Anda di halaman 1dari 72

Muhammad Ardhi Fitranda 17710052

Afrinda Izzani W 18710030


Made Ardyani Ratnayika 18710061
Cokorda Gede Ari D 18710046
Mahdika Ambarwaty 18710036
Ripta Sekar S 18710071
LATAR BELAKANG
Retensi Urin merupakan suatu keadaan
darurat urologi yang paling sering ditemukan dan
dapat terjadi kapan saja dan dimana saja
Salah satu penyebab retensi urine adalah
BPH. Benign Prostat Hyperplasia merupakan
penyakit yang sering diderita pada pria yang
menimbulkan gejala-gejala bladder outlet
obstruction.
Pada wanita Salah satu komplikasi umum
yang terjadi setelah proses persalinan, baik
persalinan pervaginam atau sectio caesarea adalah
retensi urin postpartum.
ANATOMI
Fungsi ginjal :
• Pengeluaran zat toksik atau racun
• Mempertahankan keseimbangan cairan
• Mempertahankan keseimbangan kadar
asam dan basa dari cairan tubuh
• Mempertahankan keseimbangan garam-
garam dan zat-zat lain dalam tubuh
• Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil
akhir dari protein ureum, kreatinin, dan
amoniak.

Ureter berfungsi untuk menyalurkan urin dari


ginjal ke kandung kemih.
Kandung kemih berfungsi
sebagai tempat penampungan
sementara (reservoar) urin,
mempunyai selaput mukosa
berbentuk lipatan yang disebut
rugae (kerutan) dan dinding otot
elastis sehingga kandung kencing
dapat membesar dan menampung
jumlah urin yang banyak
Fungsi uretra yaitu untuk transport urin
dari kandung kencing ke meatus eksterna
FISIOLOGI MIKSI
2 fase • Fase Pengisian
utama • Fase Pengosongan
berkemih
• Sympathetic : Filling /storage
Sistem • Parasympathetic : voiding /
emptying
Saraf • Somatic : external sphincter
FASE PENGISIAN
Otak

Sistem Saraf Simpatis

Relaksasi vesica urinaria


dan Kontraksi bladder
neck

Bila bladder sudah setengah terisi, akan


mulai timbul rangsangan untuk
berkemih
FASE PENGOSONGAN
Otak

Sistem Saraf Parasimpatis dan


somatis

Kontraksi vesica urinaria, Relaksasi


bladder neck, relaksasi spinter uretra
interna

Proses pengeluaran urine


DEFINISI
Retensi Urin ?
Keadaan dimana penderita tidak dapat
mengeluarkan urin yang terkumpul didalam
buli-buli sehingga kapasitas maksimal dari buli-buli
dilampaui meskipun terdapat keinginan atau
dorongan terhadap hal tersebut.
ETIOLOGI

Kelemahan Inkordinasi otot Obstruksi


Otot Detrusor detrusor uretra Uretra

• kelainan kelenjar prostat (BPH, Ca)


• striktura uretra
Kelainan Kelainan saraf Trauma cauda • batu uretra
medulla spinalis perifer equina • kerusakan uretra (trauma)
• gumpalan darah didalam lumen
buli-buli (clot retention).
Klasifikasi Retensi Urin
Berdasarkan waktu Berdasarkan lokasi
kerusakan syaraf

AKUT KRONIS

• ketidakmampuan berkemih • tanpa rasa nyeri yang disebabkan • Supravesikal


yang tiba-tiba dan disertai oleh peningkatan volume residu
rasa sakit meskipun buli-buli urin yang bertahap
• Vesikal
terisi penuh • Sulit memulai berkemih • Infravesikal
• Tidak dapat berkemih sama • Tidak dapat mengosongkan
sekali kandung kemih dengan sempurna
• Disertai rasa nyeri
CONTOH PENYAKIT
Definisi
Disfungsi kandung kemih akibat kerusakan sistem saraf yang terlibat dalam
pengendalian berkemih. Bisa berupa kandung kemih tidak mampu berkontraksi dengan baik
(underactive bladder) maupun kandung kemih terlalu aktif dan melakukan pengosongan
kandung kemih berdasar refleks yang tak terkendali (overactive bladder).

