Anda di halaman 1dari 28

ASKEP MOBILISASI DAN

IMOBILISASI

By : Edi Wibowo S. S.Kep, Ns. M.Kep

FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIPDU JOMBANG 2017


MOBILISASI
 Definisi

Kemampuan seseorang
untuk bergerak secara
bebas, mudah, teratur &
mempunyai tujuan dalam
rangka pemenuhan
hidup.
Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Mobilisasi

 Gaya hidup
 Ketidakmampuan (primer,
skunder)
 Tingkat energi
 Usia
Imobilisasi

 Definisi

Imobilisasi didefinisikan
oleh NANDA sebagai suatu
keadaan ketika individu
mengalami/berisiko
mengalami keterbatasan
gerak fisik.
Alasan Imobilisasi
Tiga alasan untuk mobilisasi :
 Pembatasan gerak yang sifatnya terapeutik.
 Pembatasan yang tidak dapat dihindari
karena ketidakmampuan primer.
 Pembatasan yang disengaja karena gaya
hidup.
Alasan utama bagi klien :
 Nyeri, Gangguan pada muskuloskeletal oleh
sistem syaraf, kelemahan yang menyeluruh,
problem psikososial, proses infeksi.
Tingkat Imobilisasi

Tingkat imobilisasi bervariasi,


diantaranya :
 Imobilisasi secara komplit, ex: pasien
tidak sadar
 Imobilisasi Parsial, ex: pada klien fraktur.
 Imobilisasi karena alasan kesehatan.
Bedrest
 Klasifikasi :
 Bedres Total
 Bedrest
 Keuntungan bedrest :
 Mengurangi kebutuhan sel tubuh terhadap O2
 Menyalurkan sumber energi untuk kesembuhan
 Mengurangi nyeri
 Klien dengan bedrest harus dikaji terhadap masalah yang
muncul akibat bedrest, ex : ulkus decubitus.
 Timbulnya masalah pada klien bedrest sering tergantung
pada: lamanya bedrest, kesehatan klien, keberadaan sensory
klien.
Pengaruh Fisiologis Imobilisasi
1. Metabolik
Imobilisasi menganggu fungsi metabolik
normal, antara lain :
 Metabolisme karbohidrat, lemak dan protein.
Anoreksia Ketidakseimbangan proses Anabolisme dan
Katabolisme nitrogren diekskresi >> Keseimbangan
nitrogen negatif.
 Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
 Ketidakseimbangan kalsium.
Ekskresi kalsium dalam urine ditingkatkan melalui resorbsi
tulang
 Gangguan pencernaan
Penurunan motilitas saluran GI Konstipasi.
2. Sistem Respirasi
 Ventilasi paru terganggu, pergerakan dada dan
penekanan diafrgma (ekspansi paru terbatas shg
pernafasan dangkal).
 Lemahnya oksigenasi ber(-) O2 dan Retensi CO2
dalam darah Asidosis Respiratori
(hypoventilation).Sekresi mukus > kental dan
menempel pada traktus respiratori. Adanya
kelemahan , ketidakmampuan inhalasi maksimum,
penurunan gerakan silia mukus menjadi statis
media berkembangnya bakteri infeksi traktus
respiratori
3. Sistem Kardiovaskuler
 Terjadi hipotensi ortostatik (pe TD dg tiba pada
saat posisi terlentang ke duduk)  konsumsu obat
hipertensi
 Pembentukan trombus (O2 ke otot jantung henti)
4. Sistem Muskuloskeletal
 Pengaruh pada otot
 Kekuatan otot menurun
 Penurunan massa otot/atrofi

Mengganggu keseimbangan dan kemampuan berdiri


dan berjalan
 Pengaruh pada skelet (tulang)
 Gangguan metabolisme calsium (disuse
osteoporosis)
 Kontraktur sendi
5. Sistem Integumen
 Terjadi dekubitus akibat iskemia dan
anoksia jaringan.

6. Eliminasi Urine
 Stasis/sumbatan urine, meningkatkan
risiko infeksi dan batu ginjal.
Pengaruh Psikososial Imobilisasi

1. Perubahan sosial, emosi dan intelektual,


terjadi bertahap depresi.
 Menurunnya input sensory dan lingkungan yang
baru takut dan cemas konsep diri
terganggu.
 Intelektual menurun : penyelesaian masalah
dan pengambilan keputusan menurun.
2. Pada anak, imobilisasi dapat melambatkan
perkembangan sosial dan intelektual dan
penurunan kemampuan/perkembangan
motorik, mengakibatkan gangguan tukem.
Asuhan Keperawatan

Pengkajian (Imobilitas)
1. Sistem Metabolik
 Kaji asupan dan haluaran
 Kaji penyembuhan luka
 Kaji asupan makanan dan pola eliminasi.
 Lab : - ketidakseimbangan elektrolit
- Penurunan protein serum
- Peningkatan BUN (blood ure
nitrogen)
2. Sistem Respirasi
 Inspeksi : Gerakan dinding dada asimetris,
dipsnu.
 Auskultasi : Crakles, wheezing, peningkatan
kecepatan pernafasan.
 Pemeriksaan lab : peningkatan CO2 dan
penurunan O2 dalam darah.

