Anda di halaman 1dari 19

Asuhan Keperawatan Pada

Pasien Dengan Gonore Pada


kehamilan

Kelompok VII
Pengertian
• Gonore adalah sebuah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh Neisseria Gonorrhoea yang
penularannya melalui hubungan seksual, baik
melalui oral, anal maupun genitalia. (Brunner dan
Suddarth,2001)
Klasifikasi
• Gonore akut
• Gonore kronik
Etiologi
Neisseria Gonorrhoeae
Patofisiologi

Bakteri masuk kedalam tubuh melalui kontak seksual, dan


bisa juga melalui pemakaian barang secara bergantian.
Bakteri secara langsung menginfeksi uretra, endoserviks,
saluran anus, konjungtiva dan faring. Infeksi dapat
meluas dan melibatkan endometrium, tuba fallopi dan
ovarium pada wanita. Ibu hamil yang terinfeksi gonore
dapat menularkan pada bayinya.
Manifestasi Klinis
a. Gejala awal bisa timbul 7-21 hari setelah terinfeksi
b. Infeksi pada wanita, pada mulanya hanya
mengenai serviks uteri
c. Keluhan: kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri
pada panggul bawah, demam, keluarnya cairan
dari vagina, nyeri ketika berkemih dan desakan
untuk berkemih.
d. Pada pemeriksaan serviks tampak merah dengan
erosi dan sekret mukopurulen, duh tubuh akan
terlihat lebih banyak, bila terjadi servitis akut.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan antibodi fluoresensi
2. Biakan dan serviks pada wanita
3. Biakan dan faring pada kasus-kasus yang dicurigai
terjadi kontak orogenital
4. Tes serologik untuk sifilis
Komplikasi
1. Infeksi pada serviks (servisitis gonore)
2. Salpingitis (penyakit radang panggul)
3. Infertilitas
4. Infeksi pada uretra dapat terjadi para uretritis
5. Pada kelenjar Bartholin (bartholinitis)
6. adanya kemungkinan lahir prematur, infeksi
neonatal dan keguguran akibat infeksi
gonokokkus pada wanita hamil
7. adanya sepsis pada bayi baru lahir karena gonore
pada ibu.
Penatalaksanaan
1. Pengobatan
Pada wanita hamil tidak dapat diberikan obat
golongan kuinolon dan tetrasiklin. Yang
direkomendasikan adalah pemberian obat golongan
sefalosporin (Seftriakson 250 mg IM sebagai dosis
tunggal)
2. Pencegahan
• Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal, anal
dan oral dengan orang yang terinfeksi
• Pemakaian Kondom dapat mengurangi tetapi tidak
dapat menghilangkan sama sekali risiko penularan
penyakit ini
• Hindari hubungan seksual sampai pengobatan
antibiotik selesai.
• Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa
guna mencegah infeksi lebih jauh dan mencegah
penularan
• Pengendalian penyakit menular seksual ini adalah
dengan meningkatkan keamanan kontak seks dengan
menggunakan upaya pencegahan
Konsep dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Identitas meliputi:
Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Suku bangsa
Pekerjaan
Pendidikan
Status
Alamat
Keluhan utama
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan keluarga
2. Pola-pola fungsi kesehatan
3. Pemeriksaan fisik
Observasi TTV klien
Pengkajian persistem
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

1. Nyeri akut berhubungan dengan reaksi inflamasi


pada uretra
2. hipertermi berhubungan dengan adanya reaksi
penyakit
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
adanya abses dan kemerahan
4. Ansietas berhubungan dengan proses penyakit
5. Perubahan pola eliminasi urine
Intervensi
Diagnosa I
1. Kaji skala nyeri pasien

2. Jelaskan pada klien penyebab rasa nyeri

3. Observasi tanda-tanda vital

4. Anjurkan klien tarik nafas dalam saat nyeri


muncul

5. Berikan lingkungan yang nyaman dan tenang

6. Kolaborasi dengan pemberian obat analgesik.


Diagnosa II

1. Observasi suhu tubuh klien

2. Berikan klien kompres hangat pada bagian aksila dan


leher

3. Anjurkan pada klien untuk memakai baju yang tipis

4. Observasi suhu klien setiap 2 jam sekali

5. Observasi nadi, respirasi dan tekanan darah klien

6. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi klien

7. Kolaborasikan dengan medis untuk pemberian


antipiretik
Diagnosa III

1. Jelaskan pada klien untuk tetap menjaga kebersihan dan kekeringan pada daerah
luka
2. Observasi kondisi kerusakan jaringan kulit klien, catat adanya pembengkakan dan
kemerahan
3. Rawat dan jaga agar luka tetap bersih terutama luka pada bagian yang lembab
4. Kolaborasikan dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotic
Diagnosa IV
1. Jamin klien tentang kerahasiaan status kesehatannya
2. Jalin kedekatan dengan klien.
3. Pertahankan kondisi senyaman dan setenang
mungkin
4. Berikan informasi tentang penyakit yang dialami klien
seakurat mungkin
5. Berikan lingkungan terbuka dimana klien akan
merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau
masalah klien
6. Jelaskan prosedur, berikan kesempatan untuk
bertanya dan jawab dengan jujur
7. Libatkan orang terdekat untuk melakukan
implementasi.
Diagnosa V
1. Pantau dan catat keluaran urine
2. Kaji pola berkemih seperti frekuensi dan
jumlahnya
3. Dorong peningkatan BAK dan pertahankan
pemasukan cairan
4. Observasi adanya urine seperti awan atau
berdarah , bau yang tidak enak
5. Kolaborasi dengan pemasangan kateter jika
kandung kemih teraba penuh.
terimakasih