Anda di halaman 1dari 22

PERDARAHAN OTAK

Pembimbing :
Dr. NanikYuliana Sp.Rad

Kelompok J31
201820401011109 Thasia Isabelita
201820401011104 Muhammidah Fahrina S.
201820401011108 Dian Sella R.
201820401011120 Juliatika
201820401011165 Syamsul Amar Hidayat
Definisi
Perdarahan dalam otak atau di sekitar otak
Trauma
kepala

Tumor otak Hipertensi

Etiologi
Gangguan faal pembekuan darah
• Trombositopenia
• Hemofilia Arteriovenous
• Anemia sel sabit malformation (AVM)

Angiopati
Aneurisma
amiloid
Klasifikasi
• Extradural hamatoma (EDH)
• Subdural hamatoma (SDH)
Extra-axial • Subarachnoid hamatoma (SAH)
hemorhage

• Intracerebral hamatoma (ICH)


• Intraventricular hamatoma (IVH)
Intra-axial
hemorhage
Extradural hamatoma (EDH)

 EDH  Perdarahan antara tulang dan durameter.


 Lebih sering terjadi pada daerah temporal  jika salah satu cabang
a.meningea media robek
 Darurat bedah saraf  somnolen, koma, herniasi

 Gejala: sakit kepala, mual dan muntah yang sering di ikuti dengan penurunan
kesadaran.
CT Scan Extradural Hamatoma

EDH “Swirl sign”. Tampak area bintik CT scan bone window tampak gambaran hiperdens
hipodens (swirl sign) di area hiperdens tampak fraktur depresi di bikonveks di regio fronto
bikonveks menunjukkan suatu proses regio frontotemporal temporal dextra menunjukkan
hiperakut. kanan (A), gambaran perdarahan epidural
(B)
SDH (Subdural Hematoma)
Perdarahan yang terjadi antara duramater dan arakhnoid, biasanya
sering tejadi di daerah frontal, parietal dan temporal

Yang sering kali mengalami perdarahan adalah bridging vein


karena tarikan saat terjadi pergeseran rotatorik pada otak.

Gejala klinis ditandai dengan sakit kepala, penurunan kesadaran


disertai dengan lateralisasi berupa hemiparese/hemiplegi.

Gejala timbul segera hingga berjam-jam setelah trauma sampai dengan


hari ke-3
CT scan Subdural Hematoma
 Terdapat lesi hiperdens
berbentuk bulan sabit
berbatas tegas di rongga
subdural sinistra.
 Terdapat deviasi struktur
midline ke dextra.
SAH (Subarachnoid Hematoma)

Perdarahan yang terjadi di dalam ruang antara selaput


arachnoid di sekeliling permukaan otak

Penyebab utama PSA non traumatic adalah pecahnya


aneurisma sakuler

Gejala klinis ditandai dengan nyeri kepala akut hebat, kaku


kuduk, muntah, defisit neurologis fokal (hemiparesis,
monoparesis), paresis n.cranialis, adamya faktor pencetus
CT Scan SAH (Subarachnoid
Hematoma)
 CT Scan tanpa kontras –
axial
 Gambaran hyperdense SAH
pada daerah basal cisterna
dan di sekitar corpus
callosum
Intracerebral hematoma (ICH)

perdarahan yang terjadi pada jaringan otak biasanya akibat robekan


pembuluh darah yang ada dalam jaringan otak

penyebab utmanya arterial hipertensi  peningkatan tekanan


darah merusak dinding arteri kecil yg menyebabkan mikro
aneurisma yang menyebabkan ruptur secara spontan
CTScan Intracerebral Hematoma

 Ct Scan memperlihatkan gumpalan atau lapisan darah tipis


yang hyperdens juga terlihat pada sulci hemisfer.
CT scan Intraventrikular Hematoma
Diagnosis

Pemeriksaan Pemeriksaan
Anamnesis
Fisik Penunjang
ANAMNESIS
Gejala klinis biasanya menunjukkan adanya peningkatan TIK :

Gejala lain
sesuai
Vomitin Kejan Penurunan Riwayat letak dan
Cephalgia
g g kesadaran Trauma luas
perdaraha
n
Pemeriksaan Fisik