Etiologi
• penyakit infeksius yang akut seperti mielitis transversal,
• kelainan serebral (stroke, tumor otak, penyakit Parkinson, multiple sklerosis, demensia),
• alkoholisme kronis,
• penyakit kolagen seperti SLE
• keracunan logam berat
• herpes zoster
• gangguan metabolik
• penyakit atau trauma pada medulla spinalis
• penyakit vaskuler
MANIFESTASI KLINIS
• infeksi saluran kemih,
• batu ginjal,
• inkontinensia urin,
• volume urine kecil selama berkemih,
• frekuensi dan urgensi kemih,
• dribbling urin yang merupakan suatu keadaan dimana urin menetes
pada akhir miksi,
• hilangnya sensasi kandung kemih penuh.
PATOFISIOLOGI
Apabila sistem saraf pusat atau system saraf tepi yang merupakan jalur persarafan
system perkemihan mengalami gangguan maka akan mengganggu proses berkemih.
Berdasarkan lokasinya penyebab, Neurogenic Bladder dibagi menjadi tiga, antara lain :

• Lesi supra pons


Kerusakan pada umumnya akan berakibat hilangnya inhibisi dan menimbulkan keadaan
hiperrefleksi.

• Lesi antara pusat miksi pons dan sakral medula spinalis


Lesi medula spinalis yang terletak antara pusat miksi pons dan bagian sacral medula spinalis
akan mengganggu jaras yang menginhibisi kontraksi detrusor dan pengaturan fungsi sfingter
detrusor

• Lesi Lower Motor Neuron (LMN)


Kerusakan pada radiks S2-S4 baik dalam canalis spinalis maupun ekstradural akan
menimbulkan gangguan LMN dari fungsi vesica urinaria dan hilangnya sensibilitas vesica
urinaria.
DIAGNOSIS
Anamnesis Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Penunjang

mengetahui bagaimana pemeriksaan rektal, Pemeriksaan laboratorium


pola buang air kecilnya atau genitalia, serta pemeriksaan dinding yaitu dengan memeriksa urin
ada tidak gangguan saat perut (abdominal) untuk mengecek ataupun darah. Pemeriksaan
berkemih serta mengetahui ada tidaknya pembesaran pada urodinamika yaitu
adanya faktor-faktor resiko. bladder ataupun kelainan lainnya. Cystometrography, Postvoid residual
Pemeriksaan neurologis urine, Uroflometri,
untuk menentukan kelainan Elektromielografi. Pemeriksaan
neurologis yang menjadi dasar sistoskopi, pemeriksaan imaging X-
terjadinya neurologic bladder, uji ray, USG, CT-Scan serta MRI.
neurologis harus mencakup status
mental, refleks, kekuatan motorik
dan sensibilitas (termasuk
dermatomal sakral)
PENATALAKSANAAN
• Terapi non farmakologis : Bladder training
• Terapi farmakologis
 Anti kolinergik : Hiosiamin ( Levbid) 0.125 mg, Dicyclomine hydrochloride (Bentyl) 10-20 mg
 Anti spasmodic : Oksibutinin (ditropanXL) 5-15 mg, Tolterodin(detrol) 2 mg
 Obat Betanekol klorida (urecholine) : Betanekol klorida 10-50 mg 3-4 kali dalam sehari
• Operatif : membuat jalan lain untuk mengeluarkan urin, memasang alat untuk menstimulasi otot
kandung kemih

Komplikasi
Resiko terkena infeksi saluran kemih (ISK) dan gangguan saluran keluar kandung kemih
(bladder outlet obstruction). Pada pasien dengan neurogenic bladder, jika mereka tidak diobati
secara optimal maka juga bisa menyebabkan sepsis dan gagal ginjal.

Prognosis
Pengobatan yang tepat dapat membantu mencegah disfungsi permanen dan kerusakan ginjal
ANATOMI
Kelenjar prostat merupakan kelenjar fibromuskuler (serabut otot
polos yang bercampur serat kolagen dan elastik) diselubungi oleh
kapsula prostatika (jaringan fibrosa berisi pembuluh darah dan saraf).

