Anda di halaman 1dari 70

Asuhan Gizi

Terstandar Pada
Kasus HIV/AIDS
Pada Pasien
Dewasa.
2

Hello!
Kelompok 3 :
 Chadijjah Choirunnisa
 Dini Salamatul Ula
 Imas Sartika
 Nethania Christiani
 Rizqi Hafiroh
HIV/AIDS

4

Penyakit HIV/AIDS adalah penyakit yang disebabkan karena virus


yang tergolong Retrovirus yang disebut Human Immunodeficiency
Virus (HIV). Virus ini merupakan partikel yang inert, dan setelah
masuk dalam sel target, virus ini baru bisa berkembang terutama
dalam sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV
yang disebut CD4.
5
Penyebaran virus hanya terjadi jika melakukan hubungan seks yang tidak
aman dan bergantian jarum suntik saat menggunakan obat/narkotika. Virus
ini hanya bisa tahan di dalam cairan tubuh (cairan sperma, cairan vagina, cairan
anus, darah, dan ASI) dari orang yang terinfeksi dan tidak bisa menyebar melalui
keringat atau urin.

Penyebaran yang lain diantaranya :


• Melalui seks oral,
• Memakai alat bantu seks secara bersama-sama atau bergantian;
• Tranfusi darah dari orang yang terinfeksi;
• Memakai jarum, suntikan,perlengkapan menyuntik lain yang sudah terkontaminasi,
misalnya spon dan kain pembersihnya
• Penularan dari ibu kepada bayi pada masa kehamilan, ketika melahirkan atau
menyusui.
6

Patofisiologi Virus HIV menyerang sistem immune dan sistem syaraf.


AIDS Immunitas adalah kemampuan tubuh melindungi
dirinya dari berbagai serangan virus, bakteri, polutan
dan lain yang dari luar tubuh dan itu banyak, dan jika
imunitas tubuh rendah maka mudah sekali sakit
terutama penyakit infeksi.
7

Virus HIV masuk


ke tubuh manusia
Penyerangan
Virus HIV/AIDS
Masuk ke
dalam darah

Menyerang sel protein


tertentu yaitu CD4
yang ada di limposit.
Limposit adalah sumber utama 8
kemampuan imunitas tubuh,
yang terlibat immunitas
humoral(aspek imunitas yang
dimediasi oleh makromolekul
• Pada orang sehat , kadar CD4
yang ditemukan dalam cairan
berkisar antara 500 sampai
ekstraseluler,seperti antibodi
dengan 1500 dalm setiap
yang disekresikan,protein
microliter darah.
komplemen dan peptida
antimikroba tertentu) yang
• AIDS akan terjadi jika kadar CD4
diproduksi sel Beta dan
kurang dari < 200 mm3. Pada
immunitas mediated sel yang
kondisi ini tubuh sudah tidak
diproduksi oleh Sel T. Oleh
mempunyai kemampuan untuk
karena itu ciri utama penderita
melawan infeksi sehingga hampir
HIV adalah penurunan kadar
seluruh bagian tubuh terinfeksi.
CD4.
9

Pemberian asuhan gizi


dapat memperlambat
virus HIV berkembang
agar tidak menjadi
AIDS. Waktu yang
diperlukan HIV menjadi
AIDS jika tanpa terapi
apapun rata-rata adalah
10 tahun.
10

Stadium I
Stadium klinis
pada penyakit
HIV/AIDS
Stadium II
Stadium IV

Stadium III
11

Stadium klinis Stadium I Stadium II & III Stadium IV

pada penyakit Tubuh sudah


terinfeksi HIV dalam
Sudah terjadi
pengrusakan sel
Stadium IV dimana
beban virus meningkat
HIV/AIDS darah menyebabkan, Limfosit CD4+ dan drastis kemudian nilai
jumlah CD4 menurun terjadi penurunan CD4 menurun tajam
tetapi masih dalam jumlah CD4 yang terjadi pengrusakan
batas nilai normal menyebabkan beban CD4 oleh virus HIV
sehingga tubuh masih virus meningkat kemudian infeksi
bisa mengatasi infeksi- sehingga terjadi opurtunistik (IO) ber
infeksi yang gangguan tambah, dan status gizi
menyerang tubuh metabolisme, infeksi memburuk, terjadilah
sehingga pasien tidak oportunistik (IO), dan cacheksia dan masuk
tampak sakit, dan status gizi menurun. dalam Stadium AIDS.
status gizinya masih
sama seperti sebelum
terinfeksi.
12

• Terjadi penurunan berat badan


Gejala sebesar 10 persen atau lebih dalam
waktu sekitar satu bulan tanpa
Gejala sebab,
HIV/AIDS Mayor • Diare dan demam berkepanjangan
lebih dari satu bulan.

