Anda di halaman 1dari 48

SHAMPOO ANTI-KETOMBE

Kelompok 6
Cintya Astari 1406639730
Diana Sari Anhar 1806281965
Mediola Dwi Novida 1806282160
Nilta Dizzania 1806282242
Rivai Gowtama 1806282293
Shampo
• Shampo adalah produk kosmetik yang tidak hanya mengandung
bahan pembersih rambut dan kulit kepala saja tapi juga mengandung
bahan-bahan yang dapat membuat rambut tetap dalam keadaan
baik dan indah setelah pemakaian

• Fungsi shampoo adalah untuk membersihkan rambut dan kulit kepala


dari sebum, debris, dan residu dari sediaan hair grooming
KULIT KEPALA

Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan:

Skin atau kulit  cukup tebal dan terdiri dari kelenjar sebasea membuat kulit menjadi
berminyak.

Connective tissue atau jaringan penyambung  terdiri dari pembuluh darah dan syaraf

Aponeurosis atau galea aponeurotika  jaringan ikat yang berhubungan langsung dengan
tengkorak

Loose conective tissue atau jaringan penunjang longgar  tempat biasa terjadi pendarahan
akibat benturan

Perikranium  lapisan yang membungkus dan berhubungan langsung dengan luar tulang
tengkorak
ANATOMI KULIT KEPALA
• Ketombe atau dandruff adalah sebuah gangguan kulit kepala yang ditandai dengan skuama
atau sisik berwarna putih atau abu-abu pada rambut kepala dengan jumlah yang bervariasi

• Ketombe terjadi akibat lepasnya lapisan stratum korneum yang berlebih dari kulit kepala tanpa
disertai suatu peradangan yang sering menimbulkan rasa gatal sehingga dapat menyebabkan
rasa malu, khawatir, tidak nyaman, dan bahkan mempengaruhi kehidupan sosial

• Aktivitas jamur Malassezia sp. sebagai penyebab ketombe

Ketombe
ETIOLOGI KETOMBE

• Ketombe dapat muncul pada kulit kepala yang kaya akan


Aktifitas sebum.
Kelenjar • Trigliserida dan ester yang merupakan komponen dari sebum
yang akandipecah mikroflora menjadi digliserida,
Sebase monogliserida, dan asam lemak bebas.

• Salah satu flora normal pada kulit adalah Malassezia sp. yang
amat berperan pada kelainan yang terjadi pada kulit kepala
Metabolisme salah satunya ketombe. Malassezia sp. menimbukan kelainan
Mikroflora apabia jumlahnya berlebih

• Perbedaan respon imun dari setiap individu terhadap protein


dan polisakarida yang berasal dari Malassezia sp.
Kerentanan
Individu
PATOFISIOLOGI KETOMBE

Ekosistem Inisiasi dan Proses kerusakan,


Malassezia dan Perkembangan dari poliferasi, dan
interaksi Malassezia Proses inflamasi diferensiasi pada
pada epidermis epidermis

Kerusakan barrier
secara fungsional KETOMBE
maupun struktural

Malassezia sp. berperan sebagai penyebab ketombe, jamur lipofilik ini mencerna
trigliserida dari sebum lalu jamur ini menghasilkan asam lemak bebas seperti oleic acid
yang dapat berpenetrasi menembus startum korneum dan mengganggu fungsi sawar
kulit yang kemudian mengakibatkan gejala ketombe
Shampo
Anti-Dandruff

Shampoo yang memiliki


kandungan yang dapat
menghilangkan ketombe di
rambut
Zinc Pyrithione

Zinc Pyrithione memiliki sifat bakteriostatik dan fungistatik.


Bahan ini digunakan mirip dengan selenium sulfida dalam
konsentrasi 1% sampai 2% untuk dermatitis seboroik dan
ketombe. Zinc pyrithione ini adalah bahan yang sering
digunakan pada beberapa shampo dan juga digunakan dalam
pengobatan pityriasis versicolor.
Zinc Pyrithione
Pemerian
• Kristal putih hingga kekuningan

Kelarutan
• Kelarutannya rendah pada kebanyakan pelarut; air 0,0015 w/w %; etanol
0,031 w/w %; aseton 0,07 w/w %; kloroform 0,34 w/w %; minyak mineral 0,0001 w/w %.

