Anda di halaman 1dari 88

SISTEM MANAGEMEN RESIKO

IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RESIKO


IDENTIFIKASI ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN

COAL
MINING! PT. RIUNG MITRA LESTARI
POLICY
AFIFY JAUHARI
PRESIDENT DIRECTOR
KEBIJAKAN MUTU, KESEHATAN, KESELAMATAN KERJA, DAN LINGKUNGAN TELAH DI SAHKAN PADA TANGGAL 01
OKTOBER 2016

TERDAPAT 10 UPAYA YANG DILAKUKAN PT RML UNTUK MENJUNJUNG TINGGI CORPORATE VALUES DENGAN
MENERAPKAN RIUNG INTEGRATED MANAGEMENT SYSTEM (RIMS) SESUAI DENGAN PERSYARATAN
INTERNASIONAL (ISO 9001, ISO 14001 DAN OHSAS 18001) MAUPUN PERSYARATAN NASIONAL (SMK3 DAN
SMKP)
Untuk memastikan pencapaian tujuan tersebut PT.Riung Mitra Lestari Berupaya untuk :
1. Menerapkan RIMS sebagai dasar untuk meningkatkan kepuasan pelanggan, efisiensi,dan perbaikan berkesinambungan.
2. Mematuhi peraturan perundangan dan persyaratan lainnya yang berhubungan dengan jasa kontraktor pertambangan,
kesehatan, keselamatan kerja, dan lingkungan.
3. Meningkatkan kompetensi dan memelihara kesadaran karyawan yang tinggi akan mutu, kesehatan, keselamatan kerja, dan
lingkungan.
4. Mengembangkan dan memberdayakan segala potensi yang dimiliki oleh perusahaan untuk menunjang keselamatan operasi
pertambangan.
5. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan atau akibat hubungan kerja terhadap semua karyawan dan
pihak yang berada di lingkungan perusahaan, serta pencemaran lingkungan.
6. Mengupayakan untuk tidak terjadinya kehilangan hari kerja “Loss Time Injury “ (Non LTI), meminimalkan Property Damage
dan Premature Loss.
7. Meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan untuk mengurangi dampak dari aktifitas pertambangan melalui penerapan 3R
(Reduce, Reuse, dan Recycle).
8. Menanamkan semangat leadership untuk selalu berusaha mengayomi kepentingan karyawan, pelanggan, dan masyarakat.
9. Mewajibkan kontraktor yang melakukan pekerjaannya dalam perusahaan untuk berupaya menerapkan srandar yang sama
mengenai RIMS sebagaimana yang dilakukan oleh perusahaan.
10. Menjalin hubungan yang harmonis dengan semua pemangku kepentingan ( stakeholder), dalam kaitannya dengan
pengelolaan mutu, kesehatan, keselamatan kerja, dan lingkungan.
VISI & MISI
VISI / VISION
Menjadi kontraktor pertambangan yang
terpercaya dan efisien.
To be the reliable and efficient mining contractor

MISI / MISSION
Memberikan pelayanan terbaik bagi customer dalam bidang jasa pertambangan.
To deliver the best service to our customer in mining service industry

Mengembangkan sumber daya manusia untuk mencapai kesejahteraan yang lebih baik.
To develope and continuosly improve human capital for a brighter future.

Meningkatkan Kompetensi perusahaan sehingga mencapai efisiensi yang optimum dengan teknologi yang mutakhir.
To continuosly company competence to reach the optimun efficiency with the latest technologhy implementation

Memberikan kontribusi bagi pengembangan endidikan dan kualitas hidup masyarakat dan bangsa
To give our best possible contribution in nation’s, quality of life and society development
Konsistensi dan keteguhan hati yang tak tergoyahkan dalam
menjunjung nilai-nilai luhur dan keteguhan seperti KEJUJURAN
dan KEBENARAN

Memberikan solusi yang memuaskan semua pihak, bukan


kemenangan satu pihak atau kemenangan yang semu. Semua
pihak harus mendapatkan keuntungan ataupun kerugian yang
proporsional sesuai dengan posisi obyektif para pihak yang
terlibat didalam organisasi.

Mampu bekerja dengan baik dan menghasilkan hasil


yang baik pula dengan menggunakan sumber daya yang ada
(manusia, material, waktu) dengan cara-cara yang paling efektif.

Memberikan hasil kerja yang terbaik dengan selalu bersemangat


memperbaiki proses kerja dan hasil kerja secara terus
menerus.

Saling mengisi dan melengkapi dari kekurangan dan perbedaan


untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas.
HIRA / IBPR
Proses HIRA merupakan langkah awal untuk menentukan
perencanaan SMK3L

PT. RIUNG MITRA LESTARI


Objective Session

Mampu melakukan identifikasi bahaya keselamatan dan


kesehatan kerja serta lingkungan hidup (K3LH)

Mampu menilai tingkat resiko setiap skenario bahaya


dengan tepat
Mampu menetapkan metode pengendalian resiko untuk
mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja

PT. RIUNG MITRA LESTARI


KONSEP

PERENCANAAN K3L KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA


Identifikasi Bahaya Kesehatan Kerja

Identifikasi Bahaya Keselamatan Kerja &


MUTU

LINGKUNGAN HIDUP
Identifikasi Aspek & Dampak Lingkungan

PT. RIUNG MITRA LESTARI


TUJUAN
Memastikan semua sumber bahaya diketahui
Semua aspek lingkungan dan dampaknya diketahui
Perencanaan pengendalian yang tepat dapat dilakukan
Fokus dalam pengelolaan K3LH
Sebagai bagian manajemen resiko tingkat modern
Mengetahui potensi penyebab terjadinya kecelakaan
atau kerugian sejak dini
Dapat membuat perencanaan
Sebelum terjadinya kecelakaan
Pada saat terjadinya kecelakaan
Setelah terjadinya kecelakaan

PT. RIUNG MITRA LESTARI


PROSEDUR • Dimana :
Dilakukan terhadap semua
PELAKSANAAN
PLANNING area kerja di perusahaan
• Kapan :
- Saat awal Proyek
IDENTIFIKASI - Di Tinjau Ulang
BAHAYA - Jika ada modifikasi
• Oleh Siapa :
PENILAIAN Team IBPR yang kompeten dan
RESIKO ditunjuk

MENETAPKAN
MANAJEMEN PENGENDALIAN
PERUBAHAN
MENERAPKAN
PENGENDALIAN

PT. RIUNG MITRA LESTARI


IBPR & IADL
Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Risiko
Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko adalah
proses mengidentifikasi setiap bahaya yang ada dalam
proses-proses kegiatan perusahaan dan dilakukan
penilaian apakah setiap bahaya yang ada akan
menimbulkan risiko dalam interaksinya dan menentukan
pengendalian yang memadai sampai batas yang dapat
diterima.

