Anda di halaman 1dari 9

ISU KONTEMPORER

AKUNTANSI WA’D
KELOMPOK 2
ELOK RISKIKA PUTRI 175020300111003
DAH SUCI KHOIRIYAH 175020300111012
• Wa'd yang merupakan janji dari satu pihak kepada pihak lain
untuk melaksanakan sesuatu di masa mendatang diterapkan pada
beberapa transaksi syariah, seperti wa'd yang ada dalam
murabahah, ijarah muntahiyah bittamlik, line facility, jual-sewa-beli
(al-bai` wa al-isti’jar) dalam penerbitan sukuk, jual-sewa-janji-beli
(al-bai` ma`a al-wa`d bi al-syira’) dalam repo surat berharga
syariah, dan lindung nilai syariah (al-tahawwuth al-Islami).
PENGERTIAN DAN
KARAKTERISTIK
• Hal utama yang membedakan antara wa'd dan akad adalah hak
ME NURUT PSAK 1 1 1 dan kewajiban hukum akad. Wa'd belum menimbulkan hak dan
kewajiban hukum akad, sementara akad telah menimbulkan hak
dan kewajiban hukum akad. Penunaian suatu wa'd akan
dituangkan melalui suatu akad.

• Janji (wa'd) dalam transaksi syariah bersifat mengikat (mulzim).


melakukan perbuatan tertentu.
Ketentuan 1. Wa 'Ad harus cakap hukum (ahliyyat al-wujub
Umum wa al-ada
2. Dalam hal janji dilakukan oleh pihak yang
belum cakap hukum, maka efektivitas
keberlakukan janji tersebut bergantung pada
izin wali/pengampunya; dan
3. Wa'id harus merniliki kemampuan dan
kewenangan untuk mewujudkan mau'ud
bih.

Ketentuan 1. Wa 'd harus dinyatakan secara tertulis


WA’AD/JANJI Khusus dalam akta/kontrak
NO: 85/DSN-MUIIXII/2012 perjanjian;
2. Wa'd harus dikaitkan dengan sesuatu (syarat) yang
harus dipenuhi atau dilaksanakan mau 'ud (wa 'd
bersyarat);
3. Mau 'ud bih tidak bertentangan dengan syariah;
4. Syarat sebagaimana dimaksud angka 2)
tidak bertentangan dengan syariah; dan
5. Mau 'ud sudah memenuhi atau
melaksanakan syarat sebagaimana dimaksud angka 2).
• Ketika entitas memberikan wa'd kepada entitas lain,
maka hal tersebut belum memunculkan aset atau
liabilitas dalam laporan keuangan. Hal yang sama juga
berlaku ketika entitas menerima wa'd dari entitas
lain. Wa'd hanya memunculkan potensi aset atau
potensi liabilitas di masa mendatang, tetapi bukan PENGAKUAN
aset atau liabilitas saat ini.

• Entitas mengakui aset atau liabilitas yang terkait pada


saat akad dilakukan atas dasar wa'd sebelumnya
sesuai dengan pengaturan dalam PSAK lain yang
relevan.
• Entitas mengungkapkan informasi yang memungkinkan
pengguna untuk mengevaluasi sifat dan luas dari
pemberian atau penerimaan wa’d serta dampaknya
terhadap posisi dan kinerja keuangan yang meliputi
tetapi tidak terbatas pada:
• (a) Uraian mengenai kesepakatan pokok dalam wa’d,
termasuk jenis, nilai, jangka waktu, dan pihak lawan.
PENGUNGKAPAN
• (b) Tujuan, kebijakan, dan pengelolaan risiko yang
WA’D
muncul dari wa'd.
• (c) Dampak potensial wa'd terhadap aset, liabilitas,
penghasilan, dan beban pada akhir periode.
• (d) Analisis mengenai dampak terhadap aset, liabilitas,
penghasilan, dan beban pada saat akad dilakukan atas
dasar wad.
• Aturan mengenai ijârah muntahiya bi al-tamlîk (IMBT)
terdapat dalam fatwa DSN-MUI Nomor: 27/DSN-
MUI/III/2002. Ketentuan mengenai wa‟ad (janji) dalam
akad ini adalah sebagai berikut:
• (1) Pihak yang melakukan al-Ijarah al-Muntahiah bi al-
Tamlik harus melaksanakan akad Ijarah terlebih dahulu.
Akad pemindahan kepemilikan, baik dengan jual beli atau
pemberian, hanya dapat dilakukan setelah masa Ijarah
selesai;
• (2) Janji pemindahan kepemilikan yang disepakati di awal
akad Ijarah adalah wa'd yang hukumnya tidak mengikat. IMPLEMENTASI
• Apabila janji itu ingin dilaksanakan, maka harus ada akad DALAM IJARAH
pemindahan kepemilikan yang dilakukan setelah masa
Ijarah selesai. Ketentuan mengenai konsep w’ad yang
terdapat dalam fatwa DSN-MUI Nomor:
27/DSNMUI/III/2002 tentang IMBT terlihat dalam poin
kedua, yaitu : Janji pemindahan kepemilikan yang disepakati
di awal akad Ijarah adalah wa'd, yang hukumnya tidak
mengikat. Apabila janji itu ingin dilaksanakan, maka harus
ada akad pemindahan kepemilikan yang dilakukan setelah
masa Ijarah selesai.
• Musyarakah Mutanaqisah adalah Syirkah yang
kepemilikan asset (barang) atau modal salah satu
pihak (syarik) berkurang disebabkan pembelian
secara bertahap oleh pihak lainnya.
• Konsep mengenai Musyarakah Mutanaqisah
(MMQ) terdapat dalam fatwa DSN-MUI Nomor:
IMPLEMENTASI 73/DSN-MUI/XI/2008. Ketentan mengenai wa‟ad
DALAM (janji) dalam fatwa tersebut terlihihat dalam
MUSYARAKAGH substansi fatwa sebagai berikut:
MUTANAQISAH • “Dalam akad Musyarakah Mutanaqisah, pihak
pertama (syarik) wajib berjanji untuk menjual
seluruh hishshah-nya secara bertahap dan pihak
kedua (syarik) wajib membelinya
• Pembiayaan Rekening Koran Syariah (PRKS) adalah
suatu bentuk pembiayaan rekening koran yang
dijalankan berdasarkan prinsip syari‟ah.
• Aturan mengenai PRKS (Pembiayaan Rekening Koran
Syariah) terdapat dalam fatwa DSNMUI Nomor;
55/DSN-MUI/V/2007. Dalam akad yang berlaku dalam
produk Rekening Koran Syariah terdapat janji dari
calon pembeli untuk membeli barang dari penjual. IMPLEMENTASI
• Janji yang dimaksud itu mengikat kedua belah pihak DALAM PRKS
sebagaimana dalam substansi fatwa DSN-MUI tentang
PRKS, yaitu: “Pembiayaan Rekening Koran Syariah
(PRKS) Musyarakah dilakukan berdasarkan akad
musyarakah dan boleh disertai dengan wa‟d”.
THANK YOU

someone@example.com