Dibagi menjadi 5 lobus Berdasarkan zona


1. Lobus anterior/istmus (depan) 1. Zona Perifer (zona sisi)
2. Lobus medius (tengah) 2. Zona Transisional (zona pertengahan)
3. Lobus posterior 3. Zona Sentral (zona pusat)
4. Lobus lateral kanan 4. Zona lain selain komponen kelenjar
5. Lobus Lateral kiri
FUNGSI PROSTAT
1. Male sexual response (ereksi)
2. Sekresi ( cairan merupakan komponen semen. Cairan ini
berfungsi untuk memberikan nutrisi dan perlindungan
terhadap sperma agar dapat bertahan dalam lingkungan
vagina).
3. Regulasi (hormon DHT)
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), atau disebut
Benign Prostatic Hypertrophy merupakan diagnosis histopatologis
ditandai adanya proliferasi sel stroma dan sel epitel dari prostat.

BPH 70% pada > 60 tahun

90% pada >90 tahun

22
Belum diketahui secara
pasti

1. Peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT)


Paling
2. Pengaruh hormon lain (estrogen, prolaktin) sering
3. Pola diet
4. Mikrotrauma
5. Inflamasi Faktor Risiko
6. Obesitas yang paling
7. Aktivitas fisik berperan USIA
23
24
GEJALA KLINIS
Gejala LUTS  manifestasi kompensasi otot buli untuk mengeluarkan urin.
1. gangguan pengeluaran/obstruktif/voiding
. Weak steam
. Hesistansi
. Emptying incomplete
Residu urin
. Intermittensi semakin banyak
. Terminal dribbling  Fatigue fase
2. gangguan penyimpanan/storage dekompensasi
. Frequency RETENSI URIN
. Urgency
. Nocturia
25
. Dysuria
Diagnosis BPH dapat ditegakkan berdasarkan berbagai
pemeriksaan awal dan pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan awal
berupa anamnesis dan pemeriksaan fisik sedangkan pemeriksaan
tambahan yangg bisa dilakukan diantaranya pemeriksaan laboratorium,
radiologi, dan uroflowmetri.

26
ANAMNESIS

27
PEMERIKSAAN FISIK
• Ginjal : inspeksi dan palpasi apakah ada Colok Dubur (Rectal Toucher)
pembesaran
Evaluasi :
• Buli-buli :
1. Tonus sfingter ani
• Inspeksi : Tampak penonjolan abdomen
di daerah suprapubik (buli-buli penuh) 2. Bulbocavernosa refleks
• Palpasi : tekanan di daerah suprapubik 3. Mukosa rektum
menimbulkan perasaan ingin miksi
Prostat :
• Perkusi : buli-buli penuh berisi urin 
redup Ukuran , Konsistensi, Permukaan,
Nyeri Tekan, Pole atas dan bawah,
Sulkus mediana
28
DERAJAT PEMBESARAN PROSTAT
Berdasar teraba atau tidaknya pole atas
Berdasar penonjolan prostat ke rektum
1. Grade 1 : pole atas mudah dicapai
1. Grade 0 : penonjolan 0-1 cm
2. Grade 2 : pole atas dapat dicapai tapi
2. Grade 1 : penonjolan 1-2 cm sulit
3. Grade 2 : penonjolan 2-3 cm 3. Grade 3 : pole atas hanya teraba pada
4. Grade 3 : penonjolan 3-4 cm touche bimanual

5. Grade 4 : penonjolan ≥ 4 cm 4. Grade 4 : pole atas tidak teraba

29
PEMERIKSAAN TAMBAHAN
1. Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap, urine lengkap, pemeriksaan fungsi
ginjal, dan PSA (Prostate Spesific Antigen).
2. Pemeriksaan radiologis : pemeriksaan USG (pemeriksaan transabdominal (TAUS)
ataupun transrektal (TRUS)).
3. Uroflowmetri

30
31
TATALAKSANA
1. Watchful waiting (tidak memerlukan medikamentosa hanya edukasi dan perubahan gaya hidup,
biasanya untuk BPH yang gejalanya ringan/tidak mengganggu)
2. Medications :
a. alpha blockers : tamsulosin, terazosin, alfuzosin,doxazosin
b. ARI: (finasteride, dutasteride)
3. Minimally invasive treatments (thermotherapy)
a. Laser (e.g., non-contact, contact, interstitial types)
b. Microwave (e.g., TUMT)
c. Other thermotherapies (e.g., Prostiva™ RF therapy [previously known as TUNA])
4. Surgical treatments
a. Transurethral resection of the prostate (TURP)
b. Holmium laser enucleation of the prostate (HoLEP)
c. Prostatectomy
d. Transurethral incision of the prostate (TUIP)
e. Transurethral ultrasound-guided laser incision of the prostate (TULIP)
DEFINISI
Kanker Prostat
penyakit kanker yang
menyerang kelenjar prostat dengan
sel-sel prostat, tumbuh secara
abnormal dan tidak terkendali,
sehingga mendesak dan merusak
jaringan sekitarnya yang merupakan
keganasan terbanyak diantara sistem
urogenitalia pada pria.