PT. RIUNG MITRA LESTARI


MANAJEMEN RESIKO
• Suatu pendekatan terstruktur dalam mengelola risiko-risiko
yang berkaitan dengan keselamatan pertambangan.

• Proses manajemen risiko meliputi 5 (lima) kegiatan :


 Komunikasi dan konsultasi,

 Penetapan konteks risiko,

 Penilaian risiko,

 Pengendalian risiko,

 Pemantauan dan peninjauan

PT. RIUNG MITRA LESTARI


MANAJEMEN RESIKO

Penetapan Konteks Risiko

• Penetapan konteks risiko meliputi:


 Penentuan batasan-batasan risiko yang
akan dikelola

 Menentukan lingkup proses manajemen


risiko selanjutnya.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR SUPERVISOR


MANAJEMEN RESIKO

Penetapan Konteks Risiko


• Konteks Risiko mencakup:
 faktor internal, eksternal,

 proses manajemen risiko,


dan penetapan kriteria risiko.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


• Penetapan faktor internal
 Faktor internal adalah lingkungan
internal yang mempengaruhi organisasi
perusahaan dalam upaya mencapai
tujuannya.

• Faktor internal meliputi:


a. aktivitas dan proses rutin dan tidak rutin;
b. Perubahan - perubahan pada organisasi,
lingkungan kerja, kegiatan, atau bahan/material;

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


c. modifikasi pada sistem manajemen pertambangan, termasuk
perubahan-perubahan sementara, serta dampak pada operasi,
proses dan aktivitas;
d. fasilitas yang baru dibangun, peralatan atau proses yang baru
diperkenalkan, serta aktivitas/instalasi Perusahaan Jasa
Pertambangan di dalam lokasi kerja;
e. kondisi normal dan abnormal dan/atau kondisi proses serta
potensi insiden dan keadaan darurat selama siklus pemakaian
produk dan/atau siklus lamanya proses;
f. Ketidak patuhan terhadap rekomendasi sebelumnya, standar
dan/atau prosedur keselamatan pertambangan yang ada, atau
ketidakpatuhan terhadap tindak lanjut rekomendasi insiden;

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


g. faktor personal pekerja;
h. desain area kerja, proses, instalasi, permesinan/peralatan,
prosedur operasi dan organisasi kerja, termasuk kemampuan
adaptasi manusia;
i. sistem dan pelaksanaan pemeliharaan/perawatan sarana,
prasarana, instalasi, dan peralatan pertambangan;
j. pengamanan instalasi;
k. kelayakan sarana dan prasarana, instalasi, serta peralatan
pertambangan;
l. Kompetensi tenaga teknik; dan
m. evaluasi laporan hasil kajian teknis pertambangan;

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


• Penetapan Faktor eksternal
• Lingkungan eksternal yang mempengaruhi organisasi
perusahaan dalam upaya mencapai tujuannya
• Untuk meyakinkan para pemangku kepentingan eksternal
tentang tujuan dan fokus yang dipertimbangkan saat
mengembangkan kriteria risiko

• Faktor eksternal, di antaranya:


a. budaya, politik, hukum, peraturan, keuangan, teknologi,
ekonomi, alam dan lingkungan yang kompetitif secara lokal,
nasional, regional, dan internasional;
b. pendorong utama dan tren yang berdampak terhadap tujuan
organisasi;

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


c. persepsi dan nilai-nilai dari para pemangku kepentingan
eksternal;

d. kegiatan semua orang yang memiliki akses ke tempat kerja,


termasuk Perusahaan Jasa Pertambangan dan para tamu;

e. fasilitas yang baru dibangun, peralatan atau proses yang baru


diperkenalkan, serta aktivitas/instalasi Perusahaan Jasa
Pertambangan diluar lokasi kerja;

f. bahaya-bahaya teridentifikasi yang berasal dari luar lokasi


kerja, yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan
orang di tempat kerja yang berada dalam kendali perusahaan;

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


g. infrastruktur, peralatan dan bahan-bahan di tempat
kerja, yang disediakan oleh perusahaan atau pihak
lain;
h. kewajiban hukum yang berkaitan dengan identifikasi
bahaya dan penilaian risiko serta pengendalian yang
diperlukan;dan
i. hal-hal lain yang mempengaruhi Keselamatan
Pertambangan

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Penetapan Konteks dalam Manajemen
Risiko
 Penetapan konteks dilakukan dengan mempertimbangkan:
 sumber daya yang akan digunakan
 tanggung jawab dan wewenang
 proses pendokumentasian rekaman pengelolaan risiko

 Konteks dalam proses manajemen risiko dapat bervariasi sesuai


dengan kebutuhan Perusahaan.
 Tujuan penetapan konteks risiko adalah untuk memastikan bahwa
pendekatan manajemen risiko yang diterapkan sesuai dengan
situasi perusahaan dan risiko yang mempengaruhi pencapaian
tujuan perusahaan

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


 Langkah-langkah penetapan konteks risiko:

a. mendefinisikan ruang lingkup, serta kedalaman dan luasnya


kegiatan pengelolaan risiko yang akan dilaksanakan, termasuk
pernyataan khusus dan pengecualian;
b. mendefinisikan aktivitas, proses, fungsi, proyek, produk, jasa
atau aset dalam hal waktu dan lokasi serta tujuan dan sasaran;
c. mendefinisikan hubungan antara proyek tertentu atau aktivitas
dengan proyek-proyek lainnya atau kegiatan perusahaan;
d. mendefinisikan metodologi penilaian risiko;

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Langkah-langkah penetapan konteks risiko:

e. Mendefinisikan cara kerja yang dievaluasi dalam


manajemen risiko;
f. Mengidentifikasi dan menentukan keputusan yang
harus dibuat; dan
g. Mengidentifikasi ruang lingkup atau kerangka studi
yang diperlukan

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Penetapan Kriteria Risiko

 Perusahaan harus menetapkan kriteria yang


digunakan untuk mengevaluasi risiko
 Kriteria dapat mencerminkan tujuan, sumber daya, dan
nilai-nilai perusahaan.
 Kriteria risiko harus konsisten dengan kebijakan
Keselamatan Pertambangan perusahaan dan
peraturan perundang-undangan.
 Kriteria risiko harus dikembangkan pada awal proses
manajemen risiko dan ditinjau secara berkala.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan:
a. Jenis risiko;
b. Konsekuensi / keparahan yang dapat terjadi dan cara
mengukurnya;
c. Kemungkinan/ probabilitas /kekerapan yang dapat
terjadi dan cara mengukurnya;
d. Penentuan tingkat risiko;
e. Tingkat risiko yang dapat diterima atau ditoleransi; dan
f. Tingkat risiko yang memerlukan pengendalian