Jejas atau Defisit


fraktur karena neurologis
proses trauma fokal

Parese N. Funduskopi :
Cranialis edema papil
Pemeriksaan Penunjang
CT Scan

MRI

Angiography

Pemeriksaan Lab sesuai indikasi


Tatalaksaan perdarahan otak
1. Hiperventilasi
Setelah resusitas ABC, dilakukan hiperventilasi dengan ventilasi yang terkontrol,
dengan sasaran tekanan CO2 (pCO2) 27-30 mmHg dimana terjadi vasokontriksi yang
diikuti berkurangnya aliran darah serebral.
Hiperventilasi dengan pCO2 sekitar 30 mmHg dipertahankan selama 48-72 jam, lalu
dicoba dilepas dgnmengurangi hiperventilasi, bila TIK naik lagi hiperventilasi
diteruskan lagi selama 24-48 jam.
Bila TIK tidak menurun dengan hiperventilasi periksa gas darah dan lakukan CT scan
ulang untuk menyingkirkan hematom
2. Drainase
Tindakan ini dilakukan bila hiperventilasi tidak berhasil. Untuk jangka pendek
dilakukan drainase ventrikular, sedangkan untuk jangka panjang dipasang ventrikulo
peritoneal shunt, misalnya bila terjadi hidrosefalus
3. Terapi diuretik
 Diuretik osmotik (manitol 20%)  menurunkan TIK dengan menarik air dari jaringan
otak normal melalui sawar otak yang masih utuh kedalam ruang intravaskuler.
 Bila tidak terjadi diuresis pemberiannya harus dihentikan. Cara pemberiannya : Bolus
0,5-1 gram/kgBB dalam 20 menit dilanjutkan 0,25-0,5 gram/kgBB, setiap 6 jam
selama 24-48 jam. Monitor osmolalitas tidak melebihi 310 mOSm
 Loop diuretik (Furosemid) Frosemid dapat menurunkan TIK melalui efek menghambat
pembentukan cairan cerebrospinal dan menarik cairan interstitial pada edema sebri.
Pemberiannya bersamaan manitol mempunyai efek sinergik dan memperpanjang efek
osmotik serum oleh manitol. Dosis 40 mg/hari/iv

4. Terapi barbiturat (Fenobarbital)


terapi ini diberikan pada kasus-ksus yang tidak responsif terhadap semua jenis terapi
yang tersebut diatas. Cara pemberiannya: Bolus 10 mg/kgBB/iv selama 0,5 jam
dilanjutkan 2-3 mg/kgBB/jam selama 3 jam, lalu pertahankan pada kadar serum 3-4
mg%, dengan dosis sekitar 1 mg/KgBB/jam. Setelah TIK terkontrol, 20 mmHg
selama 24-48 jam, dosis diturunkan bertahap selama 3 hari.

5. Streroid  Berguna untuk mengurangi edema serebri pada tumor otak. Akan tetapi
menfaatnya pada cedera kepala tidak terbukti, oleh karena itu sekarang tidak digunakan
lagi pada kasus cedera kepala
Komplikasi
 SDH: herniasi otak, penurunan kesadaran, defisit neurologis, henti nafas.
 EDH: defisit neurologis bahkan kematian, kejang post trauma,
postconccusion syndrome
 SAH: Defisit neurologis, iskemik miokard, vasospasme, pendarahan ulang pada
subaracnoid
 IVH: Hidrosefalus, rebleeding, vasospasme
 ICH: Pendarahan ditempat lain, koma, herniasi otak, kerusakan nervus kranialis
Prognosis
 SDH: GCS 8  50%, semakin rendah GCS semakin buruk
 EDH: Penanganan cepat  bagus, koma sebelum ditangani  jelek
 SAH: 70% untuk grade I, 60% untuk grade II, 50% untuk grade III, 40% untuk
grade IV dan 10% untuk grade V
 ICH: meninggal dalam 30 hari. 22% kemungkinan hidup dengan kecacatan
signifikan.
 IVH: fatal, terutama IVH yg diakibatkan ICH