34
PATOFISIOLOGI
Sebagian besar kanker prostat adalah
adenokarsinoma yang berasal dari sel asinar
prostat dan bermula dari volume yang kecil
kemudian membesar hingga menyebar.
Karsinoma prostat paling sering
ditemukan pada zona perifer sekitar 75%,
pada zona sentral atau zona transisi sekitar 15-
20%, sedangkan menurut Presti (2004), dan
Purnomo (2011), sekitar 60-70% terdapat pada
zona perifer, 10-20% pada zona transisional,
dan 5-10% pada zona sentral.
GEJALA

keluhan
Keluhan saluran
saluran
berkemih
berkemih
bagian bawah
bagian atas

Gejala Gejala
obstruksi iritatif
37
PENATALAKSANAAN

Stadium Alternatif terapi


T1-T2 (A-B) Radikal prostatektomi
Observasi (pasien tua )

T3-T4 (C) Radiasi


Prostektomi

N atau M (D) Radiasi


Hormonal

39
Striktur Uretra
Penyempitan lumen uretra akibat adanya
jaringan parut dan kontraksi.
Infeksi yang paling sering menimbulkan striktur uretra adalah
• infeksi oleh kuman gonokokus, yang sempat menginfeksi uretra sebelumnya.

Trauma yang dapat menyebabkan striktur uretra adalah


• trauma tumpul pada selangkangannya (straddle injury),
• fraktur tulang pelvis
• cedera pasca bedah
41
• Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktur urethra dibagi menjadi 3
tingkatan, yaitu:
1. Ringan, jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen urethra.
2. Sedang, jika terdapat oklusi 1/3 sampai dengan ½ diameter lumen urethra.
3. Berat, jika terdapat oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen urethra. Pada
penyempitan derajat berat, kadang kala teraba jaringan keras di korpus
spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.

42
ANAMNESIS
Diawali dengan sulit kencing atau pasien harus mengejan
untuk memulai kencing namun urine hanya keluar sedikit-
sedikit.
Gejala-gejala lain : adanya disuria, frekuensi kencing
meningkat, hematuria, dan perasaan sangat ingin kencing
yang terasa sakit. Jika curiga penyebabnya adalah infeksi,
perlu ditanyakan adanya tanda-tanda radang seperti demam
atau keluar nanah.

43
PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi :
Perhatikan meatus uretra eksterna, adanya pembengkakan atau fistel di
sekitar penis, skrotum, perineum, dan suprapubik.

Palpasi :
Apakah teraba jaringan parut sepanjang uretra anterior pada ventral
penis, jika ada fistel kita pijat muaranya untuk mengeluarkan nanah di
dalamnya. Pemeriksaan colok dubur berguna untuk menyingkir
diagnosis lain seperti pembesaran prostat.

44
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Uroflowmetri
• Uretroskopi
• Urinalisis
• DL

45
Beberapa pilihan terapi untuk striktur uretra :
• Dilatasi uretra
• Uretrotomi interna
• Pemasangan stent
• Uretroplasti
• Prosedur rekonstruksi multiple

46
Fimosis adalah prepusium penis yang tidak
dapat diretraksi (ditarik) ke proksimal sampai
ke korona glandis.
48
• Fimosis dialami oleh sebagian besar bayi baru lahir karena terdapat adesi alamiah
antara prepusium dengan glans penis.
• Hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang, dan debris yang dihasilkan
oleh epitel prepusium (smegma) mengumpul di dalam prepusium dan perlahan-lahan
memisahkan prepusium dari glans penis.
• Ereksi penis yang terjadi secara berkala membuat prepusium terdilatasi perlahan-
lahan sehingga prepusium menjadi retraktil dan dapat ditarik ke proksimal. Pada saat
usia 3 tahun, 90% prepusium sudah dapat diretraksi.