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Penilaian risiko
 Penilaian risiko adalah proses evaluasi risiko-risiko dengan
memperhatikan kecukupan pengendalian yang sudah ada dan
menentukan apakah risikonya bisa diterima atau tidak.
 Metodologi penilaian risiko yang digunakan harus:
a. Memperhatikan ruang lingkup, sifat dan waktu untuk
memastikan metodenya proaktif; dan
b. Menyediakan cara untuk melakukan identifikasi bahaya,
penilaian risiko, penentuan klasifikasi dan prioritas risiko,
penentuan pengendalian yang sesuai, dan
pendokumentasiannya.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Pengendalian Risiko
 Apabila hasil penilaian risiko dan evaluasi terhadap pengendalian
risiko yang sudah ada belum memadai, maka perusahaan harus
menetapkan langkah-langkah pengendalian lanjutan terhadap
risiko dengan mengikuti hirarki pengendalian risiko.
 Perusahaan harus menerapkan dan mendokumentasikan langkah-
langkah pengendalian yang sudah ditetapkan.
 Hirarki pengendalian risiko:
a. Eliminasi
b. Subtitusi
c. Rekayasa
d. Administrasi;
e. APD

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


HIRARKI PENGENDALIAN
KRITIKAL
TINGGI 1 ELIMINASI

PENGENDALIAN
PERMANEN
2 SUBSTITUSI
3 ENGINNERING
SEDANG
RENDAH
4 ADMINISTRATIF
PENGENDALIAN
SEMENTARA
5 APD

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Pengendalian Risiko
 ELIMINASI adalah tahap pertama untuk
menghilangkan sumber dari bahaya dengan cara
menghilangkan peralatan atau pekerjaan yang
menjadi sumber dari bahaya tersebut.
Cara ini yang sangat aman tetapi sering kali tidak dapat
dilakukan kerena peralatan atau pekerjaan tersebut
biasanya bagian dari proses pekerjaan itu sendiri.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Pengendalian Risiko
 SUBTITUSI adalah penggantian bahan,
proses, tata cara ataupun peralatan dari yang
berbahaya menjadi yang tidak berbahaya.
Dengan pengendalian ini menurunkan
bahaya dan resiko minimal desain sistem
ataupun desain ulang

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Pengendalian Risiko
 Engineering Control atau pemisahan bahaya
dengan pekerja serta untuk mencegah
terjadinya kesalahan manusia.
Pengendalian ini terpasang dalam suatu unit sistem
mesin atau peralatan.
Biasanya mesin atau sumber bahaya tersebut
dimodifikasi sedemikian rupa agar potensi bahaya
berkurang atau hilang sama sekali.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Pengendalian Risiko
 Administration Control adalah pengendalian dari sisi orang yang
akan melakukan pekerjaan,dengan dikendalikan metode
kerja,diharapkan orang akan mematuhi,memiliki kemampuan
dan keahlian cukup untuk menyelesaikan pekerjaan secara aman.

Jenis pengendalian ini antara lain seleksi karyawan,adanya standar


operasi baku (SOP/IBPR/JSA/JSI),pelatihan,pengawasan,modifikasi
prilaku,jadwal kerja,rotasi kerja,pemeliharaan,manajemen
perubahan,jadwal istirahat,investasi dll.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Pengendalian Risiko
 Alat Pelindung Diri adalah sebagai metode ini
dilakukan sebagai pelengkap atau langkah terakhir
dari hirarki pengendalian.

Tujuannya adalah melindungi tenaga kerja apabila usaha


Engineering Control dan Administation Control tidak dapat
dilakukan dengan baik,meningkatkan elektivitas dan
produktivitas kerja,dan menciptakan lingkungan kerja yang
aman.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Pemantauan dan Peninjauan
 Perusahaan harus menetapkan cara untuk melakukan
pemantauan dan peninjauan terhadap proses penilaian risiko dan
pengendaliannya.
 Pemantauan dan peninjauan harus dilakukan secara periodik,
atau apabila:
a. terjadi kecelakaan atau kejadian berbahaya;
b. terjadi penyakit akibat kerja;
c. terjadi perubahan dalam peralatan, instalasi, dan/atau proses
serta aktivitas perusahaan; dan
d. ada aktivitas dan proses baru dalam perusahaan.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Identifikasi dan Kepatuhan Terhadap Ketentuan
Peraturan Perundangan-undangan dan
Persyaratan Lainnya yang terkait

Peraturan perundang-undangan dan persyaratan lainnya yang


relevan harus:
a. Diidentifikasi, diinventarisasi, dan dipatuhi oleh perusahaan
b. Disosialisasikan kepada seluruh pekerja tambang dan
pihak-pihak lain yang terkait

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Identifikasi dan Pemantauan Terhadap Ketentuan
Peraturan Perundang-undangan dan Persyaratan
lainnya yang Terkait

 Perusahaan harus menjalankan proses formal untuk


mengidentifikasi, memperoleh, dan memantau ketentuan peraturan
perundang-undangan dan persyaratan lainnya yang terkait
 Perusahaan harus menentukan kesesuaian peraturan yang spesifik
terhadap operasi atau fasilitas, dan mengevaluasi kepatuhannya.

 Pengkajian terhadap peraturan pokok dan peraturan lainnya harus


dilakukan jika terdapat revisi atau perubahan yang berpotensi
menimbulkan dampak atau pengaruh terhadap operasi atau fasilitas
operasi.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Kepatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan
Perundang - undangan dan
Persyaratan Lainnya yang Terkait

Perusahaan wajib mengimplementasikan, menyimpan, dan


membuat daftar yang menjelaskan hal-hal berikut:
a. peraturan perundang-undangan, maupun persyaratan lain yang
relevan di tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional; dan

b. perjanjian, ketentuan dan persyaratan tentang penggunaan


sarana dan prasarana untuk kepentingan bersama.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Kepatuhan Terhadap Persyaratan Perjinan
 Perusahaan harus memastikan kepatuhan terhadap perizinan, lisensi dan sertifikasi
yang berlaku
 Perusahaan harus menyimpan dan bila perlu memajang izin, lisensi atau sertifikat
terkait yang dimiliki, sesuai peraturan perundang-undangan
 Perusahaan harus membuat daftar tanggal habis berlaku dan perpanjangan semua
izin dan lisensi yang terkait dengan operasi, sarana dan prasarana
 Daftar tersebut harus:
a. Dikaji ulang akurasi dan relevansinya secara berkala;
b. Diperbarui jika terjadi perubahan dalam peraturan perundang-undangan, dan
persyaratan lainnya; dan
c. Dapat diakses oleh personel terkait.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Evaluasi dan Audit Atas Kepatuhan Terhadap
Ketentuan Peraturan Perundang undangan
dan Persyaratan Lainnya yang Terkait