• Batuk kering yang sulit sembuh;


• Kulit gatal di sekujur badan;
• Adanya infeksi jamur di mulut, lidah, atau
Gejala tengorokan;
• Terjadi pembesaran kelenjar di area ketiak,
Minor selangkangan, dan leher;
• Terserang herpes zoster yang sulit
sembuh,
• Menurunnya kemampuan intelektual,
• Kerusakan syaraf peripher.
13
Tujuan Khusus
 Mengatasi gejala diare,
intoleransi laktosa, mual, da
Tatalaksana Tujuan umum muntah
Diet Pada  Memberikan intervensi gizi  Mempertahankan berat
secara cepat dengan badan normal
Pasien mempertimangkan seluruh aspek
dukungan gizi pada semua tahap  Mencegah penurunan berat
dini penyakit infeksi HIV. badan yang berlebihan
 Mencapai dan mempertahankan (terutama jaringan otot)
berat badan serta komposisi  Memberikan kebebasan
tubuh yang diharapkan, terutama pasien untuk memilih
jaringan otot (Lean Body Mass)
makanan yang adekuat
 Memenuhi kebutuhan energi dan sesuai dengan kemampuan
semua zat gizi
makan dan jenis terapi yang
 Mendorong perilaku sehat dalam diberikan
menerapkan diet, olahraga, dan
relaksasi
14
1)Energi tinggi. Tambahkan energi sebanyak 13% untuk
setiap kenaikan suhu 1oC.

Syarat Diet
HIV/AIDS
1)Protein tinggi, yaitu 1,1-1,5 g/kg BB untuk memelihara
dan mengganti jaringan sel tubuh yang rusak.

1)Lemak cukup, yaitu 10-25% dari kebutuhan energi total.

1)Vitamin dan mineral tinggi, yaitu 1½ kali (150%) Angka


Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG), terutama vitamin A,
B12, C, E, folat, kalsium, magnesium, seng, dan selenium.

1)Serat cukup; gunakan serat yang mudah dicerna


15
1)Cairan cukup, sesuai dengan keadaan pasien. Konsistensi cairan
dapat berupa cairan kental (thick fluid), semi kental (semi thick fluid),
dan cair (thin fluid).

Syarat Diet
HIV/AIDS
1)Elektrolit. Kehilangan elektrolit melalui muntah dan diare perlu
diganti (natrium, kalium, dan klorida)

1)Bentuk makanan dimodifikasi sesuai dengan keadaan pasien.


Apabila terjadi penurunan berat badan yang cepat, maka dianjurkan
pemberian makanan melalui pipa atau sonde sebagai makanan
utama atau makanan selingan.

1)Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering.

1)Hindari makanan yang merangsang pencernaan baik secara


mekanik, termik, maupun kimia.
16

Jenis Diet dan


Diet AIDS diberikan pada pasien ○ Makanan untuk pasien
Indikasi akut setelah terkena infeksi HIV, AIDS dapat diberikan
Pemberian yaitu kepada pasien dengan :
melalui tiga cara, yaitu
○ Infeksi HIV positif tanpa gejala. secara oral, enteral
○ Infeksi HIV dengan gejala (sonde), dan parenteral
(misalnya panas lama, batuk, (infus). Ada tiga macam
diare, kesulitan menelan, diet AIDS yaitu Diet
sariawan, dan pembesaran
AIDS I, II, III.
kelenjar getah bening).
○ Infeksi HIV dengan gangguan
saraf.
○ Infeksi HIV dengan TBC.
○ Infeksi HIV dengan kanker dan
HIV Wasting Syndrome.
17

○ Diet AIDS I diberikan kepada pasien infeksi HIV akut, dengan


gejala panas tinggin, sariawan, kesulitan menelan, sesak napas
berat, diare akut, kesadaran menurun, atau segera setelah
Diet AIDS I pasien dapat diberi makan.
○ Makanan berupa cairan dan bubur susu, diberikan selama
beberapa hari sesuai dengan keadaan pasien, dalam porsi kecil
setiap 3 jam.
○ Bila ada kesulitan menelan, makanan diberikan dalam bentuk
sonde atau dalam bentuk kombinasi Makanan Cair dan
makanan sonde. Makanan sonde dapat dibuat sendiri atau
menggunakan makanan enteral komersial energy dan protein
tinggi. Makanan ini cukup energy, zat besi, tiamin, dan vitamin
C.
○ Bila dibutuhkan lebih banyak energi dapat ditambahkan
glukosa polimer (mislanya polyjoule)
18

Makanan Cair Oral


Pembagian Makanan Sehari :

Bahan Makanan Berat (g) URT


Pukul 06.00 susu
Pukul 07.00 susu
Susu whole 200 40 sdm Pukul 10.00 bubur havermout
bubuk Pukul 13.00 bubur susu
Tepung maizena 100 20 sdm Pukul 16.00 bubur susu
Pukul 20.00 bubur susu
Kacang 100 20 sdm Pukul 21.00 susu
hijau/beras
Havermout 100 20 sdm
Telur ayam 150 3 butir
Margarin/minyak 25 2 1/2 sdm

