Anda di halaman 1dari 53

Non Ionic Surfactant for

Enhanced Oil Recoveryction

Oleh : Ella Awaltanova


Magister Teknik Kimia Universitas Riau
Surfaktan
• Surfaktan dapat berfungsi untuk mereduksi tegangan permukaan dari
liquid(cairan) karena kemampuannya untuk memusatkan pada
permukaan cairan yang kosong dan pada antarmuka antara cairan tak
tercampur (immiscible liquid).
• Perubahan pada tegangan permukaan mempengaruhi surfaktan
untuk membentuk emulsi, wetting, daya dispersi, penyabunan
(detergency) dan sifat melarutkan (solubilizing).
• Karena sifat sifat surfaktan tersebut, maka surfaktan digunakan secara
luas pada industri, produk rumah tangga, dan juga aplikasi untuk
pengolahan minyak bumi (enhanced oil recovery).
Surfaktan
• Separuh bagian hydrophobic surfaktan dibentuk oleh
rantai linear, bercabang, atau bahkan grup alifatik
polycyclic atau oleh grup alkylaryl. Sedangkan, grup
hydrophilic dari surfaktan non ionic paling banyak
terdiri dari rantai ethylene oxide (EO).
• Grup hydrophilic lainnya yaitu glycosyl atau residu
polyglycosyl. Untuk meningkatkan sifat hydrophilic,
panjang dari rantai EO ditambahkan grup –OH.
• Surfaktan non-ionic lainnya terbentuk dari rantai
alkanolamides primer (-CO-NH2), sekunder (-CO-NHR),
dan tersier (-CO-NR1R2).
• Surfaktan non-ionic biasanya tidak digunakan sebagai
bahan aktif utama dari cleansers (pembersih) karena
kapasitas busa yang rendah, kestabilan busa yang
rendah, dan kekerasan dari penyabunannya.
Jurnal I
Pendahuluan
- Surfaktan non-ionic termasuk kedalam kelas surfaktan yang tidak
mahal (inexpensive) dan memiliki banyak applikasi yang potensial
termasuk kosmetik, deterjen, farmasi, ore flotation, cloud point
extraction methods, drilling fluid, dan proses enhanced oil recovery.
- Alasan utama luasnya penggunaan surfaktan jenis ini adalah dapat
dikontrol HLB (hydrophilic-lipophilic-balance) dan sifat antarmuka
sistem surfaktan-minyak.
• Pada proses enhanced oil recovery (EOR), surfaktan berfungsi untuk
mengubah dari satu proses ke proses lainnya.
• Pada micellar flooding, surfaktan digunakan untuk menurunkan
tegangan antarmuka antara minyak dan air.
Surfaktan Non-Ionic pada EOR
• Pada proses alkali/surfaktan (AS) dan alkali/surfaktan/polimer (ASP),
surfaktan non-ionic dikembangkan untuk mempertahankan tegangan
antarmuka yg rendah pada salinitas reservoir minyak yang tinggi.
• Surfaktan non-ionic memperlihatkan kelarutannya dalam air dengan
cara hidrasi rantai polyethylene oxides, sehingga kelarutannya
meningkat dengan meningkatnya panjang rantai.
• Karena temperature dari larutan surfaktan non-ionic meningkat, maka
ikatan hydrogen putus sehingga kelarutan surfaktan dalam air jadi
berkurang.
Surfaktan Non-Ionic pada EOR
• Pada temperature tertentu disebut sebagai titik cloud, dimana molekul surfaktan
dipisahkan dari larutan dan kemudian menjadi cloudy (menyerupai awan).