Perusahaan harus memasukkan evaluasi kepatuhan


terhadap:
• Peraturan perundang-undangan dan persyaratan
lainnya yang terkait; dan
• Kepatuhan terhadap perizinan termasuk lisensi dan
sertifikat yang berlaku dalam proses audit

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Penetapan Tujuan, Sasaran, dan Program
(TSP/OTP)
 Perusahaan harus membuat, menetapkan, menerapkan, dan memelihara,
serta mendokumentasikan tujuan, sasaran, dan program Keselamatan
Pertambangan pada setiap fungsi dan tingkat yang relevan di dalam
perusahaan.
 Tujuan, sasaran, dan program harus selaras dengan kebijakan, dan dapat
diukur.
 Dalam menetapkan tujuan dan sasaran Keselamatan Pertambangan,
perusahaan harus berkonsultasi dengan:
 Wakil pekerja tambang;
 Penkesgelola elamatan pertambangan;
 Komite K3; dan
 Pihak- pihak lain yang terkait.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Rencana Kerja dan Anggaran Keselamatan
Pertambangan
 Perusahaan harus menyusun dan menetapkan rencana kerja
tahunan dan anggaran keselamatan pertambangan.

 Untuk perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP),


rencana kerja tahunan dan anggaran keselamatan pertambangan
yang telah ditetapkan tersebut harus tertuang dalam dokumen
Rencana Kerja Tahunan Teknik dan Lingkungan (RKTTL) serta
Rencana Kerja Anggaran dan Biaya (RKAB) RKTTL dan RKAB.

 Dokumen RKTTL dan RKAB harus mendapat persetujuan dari


pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


Rencana kerja tahunan dan anggaran keselamatan
pertambangan yang ditetapkan harus
mempertimbangkan:
a. Skala prioritas sasaran dan program Keselamatan Pertambangan
perusahaan;
b. Kebutuhan untuk perbaikan dan peningkatan Keselamatan
Pertambangan yang berkelanjutan; dan
c. Pemenuhan terhadap peraturan perundang - undangan dan
persyaratan lainnya yang relevan.
d. Perusahaan harus merealisasikan dan mengevaluasi rencana kerja
tahunan dan anggaran keselamatan pertambangan yang telah
ditetapkan dan disetujui oleh pemerintah.

PT. RIUNG MITRA LESTARI HSE INTEGRATED TRAINING FOR FGDP


ASPEK
LINGKUNGAN ?!!!
Aspek Lingkungan :
adalah Elemen perusahaan yang berupa aktifitas, produk atau
jasa yang bisa berinteraksi dengan lingkungan.

Dampak Lingkungan :
Adalah Setiap perubahan yang terjadi pada lingkungan, baik
merugikan atau menguntungkan seluruhnya atau sebagian dari
akibat aktifitas, produk atau jasa yang dilakukan oleh perusahaan.
Contoh Aspek Lingkungan
Aktifitas Aspek Dampak
Operasi Forklift Emisi cerobong Pencemaran udara

Penggunaan Solar Pengurangan SDA


Suara Mesin Kebisingan
Produk Kemasan Timbul limbah padat
Debu asbes saat digunakan Pencemaran udara
Pengiriman barang dengan truk Asap Knalpot Pencemaran udara
perusahaan Potensi kebocoran Pencemaran tanah
Konsep Pengendalian
Jenis
Pengendalian Kondisi

Pengendalian Pengendalian
Peraturan Operasional
Rutin

Aspek Objective,Target,
Aspek Penting Program Improvement

Kesigaan Darurat,
Skoring Tanggap Darurat Abnormal
Contoh Pengendalian Aspek Penting Lingkungan
Aspek Penting Lingkungan Langkah Pengendalian Konsekuensi
Konsumsi Energi Listrik Usahakan menghemat listrik, matikan jika tidak Menyebabkan pengurangan sumber daya alam dan
dipakai memboroskan biaya

Konsumsi Material bahan baku Ikuti prosedur mutu dalam penggunaan bahan
baku, jangan berlebihan
Konsumsi Material pendukung dan Penggunaan
bahan kimia (oli, coolant, minyak tanah, solar dll)

Konsumsi air Hemat air, jangan berlebihan


Air limbah (pel, pencucian) Air pel tidak boleh dibuang ke selokan / Mengakibatkan pencemaran air dan tanah serta
jalan..buang ke saluran limbah melanggar peraturan lingkungan

Asap Mesin Produksi Ikuti prosedur kerja. Gunakan masker waktu kerja, Mengakibatkan gangguan kesehatan dan
lapor pada atasan jika terjadi asap abnormal mencemari udara serta melanggar peraturan

Asap Genset, forlift dan truk delivery Lakukan uji emisi dan perawatan secara teratur Mencemari udara dan melanggar peraturan
lingkungan

Limbah B3 (oli, coolant, aki, majun, dll) Buang limbah sesuai jenis limbah, kurangi sedapat Bisa mencemari air atau tanah dan melanggar
mungkin volumenya peraturan lingkungan

Ceceran dan tumpahan bahan kimia Hati-hati bekerja dengan bahan kimia, gunakan alat
yang benar dan patuhi instruksi kerja

Kebisingan, Bau Gunakan alat pelindung diri yang tepat saat bekerja Bisa mengakibatkan gangguan kesehatan
Pengendalian Aspek
Kategori Dampak : Pencemaran Udara Lingkungan
Proses Aspek Lingkungan
Operasional Generator Emisi
Welding Debu, Asap dari cerobong

Pengendalian :
– Memasang exhaust/cerobong dengan disertai lubang sampling
– Memasang sarana pemantauan dan pengukuran pada cerobong misalnya tangga
– Membuat SOP Operasional mesin/alat/aktifitas
– Melakukan pengujian terhadap emisi yang keluar dan udara sekitar setiap 6 bulan sekali
– Menanam pohon penyerap zat yang menyebabkan polusi udara (CO, Pb, SO2, dll) misal bunga soka, kiara payung
– Menyediakan Alat Pelindung Diri terhadap Pekerja
– Melakukan maintenance terhadap sistem ventilasi dan alat

Dasar Hukum:
 PP No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara
 Keputusan Menteri Lingkungan Hisup No. 13 tahun 1995 tentang Standar Baku mutu emisi sumber Tidak
Bergerak
Pengendalian Aspek
Kategori Dampak : Pencemaran Air & Tanah
Proses Aspek Lingkungan
Painting Sludge, kemasan cat
Operasional mesin Oli bekas
WWT Sludge, ceceran chemical

