Anda di halaman 1dari 35

GIGI TIRUAN CEKAT

Drg Bertha E. Setio, Sp. Pros


Pengertian
Suatu restorasi dalam mulut yang
menggantikan satu atau lebih atau
beberapa gigi yang hilang yang tidak dapat
dilepas dengan mudah oleh pasien maupun
dokter gigi.
Indikasi Gigi Tiruan Cekat menurut Ewing
(1959)
1. Gigi sudah erupsi penuh dimana usia periodonsium yang baik
pasien berupa 20-55 tahun
8. Gigi ebutment posisinya sedapat
2. Mempunyai struktur jaringan yang sehat mungkin sejajar dan masih vital
3. Mengganti hanya beberapa gigi yang 9. Pasien tidak mempunyai kebiasaan jelek
hilang (1-4 gigi)
10. Kesehatan umum dan sosial indikasi
4. Kondisi ridge dalam batas normal pasien baik
5. Processus alveolaris yang mendukung 11. Sedapat mungkin gigi abutment paralel
baik dan vital
6. Gigi abutment tidak malposisi dan 12. Merupakan treatment dari kasus-kasus
mampu menerima tekanan pontic penyakit periodontal
7. Mempunyai hubungan oklusi dan 13. Pasien menuntut penampilan (Estetis)
Kontraindikasi GTC
1. Pasien terlalu muda atau tua 7. Gigi abutment abnormal dan
jaringan periodonsium tidak
2. Struktur gigi lunak
sehat
3. Hygiene mulut jelek
8. Oklusi abnormal
4. Gigi yang harus diganti banyak
9. kesehatan umum jelek
5. Kondisi daerah tak bergigi
10.Mempunyai bad habbit
resorbsi
11.Gigi hipersensitif walaupun sudah
6. Alveolus pendukung gigi kurang
dianestesi
dari 2/3 akar gigi
Beberapa hal yang harus
dipertimbangkan dalam perawatan GTC
1. Keadaan Gigi abutment
2. Umur penderita
3. Keadaan jaringan periodontal
4. Oral hygiene
5. Indeks karies
6. Oklusi
7. Keadaan gigi antagonis
Komponen GTC
Gigi abutment
gigi yang dipreparasi sebagai gigi pegangan pontik
Konektor
menghubungkan antara pontik dan retainer, biasanya
terbuat dari logam
Retainer
penahan berupa crown
Pontik
pengganti gigi asli yang hilang.
Gigi Abutment
Gigi yang digunakan dapat : gigi vital dan non-vital(setelah psa)
Hal yang harus diperhatikan dalam menentukan gigi abutment :
1. Rasio antara akar dan mahkota
• Idealnya 1:3 tetapi untuk ratio yang baik 2:3
• Digunakan untuk menentukan kekuatan

2. Konfigurasi akar
labio-lingual, mesio-distal, dapat terjadi kegagalan apabila terdapat
anomali akar
3. Area ligament periodontal
Mengacu pada hukum ante :
jumlah luas jaringan periodontal pada gigi abutment harus
sekurang-kurangnya sama atau lebih besar dari luas jaringan
periodontal gigi yang hilang.
Retainer
Ada 3 macam yaitu :
1. Intrakoronal  mahkota yang melibatkan mahkota
Ex : inlay, onlay (MO,DO, MOD)