• Dengan demikian, larutan surfaktan dipisah menjadi 2 fasa yang tidak tercampur
yaitu fasa yang kaya surfaktan (surfactant-rich) dan fasa yang sedikit surfaktan
(surfactant-lean).
• Pada EOR, titik cloud pada surfaktan non-ionic adalah parameter penting yang
menentukan efisiensi dari operasi kinerja EOR.
• Titik cloud juga mempengaruhi jumlah surfaktan yang terserap pada batuan
reservoir.
• Oleh karena itu, untuk meminimalkan formasi yang rusak dan penurunan jumlah
surfaktan yang hilang karena penyerapan, seharusnya surfaktan non-ionic yang
digunakan pada EOR harus pada temperature dibawah titik cloud (temperature
cloud) nya.
Tujuan Penelitian :
• Untuk menentukan pengaruh dari variasi jenis chemical yang ditemui
dalam lapangan minyak pada titik cloud (CP) dari surfaktan non-ionic
• Untuk menilai keefektifan dari beberapa zat tambahan (additive)
seperti urea, asam, alcohol rantai pendek, dan surfaktan anionic
dalam mencapai titik cloud (CP) dari surfaktan non-ionic pada kondisi
reservoir minyak tertentu.
Bahan Percobaan
• Surfaktan non-ionic yang digunakan
adalah Etoxylated Octyl Phenyl
Alcohol (Triton-X series)
• Surfaktan ini memiliki formula R’-
C6H4-(OC2O4)n-OH, dimana R’ adalah
grup octyl dan n adalah jumlah rata-
rata dari grup ethylene oksida.
• Berikut ini adalah 4 surfaktan yang
akan diuji dan memiliki variasi jumlah
grup ethylene oksida yang berbeda.
• Jenis bahan kimia yang akan ditinjau
dan dicampurkan pada surfaktan
non-ionic tersedia pada tabel 2.
Prosedur Penelitian
• Semua surfaktan disiapkan dan didiamkan hingga setimbang selama 6 jam.
• Waktu kesetimbangan yang lebih lama diperbolehkan ketika efek polimer
pada titik cloud (CP) ditentukan.
• Variasi titik cloud (CP) tergantung pada jumlah grup ethylene oksida pada
surfaktan (n). Semakin meningkat jumlah n, kelarutan surfaktan juga
meningkat sehingga titik cloud menjadi tinggi.
• Surfaktan TX-405 dengann n=40 memiliki titik cloud lebih besar dari 100⁰C,
sedangkan TX-45 dengan n=5 memiliki titik cloud lebih kecil dari 0⁰C.
• Titik cloud dari surfaktan non-ionic adalah fungsi dari konsentrasi
surfaktan.
Prosedur Percobaan
• Gambar 1 adalah profil dari titik cloud (CP)
surfaktan TX-100 sebagai fungsi dari
konsentrasi surfaktan.
• Titik cloud (temperature cloud) 70,5⁰C pada
konsentrasi surfaktan 200 ppm. Temperature
cloud menurun karena konsentrasi surfaktan
naik pada 500 ppm.
• Setelah melebihi 500 ppm, temperature
cloud tidak berubah signifikan hingga
konsentrasi surfaktan mencapai 20.000 ppm.
• Oleh karena itu, konsentrasi surfaktan 20.000
ppm digunakan pada semua percobaan.
Hasil dan Diskusi
• Pengaruh dari garam inorganic - Pengaruh garam inorganic ditinjau pada surfaktan TX-
100 dan TX-405, sedangkan TX-45 dan TX-114 tidak
ditinjau karena temperature cloud dari surfaktan
tersebut lebih rendah dari temperature ruang.

