meningkat pada Afrika,
Amerika Latin, dan sebagian Asia. WHO
memperkirakan 15 juta disability-adjusted life years
(DALYs) hilang setiap tahun karena asma, sebanyak 1%
dari total tanggungan penyakit global. Kematian pada
penderita asma sekitar 250.000.
Etiologi
1. Alergen dari debu, bulu binatang, kecoa, jamur, dan
serbuk sari dari pohon, rumput, dan bunga
2. Iritasi seperti asap rokok, polusi udara, bahan kimia
atau debu di tempat kerja, senyawa dalam produk
dekorasi rumah, dan semprotan
3. Obat-obatan seperti aspirin atau obat anti-inflamasi
nonsteroid lain dan beta-blocker selektif
4. Sulfit dalam makanan dan minuman
5. Infeksi saluran pernapasan atas seperti common cold
6. Aktivitas fisik
patofisiologi
Obstruksi saluran napas pada asma merupakan
kombinasi spasme otot bronkus, sumbatan mukus,
edema, dan iflamasi dinding bronkus.

Obstruksi bertambah berat selama ekspirasi karena


secara fisiologis saluran napas menyempit pada fase
tersebut.

Hal ini mengakibatkan udara distal tempat terjadinya


obstruksi terjebak tidak bisa diekspirasi.

Peningkatan volume residu, kapasitas residu fungsional


(KRF). Dan pasien akan bernapas pada volume yang
tinggi mendekati kapasitas paru total (KPT).

Bertujuan agar saluran napas tetap terbuka dan


pertukaran gas berjalan lancar.
patofisiologi
Penyempitan saluran napas ternyata tidak merata di seluruh bagian paru.
Ada daerah yang kurang mendapat ventilasi, terjadi hipoksemia.

Hiperventilasi agar kebutuhan oksigen terpenuhi, akibatnya pengeluaran


CO2 menjadi berlebihan sehingga PaCO2 menurun yang kemudian
menimbulkan alkalosis respiratorik.

Peningkatan produksi CO2 yang disertai dengan penurunan ventilasi


alveolus menyebabkan retensi CO2 (hiperkapnia) dan terjadi asidosis
respiratorik atau gagal napas.

Hipoksemia yang berlangsung lama menyebabkan asidosis metabolik dan


konstriksi pembuluh darah paru yang kemudian menyebabkan shunting
yang akibatnya memperburuk hiperkapnia.

penyempitan saluran napas pada asma akan menimbulkan gangguan


ventilasi berupa hipoventilasi, ketidakseimbangan ventilasi perfusi
dimana distribusi ventilasi tidak serta dengan sirkulasi darah paru, dan
gangguan difusi gas di tingkat alveoli.
TANDA DAN GEJALA

Gejala yang paling umum adalah mengi. Gejala lain termasuk:


• Sesak napas
• Sesak dada atau nyeri
• Batuk kronis
• Sulit tidur karena batuk atau mengi

http://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/asthma.aspx
Klasifikasi & Severity

Derajat Asma Gejala Gejala Malam Faal paru


I. Intermiten
Bulanan APE  80%
* Gejala < 1x/minggu *  2 kali * VEP1  80% nilai prediksi
* Tanpa gejala di luar sebulan APE  80% nilai terbaik
serangan * Variabiliti APE < 20%
* Serangan singkat

II. Persisten
Ringan Mingguan APE > 80%
* Gejala> 1x/minggu, * > 2 kali * VEP1  80% nilai prediksi
tetapi < 1x/ hari sebulan APE  80% nilai terbaik
* Serangan dapat * Variabiliti APE 20-30%
mengganggu
aktivitas
dan tidur
III. Persisten
Sedang Harian APE 60 – 80%
* Gejala setiap hari *>1x seminggu * VEP1 60-80% nilai
*Serangan prediksi
mengganggu APE 60-80% nilai terbaik
aktivitas dan tidur * Variabiliti APE > 30%
*Membutuhkan
bronkodilator
setiap hari

IV. Persisten
Berat Kontinyu APE  60%
* Gejala terus menerus * Sering * VEP1  60% nilai prediksi
* Sering kambuh APE  60% nilai terbaik
* Aktiviti fisik terbatas * Variabiliti APE > 30%
Alur diagnostik
• Diagnosis asma didasarkan pada riwayat
penyakit,
• pemeriksaan fisik, dan
Pemeriksaan Fisik
• pemeriksaan penunjang.
• Pada riwayat penyakit akan dijumpai
keluhan batuk,
• Tergantung dari
• sesak,
derajat obstruksi
• mengi, atau rasa berat di dada.
• Tetapi kadang-kadang pasien hanya • Ekpirasi diperpanjang
mengeluh batuk-batuk saja yang
umumnya timbul pada malam hari atau
• Mengi
sewaktu kegiatan jasmani.
• Hiperinflasi dada
• Adanya penyakit alergi yang lain pada
pasien maupun keluarganya seperti rinitis • Napas cepat 
alergi, dermatitis atopik membantu
diagnosis asma. sianosis
• Gejala asma sering timbul pada malam
hari, tetapi dapat pula muncul sembarang
waktu.
Pemeriksaan penunjang
• Dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator hirup (inhaler atau nebulizer)
Spirometri golongan adrenergik beta. Peningkatan VEP1 atau KVP sebanyak 20% menunjukkan
diagnosis asma.