2. Ekstrakoronal  mahkota yang dibuat diluar mahkota


Ex : pada preparasi full crown atau ¾ crown atau half crown

3. Intraradikular  mahkota didalam akar


Ex : Mahkota pasak (dengan panjang pasak 2/3 akar)
Pontik
Definisi: bagian dari unit GTC yang mengganti gigi yang hilang serta merestorasi fungsi gigi
tersebut.
Persyaratan Pontik
1. Dapat menahan daya kunyah atau daya gigit
Pontik -> Rigid, Tidak boleh bengkok, patah akibat tekanan kunyah
Pontik harus punya kekerasan cukup untuk menahan kikisan(atrisi)
2. Mempunyai estetika yang baik
pontik anterior -> bentuk dan ukuran anatomis dan warna sama dengan gigi aslinya
3. Tidak menyebabkan iritasi pada gusi
bahan, bentuk pontik, dan posisi terhadap gusi
4. Mudah dibersihkan
Design pontik dibuat sedimikian rupa sehingga sisa-sisa makanan tidak mudah
berkumpul membusuk -> mudah dibersihkan dengan sikat /dental floss
5. Beban tidak berlebihan
Desain pontik tidak boleh menyebabkan beban berlebih pada abutment -> lebar
bukolingual dikurangi
Pontic
1. Saddle pontic
2. Modifikasi Ridge lap pontic
3. Hygiene pontic
4. Ovate pontic
5. Conical pontic
Konektor
Suatu bagian dari GTC yang menghubungkan pontik dengan
retainer ataupun retainer dan retainer .
Connector juga disebut joint
Konektor dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Rigid connector (sambungan kaku)
2. Semi rigid connector (setengah kaku)
Rigid konektor bisa dibuat dengan 3 cara yaitu
1. Soldering (temp above 450°C)
2. Welding
3. One piece casting (satu kali pengecoran)
Konektor non rigid
Memiliki bagian yang dapat dilepas dan disambung yaitu
mortise yang terletak pada retainer dan tenon yang melekat
pada pontik yang dapat disesuaikan dengan keadaan gigi.
Prinsip-Prinsip Preparasi
1. Mengurangi permukaan oklusal tidak boleh lebih dari 1,5mm (1-
1,5mm)
2. Dapat digunakan untuk retensi (dimasukkan tidak jatuh/pas) dan
resistensi (ketika fungsional tidak jatuh)
3. Inklinasi gigi harus diperhatikan
4. Pada preparasi gigi ¾ crown perlu dibuat proximal groove yang
parallel terhadap axis gigi yang digunakan untuk retensi
5. Panjang oklusogingival (panjang puncak crown hingga sulcus
gingival) merupakan faktor terpenting dalam retensi dan
resistensi
6. Cara memasukan GTC ke gigi abutment dan cara
mengeluarkan
7. Ketahanan struktural ( kekerasan)
8. Fungsional tonjol bevel
9. Pengurangan axial
10. Finishing line, terletak pada daerah Cemento Enamel
Junction, ada 4 tipe :
◦Shoulders / knife edge : porcelain yang dipasang punya
kekuatan tepi  GTC logam
◦Shoulder : pada gigi anterior terdapat pundak di tepi CEJ dan
melingkar, untuk restorasi logam kombinasi porselen. Karena
porselen tidak memiliki kekuatan tepi.
◦Chamfer : full veneer cast crown (berfungsi untuk mengunci,
letak preparasi dibawah jaringan periodonsium)
◦Partial shoulder
Untuk pembuatan GTC diperlukan foto
rontgen , berguna mengetahui:
1. Keadaan tulang alveolar di daerah yang kehilangan gigi
2. Akar yang tertinggal di alveolar
3. Perbandingan panjang akar dan tinggi mahkota
4. Ukuran, bentuk, dan posisi akar
5. Tebal dan kontinuitas lapisan periodontal
6. Adanya kelainan pada apeks akar
Preparation for Full Veneer Crown
Langkah-langkah :
1. Mengurangi oklusal
◦ Mengurangi 1,5 mm pada tonjol fungsional (tonjol palatal pada gigi P dan M maksila, tonjol
bukal pada gigi P dan M mandibular )
◦ Mengurangi 1 mm pada tonjol non-fungsional (tonjol bukal pada gigi P dan M maksila,
tonjol lingual pada gigi P dan M mandibular )
◦ Digunakan untuk mengurangi groove / karies dan pembuatan bevel
2. Mengurangi bukal dan lingual
3. Mengurangi bagian proksimal ( dibuat groove kecil sebagai
kuncian agar crown tidak bergerak )
4. Pembuatan finishing line
5. Seating groove untuk retensi dan resistensi
Preparation for Partial Veneer Crown
Langkah-langkah :
1. Pengurangan oklusal
2. Pembuatan bevel
3. Pengurangan lingual
4. Pembuatan proksimal
5. Pembuatan groove mesial dan distal  hubungkan
dengan oklusal groove
6. Finishing line
Wax Pattern
Ada 2 macam model malam yaitu direct (tempat
praktek) dan indirect (di lab) syarat wax yang baik :
1. Mudah mengalir saat dipanaskan
2. Mudah kering saat dingin dan rigid / kaku / tidak
berubah bentuk
3. Mudah dibentuk secara tepat
Kontak antar gigi (oklusogingival) dan kontak oklusi, fasial
harus tepat dan estetis karena apabila tidak tepat akan
mempengaruhi TMJ.