Gula pasir 100 10 sdm


19
Buatan Sendiri
Makanan sonde
Bahan makanan Berat (g) URT buatan sendiri
Susu whole bubuk 160 32 sdm atau komersial
Susu skim bubuk 100 20 sdm diberikan dalam 4
Tepung maizena 20 4 sdm
porsi .
Telur ayam 150 3 butir
Gula pasir 100 10 sdm
Cairan 2000 ml 8 gelas

Komersial

Bahan makanan Berat (g) URT


Enteral energy dan 500 100 sdm
protein tinggi
Cairan 2000 ml 8 gelas
20
Nilai Gizi

Makanan Lewat Pipa Sonde


Makanan Cair
Zat Gizi
Oral Buatan Sendiri Komersial

Energy (kkal) 2207 2240 2100


Protein (g) 73 95 90
Lemak (g) 103 83 61
Karbohidrat 284 306
251
(g)
Kalsium (mg) 190 280 320
Besi (mg) 6,4 6,3 42,5
Vitamin A 1349 1800
1361
(RE)
Tiamin (mg) 0,7 1 4,1
Vitamin C 66 540
12
(mg)
21

Diet AIDS II ○ Diet AIDS II ○ Untuk memenuhi


diberikan sebagai kebutuhan energy
perpindahan DIET dan zat gizinya,
AIDS I setelah tahap
diberikan
akut teratasi.
Makanan diberikan makanan eteral
dalam bentuk atau sonde
sarinbg atau cincang sebagain
setiap 3 jam. tambahan atau
Makanan ini rendah sebagai makanan
nilai gizinya dan utama.
membosankan.
22
Makanan Saring Oral

Bahan makanan Berat (g) URT


Beras 90 3 gelas bubur
Maizena 15 3 sdm
Daging 100 2 potong sedang
Telur ayam 100 2 butir
Tahu 75 3/ buah besar
4
Sayuran 100 1 gelas
Buah 200 2 potong sedang papaya
Margarin 30 3 sdm
Gula pasir 60 6 sdm
Susu 800 4 gelas

Makanan Enteral Komersial


Bahan makanan Berat (g) URT
Makanan enteral energi dan 500 4 gelas + 4 sdm
protein tinggi
Cairan 2000 ml 8 gelas
23
Nilai Gizi

Zat gizi Makanan Makanan


Saring Oral Enteral
Komersial
Energi (kkal) 1900 2100
Protein (g) 72 90
Lemak (g) 83 61
Karbohidrat (g) 223 306
Kalsium (g) 1300 32500
Besi (mg) 25,6 42,5
Vitamin A (RE) 2940 1800
Tiamin (mg) 0,8 4,5
Vitamin C (mg) 176 540
24

Siang/Malam
Pagi ○ Beras 30 g = 1 gelas bubur
Pembagian ○ Daging 50 g = 1 potong sedang
• Beras 30 g = 1 gelas bubur
Bahan Makanan ○ Tahu 25 g = 1/2 buah besar
• Telur ayam 50 g = 1 butir
Sehari ○ Sayuran 50 g = 1/2 gelas
• Tahu 25 g = 1/4 buah besar
○ Papaya 100 g = 1 potong sedang
• Susu 200 g = 1 gelas
○ Margarin 15 g = 1 1/2 sdm
• Gula pasir 10 g :1 sdm

.
Pukul 16.00
Pukul 10.00 Pukul 20.00
○ Telur ayam 50 g = 1 butir ○ Maizena 15 g = 3 sdm
○Susu 200 g = 1 gelas
○ Susu 200 g = 1 gelas
○ Susu 200 g = 1 gelas
○Gula pasir 10 g = 1 sdm
○ Gula pasir 10 g = 1 sdm
○ Gula pasir 30 g = 3 sdm
25

○ Diet ini tinggi energi,


protein, vitamin, dan
mineral. Apabila
Diet AIDS III kemampuan makan
○ Diet AIDS III melalui mulut terbatas
diberikan sebagai dan masih terjadi
perpindahan DIET penurunan berat
AIDS II atau kepada badan, maka
pasien dengan dianjurkan pemberian
infeksi HIV tanpa makanan sonde
grjala. Bentuk sebagai makanan
Makanan Lunak tambahan atau
atau Biasa diberikan makanan utama.
dalam porsi kecil
dan saring.
26
Makanan Biasa/Lunak
Bahan makanan Berat (g) URT
Beras 350 1/
5 4 gelas nasi
Daging 100 2 potong sedang
Telur ayam 100 2 butir
Tempe 100 4 potong sedang
Kacang hijau 25 2 1/2 sdm
Sayuran 200 2 gelas
Buah 150 1/ potong sedang papaya
2

