Anda di halaman 1dari 29

RESUME JURNAL

PERBANDINGAN PENGUKURAN RESPON NYERI


ANTARA KONDISI ISTIRAHAT DAN POSITIONING
PADA ALAT UKUR BPS DAN CPOT
PENULIS
1. Ayu Prawesti Priambodo

2. Kusman Ibrahim

3. Nursiswati
Universitas padjajaran fakultas keperawatan
WAKTU PENELITIAN
Tahun 2016

TEMPAT PENELITIAN
Ruangan GICU RSHS Bandung
PENDAHULUAN
• Tidak adekuatnya pengkajian nyeri pada
pasien intensive
• Managemen nyeri yang tepat tergantung
pada pengkajian yang sistematis
• Kompleksnya pengkajian nyeri di area
keperawatan kritis memerlukan pengkajian
nyeri yang komprehensif
METODE PENELITIAN

• Observasional Analitik design cross


sectional
SAMPLE PENELITIAN
Adapun kriterianya:
1.Pasien kritis (somnolen dan sopor)
2.Berjumlah 48 orang
3.Usia diatas 18 thn
4.Hemodinamik stabil
PENGKAJIAN NYERI PADA
PASIEN KRITIS
1. BPS(Behavioral Pain Scales)
2. CPOT(Critical Care Pain Observation Tool)
3. NVPS(Non verbal AdultPain Assessment
Scale)
4. PAIN(Pain Assessment and Intervention
Natotion Algorithm)
5. Pain Assessment Algorithm
ALAT UKUR YANG DI PILIH
PENULIS

1. BPS(Behavioral Pain Scales)


2. CPOT(Critical Care Pain Observation
Tool)
BPS(Behavioral Pain Scales)
HASIL PENELITIAN
• Analisis perbandingan pengukuran respon nyeri antara kondisi
istirahat dan positioning pada alat ukur BPS dan CPOT dengan uji
wilcoxon, terdapat perbedaan respon dan kedua alat ukur terbukti
handal.
• Adanya korelasi bermakna antara pengukuran nyeri antara alat
ukur nyeri BPS Dan CPOT
• Kesesuaian alat ukur nyeri BPS dan CPOT
PEMBAHASAN
Pengkajian nyeri pada pasien kritis lebih
efektif dan aplikatif menggunakan CPOT
dibandingkan dengan BPS dikarenakan
adanya kekurangan definisi operasional
pada BPS,
sedangkan CPOT memiliki definisi
operasional yang lebih jelas.
KESIMPULAN
 Alat ukur BPS dan CPOT dapat mengukur
perbedaan tingkat respon nyeri pada saat
istirahat dengan respon nyeri pada saat
positioning pada pasien kritis
 CPOT merupakan alat ukur nyeri yang
cukup aplikatif untuk di gunakan di area
perawatan kritis karena memiliki definisi
operasional yang jelas pada setiap tahap
observasinya
KESIMPULAN
 Hasil ukur CPOT memiliki tingkat
kesesuaian yang baik dengan hasil ukur
BPS pada pengukuran yang dilakukan
pada saat istirahat dan positioning.
THANKS FOR ATENTION
RESUME JURNAL
PELAYANAN KEPERAWATAN PRIMA
BERBASIS BUDAYA BERPENGARUH
TERHADAP TINGKAT KEPUASAN
PASIEN DI RUMAH SAKIT
JUDUL JURNAL
Pelayanan Keperawatan Prima Berbasis
Budaya Berpengaruh Terhadap Tingkat
Kepuasan Pasien Di Rumah Sakit
VOLUME JURNAL

Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 18


No.1, Maret 2015, hal 38-44 pISSN 1410-
4490, eISSN 2354-9203
PENULIS
1. Suroso,
2. Rr Tutik Sri Haryati,
3. Mustikasari,
4. Enie Novieastari
PENDAHULUAN
Menurut Bosek dan Savage (2007), perawat perlu melengkapi dirinya
dengan cultural competency, terutama bagi perawat yang bertugas pada
tatanan komunitas. Apabila klien dirujuk dan dirawat di rumah sakit, klien
akan membawa budaya yang selama ini dianut sehingga perlu bantuan
perawat dalam beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Kebiasaan
hidup klien sehari-hari dapat berubah secara drastis, seperti kebiasaan
makan, mandi, tidur, dan sebagainya. Oleh karena itu, perawat perlu
memahami aspek budaya yang dianut kliennya. Dengan demikian,
pengkajian perlu dilakukan secara komprehensif dan juga melibatkan
orang-orang terdekat klien.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian quasi
experiment dengan rancangan pre and post
with control group design. Jumlah sampel
adalah tiga puluh lima perawat dan seratus
empat puluh pasien. Teknik pengambilan
sampel untuk perawat menggunakan total
sampling, sementara untuk pasien dilakukan
dengan consecutive sampling
HASIL
Intervensi yang dilakukan dengan
memberikan pelatihan pelayanan
prima berbasis budaya selama dua
hari untuk dua gelombang. Pelatihan
yang diberikan kepada perawat
kelompok intervensi meliputi materi
pelayanan prima, caring, komunikasi
terapeutik, dan budaya.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata skor
kepuasan pasien sebelum intervensi dan setelah
intervensi mengalami peningkatan satu setengah
kali lipat lebih puas dari kondisi awal. Artinya ada
pengaruh pelatihan pelayanan prima berbasis
budaya terhadap kepuasan pasien pada kelompok
intervensi
PEMBAHASAN
Keuntungan dari keperawatan yang
berbasis budaya dapat memberikan
kepuasan kepada pasien sehingga
mempengaruhi derajat kesehatan dan
kesejahteraan individu, keluarga, kelompok,
dan komunitas di dalam lingkungannya.
KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat
kepuasan pasien terhadap kelompok
intervensi terjadi peningkatan jika
dibandingkan antara sebelum pelatihan dan
setelah pelatihan.
THANKS FOR ATENTION