Stabilitas
• Stabil pada pH 4,5-9,0
• Terdekomposisi pada suhu 240oC

Inkompabilitas
• Agen pengoksidasi
Dimethicone

Rumus Molekul : CH3.[Si(CH3)2.O]n.Si(CH3)3


Pemerian : Cairan bening atau kuning pucat, tidak berbau atau berbau lemah
Kelarutan : Dapat bercampur dengan etil asetat, etil metil keton
Inkompatibilitas : -
Kegunaan : Conditioning agent
Konsentrasi : 1%
Alasan Pemilihan : Merupakan antibusa yang baik, sehingga sediaan dapat disimpan dalam
jangka waktu yang lebih lama tanpa mengalami pembusahan. Serta
membantu menghilangkan busa pada rambut ketika pembilasan.
Natrium Lauril Sulfat

Rumus Molekul : CH3(CH2)10CH2OSO3Na


Bobot molekul : 288,38 g/mol
Pemerian : Hablur, kecil, berwarna putih atau kuning muda; agak berbau khas.
Kelarutan : Larut dalam air; praktis tidak larut kloroform dan eter.
Stabilitas : Stabil dalam penyimpanan normal. Walaupun dalam larutan, di bawah
kondisi ekstrim, misal pH 2,5 atau dibawahnya, menyebabkan hidrolisis
menjadi lauril alkohol dan sodium bisulfat.
Surfaktan kationik, garam dari logam polivalen, garam polivalen metalion,
Inkompatibilitas : dan garam kalium
Kegunaan : Surfaktan primer pada shampoo
Konsentrasi : 10%
Alasan Pemilihan : Memiliki fungsi ganda yaitu sebagai surfaktan dan sebagai detergen,
merupakan surfaktan anionik yang dapat membentuk banyak busa dan
memiliki daya bersih yang baik
Cocamidopropil Betain

Rumus Molekul : C19H38N2O3


Bobot molekul : 342,53 g/mol
Pemerian : Cairan jernih, kuning pucat, dengan sedikit berbau lemak
Kelarutan : Larut dalam air, etanol, dan isopropanol; tidak larut dalam minyak mineral
Inkompatibilitas : Agen pengoksidasi kuat
Kegunaan : Surfaktan sekunder pada shampoo
Konsentrasi : 10%
Merupakan surfaktan amfoterik yang dapat meningkatkan kualitas busa
yang dihasilkan oleh SLS sehingga busa yang dihasilkan banyak dan lebih
tahan lama. Surfaktan sekunder ini dapat mengurangi efek iritasi yang
Alasan Pemilihan : disebabkan oleh SLS.
Propilen Glikol

Rumus Molekul : C3H8O2


Bobot molekul : 76,09 g/mol
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, memiliki rasa sedikit manis dan tidak berbau
Kelarutan : Dapat bercampur dengan aseton, kloroform, etanol (95%), gliserin, dan
air, larut dalam 6 bagian eter, tidak bercampur dengan minyak mineral
tetapi larut dalam beberapa minyak esensial
Inkompatibilitas : Reagen pengoksidasi seperti kalium permanganat
Kegunaan : Humektan
Konsentrasi : 15%
Alasan Pemilihan : Digunakan sebagai humektan karena dapat menjadi agen pembasah yang
dapat melembabkan kulit dan propilenglikol memiliki efek iritan yang
minimal
Metil Paraben