Minyak 25 2,5 sdm


Gula pasir 40 4 sdm
Susu 200 1 gelas

Makanan Enteral (Sonde)

Bahan makanan Berat (g) URT


Makanan enteral energi dan 600 5 gelas
protein tinggi
Cairan 2000 ml 8 gelas
27
Nilai Gizi

Zat gizi Makanan Makanan


Biasa/Lunak Sonde
Energi (kkal) 2503 2520
Protein (g) 90 107
Lemak (g) 65 73
Karbohidrat (g) 387 367
Kalsium (g) 673 39000
Besi (mg) 27,9 50,9
Vitamin A (RE) 29502 2163
Tiamin (mg) 1,2 4,98
Vitamin C (mg) 145 644
28
Siang/Malam
○ Beras 150 g = 2 1/4 gelas nasi
Pagi
Pembagian ○ Daging
sedang
50 g = 1 potong
○ Beras 50 g = 3/4 gelas nasi
Bahan Makanan ○ Telur ayam 50 g = 1 butir
○ Telur ayam 50 g = 1 butir (siang)
Sehari ○ Sayuran 50 g = 1/2 gelas
○ Tempe 50 g = 2 potong
sedang
○ Susu 200 g = 1 gelas ○ Sayuran 75 g = 3/4 gelas
○ Gula pasir 10 g = 1 sdm ○ Papaya 75 g = 3/4 potong
○ Minyak 5 g = 1/2 sdm sedang

. ○ Minyak 10 g = 1 sdm

Pukul 10.00
○ Kacang hijau 25 g = 2 1/2 Pukul 16.00
sdm
Gula pasir 10 g = 1 sdm
○ Gula pasir 20 g = 2 sdm
29
30
31

PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan terapi pada pasien
TERAPI PADA PASIEN
HIV adalah untuk memperlambat progres
HIV/AIDS
dari infeksi dan mengoptimalkan sistem
imunnya serta mencegah timbulnya
penyakit infeksi baru dan sedini mungkin
mengetahui adanya penyakit infeksi baru
sehingga terapi cepat dapat dilakukan serta
komplikasi hebat seperti kanker dapat
dihindari.
32

Asuhan Gizi
Strategi yang terbaik dalam
PENATALAKSANAAN Terapi obat/medikamentosa melakukan asuhan gizi pada pasien
TERAPI PADA PASIEN Pemberian terapi obat pada pasien HIV/AIDS dengan pendekatan
HIV/AIDS HIV/AIDS bukan semata-mata ADIME (Assesment, Diagonosa gizi,
ditujukan pada virus HIV saja Intervensi gizi, Monitoring dan
melainkan ditujukan pula untuk Evaluasi). Namun sebelum
komplikasi. melakukan terapi gizi sebaiknya
dilakukan skrining gizi untuk
Komplikasi yang sering terjadi adalah mengetahui apakah pasien pada
hiperglikemi, hipertensi, perubahan posisi beresiko malnutrisi atau hanya
komposisi tubuh, pankreatitis, penyakit memerlukan intervensi biasa.
ginjal dan hati, hypothyroid,
hipogonadisme, osteopenia,
menurunnya CD4, meningkatnya
beban virus dan mental disfungsi.

33

Asuhan Gizi HIV/AIDS Menggunakan


ADIME
34

• Pengkajian gizi yang utama adalah mengetahui diagnosa medis lengkap


Assesment dengan stadiumnya.
• Hal lain yang perlu diidentifikasi adalah penyakit penyerta maupun riwayat
penyakit sebelumnya seperti penyakit jantung, diabetes, kanker, dan infeksi
opurtunistik yang ada misalnya TBC, sariawan dan lain-lain.
• Hasil laboratorium atau hasil pemeriksaan biokimia yang perlu dicermati
adalah nilai CD4; beban virus, albumin, haemoglobin, status zat besi, profil
lipid, fungsi liver, fungsi ginjal, glukosa, insulin, kadar vitamin dalam darah.
• Adapun kondisi fisik/antropometri yang perlu diperhatikan adalah
perubahan berat badan. Oleh karena itu perlu ditanyakan bagaimana berat
badan 3-6 bulan yang lalu.
• Pengukuran antropometri yang perlu dilakukan adalah lingkar lengan, dan
lingkar pinggang.
35

• Gejala klinis yang perlu ditanyakan adalah apakah ada kesemutan, mati
rasa/baal, dan kekakuan.
• Riwayat diet atau riwayat makan yang perlu digali adalah kebiasaan makan
saat ini, bagaimana penyediaan makan hari-hari, apakah ada riwayat alergi,
bagaimana penggunaan suplemen, dan jenis obat yang diminum. Dengan
demikian dapat diidentifikasi kemungkinan kekurangan zat gizi dan faktor
penyebabnya.
• Faktor lain yang perlu digali adalah kondisi personal misalnya kondisi sosial
ekonomi, karena kondisi ini juga sangat menentukan jenis makanan dan
cara pengolahannya serta kemampuan daya beli obat (obat relatif mahal).
• Hal yang sering ditemui adalah pasien kurang memperhatikan makanan,
karena dana terpusatkan pada obat atau sebaliknya. Informasi riwayat diet
jika sulit diperoleh dari pasien dapat diperoleh dari pengasuhnya atau
teman/kerabat dekatnya.
36