Pengendalian :
– Menyediakan sarana yang sesuai misal: tempat sampah, kantong plastik
– Memastikan sarana tersebut tidak bocor, rusak
– Memasang simbol pada kemasan dan area tempat penyimpanan limbah sesuai dengan jenis limbah
– Melakukan aktfitas reduce, reuse, dan recycle misalnya mengurangi kuantitas sludge
– Menyediakan tempat penyimpanan yang sesuai standar yaitu bebas banjir, berjarak min 50 m dari fasilitas
umum
– Mempunyai ijin operasional alat terkait point 4 misal: ijin Incenerator
– Ada sistem pengamanan 24 jam, sarana penerangan yang cukup, pagar pengaman
– Ada sarana penanggulangan kebakaran misalnya APAR untuk setiap 100 m2 area penyimpanan dengan
kapasita 10 Kg
– Untuk limbah domestik, melakukan aktifitas daur ulang dan diserhakan kepada Dinas Kebersihan
Pengendalian (lanjutan…) :
– Mempunyai sarana penanggulangan tumpahan atau kebocoran misalnya secondary containment, tanggul, pit/selokan dan oil
trap
– Ada sarana penanggulangan keadaan darurat misalnya absorben, serbuk gergaji, pasir
– Tidak menyimpan limbah B3 melebih 90 hari kecuali kuantitas limbah kurang dari 50 kg/hari
– Untuk oli bekas, harus dibuang/dijual kepada pengumpul yang berijin
– Untuk limbah B3 padat misal sludge dibuang ke PPLI
– Melakukan pendataan terhadap limbah yang dihasilkan misalnya mencatat kuantitas limbah, jenis limbah
– Memberikan pelatihan kepada karyawan yang terlibat dalam pengolahan limbah B3 dan material B3
– Khusus untuk materia B3, wajib menyediakan MSDS
– Melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap karyawan yang terkait dengan pengelolaan material B3 dan Limbah B3

Dasar Hukum:
 Undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
 PP No. 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan limbah B3
 PP No. 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Kimia Berbahaya
 Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 186 tahun 1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia berbahaya ditempat
Kerja
 Keputusan Kepala Bapedal No. 5 tahun 1995 tentang Simbol dan label Limbah B3
 Keputusan Kepala Bapedal No. 255 tahun 1996 tentang Tata cara dan Persyaratan Penyimpanan dan
Pengumuplan Minyak Pelumas Bekas
Pengendalian Aspek
Kategori Dampak : Pencemaran Air
Proses Aspek Lingkungan
Painting, Platting Limbah Cair produksi
Toilet Limbah Cair Domestik

Pengendalian :
– Menyediakan sarana pengolah limbah Cair misalnya WWT produksi, WWT domestik
– Memisahkan saluran limbah cair dengan saluran limpahan air hujan, limbah domestik dengan saluran limpahan air
hujan
– Menyediakan sarana pencatat debit
– Menyediakan sarana penambilan sample dan Melakukan swa pantau setiap minggu
– Melakukan pemantauan kualitas air buangan setiap 6 bulan sekali kepada laboratorium eksternal
– Tidak melakukan pengenceran untuk mengurangi konsentrasi B3
– Menyediakan sarana penampung limbah
– Menyediakan APD yang sesuai
– Membuat close system atau mendaur ulang limbah cair

Dasar Hukum:
 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 tahun 1995 tentang Baku mutu limbah Cair untuk kegiatan industri
PROSEDUR ‘’RIMS’’

Membuat suatu sistem untuk mengidentifikasi dengan


sistematis semua Bahaya dan Aspek Lingkungan yang
DOKUMEN ada di setiap jobsite.

Membuat sistem untuk menilai secara sistematis Risiko dan


Dampak Lingkungan yang terkait dengan Bahaya dan
Dampak Lingkungan yang telah diidentifikasi.

Memastikan bahwa terdapat Rencana Pengendalian yang


HIRA/ IBPR tepat untuk mengurangi risiko sampai ke tingkat yang
dapat diterima.
PENILAIAN RESIKO

RESIKO
KRITIKAL

TINGGI

KONSEKUENSI KOMBINASI
KEKERAPA SEDANG
N
RENDAH
Identifikasi Bahaya K3 dan Identifikasi Aspek
Lingkungan mencakup :
MULAI
Melakukan Observasi
 Semua area yang diidentifikasi.
tempat kerja sesuai
Persiapan data Denah, Lokasi, petunjuk Data  Sumber-sumber bahaya dan aspek lingkungan
jenis pekerjaan Mesin-Mesin
Bahan-bahan yang digunakan,
jam kerja, dll Melakukan penilaian
bahaya berdasarkan 5
 Bahaya-bahaya yang timbul baik dari dalam tempat
( RHSHEM -001)
Faktor bahaya kerja maupun luar tempat kerja.
dilakukan dengan
pengamatan atau  Aktivitas yang melibatkan seluruh personel yang mempunyai akses ke
interview
tempat kerja (termasuk kontraktor dan visitor).
Menentukan langkah Melakukan penilaian  Aktivitas rutin dan tidak rutin yang berhubungan K3
pengendalian berdasarkan
Hirarki pengendalian Resiko
resiko berdasarkan
table Metrixs Resiko
 Aktivitas normal dan abnormal yang berhubungan dengan lingkungan
maupun emergency.
 Perilaku manusia, kemampuan dan faktor-faktor manusia lainnya
Formulir Identifikasi Bahaya Melaporkan hasil  Prasarana, peralatan dan material di tempat kerja baik yang disediakan oleh
dan pengendalian resiko
(FRM HSE-001)
Identifikasi bahaya
penilaian resiko kepada
organisasi ataupun pihak lain
pimpinan perusahaan
 Rancangan area-area kerja, proses-proses, instalasi-instalasi, mesin/peralatan,
prosedur operasional dan organisasi kerja, termasuk adaptasi kepada
Menindaklanjuti
keputusan pimpinan kemampuan manusia dan mencakup Quality/mutu suatu proses.
SELESAI perusahaan terkait hasil
SELESAI
SELESAI identifikasi dan  Adanya kewajiban perundangan yang relevan terkait penilaian risiko dan dampak
pengendalian resiko
Lingkungan dan penerapan pengendalian yang dibituhkan
 Modifikasi/perubahan atau usulan perubahan baik Organisasi, Sistem manajemen
K3L, proses, aktivitas, material, jasa serta dampaknya kepada
operasional termasuk didalamnya perubahan sementara.
Pencatatan proses IBPR dan IADL dalam
MULAI
Melakukan Observasi
formulir standar memuat :
Persiapan data Denah, Lokasi,
tempat kerja sesuai
petunjuk Data 1. Nomor
2. Daftar operasional dan proses
jenis pekerjaan Mesin-Mesin
Bahan-bahan yang digunakan,
jam kerja, dll ( Melakukan penilaian
RHSHEM -001) bahaya berdasarkan 5
Faktor bahaya 3. Rincian aktifitas
4. Kondisi situasional (rutin, non rutin, normal, abnormal atau
dilakukan dengan
pengamatan atau
interview
emergency)
Menentukan langkah Melakukan penilaian
pengendalian berdasarkan resiko berdasarkan 5. Kegiatan yang berhubungan dengan K3/Lingkungan/Quality
6. Rincian Bahaya ,ancaman proses dan Aspek Lingkungan
Hirarki pengendalian Resiko table Metrixs Resiko