Rumus Molekul : C8H8O3


Bobot molekul : 152,15 g/mol
Pemerian : Hablur kecil tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau berbau khas
Kelarutan : Sukar larut dalam air, dalam benzen dan dalam tetraklorida; mudah larut dalam
etanol dan eter
Inkompatibilitas : Metilparaben inkompatibel dengan bentonit, Mg trisilikat, talk, tragakan, Na alginat,
sorbitol. Adanya surfaktan nonionik menurunkan aktivitas antimikroba. Metil paraben
dapat berubah warna dengan adanya besi dan dapat terhidrolisis oleh asam kuat
atau basa
Penyimpanan : Harus disimpan pada wadah tertutup baik, dan tempat yang kering.
Kegunaan : Pengawet
Konsentrasi : 0,18%
Alasan Pemilihan : Golongan paraben merupakan pengawet yang memiliki efektivitas pada jangkauan pH
yang luas dan memiliki aktivitas antimikroba spectrum luas
Propil Paraben

Rumus Molekul : C10H12O3


Bobot molekul : 180,20 g/mol
Pemerian : Serbuk putih atau hablur kecil, tidak berwarna
Kelarutan : Larut dalam etanol (1:1), gliserin (1:250), propilen glikol (1:3,9), air
(1:2500)
Inkompatibilitas : Magnesium aluminum silicate, magnesium trisilicate, yellow iron oxide, dan
ultramarine blue propylparaben
Penyimpanan : Harus disimpan pada wadah tertutup baik, dan tempat yang kering.
Kegunaan : Pengawet
Konsentrasi : 0,02%
Alasan Pemilihan : Kombinasi propil paraben dan metil paraben merupakan preservative yang
paling sering digunakan dalam sediaan kosmetik. Kombinasi ini dapat
Etilen Glikol Stearat

Rumus Molekul : C36H74O4


Bobot molekul : 595,006 g/mol
Pemerian : Cairan berwarna agak krem
Kelarutan : Larut dalam aseton dan etanol panas 95%, praktis tidak larut dalam air
Inkompatibilitas : -
Kegunaan : Opacifier agent
Konsentrasi : 1%
Alasan Pemilihan : Tidak menimbulkan iritasi pada kulit dan tidak membahayakan sehingga
sangat cocok digunakan sebagai pemberi warna opac dalam sahmpoo
Menthol

Rumus Molekul : C10H20O


Bobot molekul : 156,27 g/mol
Pemerian : Hablur heksagonal atau serbuk hablur; tidak berwarna; biasanya berbentuk
jarum, atau massa yang melebur; bau enak seperti minyak permen
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam etanol 95%, kloroform, eter, dan parafin cair,
mudah larut dalam asam asetat glasial, larut dalam aseton, dan benzen,
agak mudah larut dalam gliserin, praktis tidak larut dalam air.
Inkompatibilitas : -
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, sebaiknya pada suhu ruang terkendali
Kegunaan : Fragrance (Pemberi harum menthol dan sensasi dingin pada shampoo)
Konsentrasi : 0,4%
Alasan Pemilihan : Memiliki bau yang segar dan sesuai dengan aroma shampo anti-ketombe
Asam Sitrat

Rumus Molekul : C6H8O7


Bobot molekul : 210,14 g/mol
Pemerian : Kristal tidak berwarna atau tembus cahaya, atau sebagai bubuk kristal
putih bercahaya. Tidak berbau dan memiliki rasa asam yang kuat.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, larut dalam etanol, larut dalam air
Inkompatibilitas : -
Kegunaan : pH adjuster
Konsentrasi : 1%
Alasan Pemilihan : Karena sifatnya yang asam sehingga dapat digunakan untuk menurunkan
pH sediaan yang terlalu basa
Aqua Purificata

Rumus Molekul : H2O


Bobot molekul : 18,01 g/mol
Pemerian : Cairan yang jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak
berasa
Inkompatibilitas : Dapat bereaksi dengan logam alkali dan oksida lain seperti
kalsium oksida dan magnesium oksida.
Kegunaan : Pelarut
KRITERIA SEDIAAN
Bentuk : Emulsi
Warna : Putih, Opaque
Bau : Menthol
pH : 5,5-7,0
Viskositas : 4000 cps
Uji Iritasi : Tidak mengiritasi
IDENTIFIKASI MASALAH