 Asupan makan dan minum secara oral kurang


 Meningkatkan kebutuhan energi dan zat gizi
 Gangguan menelan
Diagnosa gizi
 Berubahnya fungsi saluran cerna
 Kegemukan/obesitas
 Pengetahuan yang rendah berkaitan dengan
makanan dan gizi
 Kelebiahan asupan dari suplemen
 Kemampuan menyiapkan makanan rendah
 Kesulitan akses terhadap bahan makanan
 Asupan makanan yang tidak bersih/aman
37

Intervensi Gizi
Pelaksanaan intervensi gizi sesuai dengan proses
asuhan gizi terstandar adalah pertama
menetapkan tujuan yang ditindaklanjuti dengan
pemberian preskripsi diet lengkap dengan syarat-
syarat r diet dan edukasi/konseling.
38

Pada kondisi ini pasien


perlu diberikan
suplementasi vitamin
Tujuannya adalah seperti vitamin C, B12, B6
Stadium I mempertahankan status dan asam folat serta
gizi optimal dan mineral zat besi, seng,
mengoreksi jika ada copper untuk membantu
defisiensi zat gizi yang membangun sistem
Syarat dietnya adalah
terjadi. imunitas. Suplementasi ini
energi dan protein tinggi.
tidak perlu diberikan mega
Energi tinggi yang
dosis, cukup sama dengan
dimaksud adalah
Angka Kecukupan Gizi
pemberian energi dan
(AKG) yang dianjurkan.
protein kira 110 %
diatas kebutuhan
normal.
39

Tujuan intervensi gizi


Stadium II/III pada stadium ini
 Pada pasien ini sudah ada tanda tanda infeksi
oppurtunistik maka dalam perhitungan energi
adalah mengurangi
khususnya BMR dinaikkan 20 s/d 50 % baik
gejala dan komplikasi
dewasa maupun anak-anak.
seperti anorexia, nyeri
esophagus dan  Protein kebutuhannya 10 % dari kebutuhan
sariawan, malabsorpsi, normal. Namun pagi pasien dengan penyakit
komplikasi syaraf dan penyerta seperti sirosis, ginjal dan pankreatitis,
lain-lain kebutuhan protein menyesuaikan.
40

• Diketahui bahwa kadar vitamin A, B12, dan seng yang rendah


berhubungan dengan percepatan kemajuan penyakit, sedangkan
asupan vitamin C dan B berhubungan dengan peningkatan jumlah
CD4 dan menurunnya progres HIV menjadi AIDS. Pada stadium
ini sering muncul sariawan, maka perlu diinformasikan hal-hal
penting seperti selalu menjaga kebersihan mulut, hindari bahan
makanan yang panas, berikan makanan yang lunak (mushed
potato, telur orak arik, daging cincang), jika minum gunakan
sedotan, hindari bahan makanan yang menyebabkan ketidak
nyamanan (terlau pedas, terlalu manis, terlalu keras dll).
41

Stadium IV
(Tahap akhir ○ Pada tahap ini pasien sudah dalam kondisi terminal,
AIDS) biasanya pasien asupan oralnya rendah (< 30 %),
ataupun sudah menolak makanan oral, dan
mungkin makanan yang diberikan dalam bentuk
enteral, atau gabungan enteral dan parenteral
42

a)Asupan cairan perlu ditingkatkan auntuk mempertahankan


status hidrasi

a)Yoghurt dan bahan makanan lain yang mengandung kultur


Lactobacillus acidophilus sebaiknya diberikan, untuk
mengantisipasi efek dari penggunaan obat anti infeksi jangka
panjang
Syarat Diet
Stadium IV

a)Porsi kecil tetapi sering untuk meringankan kerja


saluran cerna

a)Suplemen multivitamin untuk membantu penyediaan


vitamin untuk diserap oleh tubuh
43

a)Dukungan gizi mungkin perlu diberikan dalam bentuk enteral atau


parenteral

a)Suplemen minuman densitas tinggi oral mungkin berguna atau


suplemen yang mempunyai kandungan energi mungkin juga
berguna.
Syarat Diet
Stadium IV a)Pemberian enzim pankreatik mungkin perlu diberikan, namun
sebelumnya perlu ditanyakan pada team asuhan gizi/dokter
penanggung jawab pasien