7. Rincian potensi resiko Risiko,kegagalan proses dan Dampak


8. Isu – isu internal dan Exsternal
Formulir Identifikasi Bahaya Melaporkan hasil
dan pengendalian resiko Identifikasi bahaya
(FRM HSE-001) penilaian resiko kepada
pimpinan perusahaan 9. Resiko terhadap hasil yang diharapkan
Menindaklanjuti 10. Opportuniteas terhadap hasil yang diharapkan(Peluang
keputusan pimpinan
SELESAI
SELESAI
SELESAI
perusahaan terkait hasil untuk melakukan perbaikan)
identifikasi dan
pengendalian resiko 11. Interested parties (bagian terkait)
12. Kebutuhan,harapan kewajiban,kepatuhan
MULAI
Identifikasi Bahaya K3 dan Identifikasi Aspek
Melakukan Observasi
Lingkungan mencakup :
tempat kerja sesuai
Persiapan data Denah, Lokasi, petunjuk Data
jenis pekerjaan Mesin-Mesin
Bahan-bahan yang digunakan,
jam kerja, dll ( Melakukan penilaian 13. Penilaian risiko dan dampak dengan kondisi / situasi
tanpa pengendalian, mencakup : Tingkat
RHSHEM -001) bahaya berdasarkan 5
Faktor bahaya

Konsekuensi, Tingkat Kekerapan dan Tingkat


dilakukan dengan
pengamatan atau
interview
Risiko (Kritikal, Tinggi, Medium atau
Menentukan langkah
pengendalian berdasarkan
Melakukan penilaian
resiko berdasarkan
Rendah).
Hirarki pengendalian Resiko table Metrixs Resiko
14. Daftar pengendalian risiko dan dampak yang ada
(existing control)
Formulir Identifikasi Bahaya
dan pengendalian resiko
Melaporkan hasil 15. Penilaian risiko dan dampak dengan kondisi dan situasi
Identifikasi bahaya
(FRM HSE-001) penilaian resiko kepada
pimpinan perusahaan
setelah pengendalian mencakup : Tingkat
Konsekuensi, Tingkat Kekerapan dan Tingkat
Menindaklanjuti
keputusan pimpinan
Risiko (Kritikal, Tinggi, Medium atau
SELESAI
SELESAI
SELESAI
perusahaan terkait hasil
identifikasi dan Rendah).
16. Verifikasi nilai risiko dan dampak
pengendalian resiko

17. Pengendalian tambahan (Additional Control)


18. Keterangan (Remark)
PELAKSANAAN HIRA/ IBPR
Contoh Pengisian:

JUDUL IBPR Urutan langkah


pekerjaan (min 7
- max 15 )
PELAKSANAAN HIRA/ IBPR
Contoh Pengisian:

Menerangkan kegiatan : Menerangkan


R = rutin &NR = Non rutin kegiatan
(K3) berhubungan
N = Normal AN = Tidak dengan K3/
normal (Lingk) Lingkungan & MUTU
E= Emergency
HSE
INTEGRATED TRAINING
IDENTIFIKASI BAHAYA
Tata Cara melakukan Idenfitikasi Bahaya K3 :
1. Tetapkan area cakupan
2. Cermati, semua : - Aktifitas Rutin dan Non Rutin
- Semua Alat dan Peralatan
- Semua Material dan bahan
3. Perhatikan kondisi lingkungan sekitar
4. Perhatikan kegiatan yang berhubungan dengan MUTU
5. Termasuk prilaku orang yang berada di area tsb, tanya tentang
pemikiran dan pertimbangan mereka.
5. Cermati informasi tertulis (ex. manual, MSDS)
6. Cermati semua hal, tetapi fokus pada bahaya berpotensi serius
7. Gunakan format standard penulisan IBPR
IDENTIFIKASI BAHAYA
Contoh Pengisian:

Bahaya (sumber,situasi,kondisi,segala
peluang/kemungkinan
sesuatu (zat, kondisi, perilaku) yang dapat
terpaparnya resiko yang
mengakibatkan kecelakaan
berakibat/ kecelakaan/
lingkungan / mutu
ASPEK : aktivitas ,produk atau jasa yang
berintraaksi dengan lingkungan
PENILAIAN KONSEKUENSI
Tingkat Konsekuensi

Tingkat konsekuensi yang diambil dalam


penilaian risiko dan dampak berdasarkan
skenario terburuk dari berbagai macam
konsekuensi

HSE
INTEGRATED TRAINING
PENILAIAN RESIKO
Penilaian Resiko
Penilaian risiko dan dampak lingkungan dilakukan dengan menentukan konsekuensi dan kekerapan dari
konsekuensi tersebut

Tingkat
Kekerapan
Tingkat
Resiko & Dampak

Tingkat
Konsekuensi

Keparahan dan kekerapan dikombinasikan untuk menentukan kategori tingkat risiko dan dampak dari hasil
identifikasi dan penilaian mengacu kepada Matriks Penilaian Risiko dan Dampak

HSE
INTEGRATED TRAINING
IBPR VS OTP

Penilaian Resiko :
Angka yang diberikan merupakan Best Profesional Judgement
dengan mempertimbangkan :
1. Worst Case Scenario
2. Efektifitas Pengendalian yang telah ada (semakin efektif,
semakin kecil kemungkinan / keparahannya)
3. Konsensus dari tim
PENILAIAN KONSEKUENSI
Contoh Pengisian:

Kegiatan/aktivitas
proses yang
berhubungan Kegiatan/aktivitas yang beresiko
menimbulkan biaya tambahan /
dengan isu Internal objective tidak tercapai
atau isu exsternal
PENILAIAN KONSEKUENSI
Contoh Pengisian:

Peluang untuk
melakukan
perbaikan/menjadi Berhubungan dengan pihak
program - program terkait (Management dan Berhubungan dengan
yang berhubungan custumer untuk internal) + persyaratan perundang-
dengan TSP/OTP (Management, undangan /peraturan –
(Program Behavior Based Government dan pertauran yang terkait
Safety) Customer untuk External)
Peraturan Perundangan di bidang
Lingkungan (Environment)
Pertambangan Undang-Undang no.32 / Minyak &
2009 Gas Bumi

B3 (Hazardous Limbah Cair Limbah Udara Persampahan


Waste) (waste water) (air emission)
UU no.25 /
PP no.18 / 1999 PP no.82 / 2001 PP no.41 / 1999 2008

PP no.85 / 1999 KepMen LH KepMen LH


no.35 / 95 no.13 / 95 General
PP no.74 / 2001 KepMen LH KepMen LH
no.48 / 96 KepMen
no.51 / 95
no.12 / 94
& others & others & others
Peraturan Perundangan di Keselamatan & Kesehatan
Kerja (K3) / Safety (1)
PP 7 1973 PP 19 1973
Pestisida Pertambangan
Uap 1930
Stoom Ordonantie PP 11 1979
Minyak & Gas Bumi

PerMen 01/81 Undang-Undang No.1 /


Kewajiban Melapor PerMen 01/76
Penyakit Akibat Kerja 1970 Wajib latih hiperkes
Dokter Perusahaan

PerMen 04/80 PerMen 01/78


Pemasangan APAR Keselamatan Kerja
Penebangan Kayu

PerMen 02/80 PerMen 05/78


Pemeriksaan PerMen 01/80
K3 pada Konstruksi Lift Listrik utk
Kesehatan Kerja Pengangkutan Orang
Bangunan
Peraturan Perundangan di Keselamatan & Kesehatan
Kerja (K3) / Safety (2)
PerMen 03 / 82
PerMen 02 / 82 Pelayanan Kesehatan
Klasifikasi Juru Las Tenaga Kerja
PerMen 01 / 82
Bejana Tekan PerMen 02 / 83
Instalasi alarm kebakaran
otomatik
PerMen 02/89
Pengawasan Instalasi Undang-Undang No.1 / PerMen 03/85
penyalur petir
1970 K3 Asbes

PerMen 01/89 PerMen 04/85


Klas & Syarat Pesawat tenaga
Operator Keran Angkat & produksi

PerMen 01/88 Kep Bersama 174/MEN PerMen 05/85


Klasifikasi & Syarat KPTS 104 / 1986 Pesawat angkat
Operator psw uap K3 pada tempat kegiatan & angkut
konstruksi
Peraturan Perundangan di Keselamatan & Kesehatan
Kerja (K3) / Safety (3)
Undang-Undang no.1 / Minyak &
Pertambangan
1970 Gas Bumi

Alat angkat & Bejana Pesawat Kesehatan


Listrik Konstruksi
angkut tekan produksi Kerja

Operator
Juru las Boiler Dokter Perancah?
Crane

Forklift Kebakaran Operator Paramedik


Boiler
Ambang batas
Operator Penyalur
Fisika & Kimia
Forklift petir

PUIL Asbes
PENILAIAN RESIKO
Contoh Pengisian:

Menerangkan keparahan, Konsekuensi dan kekerapan


mulai dari terkecil sampai dikombinasikan untuk
terbesar dari kesehatan, Menerangkan kekerapan dari menentukan tingkat resiko
keselamatan, kerusakan konsekuensi yang spesifik dari mengacu kepada matrik
harta benda, Mutu dan RESIKO yang dilakukan penilaian resiko & dampak
lingkungan sesuai dengan disesuaikan dengan matrik
matrik penilaian resiko & penilaian resiko & dampak
dampak
PENGENDALIAN RESIKO
Tujuan Pengendalian Resiko :
1. Meminimalkan dilakukannya suatu aktifitas berbahaya
2. Menurunkan kemungkinan terjadinya kecelakaan
3. Mengurangi tingkat keparahan jika terjadi kecelakaan
Metode Pengendalian Resiko :
Metode pengendalian resiko dipilih berdasarkan urutan – urutan
Pengendalian resiko. Satu atau lebih metode pengendalian resiko
Dapat dilakukan terhadap setiap bahaya yang teridentifikasi,
Sesuai dengan tingkat resikonya.
PENGENDALIAN RESIKO
Pengendalian Resiko

ELIMINASI
Pengendalian risiko dan dampak
SUBSTITUSI
lingkungan yang efektif harus
ENGINEERING dilakukan untuk menurunkan risiko
ADMINISTRASI dan dampak sampai pada tingkat
yang dapat diterima
APD

HIERARKI PENGENDALIAN RESIKO

HSE
INTEGRATED TRAINING
PENGENDALIAN RESIKO

Pengendalian Resiko

Resiko Pengendalian
Eliminasi TERMINATE
Kritikan Substitusi
Tinggi TREAT
Engineering Isolasi
Administrasi Training TREAT
Sedang TRANSFER
Alat TREAT
pelindung
diri
Rendah TOLERATE
PENGENDALIAN RESIKO

Terminate Tidak diterima / disingkirkan


Tolerate Diterima / diabaikan /
ditoleransi control 4.3.1
Treat Diberi perlakuan / treatment /
pengendalian / pengelolaan
Transfer Dipindahkan ke pihak lain (lebih
memiliki kemampuan / mampu
mengelola resiko)

Eliminasi Dipilih, mana yang sesuai, yang tidak memungkinkan


dikendalikan -> disingkirkan
Substitusi Diganti (substitute) dengan bahan / alat yang lebih aman

Rekayasa (engineering) Dilakukan pengendalian secara teknik (e.g. Di-isolasi, dipasang


pengaman, guard, barrier, mesin secara teknik aman – cooler,
pengaman bertingkat)
Administrasi Diberikan tata aturan, rambu, prosedur (e.g. Training, prosedur
lock-out / tag-out)

Alat pelindung diri Pengendalian terakhir, di posisi orang / pelaku (e.g. seatbelt,
helmet, safety shoes) -> bukan sarana utama
(APD)
PENGENDALIAN RESIKO
Hirarki Pengendalian Resiko (OHSAS 18001) :
Eliminasi : Melakukan modifikasi terhadap metode proses atau bahan untuk menghilangkan seluruh bahaya. (100%)

Substitusi : Mengganti material, bahan atau proses dengan yang lebih sedikit bahanya. (75%)

Rekayasa : Mengisolasi bahaya dari manusia dengan alat pengaman atau (Engineering) dengan ruangan atau
pemisahan waktu. (50%)

Administrasi : Mengatur waktu atau kondisi pemaparan resiko. (30%)

Training : Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan sehingga menjadikan tugas tersebut menjadi berkurang
bahayanya bagi orang yang terlibat. (20%)