Identifikasi Masalah Solusi


Zinc pyrithione memiliki kelarutan yang Diformulasikan dalam bentuk emulsi
rendah dalam air shampoo
Saat proses pembuatan massa shamppo, Menggunakan alat vakum mixing
akan timbul busa akibat pengadukan tank
Dalam sediaan cair rentan terhadap Ditambahkan pengawet
pertumbuhan mikroba
RANCANGAN FORMULASI SHAMPO ANTI-KETOMBE
Jumlah Tiap Kemasan Jumlah Tiap Bets
No Nama Bahan % (w/v) (170 ml) (1000 botol)

1 Zinc Pyrithione 2% 3,4 g 3400 g

2 Sodium Lauril Sulfat 10% 17 g 17000 g

3 Cocamidopropil Betaine 10% 17 g 17000 g

4 Dimetikon 1% 1,7 g 1700 g

5 Propilen Glikol 15% 25,5 g 25500 g

6 Metil Paraben 0,18% 0,306 g 306 g

7 Propil Paraben 0,02% 0,034 g 34 g

8 Glycol Stearat 1% 1,7 g 1700 g

9 Menthol 0,4% 0,68 g 680 g

10 Asam Sitrat 1% 1,7 gr 1700 g

11 Aqua Purificata ad 100 % Ad 170 ml Ad 170 L


PROSEDUR PEMBUATAN
Penimbangan bahan-bahan

Tangki 1 : Metilparaben dan propilparaben dilarutkan di dalam ke


dalam air (suhu 80oC) pada alat stainless stainless mixing tank
hingga homogen (campuran A)

Tangki 2: Dicampur Sodium Lauril Sulfat dalam 1/3


Zinc pyrithione digerus menggunakan bagian air, lalu dipanaskan pada suhu 80oC dan diaduk
roller mill hingga didapatkan ukuran perlahan hingga homogen (campuran B)
partikel yang lebih kecil dari 200 mesh.

Ditambahkan Zinc Pyrithione dan Cocamidopropil Betaine ke dalam


tangki 2 (vacuum mixing tank ) diaduk hingga homogen 
Campuran C)

Dimetikon, etilen glikol stearate dan propilen glikol ditambahkan ke dalam


Campuran D menggunakan homogenizer dengan kecepatan 500 rpm hingga
homogen (Campuran akhir)
Final Mixing : Ditambahkan menthol dan sisa air
hingga 170 L

Proses mixing shampoo ini dilakukan


di dalam vacuum mixing tank Ditambahkan asam sitrat untuk mengatur pH
IPC
untuk dapat menghilangkan busa shampo sesuai dengan kriteria
yang dihasilkan dari proses
pengadukan sehingga tidak
berpengaruh terhadap volume
shampoo dalam setiap kemasan Massa shampo diisi ke botol
saat proses filling dan dikemas dengan filling/cap
sealing machine

Botol diberi label dan nomor


bets menggunakan labelling
machine

Botol shampo dikumpulkan dan


di-wrap dengan wrapping PPC
machine
Dilakukan
wrapping
Penimbangan

Tangki 1
(Campuran A)

Pengecilan
ukuran
partikel Dilakukan proses filling, sealing dan
zinc penomoran batch. Proses mixing shampoo ini
pyrithione dilakukan di dalam vacuum
Tangki 3 mixing tank untuk dapat
(Campuran B) menghilangkan busa yang
dihasilkan dari proses
pengadukan sehingga tidak
berpengaruh terhadap volume
shampoo dalam setiap kemasan
saat proses filling
Ditambahkan zinc
pyrithione dan betaine ke
Tangki 2  menjadi Final Mixing : Ditambahkan
Dimetikon, etilen glikol stearate dan propilen glikol
Campuran C ditambahkan ke dalam Campuran D menggunakan menthol dan sisa air hingga
homogenizer dengan kecepatan 500 rpm hingga 170 L, ditambahkan asam
homogen (Campuran akhir) sitrat agar pH sesuai
IPC & PPC
IPC
In-Process Control
• Penampilan umum/organoleptis
• Uji homogenitas
• Penetapan bobot jenis
• Penetapan pH
• Uji viskositas & sifat alir
PPC
Post-Process Control
•Uji keamanan
•Uji potensi antijamur
•Uji efektivitas pengawet
•Uji stabilitas
IPC
In Process Control
PENAMPILAN UMUM/ORGANOLEPTIS

