Anda di halaman 1dari 26

Asuhan keperawatan pada pasien dengan kasus antraks

Apa itu antaks?


Antraks disebut juga malignant pustule, malignant edema, charbon, ragpicker
diciese, atau woolsorter diciese adalah penyakit yang disebabkan oleh bacillus
anthracis pada binatang (zoonotik) ternak dan binatang buas yang biasa
ditularkan pada manusia.
penularan
Penularan pada manusia biasanya melalui cara-cara di bawah ini :
• Kontak dengan kulit manusia yang lesi, lecet atau abrasi.
• Mengonsumsi daging yang terkontaminasi kuman vegetatif atau spora
melalui tangan.
• Menghisap spora ditempat kerja yang berkaitan dengan produk hewan.
• Digigit serangga yang baru saja menggigit hewan infektif (jarang).
Masa inkubasi
• 1-7 hari. Walaupun masa inkubasi dapat mencapai 60 hari.
Manifestasi klinis
• Antraks kulit
Luka biasanya terjadi di bagian kulit yang terpapar dan sering kali disertai oleh rasa gatal yang
ekstrim. Serangan terjadi beberapa tahapan yaitu:
• Tahap bintik-bintik kecil
• Tahap gelembung yang awalnya berisi udara, lalu lama kelamaan berubah isinya oleh cairan
dan darah.
• Tahap bopeng yang mulai muncul dua sampai enam minggu setelah tahap gelembung darah
mengering. Tahap ini dimulai dari menghitamnya wilayah kulit disekitar bopeng, lalu
berubah menjadi merah dan akhirnya membengkak jadi edem, lama-kelamaan membesar
dan berisi cairan tubuh.
Antraks saluran pernapasan
• sering kali hadir bersama dengan simtom ringan bahkan tanpa gejala khas
sama sekali. Simtom ringan mirip dengan gejala flu biasa seperti demam,
tidak enak badan, batuk-batuk ringan dan rasa sakit di dada.
• Tapi 3-6 hari kemudian, simtom ringan ini di ikuti oleh sejumlah simtom
berat yang cepat sampai hipoksia (seperti kekurangan oksigen sehingga lemas
dan mual-mual), dispnea (kesulitan yang berkaitan dengan mulut dan rongga
bicara), dan suhu badan meninggi. Jika di priksa lewat radiogram, bagian
mediastinal (membran pemisah 2 belahan paru-paru) akan terlihat melebar.
Meningitis (rasa terbakar di dada juga mulai sering muncul)
Antraks saluran pencernaan/orofaringealis
• penyakit antraks saluran pencernaan, simtom awalnya adalah demam,
pembengkakan leher antaran limfa denopati, rasa sakit di kerongkongan,
bisul di mulut, dan dispagia (sulit menelan). Setelah beberapa hari, simtom di
ikut oleh bisul akut di saluran pencernaan, pembengkakan saluran
pencernaan septisemia (keracunan darah) dan kematian.
Patofisiologi

Bakteri Bacillus anthracis menginduksi terjadinya respon inflamasi jaringan


berupa nekrosis dan pendarahan. Lesi kulit yang disebabkan oleh bakteri
bacillus anthracis diawali dengan masuknya endospora melalui kulit yang
mengalami abrasi, kemudian bakteri mencapai target utamanya dilapisan
subkulit. Bakteri dapat menyebar melalui darah dan getah bening dan dalam
jumlah besar dapat menyebabkan septikemia berat. Tingginya kadar eksotoksin
yang diprodiksi dapat menyebabkan kematian.
Pencegahan

• Penyembelihan hewan hanya dilakukan dirumah potong, diluar tempat itu harus ada ijin dinas
peternakan setempat.
• Hewan yang dicurigai sakit antraks tidak boleh di sembelih.
• Daging hewan yang dicurigai sakit antraks tidak boleh di konsumsi.
• Tidak boleh sembarangan memandikan orang yang sudah meninggal karena sakit antraks.
• Dilarang memproduksi barang yang berasal dari kulit, tanduk, bulu, atau tulang hewan yang sakit
atau mati karena antraks.
• Melapor kepuskesmas atau dinas peternakan setempat apabila menemukan ada hewan yang
diduga menderita antraks.
• Melakukan faksinasi pada hewan ternak.
Penatalaksanan

Obat pilihan utama untuk antraks adalah penisilin. Bila pasien hipersensitif
terhadap penisilin, obat ini dapat di ganti dengan tetrasiklin, kloramfenikol, atau
eritromisin.
Pemeriksaan Penunjang

• Pemeriksaan radiologi tampak pelebaran mediastinum , efusi pleura.