- Gambar tersebut menggambarkan pengaruh dari 3


garam klorida dan tetrasodium EDTA pada
temperature cloud TX-100.

- EDTA adalah chelating agent yang biasanya digunakan


dalam industry minyak untuk mengontrol
pengendapan besi, untuk menghilangkan kerak
kalsium sulfat dan menstimulasi reservoir karbonat.

- Temperatur cloud dari TX-100 menurun dengan


penambahan sodium klorida (NaCl), kalsium klorida
(CaCl2) dan Aluminum klorida (AlCl3), tapi hanya
sampai konsentrasi garam mencapai 5 wt%.
Hasil dan Diskusi

• Pengaruh dari garam inorganic


- Pengaruh garam inorganic ditinjau pada surfaktan TX-
405 yaitu temperature cloud surfaktan non-ionic
menurun karena kehadiran dari garam didalam
reservoir.
- Kalsium dan aluminium klorida menyebabkan sedikit
perubahan pada temperature cloud daripada ion
sodium.
Hasil dan Diskusi
• Pengaruh asam - Beberapa formula asam digunakan untuk memperbaiki injeksi
dan produksi dari sumur yang rusak.
- Asam digunakan untuk melarutkan material partikulat yang
mungkin tersumbat pada formasi.
- HCl digunakan pada reservoir karbonat, sementara kombinasi
HCl dan asam hydrofluoric digunakan untuk menstimulasi
formasi batuan sandstone.
- Pada beberapa kasus, asam organic (asam asetat) digunakan
untuk menstimulasi proses.
- Penambahan HCl hingga 1 wt% tidak memberikan efek yang
signifikan pada temperature cloud TX-100, namun pada
konsentrasi lebih dari 1 wt% temperature cloud meningkat
dengan meningkatnya koonsentrasi HCl dan melebihi 100oC
pada konsentrasi HCl 9.7 wt%.
- Pada TX-114, temperature cloud juga meningkat dengan
pertambahan konsentrasi asam dan mencapai 80oC pada
konsentrasi asam hydrochloric 15 wt%.
Hasil dan Diskusi
• Pengaruh Alkalis
- Secara umum, penambahan alkalis pada setiap jenis surfaktan
dapat menurunkan temperature cloud.

- Surfaktan TX-405 dengan n=40 merupakan surfaktan yang paling


berpengaruh dengan penambahan sodium hydroxide.

- Sehingga, rentang batasan alkali diperlukan untuk surfaktan non-


ionic dan harus diperhatikan ketika surfaktan tersebut digunakan
pada alkali/surfaktan (AS) flooding untuk memperoleh minyak sisa
dari injeksi air.
Hasil dan Diskusi
• Pengaruh kombinasi pH dan konsentrasi asam

- Penambahan Sodium Klorida (NaCl) menurunkan


temperature cloud untuk semua rentang pH surfaktan.

- Namun, surfaktan TX-405 lebih berpengaruh dari pada TX-


100.

- Penaruh ini harus diperhatikan saat menggunakan surfaktan


non-ionic tertentu pada injeksi alkali/surfaktan (AS) (nilai pH
tinggi) atau proses stimulasi (nilai pH rendah).
Hasil dan Diskusi
• Pengaruh polimer pada kondisi netral dan alkali.

- Pengaruh sodium klorida pada temperature cloud dari


surfaktan TX-100 saat penambahan anionic polymer.

- Temperature cloud menurun pada penambahan konsentrasi


polymer anionic dan konsentrasi sodium chloride dan sodium
hydroxide yang semakin tinggi.
Hasil dan Diskusi

• Pengaruh penambahan biocides - Biocides ditambahkan pada chemical slug


(polimer, surfaktan, dll) untuk mengurangi
degradasi dari bahan tersebut dari bakteri
yang ada dalam reservoir.

- Hasil tersebut menunjukkan bahwa 2 biocides


(tipe aldehid) dapat ditambahkan pada
surfaktan non-ionic tanpa memberikan
pengaruh yang signifikan pada temperature
cloudnya.
Hasil dan Diskusi

• Pengaruh Scale Inhibitor (penghambat kerak)

Penambahan scale inhibitor hingga konsentrasi


3% tidak memiliki efek pada temperature cloud
dari surfaktan TX-100
Hasil dan Diskusi
• Pengaruh urea dan alcohol rantai pendek
- Penambahan urea meningkatkan
temperature cloud dari jenis
surfakatan. Tergantung pada jumlah
grup ethylene oksida (n) dalam
surfaktan dan konsentrasi sodium
clorida.
- Metanol dapat larut dalam air,
sehingga dapat mencapai kelarutan
TX-100 dan meningkatkan
temperature surfaktan.
Hasil dan Diskusi
• Pengaruh Surfaktan anionik
- Mencampurkan dua surfaktan dengan grup
hydrophilic yang berbeda biasa dilakukan untuk
meningkatkan sifat (kemampuan) dari surfaktan.
- SDS (surfaktan an ionic) dapat mencapai temperature
cloud pada kondisi larutan surfaktan yang netral
maupun alkali pada konsentrasi sodium klorida
rendah.
- Dengan demikian, SDS dapat menurunkan
temperature cloud point pada konsentrasi sodium
klorida yang tinggi.
- SDS dapat mencapai temperature cloud pada
surfaktan TX-45 (n=5) dengan konsentrasi SDS >0.8%.
Hasil dan Diskusi