a)Hindari kopi dan bahan makanan yang mengandung sorbitol, untuk


menghindari gerarakan peristaltik yang tidak diinginkan dan diare.
44

Hal lain yang perlu


Setelah dilakukan intervensi, maka perlu dimonitor dan dievaluasi
dilakukan monitoring dan evaluasi adalah hasil pemerikasaan
Monitoring dan untuk melihat output dan outcome. laboratorium terkait gizi
Evaluasi Evaluasi sebaiknya dilakukan rutin yaitu lemak darah puasa;
menurut rencana pelayanan gizinya. kadar insulin/glukosa darah;
Intervensi sebaiknya menghasilkan hasil status protein; tekanan
yang dapat dimonitor apakah tercapai darah; kadar testosterone;
atau tidak. Sebagai contoh tujuan jumlah sel CD4, dan beban
intervensi gizinya adalah virus.
mempertahankan berat badan normal
dengan memberikan diet ML TETP
1900, protein 50 g, serat sedang.
Monitoring yang dilakukan pertama kali
sebaiknya adalah daya terima pasien
terhadap makanan tersebut.
45
Contoh Kasus

Tn. T berusia 41 tahun bekerja sebagai supir truk pasir. Sejak ±4 bulan
terakhir Tn. T telah didiagnosis oleh dokter mengidap HIV, istri pasien
juga mengidap HIV dan pernah dirawat di RSUP Dr. Karyadi selama
sebulan diruang isolasi. Selama satu bulan ini, pipi Tn. T membesar dan
terasa nyeri sehingga Tn. T mengalami kesulitan mengunyah makanan
saat makan. Kemudian Tn.T berobat ke RSUD Demak selama 3 hari
sebelum akhirnya dirujuk ke RSUP Dr. Karyadi. Dengan kondisi yang
demikian, pasien mengalami penurunan nafsu makan dan penurunan
berat badan. Dokter mendiagnosis Tn.T menderita penyakit HIV stadium
III , abses mandibular bukal infraorbita dekstra dengan hipoalbumin
Kebiasaan Makan Sehari
46
Pagi :
• Nasi (1 centong)
• Telur dadar (1 butir) Pukul 10.00 : Bubur kacang hijau(1 mangkok)
• Setup buncis+wortel
(1mangkuk kecil)

Siang :
• Nasi (2 centong)
• Ikan goreng (1 ekor) Pukul 16.00: sirup (1 gelas)
• Telur bumbu (1 butir)
• Rujak Malam :
• Sambal goreng(1 mangkuk • Nasi (1centong)
kecil) • Empal daging (1 potong
• Tahu sedang)
• Sayur asam(1 mangkuk kecil) • Oseng-oseng (1 mangkuk
• Pepaya (1 buah) kecil)
• Tempe
• Sup sayuran(1 mangkuk
kecil)
• Pisang(1 buah)

47

ASSESMENT
48
○ Nama : Tn. T
○ Usia : 41 tahun
○ Alamat : Trengguli, Demak
Identitas Pasien ○ Suku : Jawa
○ Pekerjaan : Supir Truk pasir
○ Jenis kelamin : Laki – laki
○ Masuk Rumah Sakit : 7 November 2014
○ Ruang/ Kelas : Infeksius pria ruang rajawali 6B
kelas III
○ Diagnosa medis : HIV stadium III, abeses
perimandibular bukal infrorbirta dekstra dan
hipoalbumin
49

Domain Data Interpretasi

Pengkajian AD – 1.1.1

Antropometri
160 cm
Tinggi badan

(AD) AD – 1.1.2 BB masuk RS : 47

Berat badan Sebelum masuk RS : 50

AD – 1.1.4
Penurunan berat badan 3
Perubahan Berat
kg
badan
AD – 1.1.5 Kurus
18,4 kg/m2
Indeks massa tubuh
50

○ Energi = 1 x BB ideal x 24 jam


PERHITUNGAN = 1 × 54 × 24 = 1296
KEBUTUHAN Faktor trauma : 1,4 stres ringan
ZAT GIZI Faktor aktivitas : 1,2 (istirahat total)
Total kebutuhan : 1296 × 1,4 × 1,2 = 2177 kkal

○ Kebutuhan protein : 15% dari kebutuhan energy


=15 % × 2177 kkal
= 326,5 kkal / 4 = 81,6 gr
51

○ Kebutuhan lemak : 20% dari kebutuhan energy


PERHITUNGAN
KEBUTUHAN = 20% × 2177
ZAT GIZI = 435,4 kkal / 9 = 48.4 gr

○ Kebutuhan KH : 65% dari kebutuhan energy


= 65% × 2177
=1415, 1 kkal /4 = 353,8 gr
Domain Data Interpretasi 52

BD – 1.2.1 15 – 39 mg/dL
24 mg/dL
BUN Normal
Pengkajian BD – 1.2.2 0,6 – 1,3 mg/dL
Data Biokimia Kreatinin
0,85 mg/dL
Normal
(BD) BD – 1.2.5 135 – 145 mEq/L
139 mmol/L
Natrium Normal