• Pemeriksaan cairan vesikel ditemukan bakteri gram positif.
• Pada pewarnaan gram bahan diambil dari darah,cairan pleura, cairan
serebrospinal, dan lesi anthrax ditemukan basil anthrax.
• Pemeriksaan ELIZA terdeteksi antibodi terhadap antigen protekstif dan
antigen kapsul.
Asuhan keperawatan
Pengkajian:
1. Keadaan umum klien
2. Tanda-tanda vital
3. Riwayat penyakit sebelumnya
4. Pola istirahat klien
5. Kaji pekerjaan klien
6. Sirkulasi
7. Eliminasi
8. Distensi abdomen, penurunan bising usus, peningkatan bising usus
9. Disfagia, mual, muntah

10. Nyeri atau ketidaknyamanan

11. Pernapasan

12. Integument
Diagnosa keperawatan

• Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan napas.
• Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penurunaan ekspansi paru.
• Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi.
• Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas traktus GI
• Diare berhubungan dengan peningkatan motilitas GI
• Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan iritasi toksin bakteri antraks
• Hipertermi berhubungan dengan peningkataan metabolik.
• Risiko kekurangan volume cairan
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan napas
Intervensi Rasional
1. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi napas, 1. Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan
misal mengi, krekels, ronki. napas dan dapat/tidak dimanifestasikan adanya bunyi napas
tambahan.
2. Kaji atau pantau frekuensi pernapasan. 2. Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan
pada penerimaan atau selama stres/adanya proses infeksi akut.
3. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman, msialnya 3. Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernapasan.
posisi semifowler.
4. Pertahankan polusi lingkungan minimum, misal 4. Pencetus reaksi alergi pernapasan
debu, asap, bulu bantal dll. 5. Membantu menurunkan kekentalan sekret, mempermudah
5. Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari pengeluaran.
(air hangat)
6. Memberikan pasian beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol
6. Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir. dispnea.
7. Merangsang batuk atau pembersihan jalan napas pada pasien yang
7. Penghisapan sesuai indikasi. tak mampu melakukan karena batuk tak efektif.

8. Bantu pasien latihan napas sering, 8. Napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru. batuk
tunjukkan/bantu pasien mempelajarinya. adalah mekanisme pembersihan jalan napas alami.
Pola napas tidak efektif berhubungan dengan ekspansi paru
Intervensi Rasional
1. Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan dan 1. Kecepatan biasanya meningkat. Dipsnea dan terjadi peningkatan kerja
ekspansi dada. Catat upaya pernapasan termasuk napas. Ekspansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis
pengguanaan otot bantu pernapasan. atau nyeri dada.
2. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi
napas tambahan. 1. Bunyi napas menurun atau tidak ada bila jalan napas obstruksi skunder
terhadap pendarahan, bekuan atau kolaps jalan napas kecil.
2. Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan
1. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. pernapaasan. Pengubahan posisi dan ambulasi meningkatkan pengisian
Bangunkan pasien turun tempat tidur dan ambulasi udara segmen paru berbeda sehingga memperbaiki difusi gas.
segera ditempat tidur. 3. Dapat meningkatkan atau banyaknya sputum dimana gangguan
fentilasi dan ditambah ketidak nyamanan upaya bernapas.

1. Dorong atau bantu pasien dalam napas dalam dan


latihan batuk. Kolaborasi
 Memaksimalakan bernapas dan menurunkan kerja napas.

Kolaborasi
 Berikan oksigen tambahan
Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolik

1. intervensi
• Obserfasi suhu tubug klien
• Berikan kompres dingin
• Berikan banyak minum
• Anjurkan memakai baju yang tipis
Nyeri akut berhubungan dengan agen biologi
Intervensi Rasional
1. Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, intensitas 1. Membantu mengevaluasi derajat ketidaknyamanan.
(skala 0-10).
2. Berikan teknik relaksasi, misalnya bimbingan 1. Membantu pasien untuk istirahat lebih efektif dan lenih memfokuskan
imajinasi, visualisasi. perhatian, sehingga menurunkan nyeri dan ketidaknyamanan.
2. Intervensi dini pada kontrol nyeri memudahkan pemulihan otot atau
1. Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri segera saat jaringan dengan menurunkan ketegangan otot dan memperbaiki
mulai. sirkulasi.
3. Memberikan dukungan (fisik, emosional) menurunkan ketegangan otot,
1. Berikan tindakan kenyamanan misalnya gosok meningkatkan rasa kontrol dan kemampuan koping.
pungggung, latihan bernapas, lingkungan tenang
dan berikan aktifitas hiburan.
Kolaborasi
Kolaborasi  Menurunkan nyeri, meningkatkan kenyamanan. Untuk meningkatkan
 Berikan obat sesuai indikasi misalnya analgesik dan istirahatt.
narkotik sesuai indikasi.
Diare berhubungan dengan peningkatan motilitas GI
Intervensi Rasional
1. Observasi dan catat frekuensi defekasi, karakteristik 1. Membantu membedakan penyakit individu dan mengkaji beratnya
dan jumlah dan faktor pencetus. episode.
2. Tingkatkan tirah baring, berikan alat-alat disamping
tempat tidur. 2. Istirahat menurunkan motilitas usus dan juaga menurunkan laju
metabolisme bila infeksi atau perdarahan sebagai komplikasi, defekasi tiba-
3. Identifikasi makanan dan cairan yang mencetuskan tiba dapat terjadi tanpa tanda dan tak dpat terkontrol, peningkatan resiko
diare misalnya sayuran segar dan buah, sereal, minuman inkontinensia atau jatuh bila alat-alat tidak dalam jangkauan tangan.
karbonat dan produk susu. 3. Menghindarkan iritan, meningkatkan istirahat usus.
4. Pemasukkan cairan peroral secara bertahap.
4. Memberikan istirahan kolon dengan menghilangkan atau menurunkan
rangsangan makanan atau cairan.
5. Observasi demam, takikardi, dan leokositosis. 5. Tanda bahwa toksis megakolon atau perforasi dan peritonitis akan terjadi
atau setelah terjadi memerlukan intervensi medik segera.