• Efek dari pelarut yang sama

- Pelarut yang digunakan seperti ethylene glycol


monobuthyl ether yang mengandung grup
dengan daya larut yang tinggi seperti alcohol
dan ether.
- Pengaruh pelarut pada temperature cloud
tergantung pada konsentrasi dari pelarut dan
jumlah dari ethylene oksida yang ada pada
surfaktan.
Kesimpulan
• Bahan kimia yang terdapat pada lapangan minyak menurunkan
temperature cloud dari surfaktan non-ionic.
• Beberapa additive yang dapat digunakan untuk mencapai
temperature cloud adalah jumlah grup ethylene oksida dari surfaktan,
salinitas, dan pH dari larutan surfaktan.
Jurnal III
Pendahuluan
• Setiap jenis surfaktan non-ionic memiliki grup oxyethylene sebagai sisi polar
(polar head), sehingga grup oxyethylene dilambangkan sebagai E. Dirumuskan
sebagai CmEn, dimana n adalah sisi hydrophilic dan m adalah sisi hydrophobic.
• Satu sisi yang diperhatikan pada surfaktan non-ionic dibandingkan dengan
surfaktan tipe lain yaitu kelarutannya menurun dengan meningkatkatnya
temperature.
• Observasi umum dilakukan pada saat larutan surfaktan non-ionic dipanaskan,
surfaktan mulai menyebar dengan cepat pada rentang temperature minyak yang
telah ditentukan. Setelah itu larutan surfaktan menjadi cloudy.
• Wilayah larutan isotropic yaitu dibatasi dengan temperature tinggi oleh kurva
cosolute yang rendah, pada wilayah ini terjadi pemisahan fasa menjadi fasa
larutan yang kaya surfaktan (surfactant-rich) dan miskin surfaktan (surfactant-
poor). Mulanya terjadi pemisahan fasa ditandai oleh larutan yang mulai
membentuk cloud.
Cloud Point (Cloud temperature)
• Temperatur clouding (titik cloud) tergantung pada
panjang rantai polyoxyethylene (n) namun juga
dipengaruhi oleh ukuran hydrophobe nya.
• CP diukur pada konsentrasi larutan tertentu
(biasanya 1% berat).
• CP dari C12E8 adalah sekitar 80⁰C , 50⁰C untuk
C12E6 dan 10⁰C untuk C12E4.
• Untuk rantai polyoxyethylene yang pendek,
biasanya surfaktan tidak terlarut (insoluble)
bahkan temperature beku nya dibawah
temperatur air, maka CP adalah dibawah 0⁰C.
• Gambar berikut adalah CP pada surfaktan dengan
berat tertentu di plotkan sebagai fungsi jumlah
unit oxyethylene untuk surfactants C12
Perumusan pertumbuhan miscellar.
• Luzzati dan lainnya melakukan
penelitian mengenai kondisi micelles
(konsentrasi, panjang rantai alkil,
garam, temperature) menjadi kecil
(spherical) atau besar (rod-like,
thread-like, silinder).
• Ukuran micelle, aggregasi micelle,
pemisahan fasa dan fluktuasi kritikal
adalah pengaruh yang penting untuk
sistem surfaktan.
Non-ionic surfactant self assembly