• Penampilan umum produk jadi, identitas visualnya, dan seluruh estetikanya sangat
penting bagi penerimaan konsumen. Memiliki fungsi sebagai salah satu kontrol
keseragaman produk jadi dan untuk memantau proses pembuatan yang bebas
kesalahan.
Prosedur pemeriksaan melalui pengamatan organoleptis pada suhu kamar (25ºC)
• Bentuk: diperiksa secara visual, larutan kental, lembut, dan tidak ada gumpalan padatan
• Warna: diperiksa secara visual, larutan berwarna opaque
• Aroma: diperiksa secara organoleptis, berbau pandan mint (menthol)
UJI HOMOGENITAS
• Homogenitas dapat dilakukan secara visual dengan cara pengambilan
sampel dapat dilakukan pada sebagian bagian di atas, tengah, atau
bawah.
• Sampel diteteskan pada kaca objek, kemudian diratakan dengan
kaca objek lain sehingga terbentuk lapisan tipis, partikel diamati
secara visual.
PENETAPAN BOBOT JENIS <981>
Penetapan bobot jenis digunakan hanya untuk cairan, didasarkan pada perbandingan bobot zat di udara pada
suhu 25º terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama.
Prosedur:

• Gunakan piknometer bersih, kering dan telah dikalibrasi dengan menetapkan bobot piknometer dan bobot air
yang baru dididihkan, dinginkan hingga suhu 25º.
• Atur suhu zat uji hingga lebih kurang 20º, masukkan cairan ke dalam piknometer.
• Atur suhu piknometer yang telah diisi hingga suhu 25º, buang kelebihan zat uji dan timbang.

• Kurangkan bobot piknometer kosong dari bobot piknometer yang telah diisi.
• Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot zat dengan bobot air, dalam
piknometer.
PENETAPAN PH <1071>
• Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan alat pH meter. Spesifikasi pH
sampo berada pada rentang pH stabil zat yang terkandung dalam sampo.
• Prosedur uji pH dilakukan dengan cara:
1. Mengencerkan larutan uji menjadi larutan 10%. Pengenceran sampel dilakukan dengan
menggunakan air bebas CO2.
2. Alat pH meter dikalibrasi dengan dapar standar pH 4 dan pH 7.
3. Elektroda dibilas beberapa kali menggunakan larutan uji. Kemudian elektroda dicelupkan ke
dalam larutan uji, lalu baca nilai pH yang muncul pada layar pH meter.
UJI VISKOSITAS DAN SIFAT ALIR
• Dilakukan menggunakan viskometer brookfield dengan spindel nomor 5 pada suhu 25C.
• Sampo yang digunakan sebanyak sekitar 250 ml dan diletakkan di dalam gelas beaker.
• Pengukuran sifat alir dilakukan dengan membaca viskositas pada berbagai kecepatan, yaitu 4, 10,
20, 40, 60, 60, 40 20, 10, 4 rpm.
• Untuk menghitung viskositas, angka pembacaan hendaklah dikalikan dengan faktor yang sesuai
dengan spindel yang digunakan (7,187 dyne/cm).
• Hitung viskositas dan buat rheogram.
• Untuk mengetahui sifat aliran, dibuat kurva antara rpm sebagai sumbu y dan usaha yang
dibutuhkan untuk memutar spindle sebagai sumbu x.
• Viskositas yang diharapkan 2000-5000 cps dengan sifat alir pseudoplastis.
PPC
Post Process Control
UJI KEAMANAN
• Uji tempel (patch test)
• Dilakukan pada kulit punggung kelinci yang telah dicukur bulunya. Sampo dilarutkan dalam air menjadi
larutan 2% dan dioleskan pada punggung kelinci. Lokasi uji dibiarkan terbuka selama 24 jam, dan reaksi
kulit yang terjadi diamati setiap hari selama 3 hari.