Kolaborasi Kolaborasi
 Berikan obat sesuai indikasi contohnya  Menurunkan motilitas atau peristaltik GI dan menurunkan sekresi
antikolinergik misalnya atropin. digestif untuk menghilangkan kram dan diare.
 Diperlukan untuk diare menetap atau berat.
 Pemberian lopramid.
Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan iritasi toksin bakteri antrakx

Intervensi Rasional
1. Pantau tanda-tada vital dengan sering, perhatiakan 1. Mungkin indikatif dari terjadinya infeksi.
demam.
2. Kaji keluhan rasa terbakar, atau melepuh, gatal. 2. Indikasi terjadinya infeksi.
3. Berikan perawatan kulit.
3. kelembapan atau ekskoriasi meningkatkan pertumbuhan bakteri.

4. Menghindari fiksasi atau abrasi kulit.


4. Pertahankan agar sprai dn selimut tetap kering,
bersih dan bebas dari kerutan, serpihan atau pun 5. Penurunan sensitifitas rasa sakit atau panas ataau dingin akan
material lainnya yang dapat mengiritasi. meningkatkan resiko trauma jaringan.
5. Batasi pemajanan pada suhu yang berlebih, atau 6. Perawataan rutin pentingdilakukan.
penggunaan penghangat ataupun pendingin.
6. Lanjutkan perawatan terus-menerus pada daerah
kemerah merahan atau iritasi ketika kulit telah terjadi.
Konstipasi berhubungan dengan mortilitas traktus GI
Intervensi Rasional
1. Kaji kebiasaan defekasi pasien dan gaya 1. Mengidentifikasi terjadinya konstipasi.
hidup sebelumnya.
2. Auskultasi bising usus. 1. Mengetahui kembalinya fungsi GI.
3. Selidiki keluhan nyeri abdomen. 2. Mungkin berhubungan dengan distensi gas atau terjadinya
konstipasi.
1. Obserfasi gerakan usus, perhatikan 3. Indikator kembalinya fungsi GI, mengidentifikasi
warna, konsistensi dan jumlah. ketepatan intervensi.

Kolaborasi Kolaborasi
 Berikan pelunak feses, supositorial glisrin  Mungkin perlu untuk merangsang peristaltik dengan
sesuai indikasi. perlahan atau evakuasi feses.
Risiko kekurangan volume cairan
Faktor risiko : kehilangan berlebihan (mis. Diare/demam)
Intervensi Rasional
1. Kaji perubahan tanda tanda vital, contoh peningkatan 1. Memanjangnya demam meningkatkan laju metabolik dan kehilangan
demam/suhu memanjang atau takikardi. cairan melalui evaporasi.
2. Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa. 2. Indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskupun membran
mukosa mungkin kering karena napas mulut dan oksigen tambahan.

3. Catat laporan mual muntah. 3. Gejala ini menurunkan masukan oral.


4. Memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan
4. Pantau input dan output, catat warna, karakter urin. kebutuhan pengantian.
Hitung keseimbangan cairan waspadi kehilangan yang
tak tampak. Ukur berat badan sesuai indikasi.
5. Tekankan cairan sedikitnya 2.500 ml per hari atau sesuai 5. Pemenuhan kebutuhan dasar cairan, menurunkan risiko dehidrasi.
kondisi individual.

Kolaborasi 1. Pada adanya penurunan masukan/banyak kehilangan, kegunaan


1. Berikan caairan tambahan IV sesuai keperluan parenteral dapat memperbaiki atau mencegah kekurangan.
Terima kasih
Kelompok 1

Nurhidayah Fitriani
Diana Rahma Dewi
Bayu Pratama
Imelda Letysia Welafubun
Emanuel Kakare