Struktur surfaktan yang


terbentuk dipengaruhi oleh 2
parameter yaitu : panjang
rantai EO dan temperature.
Anomali temperature untuk surfaktan non-
ionik
Beberapa aspek dari surfaktan non-ionic yang dipengaruhi oleh peningkatan
temperature.
- Penurunan CMC
- Peningkatan penyerapan pada permukaan padatan dan cairan dan lapisan yang
terserap menjadi lebih padat (compact)
- Perubahan interaksi antara permukaan surfaktan dan cover dari repulsive
menjadi attractive
- Kestabilan koloid hilang
- Perubahan struktur mikoemulsi dari minyak dalam air (oil-in-water) menjadi air
dalam minyak (water-in-oil)
- Penurunan hidrasi
- Pada temperature rendah, bentuk emulsi yaitu oil-in-water, sementara water-in-
oil dibentuk pada temperature tinggi.
Mekanisme interaksi
• Mekanisme interaksi surfaktan dimulai dengan
meninjau keseimbangan interaksi antara
hidrofobik dan hidrofilik supaya EO mengandung
molekul yang dapat larut dalam air atau hamper
semua larut dalam air.
• Efek dari perubahan temperature adalah untuk
menyesuaikan interaksi molekul surfaktan dan
menurunkan kelarutan pada suhu yang tinggi.
• Keseimbangan konformasi dari rantai EO adalah
hal yang penting untuk ditinjau. Pada suhu
rendah, konformasi yang cenderung untuk EO
adalah ikatan C-C “gauche” dan ikatan C-O “anti”.
Mekanisme interaksi
• Konformasi seperti itu memiliki momen dipol yang besar, berat
statistic yang rendah, dan dapat berinteraksi dengan air.
• Dengan meningkatnya temperature maka jumlah formasi yang kurang
polar lebih meningkat sehingga interaksi dengan air berkurang (tidak
larut dengan air).
• Clouding dapat terjadi pada PEG (polyethylene glycol), poloxamers,
selulosa dan juga turunan selulosa.
Clouding sangat tergantung pada kosolut
- Tujuan pada bagian ini untuk melihat hubungan antara pengaruh yang
teramati pada CP dari sistem yang mengandung EO dan interaksi
antarmolekul antara kosolut dan air dan molekul yang mengandung EO.
- Mekanisme pengujian yang dilakukan yaitu mengasumsikan bahwa kosolut
tidak dapat berdisosiasi menjadi ion. Untuk kosolut jenis tersebut maka
ada dua kasus pembatas.
- Yang pertama adalah kosolut nya dapat larut baik dalam sistem EO maupun
air. Pada kondisi ini akan diamati pengaruh kosolut nya yaitu apakah terjadi
perubahan kelarutan karena jumlah kontak EO-air yang berkurangang
akibat adanya kosolut.
- Karena kosolut berinteraksi baik dengan air dan molekul yang mengandung
EO maka kelarutan akan meningkat. Kelarutan yang meningkat
menandakan CP juga meningkat.
Observasi pengaruh kosolut terhadap
clouding
• Pengaruh penambahan kosolut netral diilustrasikan
dengan pengaruh penmbahan alcohol sederhana.
• Alkohol yang larut dalam air menurunkan kepolaran
dari pelarut dan meningkatkan CP. CP meningkat
dari methanol ke propanol.
• Alkohol yang kurang larut dalam air memiliki
pengaruh yang berlawanan terhadap surfaktan, CP
menurun dari pentanol ke oktanol.
• Pengaruh penambahan elektrolit inorganic pada CP
disajikan pada gambar 7.
• Pengaruh pada CP terjadi oleh anion, CP meningkat
pada anion yang lebih besar dan menurun pada
anion yang lebih kecil.
Mekanisme yang dianjurkan : Analisa dan
Observasi langsung dari aspek molekul
• Model pertama yaitu chlorate model dimana model yang mengasumsikan
bahwa interaksi antara EO dan air tergantung pada struktur air dan struktur
tersebut merubah keefektifan dari interaksi air-EO.
• Model kedua yang dianjurkan karena adanya clouding pada surfaktan non-
ionic adalah mekanisme berdasarkan perubahan rantai EO ke konformasi
ikatan C-C dan C-O ketika temperature diubah dan pelarut diubah.
