Anda di halaman 1dari 32

TEAM PELATIHAN BTCLS

Bantuan hidup dasar adalah tindakan


pertolongan medis sederhana yang di lakukan
pada penderita yang mengalami henti
jantung sebelum di berikan tindakan
pertolongan medis lanjutan
Memberikan bantuan sirkulasi dan
pernafasan yang adekuat sampai
keadaan henti jantung teratasi
atau sampai penderita di
nyatakan meninggal.
 Resusitasi
jantung paru adalah tindakan
pemberian pijatan jantung ( dari luar ) dan
sekaligus memberikan pernafasan buatan

Tujuan RJP/CPR adalah berusaha untuk


memberikan bantuan sirkulasi sistemik,
beserta ventilasi dan oksigenasi tubuh secara
efektif dan optimal
Kematian akan timbul bila sel tubuh tidak
men dapatkan oksigen. Jaringan vital seperti
otak dan jantung yang akan rusak terlebih
dahulu

Kematian klinis : henti nafas dan henti


jantung RJP segera
Kematian biologis :
menit  sel otak mulai mengalami
 4-6
kematian, (8-10 menit) tanpa denyut nadi
 kerusakan irreversible otak.
Anatomi : - aliran darah ke otak – 15% curah
jantung (CO) = 750 – 1200 ml/menit
50 ml darah/100 gr jar/menit
- arteri utama :
1. A. carotis interna : 300 – 400 ml/
menit
2. A. vertebralis-basilaris : 100 – 200
ml/menit
3. Suplai utk mata ipsilateralis
hemisfere cerebri
4. Suplai brainstem, cerebellum, lobus
occipitalis, telinga dalam
Pengaturan : sinus carotis refleks

tekanan darah mantap

aliran cukup
Faal :
- Aliran darah otak terganggu 5-10 detik hilang
kesadaran.
- Aliran darah otak terputus total 3-4 menit kerusakan
otak.
- Ciri khas aliran darah otak :
- Otoregulasi
- Blood brain barrier
- Aliran darah otak total konstan pada tekanan
60 – 160 mmHg
 Kebiruan ( livor mortis )
 Kekakuan ( rigos mortis )
 Pembusukan yang nyata, terutama bau busuk
 Cedera yang tidak memungkinkan penderita
hidup seperti putusnya kepala dll.

Tidak melakukan RJP hanya bila ada tanda-


tanda kematian pasti
RJP di lakukan bila nadi tidak teraba dan
penderita tidak bernafas
Kapan RJP Di lakukan
Berbeda dengan penanganan medis yang lain,
RJP bisa di mulai tanpa menunggu instruksi
dokter, seseorang yang memiliki pengetahuan
dan kemampuan RJP dapat menolong pasien
dengan kasus henti jantung, namun penlong
juga harus mengetahui beberapa keadaan
sehingga RJP tidak perlu di lakukan :
RJP tidak perlu di mulai jika :
 Ada bukti permintaan keluarga
 Usaha RJP membahayakan orang yang menolong
 Kemungkinan mengembalikan sirkulasi spontan
sangat kecil
 Henti jantung yang terjadi setelah usaha terapi
yang maksimal untuk penyakit yang terminal
 Tanda-tanda klinis kematian yang ireversibel
seperti kaku mayat, lebam mayat, atau
tandatanda pembusukan.
 Upaya RJP dengan resiko membahayakan
penolong.
 Penderita dengan trauma yang tidak bisa di
selamatkan seperti hangus terbakar
Teknik Pelaksanaan:
– Sebelum Oktober 2010
 Airway
 Breathing : Look, Feel,
Listen
 Circulation : CPR
 Defibrilasi
– Setelah Oktober 2010
 Circulation
 Airway
 Breathing (Look, Feel,
Listen dihilangkan)
 Defibrilasi
Rekomendasi
Komponen Dewasa Anak Bayi

Pengenalan Awal Tidak sadarkan diri


Tidak ada nafas atau Tidak bernafas atau ada usaha nafas
bernafas tidak normal
Tidak teraba nadi dalam 10 detik (hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan
professional)
Urutan BHD CAB CAB CAB
Frekuensi Kompresi Minimal 100 x/menit
Kedalaman kompresi Minimal 5 cm (2 inci) Minimal 1/3 diameter Minimal 1/3 diameter
dinding Anterior posterior dinding Anterior posterior
toraks (sekitar 5 cm/2 inci) toraks (sekitar 4 cm/1 ½
inci)
Recoil Dinding Dada Usahakan terjadi recoil sempurna setiap kompresi

Untuk penolong terlatih, pergantian posisi penolong setiap 2 menit


Interupsi bantuan Interupsi seminimal mungkin, jikalau memungkinkan interupsi kurang dari 10 detik

Jalan Nafas (Airway) Head tilt Chin lift (untuk kecurigaan trauma leher lakukan jaw thrust)
Kompresi 30 : 2 30 : 2 (satu penolong) 30 : 2 (satu penolong)

(1 atau 2 penolong) 15 : 2 (2 penolong) 15 : 2 (2 penolong)


Ventilasi Jika penolong tidak terlatih, kompresi saja

Pada penolong terlatih, dengan jalan nafas lanjutan berikan nafas setiap 6 – 8 detik
(8 – 10 x/menit).
Defibrilasi Pasang dan tempelkan AED sesegera mungkin, Interupsi kompresi minimal baik
sebelum atau sesudah kejut listrik. Lanjutkan RJP diawali dengan kompresi setelah
kejut listrik
 Danger
Keamanan diri, keamanan pasien, keamanan lingkungan