APD : Peralatan yang dirancang dan dipakai dengan tepat dapat mengurangi tingkat keparahan resiko yang tertinggal
(10%)
PENGENDALIAN TAMBAHAN

RESIKO Apabila tingkat risiko dan dampak setelah pengendalian masih


dalam tingkat yang tidak bisa diterima (kritikal dan tinggi)
SISA harus dilakukan pengendalian tambahan (additional
control) sampai kepada tingkat risiko yang bisa diterima dan
menjadi program di OTP

Pengendalian tambahan (additional control) harus terus dimonitor secara terus menerus untuk
memastikan pemenuhannya, sehingga harus ditentukan secara jelas :

Kolom Keterangan :
Tercantum program –program /project unggulan yang menjadi
skala prioritas
HSE
INTEGRATED TRAINING
PENGENDALIAN TAMBAHAN
Setelah Pengendalian dilakukan pada suatu bahaya aspek
Lingkungan maka resiko harus dinilai kembali untuk memastikan
Apakah :

1. Mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan / penyakit


akibat kerja / dampak lingkungan dengan efektif.
2. Mengurangi keparahan jika terjadi kecelakaan.
3. Menurunnya quality dari suatu produk/kegiatan atau proses
4. Memenuhi peraturan K3 atau persyaratan yang berlaku.
5. Dapat mengurangi kemungkinan terjadinya pencemaran
atau pemborosan SDA.
5. Dapat mengurangi derajat keparahan dampak lingkungan.
6. Sesuai dengan Hirarki Pengendalian Resiko.
PENGENDALIAN TAMBAHAN

Menilai Pengendalian Tambahan Lingkungan :


PENGENDALIAN TAMBAHAN
Contoh Pengisian:

Tingkat resiko Tingkat resiko


yang belum yang Dilakukan untuk mengevaluasi
Tindakan pengendalian
dikendalikan Resiko dan dampak sudahdikendali aktivitas dari pengendalian
dilakukan sesuai dengan kan yang sudah dilakukan; catatan
hierarki pengendalian insiden, tingkat kepatuhan dan
K3L. Yaitu Eliminasi, pelanggaran, hasil inspeksi &
Substitusi, Eng, observasi dan hasil audit untuk
Adm,training dan APD menjadi data stasistik
PENGENDALIAN TAMBAHAN
Contoh Pengisian:

Dilakukan apabila pengendalian masih


dalam tingkat yang tidak bisa diterima
(kritikal/ tinggi)
Memberikan keterangan bahwa
Ref: catatan insiden, tingkat kepatuhan
program menjadi project
dan pelanggaran, hasil inspeksi &
unggulan/skala prioritas
observasi dan hasil audit
PENILAIAN RESIKO

VERIFIKASI
Verifikasi Hasil Penilaian Risiko (IBPR) dan Identifikasi Aspek dan Dampak Lingkungan (IADL)

Departemen K3L melakukan verifikasi


terhadap hasil identifikasi dan penilaian
yang telah dilakukan oleh setiap
HSE
Departemen
Departemen

Verifikasi dilakukan untuk mengevaluasi effektivitas dari pengendalian yang telah dilakukan dengan
mempertimbangkan hal-hal antara lain :
• Catatan insiden
• Tingkat kepatuhan dan pelanggaran
• Hasil inspeksi dan observasi tugas
• Hasil Audit
HSE
INTEGRATED TRAINING
VERIFIKASI
Contoh Pengisian: HSE
INTEGRATED TRAINING

Revisi atau perubahan tanpa menunggu Melakukan verivikasi &


masa periode identifikasi penilaian mengevaluasi efektifitas IBPR Memastikan proses IBPR
setiap 6 bulan, jika terjadi ; yang telah dilakukan dengan telah dilakukan di wilayah
penambahan proses kerja baru, alat mempertimbangkan; catatan area tanggung jawabnya dan
baru,Memastikan bahwa
perubahan peraturan K3 atau insiden, tingkat kepatuhan dan menunjuk orang YANG
telah terjadi insiden
prosesberpotensi serius pelanggaran, hasil inspeksi & kompeten untuk menyusun
IBPR
IBPRdilaksanakan di audit
Jobsitenya.
PENILAIAN RESIKO
IBPR

Pengendalian risiko dan dampak lingkungan akan dibahas dalam


tinjauan manajemen berikutnya pada tahun berjalan untuk dasar
dalam menentukan Tujuan, Sasaran dan Program K3L dengan
mempertimbangkan :
• Regulasi (Peraturan pemerintah)
• Kepentingan Finansial Perusahaan
• Plan Management / Activity Management
• Kebijakan K3L.
IBPR LANJUTAN
Dewan K3L bertanggung-jawab untuk menyusun
sebuah “Protokol Pengendalian Risiko Tinggi
(PPRT)” terhadap “Top High Risk” yang
teridentifikasi dari proses IBPR dan IADL di
seluruh Jobsite.

“PPRT” yang telah disusun digunakan sebagai


pedoman pengelolaan “Top High Risk” di seluruh
jobsite.
IBPR & IADL

•IBPR dan IADL yang telah disusun di setiap departemen harus disetujui oleh
Kepala Bagian terkait, Kepala Bagian K3L dan Project Manager termasuk setiap
revisi atau perubahan dari hasil peninjauan ulang.
•Kepala Bagian K3L harus merangkum semua proses IBPR dan IADL dan
menentukan ”Top High Risk” di setiap bagian.
•Semua karyawan harus menerima sosialisasi tentang semua “IBPR dan IADL”
yang ada (baru ataupun revisi) secara terus menerus.
•Semua karyawan harus menandatangani absensi kehadiran setiap kali
menghadiri acara pengenalan / pelatihan / bimbingan “IBPR dan IADL”.
•Catatan rinci semua pengenalan / pelatihan / bimbingan “IBPR dan IADL”
yang dilakukan di semua Jobsite harus disimpan dengan baik.
PENINJAUAN ULANG
Setiap orang yang telah ditunjuk, melakukan proses Identifikasi Bahaya
dan Penilaian Risiko (IBPR) dan Identifikasi Aspek dan Dampak
Lingkungan (IADL) setiap 6 (enam) bulan sekali.

Setiap orang yang telah ditunjuk melakukan peninjauan ulang atau


perubahan hasil identifikasi tanpa menunggu jatuh tempo periode
identifikasi dan penilaian (setiap 6 bulan sekali) jika terjadi:

• Penambahan proses kerja baru


• Penambahan alat kerja baru
• Perubahan peraturan K3L
• Terjadi insiden dengan kategori serius atau potensi serius. Kategori
insiden mengacu kepada Pelaporan dan Penyelidikan Insiden.
HAZARD
IDENTIFICATION
ф
RISK ASSESMENT