BD – 1.2.6 98 – 107 mmol/L


105 mmol/L
Klorida Normal

BD – 1.2.7 3,5 – 5 mEq/L


4,3 mmol/L
Kalium Normal

BD – 1.4.2 15 – 60 U/L
98 U/L
ALT Tinggi
BD – 1.10.3 77 – 96 fL
84,4 fL
MCV Normal 53
MCH 27 – 32 pg
30,1 pg
Normal
MCHC 29 – 36 gt/dL
35,7 gt/dL
Normal

BD – 1.4.3 15 – 34 U/L MPV 4 – 11 fL


8,0 fL
43 U/L
Normal
AST Tinggi
Leukosit 3,8 – 10,6 103/ul
BD – 1.5.2 125 mg/Dl 13,2 103/ul
Tinggi
Glukosa 265 mg/dl Tinggi
Trombosit 150 – 400 ribu/mmk
sewaktu 370 ribu.mmk
Normal
BD – 1.10.1 13,2 – 17,3 g/dL
12,2 g/dl RDW 11,6 – 14,8
Hemoglobin Rendah 12,6
Normal
BD – 1.10.2 40 – 54
Retikulosit 0,5 – 1,5
34,2
1,1
Hematokrit Rendah Normal
BD – 1.11.1 3,4 – 5 g/dL
1,7 g/dL
Albumin Rendah
Kesimpulan: MPV tinggi, Hemoglobin rendah, hipoalbumin
54

Domain Data Interpretasi


Pengkajian PD – 1.1.1 Kesadaran compos mentis
Data Klinis/ Penampilan
Fisik (PD) keseluruhan

PD – 1.1.9

Tanda Vital :

Tekanan darah 1200/80 mmHg Normal

Nadi 78×/menit Lemah

Respiratory Rate 20×/menit Normal

Suhu 37°C Normal


55

Hasil Recall

Indikator Recall 1 Recall 2 Rerata Kebutuhan Persentase


Energi (kkal) 1736.4 687 1211,7 2177 56%
Protein (gram) 59.5 15.95 37,725 81.6 46%
Lemak (gram) 45.1 27.4 36,25 48.4 75%
KH (gr) 270 145.56 207,78 353.8 29%
Bahan Pagi S.Pagi Siang S.Sore Malam E L P KH
56
Nasi 1p 2p 1p 700 - 16 160

Sayur 0,5p 1p 1p 125 5 17,5 -

Buah 0,5p 1p 75 - - 18

Tempe 1p 0,5p

Daging 1p 2p 1p

Minyak 1p 3p 1,5 275 27,5 - -

susu

Gula 0,5p 1p 75 - - 18

Total 1250 32,5 g 33,5 g 196 g


Domain Data Interpretasi
FH-1.1.1.1 1211,7 kkal 56 % kebutuhan
57
Asupan energi total
FH – 1.2.2.2 Makanan tinggi kalori,

Pengkajian Jenis makanan


lemak, jerohan

Riwayat terkait FH – 1.2.2.3 Makan 3 – 4 kali sehari

Gizi/Makanan Kebiasaan makan


makanan utama,

(FH)
menyukai gorengan, mie
instans, masakan
padang, makan buah 2
kali seminggu

FH-1.5.1.1. 36,25 gr 75% Kebutuhan

Total asupan lemak


FH-1.5.2.1 37,725 gr 46 % Kebutuhan

Total asupan protein


FH-1.5.3.1 207,78 gr 29% Kebutuhan

Total asupan
karbohidrat

Kesimpulan : Asupan makan kurang dari kebutuhan yang dianjurkan


58

Domain Data Interpretasi

CH – 1.1.1 Umur 41 tahun


Pengkajian CH – 1.1.2 Jenis Kelamin Laki - laki
Data Riwayat
Pasien (CH) CH-1.1.10 Mobilitas Dapat berjalan

CH-2.1.10 Pengobatan medis Rawat inap

CH – 3.1.6 Pekerjaan Supir truk pasir


CH – 3.1.1 Faktor social ekonomi Menengah

Riwayat keluarga Istri didiagnosa HIV


CH – 3.1.8 HIV reaktif sejak juli 2014
Riwayat penyakit
Sakit gigi selama 3 tahun

Kesimpulan: Riwayat HIV sejak juli 2014, sakit gigi selama 3 tahun, istri didiagnosa
HIV

59

DIAGNOSIS GIZI
Domain Diagnosis Kalimat P – E – S
NI – 2.1 Inadekuat asupan oral Inadekuat asupan oral berkaitan 60
dengan kesulitan mengunyah
ditandai dengan kebutuhan asupan
tidak memenuhi kebutuhan yaitu
energy 51%, protein 46%, lemak
75% dan karbohidrat 29%

