Anda di halaman 1dari 10

METODE UJI TOKSIKOLOGI

SUBKRONIS

ABIYA SAFA LINA


AIDAH HAJJAH IZMA R MEIRENA
ALFANITA RIZKI REFALDI
BERLIANA PUTRI NENG FIRDA
DIAH YENI
IBNU SEPHIRA ARIDIANTI
INDRA
JULSE
UJI TOKSISITAS SUBKRONIS

• Uji toksisitas subkronis adalah uji untuk mengetahui toksisitas


suatu senyawa yang dilakukan pada hewan coba dengan dosis
berulang umumnya dalam jangka waktu 90 hari. Uji ini
ditujukan untuk mengungkapkan spectrum efek toksik
senyawa uji serta untuk memperlihatkan apakah spectrum
efek toksik itu berkaitan dengan takaran dosis
• Tujuan utama dari uji ini adalah untuk mengungkapkan dosis
tertinggi yang diberikan tanpa memberikan efek merugikan
serta untuk mengetahui pengaruh senyawa kimia terhadap
tubuh dalam pemberian berulang
Lanjutan...

• Pada dasarnya, uji ketoksikan subkronik meliputi efek toksik


(wujud dan sifat) suatu obat yang mungkin timbul selama
kurang lebih 10% masa hidup hewan uji, yang pada akhirnya
dapat disetarakan dengan kejadian yang mungkin timbul
ketika obat terkait digunakan oleh manusia
Tata Cara Pelaksanaan

A. Pemilihan Hewan Uji


Uji ketoksikan subkronis berlangsung cukup lama dan hasilnya akan
diekstrapolasikan kepada manusia. Karena itu, pemilihan hewan uji
seharusnya didasarkan pada kemiripan absorpsi, metabolsime, dan
ekskresi antara hewan uji dan manusia atau hewan yang memberikan
respon terhadap efek farmakologi obat terkait. Dikerjakan pada satu atau
dua jenis hewan yang sehat, satu galur, baik jantan maupun betina.
B. Pengelompokkan Hewan Uji
Pengelompokkan hewan uji sesuai dengan dosis yang diberikan,
ditambah dengan satu atau dua kelompok kontrol negative.
Lanjutan...

C. Tata Cara Pemberian Dosis Sediaan Uji


Membuat dosis sediaan uji yang terdiri dari 3 tingkatan dosis, dimana
dosis tertinggi harus menimbulkan gejala efek toksik yang nyata atau
mematikan, dosis terendah seharusnya tidak menimbulkan gejala efek
toksik.
D. Tata Cara Analisis
Mengamati hispatologi organ (organ-organ yang terkena efek toksik).
Gejala gejala klinik, wujud efek toksik serta sifat efek toksik.
Lanjutan...

E. Analisa dan Evaluasi Hasil


1.Perubahan perkembangan berat badan, masukkan makanan dan minuman,
serta gejala- gejala klinis, digunakan untuk mengevaluasi status kesehatan
dan perkembangan patologi hewan uji
2.Pemeriksaan hematologi serta analisis purin dipakai untuk mengevaluasi
adanya perubahan fungsional system organ sebagai perwujudan efek toksik
senyawa uji
3.Perubahan morfologi sel jaringan organ dan kelenjar dari pemeriksaan
hispatologi digunakan untuk mengevaluasi perubahan struktural atau
kelenjar terkait sebagai perwujudan efek dan sifat toksik.
F. Metode Penelitian

1. Penyiapan Ekstrak dan Hewan


Ekstrak disiapkan dari herba tali putri (Cassytha filiformis L.) menurut cara yang sudah
digunakan pada penelitian sebelumnya. Sebelum diujikan, sejumlah 16 ekor tikus putih
jantan galur Sprague-Dawley yang berumur 2-3 bulan dengan berat badan ±250 gram
diaklimatisasi untuk membiasakan hewan pada kondisi pengujian. Selamat proses
aklimatisasi yang dilakukan satu minggu sebelum pengujian, hewan diberikan makanan
standar dan air minum ad libitum.
2. Uji Toksisitas Subkronis
Tikus dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan
yang diberikan ekstrak 1,25 mg/kg, 2,5 mg/kg dan 5 mg/kg sekali sehari selama 14 hari
berturut-turut secara intraperitoneal. Berat badan, volume konsumsi air minum 24
jam, dan volume urine 24 jam diukur setiap hari. Darah diambil pada hari ke-0, ke-3,
ke-7, dan ke-14 untuk pengukuran kadar kreatinin serum.
Tabel 1. Pengaruh dosis dan lama pemberian ekstrak etanol tali
putri terhadap nilai bersihan kreatinin

Keterangan: data dengan superscript yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata
(p<0,05)
Tabel 2. Pengaruh dosis dan lama pemberian ekstrak etanol tali
putri terhadap persentase fungsi ginjal

Keterangan: data dengan superscript yang berbeda menunjukkan


perbedaan yang nyata (p<0,05)
Kesimpulan

Ekstrak etanol tali putri (Cassytha filiformis L.)


pada dosis yang digunakan dapat menyebabkan
penurunan fungsi ginjal tikus, tetapi masih
relatif aman terhadap fungsi ginjal tikus bila
digunakan pada pemberian selama 14 hari.