Pemeriksaan • Sputum eosinofil sangat karakteristik untuk asma, sedangkan


Sputum neutrofil sangat dominan pada bronkitis kronik..

Pemeriksaan • Jumlah eosinofil total dalam darah sering meningkat pada pasien asma
Eosinofil Total dan hal ini dapat membantu dalam membedakan asma dari bronkitis
kronik..

• Menyingkirkan penyebab lain obstruksi saluran napas dan adanya


Foto Dada kecurigaan terhadap proses patologis di paru atau komplikasi asma
seperti pneumotoraks, pneumomediastinum, atelektasis dan lain-lain.

Analisis Gas Darah • Pada fase awal serangan, terjadi hipoksemia dan hipokapnia
(O2 dan PCo2 dalam darah)
Penatalaksanaan
Mencegah Ikatan Alergen IgE
• Hiposensitisasi, dengan menyuntikkan dosis kecil alergen yang dosisnya makin
diharapkan tubuh akan membentuk IgG (blocking antibody) yang akan mencegah
ikatan alergen dengan IgE pada sel mast. Efek hiposensitisasi pada orang dewasa saat
ini masih diragukan.
Mencegah Penglepasan Mediator
• Natrium kromolin paling efektif untuk asma anak yang penyebabnya alergi, meskipun
juga efektif pada sebagian pasien asma instrinsik dan asma karena kegiatan jasmani.
Obat golongan agonis beta 2 maupun teofilin selain bersifat sebagai bronkodilator
juga dapat mencegah penglepasan mediator.
Melebarkan Saluran Napas dengan Bronkodilator
• Simpatomimetik: 1). Agonis beta 2 (salbutamol, terbutalin, fenoterol, prokaterol)
merupakan obat-obat terpilih untuk mengatasi serangan asma akut. Dapat diberikan
secara inhalasi melalui MDI (Metere Dosed Inhaler) atau nebulizer; 2). Epinefrin
diberikan subkutan sebagai pengganti agonis beta 2 pada serangan asma yang berat.
• Aminofilin,Kortikosteroid,Antikolinergik (ipatropium bromida)
Pengobatan Asma Menurut GINA
(Global Initiative for Asthma)
Pencegahan dan
Perencanaan obat-
Penyuluhan Penilaian derajat pengendalian
obat jangka
kepada pasien beratnya asma faktor pencetus
panjang
serangan

• Termasuk golongan ini yaitu obat-obat anti-inflamasi dan bronkodilator kerja panjang
(long acting).Dengan pengobatan antiinflamasi jangka panjang ternyata perbaikan
gejala asma, perbaikan fungsi paru serta penurunan reaktivitas bronkus lebih baik bila
Pencegah dibandingkan bronkodilator.
(controller) • Termasuk golongan obat pencegah adalah kortikosteroid hirup, kortikosteroid sistemik,
natrium kromolin, natrium nedokromil, teofilin lepas lambat (TLL), agonis beta 2 kerja
panjang hirup (salmaterol dan formoterol) dan oral,dan obat-obat anti alergi.

• Obat penghilang gejala yaitu obat-obat yang dapat merelaksasi bronkokonstriksi dan
gejala-gejala akut yang menyertainya dengan segera. Termasuk dalam golongan ini
yaitu agonis beta 2 hirup kerja pendek (short acting), kortikosteroid sistemik,
Penghilang antikolinergik hirup, teofilin kerja pendek, agonis beta 2 kerja pendek. Agonis beta 2
gejala (reliever). hirup (fenoterol, salbutamol, terbutalin, prokaterol) merupakan obat terpilih untuk
gejala asma akut serta bila diberikan sebelum kegiatan jasmani, dapat mencegah
serangan asma karena kegiatan jasmani. Agonis beta 2 hirup juga dipakai sebagai
penghilang gejala pada asma episodik.
Komplikasi
• Pneumotoraks
• Pneumomediastinum dan emfisema subkutis
• Atelektasis
• Aspergillosis bronkopulmoner alergik
• Gagal napas
• Bronkitis
• Fraktur iga
Pencegahan
Adakalanya gejala lebih sering terjadi pada musim tertentu. Yang perlu
diketahui adalah faktor-faktor pencetus serangan. Dengan mengetahui faktor
pencetus, kemudian menghindarinya, maka diharapkan gejala asma dapat
dicegah.
• Faktor-faktor pencetus pada asma yaitu:
• Infeksi virus saluran napas: influenza
• Pemajanan terhadap alergen tungau, debu rumah, bulu binatang.
• Pemajanan terhadap iritan asap rokok, minyak wangi.
• Kegiatan jasmani: lari.
• Ekspresi emosional takut, marah, frustasi.
• Obat-obat aspirin, penyekat beta, anti-inflamasi non-steroid.
• Lingkungan kerja: uap zat kimia.
• Polusi udara: asap rokok.
• Pengawet makanan.
Daftar Pustaka
• GINA
• Suhendro dkk. Asma Bronchial. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid
III. Edisi IV. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, Juni 2006.
• http://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/asthma.aspx