 Cek Kesadaran
AVPU ( Alert (lihat), Verbal (suara), Pain (dengan Nyeri), Unrespos (tidak Respon)

 Aktifkan SPGDT/EMS
Minta tolong dan hub no emergency

 Periksa Nadi Carotis


 Kompresi Jantung luar
Dengan 30x menekan dada

 Buka Jalan Nafas


Dengan cara head tilt, Chin lift

 Berikan Bantuan Nafas


Berikan nafas buatan 2x
 Langkah langkahnya terdiri dari DRC-CAB

1. Perhatikan bahaya dan proteksi diri Danger


2. Periksa tingkat kesadaran pasien Respon
untuk meyakinkan bahwa penderita tidak sadar,
Cek menggunakan AVPU : Alert (sadar), Verbal
(respon terhadap suara), pain (Respon terhadap
nyeri), Unrespons (tidak ada respons)

Jika penderita tidak ada respon, segera


minta bantuan CALL FOR HELP
3. Penilaian denyut nadi CIRCULATION
Penilaian pulsasi sebaiknya di lakukan tidak lebih dari
10 detik, jika dalam 10 detik atau lebih penolong tidak
bisa meraba maka kompresi dada harus segera di
lakukan.
Pelaksanaan Kompresi
 Dibaringkan di tempat datar dan keras
 2 jari di atas proc Xifoideus
 Frekuensi yang diberikan harus mencukupi (100x/menit atau
30 : 2)
 Kedalaman kompresi dada minimal 5 cm
 Hindari pemberian nafas bantuan yang berlebihan
 Bukajalan nafas dengan
menggunakan tehnik HEAD TILT, CHIN
LIFT

 Ataudengan menggunakan tehnik


JAW TRUST, Aabila penderita di
curigai mengalami trauma cervikal
 Berikan nafas
bantuan dalam
waktu 1 dedik
 Berikan bantuan
nafas sesuai volum
tidal
 berikan 2 x bantuan
nafas setelah 30
komp
 Pemberian bantuan
nafas berlebihan
tidak di perlukan
Yang perlu
diperhatikan saat
pemberian nafas
bantuan dari mulut
ke sungkup
 Letakkan
sungkup pada
muka pasien
dengan ke dua
ibu jari
 Head tilt chin lift
 Lakukan tiupan
sambil
memperhatikan
pergerakan
dinding dada
 Lakukan
dengan tehnik
EC klem
Yang perlu diperhatikan saat pemberian nafas
bantuan dengan BVM
 2 penolong : satu penolong di atas kepala
pasien, penolong kedua memompa
 1 penolong : Melakukan pompa sambil
memperhatikan pergerakan dinding dada
 Tiap penolong harus mengerti peranan
masing-masing.
 Penolong yang melakukan kompresi
dada memberikan pedoman dengan cara
menghitung dengan suara yang kuat
 Sebaiknya perputaran penolong dilakukan
setiap siklus.
 Sebelum melakukan perpindahan tempat,
penolong yang melakukan kompresi
memberikan aba-aba bahwa akan
melakukan perpindahan
 Aspirasi regurgitasi
 Fraktur Costae- sternum
 Pneumotorak ( udara dalam rongga
dada )
 Hemotoraks ( darah dlam rongga dada )
 Laserasi Hati-Limpa

 Distensi abdomen ( perut kembung )


 Penderitayang sudah pulih kembali denyut
jantung dan pernafasan nya setelah
melakukan CPR/RJP, di miringkan, agar
apabila terjadi muntah / banyak
mengeluarkan cairan tidak terjadi aspirasi.
ALUR BANTUAN RJP ( DI KUTIP DARI AHA 2010 )

Korban tidak sadar


(proteksi diri, cek kes)
Periksa nadi karotis ( dewasa dan anak)
Nadi brachialis (bayi)

Nadi teraba  Nadi tidak teraba

Buka jalan nafas ( head tilt chin lift atau jaw


thrust) RJP
Lalu periksa nafas : 30 : 2
Lihat, dengar, rasakan ( 30 kompresi dada : 2 Ventilasi napas )

NAFAS
NAFAS
TIDAK
ADA
ADA

RECOVERY POSITION
( POSISI RESCUE
PEMULIHAN/MIRING BREATHING
MANTAP ) ( 12-20 X/MENIT)
30 menit tidak ada respon
Ada orang yang lebih kompeten
Telah berhasil RJP nafas (+) dan sirkulasi (+)
untuk RJP (prognosa buruk)
Stadium terminal
Ada wasiat atau permintaan keluarga
Lingkungan yang tidak memungkinkan untuk
RJP jika membahayakan penolong
Penolong kelelahan
1. Cohn SM. Complications in Surgery and Trauma, Informa Healthcare USA,
2007
2. American college of Surgeon, Advance Trauma life support, program for
Doctors, 6th edition, USA, 1997.
3. De jong RN. Buku ajar Ilmu Bedah Edisi ke 2, Penerbit EGC Jakarta, 2002
4. Standar Klasifikasi PGD pra RS dan RS di Indonesia : Ditjen Yanmed Depkes
RI.
5. Tintinalli, JE (ed), Kelen, GD, Stapczynky, JS, Emergency Medicine,
International ed, 5th edition, McGraw-Hill, 2000.
6. 2010 American Hearth Association, Guidelines for CPR & ECC
7. At Glance Fisiologi, Jeremy ward, Robert Clarke & Roger Linden, Penerbit
Erlangga, 2009.
8. At Glance edisi ke 3, sistem kardiovaskular, Philip I. Aaronson & Jeremy
P.T.ward. Penerbit Erlangga.2010.
TERIMA KASIH