Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN


SOLUSIO PLASENTA

KELOMPOK VIII
ANATOMI DAN FISIOLOGI
Plasenta atau tembuni adalah suatu organ dalam
kandungan pada masa kehamilan.
Pertumbuhan dan perkembangan plasenta penting bagi
pertumbuhan dan perkembangan janin.
a. Letak plasenta
 Sebelum kelahiran  normal terletak pada segmen
atas uterus.
 Pada banyak kejadian, didapatkan bahwa plasenta
secara keseluruhan terdapat di dalam segmen atas
uterus.
b. Ukuran plasenta
Plasenta mempunyai diameter kira-kira 22 cm.
Ketebalannya kira-kira 2 cm di bagian tengah, tetapi
lebih tipis pada bagian tepinya. Berat plasenta kira-kira
0,5 kg.

STRUKTUR PLASENTA
• Permukaan maternal
• Permukaan fetal
• Amnion
• Korion
FUNGSI PLASENTA

Fungsi plasenta adalah pertukaran produk-produk


metabolisme dan produk gas antara peredaran darah ibu
dan janin, serta produksi hormon.
KONSEP DASAR MEDIS

Definisi

Solusio plesenta adalah keadaan dimana plasenta terlepas


dari perlekatannya yang normal sebelum janin lahir.
Biasanya terjadi pada kehamilan 28 minggu (Nugroho,
2011).
KLASIFIKASI

Menurut Rukiyah & Yulianti, (2011) secara klinis solusio


plasenta dapat dibagi menjadi:
• Solusio plasenta ringan (ruptura sinus marginalis)
• Solusio plasenta sedang
• Solusio plasenta berat
ETIOLOGI

Menurut Nugroho (2011), penyabab solusio plasenta belum


diketahui secara pasti. Menurut teori mengatakan akibat
tekanan darah menurun secara tiba-tiba oleh spasme dari
arteri yang menuju ke ruang interviliar.
Faktor lain yang dapat menyebabkan solusio plasenta
adalah Ibu yang perokok.
PATOFISIOLOGI

Solusio plasenta merupakan hasil akhir dari suatu proses


yang bermula dari suatu keadaan yang mampu
memisahkan vili-vili korialis plasenta dari tempat
implantasinya pada desidua basalis sehingga terjadi
perdarahan. Oleh karena itu patofisiologinya bergantung
pada etiologi. Pada trauma abdomen etiologinya jelas
karena robeknya pembuluh darah desidua.
MANIFESTASI KLINIS
• Sakit perut tiba-tiba
• Perdarahan pervaginam
• kepala pusing, pucat, pandangan berkunang-kunang,
sianosis.
• Fundus uteri meninggi
• Pergerakan janin hebat, tiba-tiba pelan dan kemudian tidak
bergerak lagi.
• Uterus teraba tegang dan keras.
• Nyeri tekan terutama tempat dimana plasenta lepas.
• DJJ > 140x/menit, lama-lama menurun 100x/menit, dan
kemudian hilang.
• Jika serviks tidak terbuka, biasanya ketuban menonjol dan
tegang di luar maupun di dalam his
Lanjutan…

• Pemeriksaan urin: albumin normal, sedimen: silinder dan leukosit


darah, Hb menurun.
• Mual-mual meningkat, kemudian menurun.
• Nadi cepat tapi lemah.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK & PENUNJANG
a. Pemeriksaan diagnostik
1) Pemeriksaan khusus obsterti
2) Pemeriksaan ultrasonografi
b. Pemeriksaan penunjang laboratorium
1) Jumlah trombosit
2) Jumlah fibrinogen darah
3) Waktu pembekuan/waktu perdarahan
4) Ureum darah dan kreatinin darah, untuk memperkirakan
kemungkinan gangguan fungsi ginjal.
c. Pemeriksaan urine
1) Jumlahnya dalam setiap jam
2) Gambaran sedimennya
KOMPLIKASI

• Komplikasi pada ibu yaitu perdarahan yang dapat menimbulkan


variasi turunnya tekanan darah sampai keadaan syok
• Gangguan pembekuan darah
• Oliguria menyebabkan terjadinya sumbatan glomerulus ginjal dan
dapat menimbulkan produksi urin makin berkurang.
• Perdarahan post partum
• Komplikasi yang terjadi pada janin antara lain asfiksia ringan sampai
berat dan kematian janin
PENATALAKSANAAN
Penanganan pada pasien yang mengalami solusio plasenta tergantung
dari berat ringannya kejadian.
a. Solusio plasenta ringan
 Usia kehamilan < 6 minggu, dan bila ada perbaikan  tirah
baring dan observasi ketat, kemudian tunggu persalinan
spontan.
 Bila ada perburukan  kehamilan harus segera diakhiri. Bila
janin hidup  seksio sesaria. Bila janin mati  amniotomi
disusul infus oksitosin untuk mempercepat persalinan.
b. Solusio plasenta sedang dan berat
 Apabila tanda dan gejala klinis solusio plasenta jelas ditemukan
 transfusi darah, amniotomi, infus oksitosin dan jika perlu
seksio sesaria.
Lanjutan…
 Apabila diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan berarti
perdarahan telah terjadi sekurang-kurangnya 1000 ml. Maka
transfusi darah harus segera diberikan. Amniotomi akan
merangsang persalinan dan mengurangi tekanan intrauterin
 Persalinan secepatnya dan transfusi darah  mencegah kelainan
pembekuan darah.
 Persalinan diharapkan terjadi dalam 6 jam sejak berlangsungnya
solusio plasenta.
 Tetapi jika tidak memungkinkan, walaupun sudah dilakukan
amniotomi dan infus oksitosin, maka satu-satunya cara melakukan
persalinan adalah seksio sesaria.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

a. Pengkajian
• Identitas klien secara lengkap
• Keluhan utama
• Riwayat penyakit sekarang
• Riwayat penyakit masa lalu
• Riwayat psikologis
• Pemeriksaan fisik
DIAGNOSA KEPERAWATAN
• Risiko/aktual kekurangan volume cairan berhubungan dengan
perdarahan.
• Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan
ditandai dengan conjungtiva anemis, akral dingin, Hb turun, muka
pucat dan lemas
• Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai terjadi
distress/pengerasan uterus, nyeri tekan uterus.
• Ansietas berhubungan dengan kurang terpapar informasi klien
mengenai keadaan patologi yang dialaminya.
• Intoleransi aktivitas berhubungan dengan respon tubuh terhadap
aktivitas: perdarahan.
Risiko/aktual kekurangan volume cairan berhubungan dengan
perdarahan.

