Anda di halaman 1dari 7

Disfungsi lapisan endotelium pembuluh kapiler glomeruli  peningkatan

permeabilitas membran filtrasi pada glomeruli  makromolekul seperti albumin


dapat melewati membran filtrasi

Plak atau foam cell menumpuk pada dinding pembuluh darah  terjadi penyempitan
hingga penyumbatan (aterosklerosis)  memicu berbagai penyakit kardiovaskular
 meningkatkan mortalitas pasien.

Kelainan DMT2 ditandai dengan timbulnya gangguan sekresi insulin, resistensi insulin,
produksi glukosa berlebih dari hati, serta metabolisme lemak yang abnormal.
Obesitas viseral atau sentral sangat umum terlihat pada pasien ini. DMT2 juga
dipengaruhi oleh faktor genetik, terutama dari yang berasal orang tua. Pada pasien
DMT2, resistensi insulin pada hati dan jaringan otot akan menunjukkan kegagalan
insulin untuk memasukkan glukosa ke dalam sel. Resistensi insulin ini juga akan
menimbulkan peningkatan free fatty acid (FFA) yang meningkatkan produksi
trigliserida serta very low density lipid (VLDL) oleh sel hepar. Peningkatan
trigliserida akan menghambat produksi high density lipid (HDL) sehingga terjadi
penurunan kadar HDL. Semua faktor ini akan menyebabkan pasien DMT2
mengalami kelainan CVD.
• Ginjal merupakan organ yang berfungsi
menjaga homeostasis.
• Unit fungsional utama ginjal adalah nefron
yang terdiri dari glomerulus dan tubulus.
• Glomeruli merupakan jaringan kapiler yaitu
arteriol aferen dan arteriol eferen dan
dikelilingi oleh membran capsula bowman
Terdapat 3 mekanisme terjadinya proteinuria, yaitu:
1. Kerusakan dinding kapiler glomeruli,
menyebabkan protein plasma dengan berat
molekul besar lolos dan melampaui kemampuan
reabsorbsi tubulus  terjadi proteinuria.
Kerusakan kapiler glomeruli ini dapat
disebabkan oleh peningkatan ukuran atau
jumlah pori atau perubahan muatan listrik
dinding glomerulus.
• Adanya kerusakan tubulus  menyebabkan
gangguan kemampuan reabsorbsi
• Hipertensi dapat menjadi penjadi penyebab dan akibat dari
nefropati diabetikum.
• Dalam glomerulus, efek awal dari hipertensi sistemik adalah dilatasi
arteriola afferentia, yang berkontribusi kepada hipertensi
intraglomerular, hiperfiltrasi, dan kerusakan hemodinamik. Respon
ginjal terhadap system renin-angiotensin menjadi abnormal pada
ginjal diabetes 11. Untuk alasan ini, agen yang dapat mengkoreksi
kelainan tekanan intraglomerular dipilih dalam terapi diabetes. ACE
inhibitors secara spesifik menurunkan tekanan arteriola efferentia,
karena dengan menurunkan tekanan intraglomerular dapat
membantu melindungi glomerulus dari kerusakan lebih lanjut, yang
terlihat dari efeknya pada mikroalbuminuria. Terutama setelah
mikroalbuminuria muncul, kontrol metabolik hanya salah satu
faktor dalam mencegah progresi penyakit ginjal. Hipertensi pada
stadium ini diperkirakan menjadi penyabab penurunan cepat
kerusakan ginjal.

• ACE inhibitor bekerja dengan menginhibisi angiotensin
converting enzyme yang berperan mengubah
angiotensin 1 menjadi angiotensin 2 yang merupakan
vasokonstriktor penyebab terjadinya peningkatan
tekanan darah. ACE inhibitor juga dapat mencegah
perkembangan kelainan ginjal akibat hipertensi dengan
menurunkan tekanan intraglomerular. Selain itu,
melalui sistem renin-angiotensin, ACE inhibitor juga
dapat menurunkan kadar proteinuria.
• Efek anti-proteinuria ini juga terdapat pada obat ARB
yang bekerja menghambat reseptor angiotensin 2
sehingga menimbulkan efek yang sama seperti ACEI.
• Sejumlah besar protein secara normal
melewati kapiler glomerulus tetapi tidak
memasuki urin.
• Muatan dan selektivitas dinding glomerulus
mencegah transportasi albumin, globulin dan
protein dengan berat molekul besar untuk
menembus dinding glomerulus. Jika sawar ini
rusak, terdapat kebocoran protein plasma
dalam urin (protein glomerulus).