49
ETIOLOGI

• Fimosis fisiologis terjadi pada bayi laki-laki yang baru lahir, dimana preputium
melekat pada glans penis dan akan terpisah dari waktu ke waktu.
• Fimosis patologis terjadi karena kebersihan yang buruk dan adanya Infeksi
(balanithis, postitis, balanitisxerosisobliterans)

50
GEJALA KLINIS

• Fimosis fisiologis hanya melibatkan non-retraksi kulup. Mungkin ada beberapa


bentukan gelembung saat buang air kecil. Tetapi rasa sakit, disuria, dan infeksi lokal
atau urin tidak terlihat.
• Dalam phimosis patologis, biasanya ada rasa sakit, kulit iritasi, infeksi lokal,
perdarahan, disuria, hematuria, episode infeksi saluran kemih yang sering, nyeri
preputial, ereksi dan hubungan seksual yang terasa menyakitkan, dan aliran urin
yang lemah. Kadang-kadang, terlihat adanya enuresis atau retensi urin.

51
DIAGNOSIS
• Diagnosis phimosis terutama ditegakkan pada gejala klinis dan tidak ada tes
laboratorium atau studi pencitraan yang diperlukan.

TINDAKAN
• Fimosis yang disertai balanitis xerotika obliterans dapat dicoba diberikan salep
deksametasone 0,1% yang dioleskan 3 atau 4 kali. Diharapkan setelah pemberian
selama 6 minggu, prepusium dapat diretraksi spontan.
• Fimosis yang menimbulkan keluhan miksi, menggelembungnya ujung prepusium
pada saat miksi, atau fimosis yang disertai dengan infeksi postitis merupakan
indikasi untuk dilakukan sirkumsisi. Tentunya pada balanitis atau postitis harus
diberi antibiotika dahulu sebelum sirkumsisi.
52
BATU URETRA

• Batu uretra biasanya berasal dari ginjal/ureter


yang turun ke buli-buli, kemudian masuk ke
uretra
• Batu primer yang terbentuk di uretra sangat
jarang, kecuali terbentuk di dalam divertikel
uretra
DIAGNOSIS
• Anamnesis :
• nyeri pingang,
• nyeri colic,
• hematuria,
• dysuria,
• Deman
• retensi urine.
Pemeriksaan fisik
• keadaan umum : tampak kesakitan (saat serangan kolik),
demam menggigil (infeksi)

• inspeksi : cva masa ginjal ?

• Palpasi : teraba ginjal yang mengalami hidronefrosis,


bulu-buli penuh - retensi urin.

• Perkusi : nyeri ketok pada cva (hidronefrosis, infeksi)


Pemeriksaan penunjang

a. Laboratorium
• LAB urinalis :( leukositturia, hematuria, proteinuria)
• Faal ginjal : ureum, kreatinin,elektrolit
• Kultur urine+ tes sensitivitas antibiotic
• Analisis biokimia batu
b. Radiologis
• BOF
• IVP
• USG
PENATALAKSANAAN

