Anda di halaman 1dari 18

Uterus adalah organ yang tebal, berotot,

berbentuk buah pir, terletak di dalam pelvis, di


belakang rectum dan di depan kandung kencing

Berdasarkan fungsi dan anatomisnya, uterus


dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu
1. Fundus
2. Corpus
3. Istmus
Fungsi uterus adalah untuk menahan ovum yang
telah dibuahi selama perkembangan
Mioma uteri adalah neoplasma yang berasal
dari otot uterus dan jaringan ikat yang
menumpangnya (Hanifa Wiknjosastro dkk,
1999)
Mioma uteri merupakan tumor jinak otot
rahim, disertai jaringan ikatnya, sehingga
dapat dalam bentuk padat karena jaringan
ikatnya dominan dan lunak serta otot rahimnya
dominan ( Manuaba, 2007).
Berdasarkan posisi mioma uteri terdapat
lapisan-lapisan uterus, dapat dibagi dalam 3
jenis:
1. Mioma Submukosa
2. Mioma intramural
3. Subserosa
Menurut Manuaba (2007), faktor-faktor
penyebab mioma uteri belum diketahui, namun
ada 2 teori yang menjelaskan faktor penyebab
mioma uteri, yaitu:
 Teori Stimulasi, Berpendapat bahwa estrogen
sebagai faktor etiologi
 Teori Cell nest, Terjadinya mioma uteri
tergantung pada sel-sel otot imatur
 Mioma memiliki reseptor estrogen yang lebih
banyak dibanding miometrium normal. Teori
cell nest atau teori genitoblat membuktikan
dengan pemberian estrogen ternyata
menimbulkan tumor fibromatosa yang
berasal dari sel imatur
 Perubahan sekunder pada mioma uteri
sebagian besar bersifaf degeneratif karena
berkurangnya aliran darah ke mioma uteri.
1. Perdarahan abnormal
2. Nyeri
3. Gejala dan tanda penekanan seperti retensio
urine, hidronefrosis, poliuri
1. Pemeriksaan Darah Lengkap
2. USG
3. Sitologi
4. ECG
Manuaba (2007) berpendapat bahwa mioma
uteri dapat berdampak pada kehamilan dan
persalinan, yaitu:
 Kemungkinan abortus bertambah
 Kelainan letak janin dalam rahim
 Menghalang-halangi lahirnya bayi
 Mempersulit lepasnya plasenta
1. Konservatif
2. pengobatan penunjang
3. Pembedahan
4. radiologi.
 Pengkajian
1. Data umum
2. Keluhan Utama: Nyeri
3. Riwayat Reproduksi
4. Data Psikologi
5. Status Respiratori
6. Tingkat Kesadaran
7. Status Urinari
8. Status Gastrointestinal
 Nyeri berhubungan dengan gangguan sirkulasi
darah pada sarang mioma akibat nekrosis dan
peradangan.
 Gangguan gambaran diri berhubungan dengan
kehilangan organ atau fungsi
 Risiko tinggi disfungsi seksual berhubungan
dengan perubahan struktur tubuh atau fungsi
 Kurang pengetahuan berhubungan dengan
prognosis penyakit, kebutuhan pengobatan.
 Perubahan cairan kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan perdarahan pervagina
berlebihan.
 Retensi urine berhubungan dengan penekanan yang
keras pada uretra.
 Konstipasi berhubungan dengan penekanan oleh
massa pada jaringan sekitanya.
Intervensi:
 Kaji keluhan nyeri,perhatikan lokasi, lamanya
dan intensitas (skala 0-10).perhatikan
petunjuk verbal dan nonverbal
 Observasi tanda-tanda vital
 Ajarkan dan catat tipe nyeri serta tindakan
untuk mengatasi nyeri
 Ajarkan teknik relaksasi
 Kolaborasi pemberian analgesic
Intervensi:
 Berikan waktu mendengar masalah dan
ketakutan pasien dan orang terdekat
 Kaji stres emosi pasien
 Berikan informasi akurat
 Berikan lingkungan terbuka pada pasien
untuk mendiskusikan masalah seksualitas
 Perhatikan perilaku menarik diri menganggap
diri negatif atau terlalu memasalahkan
perubahan aktual yang ada
 Rujuk konseling profesional sesuai kebutuhan
Intervensi:
 Mendengarkan pernyataan pasien/orang
terdekat
 Kaji informasi pasien/orang terdekat tentang
anatomi/fungsi seksual dan pengaruh
prosedur pembedahan
 Indentifikasi faktor budaya
 Bantu pasien untuk menyadari/ menerima
tahap berduka
 Solusi pemecahan masalah terhadap masalah
potensial
 Kaji proses penyakit dan harapan yang akan
datang
 Diskusikan perlunya keseimbangan
kesehatan, nutrisi, makan dan pemasukan
cairan yang adekuat
 Anjurkan pilihan jadwal istrahat sering dan
periode aktivitas
 Kaji anjuran untuk memulai koitus seksual
 Tekankan pentingnya mengevaluasi
perawatan
 Perhatikan pola berkemih, dan awasi haluaran
urine
 Palpasi kandung kemih, sedikit keluhan
ketidknyamanan, kemampuan berkemih
 Pemasangan kateter bila diidentifikasikan bila
pasien tidak mampu berkemih atau tidak
nyaman
 Kaji karakterisktik urin, perhatikan warna,
kejernihan, bau
 Kolaborasi pemasangan kateter bila
diindikasikan
 Auskultasi bising usus. Perhatika distensi
abdomen, adanya mual muntah
 Dorong pemasukan cairan adekuat
 Kolaborasi
 Batasi pemasukan oralsesuai indikasi
 Berikan cairan jernih/banyak dan
dikembangkan menjadi makanan halus sesuai
toleransi
 Berikan obat, contoh pelunak feses, laksatif
sesuai indikasi