Langkah-langkah model malam :


1. Cor inlay wax pada tonjol-tonjol dan fisura pada oklusal ( dimulai
dari samping  melingkar  ditengah [dimulai dari sisa tonjol
yang posisinya paling tinggi]  dihubungkan  baru terbentuk
fisur
2. Cor inlay wax disebelah palatal, lingual dan proksimal
Langkah – langkah pembuatan temporary crown :
1. Cetak pasien sebelum preparasi
2. Setelah preparasi cetakan diisi self cured
3. Lalu cetakan kembali pada hasil preparasi

◦Lalu setelah selesai polimerasi maka akan terbentuk


crown sementara
Persyaratan GTC
1. Persyaratan Mekanis
2. Persyaratan fisiologis
3. Persyaratan hygiene
4. Persyaratan estetik
5. Persyaratan fonetik
1. Persyaratan Mekanis
Gigi abutment : mempunyai sumbu panjang yang sejajar
satu sama lain tanpa membahayakan vitalitas pulpa. Bentuk
dan ukuran cukup sehingga dapat dipreparasi
Bentuk pontik : serupa gigi asli dan kuat
2. Persyaratan fisiologis
GTC tidak boleh mengganggu kesehatan gigi-gigi abutment
dan jar. Pendukung lainnya (gusi, lidah, pipi, bibir)
3. Persyaratan hygiene
Tidak boleh ada bagian yang menimbulkan sisa makanan. Diantara
pontik-pontik atau pontik – rentainer harus ada sela (embrasure)
yang cukup sehingga dapat dibersihkan dengan mudah oleh arus
ludah atau lidah. Diantara pontik – gusi harus dapat dilalui seutas
benang untuk membersihkan. GTC harus dipolis mengkilat supaya
kotoran tidak mudah melekat.
4. Persyaratan estetik
GTC harus menyerupai gigi asli tetapi tidak boleh
mengorbankan kekuatan dan kebersihan GTC
5. Persyaratan fonetik
Suara (voice) dan bicara (speech) pada GTC tidak
banyak dipersoalkan
Rencana Perawatan GTC
1. Struktur gigi yang rusak (karies / non vital)
 Dilakukan persiapan restorasi (karies ditambal, gigi non vital 
psa)
2. Estetika
◦ Gigi anterior  PFM / porselen
◦ Pontik  bag. Terlihat : modified ridge lap; bag. Tak terlihat :
hygienic/sanitary
3. Plak kontrol
◦ OH jelek  kontra indikasi GTC (diberi motivasi dan edukasi)
Finishing Line
Fungsi finishing line :
◦ Mengukur apakah struktur gigi yang dikurangi sudah cukup
◦ Mengukur keakuratan pencetakan
◦ Ketepatan finishing line mempengaruhi adaptasi tepi model malam
◦ Memudahkan evaluasi restorasi
◦ Saat sementasi, finishing line yang tegas akan membantu untuk
menentukan apakah restorasi sudah terisi penuh
◦ Finishing line dibuat di CEJ / subgingiva dan dipreparasi secara
tegak lurus
Macam-macam Finishing Line :
Shoulder  pake flat ended fisur bur  reduksi banyak
Chamfer  torpedo
Shoulderless / knife edge  tapered
Partial shoulder
Finishing line dan bahan restorasi
Shoulder  jaket crown dari porselen / akrilik  tanpa kekuatan tepi
Shoulderless  logam  karena logam memiliki kekuatan tepi
Chamfer  full veneer crown  PFM (coping didalam, porselen diluar, metal
dapat menambah kekuatan karena porcelain brittle, walaupun keras).
Untuk membuat finishing line, di lakukan retraksi gingiva
Pada PFM, jka pengurangan terlalu sedikit  akan terlihat opak (putih kapur)
karena untuk menutup metal digunakan opacker yang tebal, sehingga porselen
tipis dan gigi akan memperlihatkan warna opaknya  estetis (-)