• Pada suhu rendah dan pelarut polar, jumlah konformasi ‘gauche” ikatan C-C
lebih tinggi,
• Pada suhu tinggi dan kurang pelarut polar, jumlah konformasi ikatan-C-C
kurang banyak.
• Kriteria tersebut dikategorikan pada komformasi yang memiliki kepolaran
local yang tinggi (high local polarity).
Jurnal III
Pendahuluan
• Batuan karbonat terdapat sekitar 20% dari kerak bumi dan memiliki 40% dari
cadangan minyak konvensional di dunia, dan hampir 20% nya terdapat minyak
berat (heavy oil),minyak ekstra berat (extra heavy oil), dan aspalt (bitumen).
• Lebih dari 40% produksi minyak di dunia berasal dari reservoir karbonat (Naturally
Fractured Carbonate Reservoirs (NFCRs)).
• Hasil produksi minyak dengan etode primary dan secondary dalam recovery faktor
(RF) tidak lebih besar dari 0,45. Artinya lebih dari 50% OOIP minyak masih
terperangkap pada batuan reservoar sebagai sisa dari minyak karena masalah
mobilitas dan tekanan kapiler.
• Oleh karena itu, implementasi metode tersier Enhanced Oil Recovery (EOR) adalah
metode yang dapat memproduksi sumber minyak yang sangat besar tsb.
• Injeksi surfaktan adalah salah satu metode chemical flooding EOR yang bertujuan
untuk menurunkan rasio mobilitas dengan mengurangi tegangan antarmuka antara
minyak dan air sehingga dapat mengalirkan minyak sisa ke sumur produksi.
• Proses ini dilakukan dengan cara penyerapan oleh surfaktan pada batuan reservoir.
Pendahuluan
• Surfaktan dikategorikan pada kelompok yang berbeda berdasarkan sifat
ionic dari headgroupnya, yaitu surfaktan anionic, kationik, nonionic, dan
zwitterionik.
• Surfaktan non-ionic jenis surfaktan yang tidak mudah menguap dan aman
sebagai alternative yang sesuai untuk pelarut karena kemampuannya untuk
memisahkan komponen organic dari sampel padat.
• Sifat ini membuat surfaktan non-ionic sebagai surfaktan yang cocok untuk
memisahkan senyawa polar dan non-polar dari material padat yang
berbeda seperti pemisahan senyawa aromatic hydrocarbon dari fasa
lingkungan padat.
• Faktor lain yang mempengaruhi tingkat adsorpsi surfaktan adalah daya
permukaan batuan, antarmuka cairan dan struktur surfaktan.
Adsorpsi Surfaktan
• Adsorpsi surfaktan dalam sistem berpori biasanya
terjadi melalui peristiwa kompleks seperti
perpindahan massa dan reaksi.
• Adsorpsi surfaktan yaitu peristiwa dimana terjadi
perpindahan molekul surfaktan dari fasa bulk ke
batas fasa antarmuka padat-cair.
• Peristiwa ini dapat disebut sebagai surfaktan lebih
cenderung pada fasa antarmuka daripada fasa
bulk.
• Jika konsentrasi surfaktan meningkat, maka
monomer surfaktan yang teradsorpsi cenderung
menjadi agregat dan membentuk struktur mirip
micelle. Tergantung pada jumlah lapisan dari
agregat surfaktan, micelles disebut admicelle jika
satu lapisan dan hemimicelles jika 2 lapisan.
Adsorpsi Surfaktan
• Gaudin dan Fuerstenau (1995) menjelaskan bahwa ketika micelle
membentuk aggregat pada permukaan padat, laju adsorpsi dapat
meningkat hingga antarmuka padatan ditutup semua oleh dua lapisan
surfaktan. Dengan menggunakan konsep CMC (critical micelle
concentration).
• Pada penelitian ini ingin ditinjau mekanisme adsorpsi dari surfaktan
Glycyrrhiza Glabra pada permukaan batuan karbonat.
• Glycyrrhiza Glabra adalah surfaktan non-ionic baru yang akan
diimplementasikan untuk aplikasi EOR pada batuan karbonat.
• Data kesetimbangan adsorpsi yang dilakukan berdasarkan model kinetika
adsorpsi Langmuir, Freundlich, Temkin, dan linear.
• Hasil pemodelan berguna sebagai kriteria dalam memilih surfaktan untuk
EOR dan rencana stimulasi reservoir batuan karbonat.
Bahan (Surfaktan yang digunakan)