• Uji iritasi
• Dilakukan pada mata kelinci dengan larutan sampo dalam air konsentrasi 10%. Sebanyak 0,1 ml larutan
sampo yang telah diencerkan kemudian diteteskan ke dalam salah satu kelopak mata kelinci dan kelopak
mata lainnya diteteskan dengan kontrol negatif. Pengamatan dilakukan selama 7 hari setelah penetesan
meliputi reaksi pada kornea, iris, dan konjungtiva mata. Reaksi pada kornea teramati dari kekeruhan
pada iris dan berubahnya ukuran pupil atau adanya pendarahan pada iris. Reaksi pada konjungtiva
berupa timbulnya kemerahan, pembengkakan, dan penutupan kelopak mata.
UJI POTENSI ANTIJAMUR
Organisme Uji Preparasi Inokulum dan Shampo
• Organisme (Malassezia furfur) yang digunakan dalam • Inokulum
pengujian ini diisolasi dari kulit kepala individu
dengan ketombe. Kriteria berikut digunakan dalam • Beberapa koloni dari kultur M. furfur 48 jam
identifikasi ragi yang terisolasi: ditangguhkan dalam air suling steril.
• pemeriksaan mikroskopis langsung dari kerokan kulit, Turbiditas disesuaikan dengan absorbansi
menunjukkan karakteristik ragi berbentuk "botol" 0,18 hingga 0,20 pada 625 nm (sama
berbentuk telur; dengan Solusi Standar Turbiditas MacFarland
• pertumbuhan pada agar glukosa Sabouraud #1) menggunakan spektrofotometer B & L
dimodifikasi (agar 1,5%, minyak zaitun 1% Spectronic 20.
ditambahkan ke media) pada 37C berwarna krem,
koloni menjadi kering, kusam dan sedikit berkerut • Sampo
dengan margin lobus pada saat pematangan;
• morfologi mikroskopis ragi dalam kultur, bundar • Sampel sampo dalam pengujian ini digunakan
hingga telur, dengan kuncup unipolar, dan adanya dalam bentuk terkonsentrasi dan dalam
selubung yang berbeda antara sel induk dan kuncup; pengenceran seri 10 kali lipat menggunakan
• ketidakmampuan untuk tumbuh tanpa sumber lipid. air steril hingga pengenceran 106.

Bulmer, A., & Bulmer, G. (1999). The antifungal action of dandruff shampoos. Mycopathologia, 147(2), 63-65. doi: 10.1023/a:1007132830164
UJI POTENSI ANTIJAMUR

Medium Uji Prosedur Uji


• Agar glukosa Sabouraud (agar 1,5%) • Media uji diautoklaf dan dibiarkan dingin.
dengan minyak zaitun 1% ditambahkan ke • Sebanyak 17 ml media kemudian dipipet ke dalam
media digunakan selama pengujian. cawan petri.
• Minyak dicampur sebelum diautoklaf pada • Sebanyak 2 ml pengenceran sampo dan 1 ml
15 psi selama 15 menit. suspensi organisme uji disalurkan ke cawan petri
dan diayun lembut untuk mendispersikan ketiga
bahan.
• Semua lempeng diinkubasi pada suhu 37C.
• Semua percobaan dilakukan dalam rangkap tiga
dan diulang setidaknya enam kali.

Bulmer, A., & Bulmer, G. (1999). The antifungal action of dandruff shampoos. Mycopathologia, 147(2), 63-65. doi: 10.1023/a:1007132830164
UJI POTENSI ANTIJAMUR