• Medikamentosa
• Extracorporeal shockwave lithotripsy (ESWL)
• Edourologi
• Laparoskopi
• Bedah terbuka : nefrolithotomi, pielolithotomi, uretrlithotomi, vesicolithotomi,
nefrektomi.
PATOFISIOLOGI RETENSI URIN
• Retensi akut bisa diendapkan atau spontan, sedangkan retensi kronis bisa berupa
tekanan rendah atau tekanan tinggi.
• Retensi urin umumnya hasil dari obstruksi anatomi dari benign prostatic hyperplasia
(BPH), karsinoma prostat, striktur uretra; penyebab iatrogenik seperti terapi injeksi
bulking agents dari Intrinsic Sphincter Deficiency (ISD); dan juga penyebab
psikogenik.
• Peningkatan resistensi outlet yang terlihat pada pasien dengan bladder outlet
obstruction (BOO) adalah mekanisme retensi urin yang paling umum.
• Pada awalnya ada gejala obstruktif ringan, namun, pasien mungkin sering tidak
melihat perubahan signifikan dalam pola berkemih, terutama dengan apa yang
disebut retensi tekanan tinggi.
• Peningkatan resistensi outlet dapat menyebabkan dilatasi kandung kemih, hipertrofi,
trabeculation, sacculations, dan diverticulation.
• Peningkatan tekanan residu berkepanjangan yang meningkat pada akhirnya
menyebabkan disfungsi kandung kemih dan dapat bermanifestasi sebagai
ketidakstabilan detrusor dengan penurunan penyesuaian dan kompromi fungsi
penyimpanan yang memperburuk gejala lower urinary tract symptoms (LUTS).
• Kandung kemih yang disfungsional seperti itu dapat tiba-tiba mengalami
dekompensasi, memuncak pada AUR, atau secara diam-diam dengan distensi
kandung kemih yang progresif, menghasilkan retensi kronis.
• Retensi kronis dapat berupa tekanan tinggi (≥30 cm H2O) atau tekanan rendah.
• Kandung kemih menjadi tidak sensitif, hipokontraktil, memungkinkan distensi di luar
kapasitasnya yang dapat muncul sebagai inkontinensia overflow atau enuresis
nokturnal.
GEJALA KLINIS
Retensi Urin Akut Retensi Urin Kronis
• Frekuensi kencing (delapan kali atau lebih
• Ketidakmampuan untuk buang air kecil banyak dalam sehari)
• Kebutuhan yang mendesak untuk buang air • Kesulitan memulai aliran urin
kecil • Aliran urin yang lemah atau terganggu
• Kebutuhan mendesak untuk buang air kecil
• Rasa sakit atau tidak nyaman di bagian bawah dengan sedikit keberhasilan ketika mencoba
perut untuk buang air kecil.
• Perut kembung bagian bawah • Merasakan kebutuhan untuk buang air kecil
setelah menyelesaikan buang air kecil.
DIAGNOSIS
• Tidak bisa kencing atau kencing menetes/sedikit-sedikit
• Proses kencing berlangsung lebih lama
• Rasa tidak puas pada akhir kencing
• BAK terputus, lalu keluar lagi
• Setelah BAK ada yang masih menetes

ANAMNESIS • Nocturia
• Frekuensi lebih sering
• Nyeri dan benjolan/massa pada perut bagian bawah
• Riwayat trauma: "straddle", perut bagian bawah/panggul, ruas
tulang belakang.
• Pada kasus kronis, keluhan uremia
Inspeksi:
• Penderita gelisah
• Benjolan/massa perut bagian bawah (buli penuh/kosong)

Palpasi dan perkusi:

PEMERIKSAAN • Teraba benjolan/massa kistik kenyal (undulasi) pada


perut bagian bawah.
FISIK • Bila ditekan menimbulkan perasaan nyeri pada pangkal
penis atau menimbulkan perasaan ingin kencing yang
sangat mengganggu.
• Terdapat bunyi redup pada perkusi.

RT untuk mencari apakah ada pembesaran prostat

1. DL
PEMERIKSAAN 2. Foto polos abdomen dan genitalia

PENUNJANG 3. Uretrografi
4. Ultrasonografi
PENATALAKSANAAN

Kateterisasi

• Drainase kandung kemih


• Pelebaran uretra
• Stent uretra
• Pengobatan prostat
Sistotomi
• Operasi • Trokar
• Terbuka
KOMPLIKASI
1. Infeksi Saluran Kemih
2. Bladder Damage (batu buli,dll)
3. Kidney Damage (Urolithiasis, Pielonefritis,dll)
4. Inkontinensia Urin

PROGNOSIS
Prognosis pada penderita dengan retensi urin akut akan
bonam jika retensi urin ditangani secara cepat.
KESIMPULAN
Retensi urin merupakan ketidakmampuan seseorang untuk mengeluarkan urin
yang terkumpul di dalam buli-buli hingga kapasitas maksimal buli-buli terlampaui.
Retensi urin memberikan gejala gangguan berkemih, termasuk diantaranya
kesulitan buang air kecil; pancaran kencing lemah, lambat, dan terputus-putus; ada
rasa tidak puas, dan keinginan untuk mengedan atau memberikan tekanan pada
suprapubik saat berkemih.
Penanganan retensi urin dengan mengevakuasi urin dari kandung kemih. Urin
dapat dikeluarkan dengan cara kateterisasi atau sistostomi buli-buli bila
fasilitas/sarana untuk sistostomi baik trokar maupun terbuka tersedia.