NC – 2.2 Perubahan nilai Perubahan nilai laboratorium


laboratorium terkait gizi berkaitan dengan adanya
hipoalbumin yang ditandai dengan
kadar albumin rendah

DIAGNOSIS UTAMA
NI – 2.1 Inadekuat Asupan oral Inadekuat asupan oral berkaitan
dengan kesulitan mengunyah
ditandai dengan kebutuhan asupan
tidak memenuhi kebutuhan yaitu
energy 51%, protein 46%, lemak
75% dan karbohidrat 29%

61

INTERVENSI GIZI
62

Tujuan Intervensi
Perencanaan
○ Mencukupi asupan sesuai dengan kebutuhan
Intervensi
dan kondisi pasien
○ Memberikan motivasi berupa informasi dan
edukasi kepada pasien dan keluarga pasiem
agar mengerti tentang diit yang direncanakan
○ Memberikan motivasi kepada keluarga pasien
agar mendukung pasien dalam menjalankan
diit yang diberikan pasien
63

○ Jenis Diet : Diet Rekomendasi Modifikasi Diit :


Preskripsi Diet TKTP
○ Bentuk makanan : • Rekomendasi asupan energy
diberikan sebesar 2177 kkal
Cair • Rekomendasi asupan protein
○ Jadwal Pemberian diberikan sebesar 81,6 gram

Makan : 4 kali cairan Rekomendasi asupan lemak
diberikan sebesar 48,4gram
ensure • Rekomendasi asupan
○ Rute Pemberian karbohidrat diberikan sebesar
353,8 gram
Makan : Oral • Rekomendasi asupan serat
diberikan sebesar 28 gram
64

○ Modifikasi kebutuhan zat ○ Vitamin B6 : 1,3 mg


Preskripsi Diet gizi mikro:
○ Vitamin B12 : 2,4 μg
○ Kalsium : 1000 mg
○ Vitamin A : 600 μg
○ Natrium : 1500 mg
○ Vitamin E : 15 mg
○ Vitamin C : 90 mg ○ Kalium : 4700 mg
○ Vitamin D : 15 μg ○ Zat Besi : 13 mg
○ Vitamin B1 : 1,3 mg
○ Vitamin B2 : 1,6 mg
○ Pemberian Makanan / Terapi Diet 65

Terapi diet yang diberikan kepada pasien berupa diet


TKTP. Tujuan pemberian diet ini adalah memberikan
asupan gizi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi
Implementasi pasien saat ini. Asupan kebutuhan energy diberikan
sebear 2177 kkal/hari, protein sebesar 81,6 gram/hari,
lemak sebesar 488,4 gram/hari, karbohidrat 353,8
gram/hari. Diit diberikan secara enteral yaitu
pemberian cairan, karena psien mengalami kesulitan
mengunyah dan menelan. Makanan yang diberikan
berupa cairan ensure yang mengandung padat kalori
dan tinggi protein. Diit diberikan dengan frekuensi 4
cairan. Peningkatan asupan dan perubahan
konsentrasi bentuk makanan dengan memperhatikan
kondisi pasien.
66

Tujuan :
○ Meningkatkan pengetahuan pasien dan
Edukasi Gizi
keluarga mengenai penyakit HIV serta
bagaimana peran gizi dalam membantu
menangani kondisi tersebut
○ Memotivasi pasien dan keluarga untuk
melaksanakan diit yang direncanakan dan
mengasup makanan sesuai dengan kebutuhan
pasien disesuaikan dengan kondisi penyakit
pasien
67
Materi :
 Memberikan informasi dan
pengetahuan mengenai gambaran

Edukasi Gizi penyakit secara umum dan diit yang


◦ Sasaran : pasien direncanakan
dan keluarga  Memberikan motivasi kepada pasien
◦ Waktu : 15 agar tetap menjaga asupan sesuai
menit dengan kebutuhan dan kondisi

◦ Metode : Diskusi, penyakit



tanya jawab Memberikan motivasi kepada keluarga
agar terus memberikan support kepada
◦ Sarana : Leaflet pasien untuk melaksanakan pengaturan
makan yang direncanakan

68

Perencanaan Monitoring –
Evaluasi Gizi
69
Antropometri
Monitoring untuk memantau berat badan pasien agar tidak terus menurun dan untuk mempertahankan
status gizi normal pasien.

Biokimia
Monitoring data biokimia pasien terutama kadar albumin yang pada awal masuk rumah sakit
masih rendah. Memantau kadar albumin pasien dr awal hingga akhir intervensi dengan tujuan
mempertahankan status albumin normal pasien.

Klinis/ Fisik
Monitoring kondisi pasien selama dirumah sakit, dengan memantau perkembangan
pasien selama dirumah sakit.

Asupan Makanan
Memonitoring asupan makan pasien selama di rumah sakit, memantau peningkatan kondisi
pasien dalam menerima makanan.
70

Thanks!
Any questions?

Anda mungkin juga menyukai