3. Sistem Kardiovaskuler
 Pantau TD
 Evaluasi nadi apeks dan perifer.
 Observasi adanya tanda-tanda stasis vena
(edema, penyembuhan luka buruk).
4. Sistem Muskuloskeletal
 Kaji massa otot/atropi
 Mengukur Lila dan kaki (1/2 lengan atas
& 10 cm di bawah lutut)
 Kaji rentang gerak dengan goniometer.
 Lab : Peningkatan kadar kalsium darah
dan urin (disuse osteoporosis).
5. Sistem Integumen
 Kaji adanya tanda-tanda kerukan kulit
6. Sistem Eliminasi
 Kaji status hidrasi : intake output /24
jam
 Inspeksi : penurunan haluaran urine,
urin pekat, penurunan frekuensi defikasi
 Palpasi : Distensi/pembesaran Kandung
Kemih dan perut
 Penurunan bising usus.
 Lab : Peningkatan urin calsium dan
fosfat,leukosit meningkat.
7. Faktor Psikososial
 Observasi perubahan status emosional
 Observasi perubahan perilaku
 Observasi perubahan penggunaan
mekanisme koping yang normal dalam
beradaptasi terhadap imobilisasi.
8. Faktor-faktor perkembangan
 Identifikasi apakah anak dapat
menyelesaikan tugas perkembangan dan
tumbuh dengan normal.
Diagnosa Keperawatan
1. Intoleransi aktivitas b.d penuruna
mobilisasi.
2. Hambatan mobilisasi fisik b.d penurunan
rentang gerak.
3. Pola nafas tidak efektif b.d penurunan
pengembangan paru, penumpukan sekresi
paru.
4. Gangguan pertukaran gas b.d Penurunan
pengembangan paru.
5. Gangguan integritas kulit b.d keterbatan
mobilisasi
6. Risiko terjadi infeksi b.d stasisnya skresi
paru, kerusakan integritas kulit, stasisnya
urine
7. Inkontinensia total b.d perubahan pola
eliminasi, keterbatasan mobilisasi
8. Risiko kekurangan volume cairan b.d
penurunan asupan cairan
9. Ketidakfektifan koping individu b.d
pengurangan tingkat aktivitas, isolasi sosial
10. Gangguan pola tidur b.d ketidaknyamanan.
Intervensi
Tujuan :
 Meningkatkan toleransi terhadap aktivitas.
 Mencapai ROM penuh/Optimal
 Mencegah kontraktur
 Mempertahankan kepatenan jalan nafas
 Mencapai ekspansi paru dan pertukaran gas
optimal
 Mempertahankan fungsi kardiovaskuler
 Mencapai pola eliminasi normal
 Mencapai sosialisasi
 Mempertahankan pola tidutr normal
Implementasi
Berfokus mencegah dan meminimalkan
bahaya mobilisasi.
1. Sistem Metabolik
 Klien imobilisasi memerlukan diet tinggi
protein, tinggi kalori dengan tambahan
vitamin B dan C
 Pasien tidak bisa makan diberikan
melalui parenteral/enteral.
2. Sistem Pernafasan
Bertujuan mendukung ekspansi dada dan
paru-paru, mencegah statis skret pulmonal,
mempertahankan kepatenan jalan nafas, dan
mendukung pertukaran gas yang adekuat.
a. Meningkatkan ekspansi dada dan paru
 Mengubah posisi klien minimal setiap 2 jam.
 Memotivasi klien bernafas dalam dan batuk
setiap 1 sampai 2 jam, pasien tidak sadar
dengan ambu-bag.
b. Mencegah statis skret pulmonal
 Merubah posisi setiap 2 jam.
 Fisioterapi dada
c. Mempertahankan kepatenan jalan
nafas
 Menganjurkan klien bernafas dalam dan
batuk setiap 1 sampai 2 jam.
 Melakukan suction pada pasien tidak
dapat batuk produktif (nasotracheal /
orotracheal) atau Menghisap sekret dari
jalan nafas buatan seperti endotracheal
tube atau trakheal tube.
3. Sistem Kardiovaskuler
a. Mengurangi hipotensi ortostatik
 Merubah posisi secara bertahap .
 Mengurangi kerja beban jantung
 Hindari manuever valsava.
b. Mencegah pembentukan trombus
 Program pemberian profilaksis pre operasi
yang tepat pada pasien beriko.
 Penggunaan stoking elastis minimal 2 kali
sehari.
 Pengaturan posisi pasien di tempat tidur.
 Latihan rentang gerak
4. Sistem Muskuloskeletal
 Untuk mencegah terjadina atrofi dan kontraktur
sendi dapat dilakukan ROM Aktif/ Rom Pasif.
5. Sistem Integumen
Intervensi berfokus pada pencegahan dan
penatalaksanaan ulkus dekubitus
 Pencegahan
 Higiene dan perawatan kulit
 Pengaturan posisi
 Alas pendukung Kasur dan tempat tidur terapeutik
 Penatalaksanaan
 Prinsip perawatan luka secara lokal ( debridemen,
pembersihan dan pemberitan balutan).
6. Perubahan Psikososial
 Perawat bersosialisasi secara informal.
 Memberikan stimulus untuk
mempertahankan orientasi
 Pertahankan citra tubuh penderita
 Libatkan klien dalam perawatannya.

7. Perubahan perkembangan
 Askep harus mendukung stimulasi
mental dan fisik (bermain puzzle,
membaca)
Evaluasi

Petawat
mengukur
efektifitas semua
intervensi yang
dilakukan.