Glycyrrhiza Glabra adalah pohon kecil yang


bercabang dan berduri yang umumnya
ditemukan di Yordania, Iran, Irak, dan Mesir.

Konsentrasi saponin pada Glycyrrhiza Glabra


cukup tinggi yaitu 25 wt%.
Surfaktan Glycyrrhiza Glabra
• Saponin adalah surfaktan alam yang terdapat pada 500 jenis tanaman.
• Molekul saponin terdiri dari bagian hydrophobic dan hydrophilic.
• Kelompok hydrophobic terbuat dari triterpenoid atau steroid dan bagian
hydrophilic mengandung banyak sakarida yang bergabung dengan ikatan
hidrofobik melalui ikatan glikosida.
• Surfaktan ini memiliki struktur molekul lipofilik dan hydrofilik yang sama
dengan surfaktan sintestis lainnya yaitu lipoptida biosurfaktan, alkil
poliglikoksida, dan alkil sulfat surfaktan.
• Surfaktan diekstrak dari daun tanaman Glycyrrhiza Glabra dengan cara
spray dryer. Serbuknya berwarna coklat muda dan dapat larut dalam air
dan alcohol.
Adsorben
• Batuan Karbonat yang diambil dari lapangan minyak Azadegan yang
berlokasi di Persian Gulf.
• Batuan karbonat dihancurkan menggunakan jaw crusher menjadi
partikel partikel yang kecil.
• Batuan kecil dikeringkan pada suhu 105oC.
• Komposisi mineral dari batuan karbonat diuji dengan XRD yang
menghasilkan, calcite (65,38 wt%), dolomite (3,13 wt%), orthoclase
(28,89 wt%), clay (1.83 wt%) dan mineral lainnya (0.77 wt%).
Metoda Penelitian
• Surfaktan Glycyrrhiza Glabra dilarutkan
dalam air, dengan konsentrasi yang
dibutuhkan 1000, 5000, 10000, 15000,
20000, 40000, 50000, 60000, 70000, and
80000 mg/L.
• Batuan karbonat dicampurkan dalam
larutan surfaktan dan diukur laju
adsorpsinya.
Hasil dan Diskusi
• Parameter Penting
Kuantifikasi (perhitungan) CMC penting untuk mengetahui permukaan kimia yang aktif dari
Glycyrrhiza Glabra dalam zat terlarut dan mekanisme adsorpsi surfaktan pada permukaan
adsorben.
Ketika konsentrasi surfaktan dinaikkan hingga mencapai nilai tertentu, maka molekul dan
ion-ionnya akan mendekati reaksi asosiasi dan aggregasi untuk membentuk miselle sebagai
perubahan dalam konduktivitas yang diamati.

Pengukuran menunjukkan misel berubah menjadi polidispersi, dan perubahan substansial


dalam aktivitas monomer terjadi pada konsentrasi yang lebih besar dari CMC.

Peningkatan konsentrasi surfaktan menyebakan meningkatnya kemampuan adsorpsi dari


surfaktan pada sampel karbonat. Hal ini karena ada peningkatan pada gradient konsentrasi
antara bulk dan permukaan batuan karbonat.
Adsorpsi Isotherm
• Nilai R2 pada data menyatakan bahwa
model adsorpsi yang cocok dengan data
eksperimen adalah model isotherm
Freudlich dan Langmuir.
Glycyrhiza Glabra vs Common Surfactant
• Harga surfaktan alkyl poliglikoksida dan alkil sulfat biasanya yang dikembangkan
di industry sekitar 3.0 dan 5.0 US$ per kg, sedangkan harga surfaktan glycyrhiza
glabra sebagai surfaktan non-ionic baru memiliki harga yang tidak mahal yaitu 1.5
– 2.0 US$ per kg.
• Glycyrhiza glabra adalah surfaktan alami, biodegradable, ramah lingkungan
dibandingkan dengan surfaktan pada umumnya yang ada di industri
perminyakan.
• Nilai adsorpsi surfaktan Glycyrhiza glabra berdasarkan titik CMC adalah 4 mg/g,
tergolong ke surfaktan yang memiliki nilai adsorpsi yang rendah (3-8 mg/g).
• Glycyrhiza glabra dapat mencapai nilai IFT yang lebih rendah. Persentase
pengurangan IFT yaitu 69% untuk surfaktan Glycyrhiza glabra sedangkan alkyl
poliglikoksida dan alkil sulfat adalah 52% dan 41%.
Aspek biaya dan lingkungan
• Glycyrrhiza glabra adalah substansi aktif permukaan yang ditemukan
pada negara penghasil minyak yaitu iran.
• Harganya tidak mahal dan mudah tersedia.
• Komponen surfaktan tidak berbahaya karena alami dan sangat ramah
lingkungan
Potensi Aplikasi Surfaktan Glycyrrhiza glabra
untuk EOR
• Project EOR ASP (Alkali, Surfactant, Polimer) dan SP (Surfactant-
polimer) pada formasi sandstone dan karbonat yang terdpat di
Delaware Childers Fields (Oklahoma), Lawrence Field (Illionis),
Nowata Field (Oklahoma), Grayburg Carbonate (Texas).
• Surfaktan Glycyrrhiza glabra dapat diaplikasikan pada reservoir
minyak sandstone dan karbonat di Amerika utara.
• TERIMA KASIH