Mandiri:
• Kaji dan observasi penyebab • Untuk menentukan intervesi
kekurangan cairan (perdarahan) selanjutnya
• Ukur tanda-tanda vital • Perubahan TD dan nadi dapat
digunakan untuk perkiraan kasar
kehilangan darah .
• Monitor tanda-tanda dehidrasi seperti • Agar tahu derajat dehidrasi dan
penurunan kesadaran, nadi, tensi, mengantisipasi gawat janin
DJJ.
• Ukur intake-output tiap shift • Agar mengetahui balance cairan
Kolaborasi
• Awasi pemeriksaan laboratorium • Alat untuk menentukan keefektifan
sesuai indikasi: Hb/Ht terapi
• Berikan cairan IV (tranfusi darah atau • Mengurangi risiko syok
infus RL )
Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan
conjungtiva anemis, akral dingin, Hb turun, muka pucat dan lemas

• Memonitor tanda tanda vital • TD, frekuensi nadi yang rendah,


frekuensi RR dan suhu tubuh yang
tinggi menunjukkan gangguan sirkulasi
darah
• Mengantisipasi terjadinya shock
• Observasi tingkat pendarahan setiap
15-20 menit
• Catat intake dan output • Produksi urin yang kurang dari 30
ml/jam menunjukkan penurunan fungsi
ginjal
• Kolaborasi dalam pemberian terapi • Cairan infus isotonic dapat mengganti
infuse isotonik volume darah yang hilang akibat
pendarahan
• Kolaborasi dalam pemberian tranfusi • Tranfusi darah dapat menggan volume
darah apabila Hb rendah darah yang hilang akibat pendarahan
Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai terjadi
distress/pengerasan uterus, nyeri tekan uterus.

• Jelaskan penyebab nyeri pada klien • Memberikan informasi mengani


penyabab nyeri yang dideritanya akan
membuat klien kooperatif
dengantindakan yang akan diberikan
• Ajarkan teknik relaksasi distraksi
pernapasan • Teknik relaksasi distraksi pernapasan
dapat mendorong klien relaks dan
memberikan klien cara mengatasi dan
mengontrol tingkat nyeri
• Berikan posisi yang nyaman (miring ke • Posisi miring mencegah penekanan
kiri / kanan) pada vena cava

• Berikan teknik relaksasi massage • Meningkatkan relaksasi dan


pada perut dan punggung meningkatkan kooping dan kontrol
klien terhadap nyeri

• Libatkan suami dan keluarga dalam • Melibatkan suami dan keluarga dapat
tindakan pengontrolan nyeri memberikan dukungan mental kepada
klien
Ansietas berhubungan dengan kurang terpapar informasi klien mengenai
keadaan patologi yang dialaminya.

• Anjurkan klilen untuk mengemukakan • Mengungkapkan perasaan tentang


hal-hal yang dicemaskan hal-hal yang dicemaskan dapat
mengurangi beban pikiran klien
• Beri penjelasan tentang kondisi janin • Mengurangi kecemasan klien
mengenai kondisi janinnya

• Beri penjelasan tentang kondisi klien • Mengurangi kecemasan klien


mengenai kondisinya

• Anjurkan keluarga untuk mendampingi


dan memberi dukungan kepada klien • Dukungan keluarga dapat memberikan
rasa aman kepada klien dan
mengurangi kecemasan klien
• Anjurkan penggunaan/kontinuitas • Memberikan perasaan rileks sehingga
teknik pernapasan dan latihan dapat menurunkan kecemasan klien
relaksasi.
Intoleransi aktivitas respon tubuh terhadap aktivitas: perdarahan.

• Catat/dokumentasi frekuensi jantung, • Kecenderungan menentukan respon


irama, dan perubahan TD sebelum, pasien terhadap aktivitas dan dapat
selama, sesudah aktivitas sesuai mengidentifikasikan penurunan oksigen
indikasi. Hubungan dengan laporan nyeri miokardia yang memerlukan penurunan
dada atau napas pendek. tingkat aktivitas atau kembali tirah
baring, perubahan program obat,
penggunaan oksigen tambahan.
• Tingkatkan istirahat (tempat tidur/kursi) • Menurunkan kerja miokard atau
batasi aktivitas pada dasar nyeri atau konsumsi oksigen, menurunkan resiko
respon hemodinamik. Berikan aktivitas komplikasi.
senggang yang tidak berat.
• Batasi pengunjuk dan/atau kunjungan • Pemberian yang panjang sangat
oleh pasien. mempengaruhi pasien, namun periode
kunjungan yang tenang bersifat
terapeutik.
• Aktivitas yang memerlukan menahan
• Anjurkan pasien menghindari napas dan menunduk dapat
peningkatan tekanan abdomen, contoh mengakibatkan bradikardi, juga
mengejan saat defekasi. menurunkan curah jantung. Dan takikardi
dengan peningkatan tekanan darah.
SEKIAN
&
TERIMAKASIH