Anda di halaman 1dari 13

EPISTEMOLOGI

FENOMENOLOGI

KELOMPOK 3
1.
2.
3.
4.
PENGERTIAN FENOMENOLOGI

 Fenomenologi secara etimologis dari bahasa Yunani phainomenon (phainomai,


menampakkan diri) dan logos (akal budi).
 Fenomenologi adalah sesuatu aliran yang membicarakan fenomena, atau
gejala sesuatu yang metampakkan dirI.
Jadi fenomenologi yaitu menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau
fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada individu
serta bagaimana kesadaran itu muncul tanpa memperhatikan benar atau
tidaknya.
TUJUAN FENOMENOLOGI

 Mereduksi pengalaman individual terhadap suatu fenomena ke


dalam deskripsi yang menjelaskan tentang esensi universal dari
fenomena tersebut.
Epistemology Fenomenologi
Edmund Husserl

Sebelum memahami fenemenologi


ada istilah-istilah kunci menurut
Edmund Husserl yaitu :
1. Fenomena
2. Kesadaran
3. Intensionalitas
4. Konstitusi
5. Redaksi
6. Epochei
Epistemology Fenomenologi
Edmund Husserl

Menurut Husselr, fenomena atau


objek dalam hubungan dengan
kesadaran tidak secara langsung
menampakkan hakikat dirinya.
Hakikat fenomena yang
sesungguhnya berada di balik yang
menampakkan diri itu. Pengamatan
pertama (first look) belum sanggup
membuat fenomena itu
mengungkapkan hakikat dirinya.
Karena itu, diperlukan pengamatan
kedua (second look), yang disebut
dengan pengamatan intuitif.
Epistemology Fenomenologi
Edmund Husserl

Pengamatan intuitif harus melewati tiga


tahap reduksi atau tiga tahap
penyaringan, yaitu;

Reduksi Reduksi
Reduksi Eidetis
Fenomenologis Transendental.
Reduksi Fenomenologis

 Reduksi fenomenologis ditempuh dengan menyisihkan atau


menyaring pengalaman pengamatan pertama yang terarah
kepada eksistensi fenomena.
 Contoh : Pengamatan inderawi tidak ditolak, tetapi perlu disisihkan
dan disaring lebih dahulu untuk menyingkirkan segala prasangka,
praanggapan, dan prateori, baik yang berdasarkan keyakinan
tradisional, maupun yang berdasarkan keyakinan agamis, bahkan
seluruh keyakinan dan pandangan yang telah dimiliki sebelumnya.
Reduksi Eidetis

 Reduksi eidetis adalah upaya untuk menemukan eidos atau


hakikat fenomena yang tersembunyi. Segala sesuatu yang dilihat
harus dianalisis secara cermat dan lengkap agar tidak ada yang
terlupakan.
 Contoh : Dengan reduksi eidetis, kita bisa meletakkan semua
status-statis seosial, titel-titel keahlian, dan kondisi-kondisi yang
menyertai hidup mereka dalam epoche, dalam pengurungan
untuk mencari inti sari seseorang manusia yang
sesungguhnya.
Reduksi Transendental.

 Reduksi transendental adalah menyisihkan dan menyaring semua


hubungan antara fenomena yang diamati dan fenomena lainnya.
Segala kesadaran empiris disingkirkan sehingga mendapatkan kesadaran
murni, yaitu kesadaran diri sendiri tidak lagi berlandaskan pada
keterhubungan dengan fenomena lain.
Reduksi Transendental.

 Contoh : Didalam pengalaman yang memang sadar ini kita mengalami diri kita
sendiri atau “aku” kita senantiasa berhubungan dengan dengan dunia benda
diluar kita. Didalam menikmati kesadaran kita maka yang tertinggal biasanya
adalah “aku empiris”. Aku empiris ini maksudnya adalah aku yang
berpengalaman, yang terikat dengan benda. Misalkan aku yang sedang duduk,
sedang makan, sedang bekerja dan sebagainya. Setelah aku empiris ini berlalu
yang ada hanyalah “aku yang murni”. Aku yang murni ini kemudian tidak dalam
wilayah empiris lagi, yang mengatasi segala pengalaman yang transedental.
Karena aku yang murni ini tidak terikat dengan dunia kebendaan. Inilah dasar
yang pasti dan sudah jelas kedudukannya sehingga tidak dapat dibantah lagi
bagi segala pengertian
Konklusi: Antara Apresiasi Dan Kritik

 Keistimewaan epistimologi fenomenologi yang digagas oleh Edmund Husserl dalam


membawa kita memasuki esensi sebuah fenomena.
 Immanuel kant menyatakan bahwa kita tidak bisa mengetahui hakikat realitas
(noumena) yang berada di balik selubung fenomena, Husserl justru mengajak kita untuk
menyibak lapisan demi lapisan selubung tersebut melalui pengelihatan intuitif sehingga
realitas hakiki tersingkap dalam ranah kesadaran kita.
Konklusi: Antara Apresiasi Dan Kritik

 Filsafat fenomenologi mengajarkan kita agar menumbuhkan sikap kritis dalam memahami
fenomena kehidupan. Artinya, kita jarang mudah menerima informasi, pandangan,
dan paradigma pemikiran sebelum diri kita sendiri menyelami hakikat dari semua
informasi dan pandangan yang sampai kepada kita, setiap pandagan pertama yang
kita lakukan mesti kita ikuti dengan pandangan kedua, agar kita dapat menyingkap
makna-makna yang menutupi realitas dan memasuki esensi realitas itu sendiri.
Terima Kasih