Pengumpulan Data Interpretasi Hasil


• Setelah 5 hari inkubasi pada 37C, semua lempeng • Satu sampo dinilai lebih baik (lebih efektif dalam
dibaca untuk pertumbuhan atau tidak ada membunuh ragi) daripada yang lain jika membunuh
pertumbuhan. ragi pada konsentrasi uji yang lebih encer.
• Ketika pertumbuhan muncul, lempeng-lempeng itu • Jika pembunuhan terjadi dalam konsentrasi sampo
buram (padat) dengan kehadiran ragi. Ini dengan pengenceran 1:10 lebih besar daripada
diartikan bahwa tidak ada aktivitas antijamur sampo pembanding, maka sampo uji tersebut dinilai
telah terjadi pada konsentrasi uji sampo. 10 kali lebih efektif daripada sampo pembanding.
• Ketika lempeng tampak bersih, ini diartikan • Jika konsentrasi shampo 100 kali lebih encer, namun
bahwa ragi telah terbunuh oleh konsentrasi uji pembunuhan masih dicatat, maka itu dinilai 100 kali
sampo. lebih efektif dalam membunuh ragi.
• Setelah beberapa percobaan awal, diketahui
bahwa sampo terkonsentrasi (1:10 dan 1:100)
selalu mengakibatkan terbunuhnya ragi. Untuk
alasan ini hanya konsentrasi sampo > 102 (1:100)
yang dilakukan setelahnya

Bulmer, A., & Bulmer, G. (1999). The antifungal action of dandruff shampoos. Mycopathologia, 147(2), 63-65. doi: 10.1023/a:1007132830164
UJI EFEKTIVITAS PENGAWET <61>

• Kategori Sediaan: Sampo  Kategori 2


• Persiapan Inokula:
PROSEDUR UJI EFEKTIVITAS PENGAWET

Pengujian dapat dilakukan dalam tiap lima wadah asli atau dalam lima wadah bakteriologi bertutup steril.

Inokulasi tiap wadah dengan satu inokula baku yang telah disiapkan dan diaduk. Volume suspensi inokula yang digunakan antara
0,5% dan 1,0% dari volume sediaan.
Kadar mikroba uji yang ditambahkan pada sediaan (kategori 2) seperti halnya kadar akhir sediaan uji setelah diinokulasi antara
1 x 105 dan 1 x 106 koloni/ml.
Kadar awal mikroba “viable” dalam setiap sediaan uji diperkirakan berdasarkan kadar mikroba dalam inokula standar
ditetapkan dengan metode angka lempeng total.

Inkubasi wadah yang sudah diinokulasi pada 22,5º ± 2,5º.


Ambil sampel dari setiap wadah pada interval yang sesuai. Catat setiap perubahan penampilan yang diamati pada interval
tersebut. Tetapkan dengan prosedur angka lempeng total jumlah koloni yang ada dari setiap sediaan uji untuk interval yang
digunakan.
Pada uji angka lempeng total atau pengenceran yang sesuai tambahkan inaktivator (penetral) antimikroba spesifik. Kondisi ini
digunakan untuk validasi sampel berdasarkan kondisi media dan waktu inkubasi rekoveri mikroba.
Dengan menggunakan jumlah koloni/ml terhitung pada awal pengujian, hitung perubahan dalam nilai log jumlah koloni/ml untuk
setiap mikroba yang digunakan pada setiap interval uji dan nyatakan sebagai log reduksi.
KRITERIA UJI EFEKTIVITAS PENGAWET

• Untuk sediaan kategori 2


• Bakteri: koloni tidak kurang dari 2,0 log reduksi dari jumlah awal
pada hari ke-14, dan tidak meningkat dari hari ke-14 sampai hari
ke-28.
• Kapang dan khamir: koloni tidak meningkat dari jumlah hitungan
awal sampai hari ke-14 dan 28.
UJI STABILITAS
• Frekuensi pemeriksaan untuk uji yang dipercepat biasanya dalam 5
tahap, yaitu: 0, 1, 2, 3, dan 6 bulan. Temperatur uji yang digunakan
adalah 40±2C. Kelembaban yang digunakan adalah 75%±5%.
Sampel yang diuji sesuai dengan kondisi sediaan jadi.
KEMASAN PRIMER
• Botol plastik HDPE putih ukuran 170 mL
• Alasan pemilihan: lebih tahan terhadap panas dan
zat-zat yang terkandung dalam shampo dapat
terlindung dari cahaya karena warna botol yang
opaque
KEMASAN SEKUNDER

• Dus single wall corrugated (karton bergelombang)


• Alasan pemilihan: murah dan kuat saat dilakukan
pengiriman/distribusi
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai