Anda di halaman 1dari 31

AKUMULASI INTRASEL

BAGIAN PATOLOGI ANATOMIK


FKUMY
Adanya retensi atau akumulasi zat-zat di
dalam sel

Zat yang terakumulasi dapat


1. normal atau abnormal
2. Endogen atau eksogen
3. Berbahaya atau tidak berbahaya
Macam zat yang dapat terakumulasi
1. Zat nutrisi
Lemak, glikogen, vitamin, mineral
2. Fosfolipid terdegradasi
Hasil turn over membran endogen yang disimpan dalam lisosom
3. Zat yang tidak bisa dimetabolisme
1. Zat endogen yang tidak bisa diproses lebih lanjut – kelainan
enzim – herediter (genetik)
2. Pigmen endogen yang tidak larut (lipofucsin, melanin)
3. Partikel eksogen: silika, karbon, pigmen tato
4. Unsur normal tubuh yang terlalu banyak
1. Besi, tembaga, kholesterol – menimbulkan jejas pada
beberapa sel
5. Protein abnormal
Dapat toksik pada sel – misal: badan Lewi pada penyakit
Parkinson dan α1- antitrypsin
Komponen normal:
– Fatty change: Hepatitis alkoholik, obesitas.
– Glikocgen, protein storage – defisiensi enzim.
Komponen abnormal:
– Hemosiderin pada Iron over load
– Tembaga pada penyakit Wilson
Komponen eksogen:
– Pigmen karbon pada paru
– Silikosis
Lipofuscin:
– Wear and tear pigment pada penuaan – Brown
Atrophy.
Mekanisme umum akumulasi
intrasel

1. metabolisme abnormal –
perlemakan pada hati
2. mutasi – perubahan pada
folding dan ransport protein 
akumulasi
3. defisiensi enzim – akumulasi
substrat dalam lisosom 
lysosomal storage diseases
4. ketidak mampuan degradasi
partikel yang difagosit –
akumulasi pigmen karbon
LEMAK
Normal ditemukan pada hati, jantung, ginjal dan
otot skelet
Normal – asam lemak dari jaringan adiposa
dimetabolisme (oksidasi dan dirubah) oleh hati
menjadi trigliserida. Sebagian besar trigliserida
di sekresi sebagai lipoprotein
Bila ada kenaikan asam lemak bebas (DM), atau
metabolisme lemak intrahepatik terganggu
(alkoholisme) – akumulasi lemak dalam sel hati
 perlemakan hati
LEMAK (2)

Histologis perlemakan hati:


– Globuli lemak dalam sitoplasma sel hati
Perlemakan dapat ditemukan di jantung,
ginjal dan otot skelet

Perlemakan
– Reversibel
– Tidak ada bukti akumulasi lemak dalam
sitoplasma mengganggu fungsi sel
ACCUMULATIONS - Fatty Liver - Alcoholism
ACCUMULATIONS - Fatty Liver -Alcoholism
GLIKOGEN
Glikogen: polimer rantai panjang glukosa
Dibentuk dan sebagian besar disimpan di
hati, sebagian kecil di otot
Didepolimerasi menjadi glukosa dan
dilepaskan dari sel hati bila diperlukan
Didegradasi melalui tahapan-tahapan oleh
bermacam-macam enzim, pada setiap
tahapan dapat terjadi defisiensi karena
kesalahan metabolisme sejak lahir 
glycogen storage disease
GLIKOGEN (2)

Glycogen storage disease dapat


mengenai hati, jantung, otot skelet, dari
asimtomatik, ringan, sampai progresif dan
fatal
Normal: jumlah glikogen yang disimpan
dalam sel diatur oleh kadar gula dalam
darah – hiperglikemia  meningkatkan
penyimpanan glikogen
DM yang tak terkontrol  hepatosit dan
sel epitel tubulus ginjal membesar karena
glokogen yang berlebihan
INHERITED LYSOSOMAL
STORAGE DISEASES
Pemecahan kompleks lemak tertentu dan
mukopolisakharida (glikosaminoglikan)
melalui urutan tahapan enzimatik.
Enzim-enzim terdapat di dalam lisosom
Ketiadaan enzim – akumulasi lemak yang
tidak terdegradasi sempurna dalam
lisosom
INHERITED LYSOSOMAL STORAGE DISEASES (2)

Misal
– Gaucher’s disease – akumulasi
cerebrosides
– Tay-Sach’s disease – akumulasi
gangliosides
– Hurler & Hunter syndromes – akumulasi
produk katabolisme polisakharida
Progresif : dari organomegali
asimtomatik – penyakit otak fatal dan
cepat
KHOLESTEROL
Komponen pokok semua membran
plasma
Bila disimpan berlebihan  aterosklerosis
& penyakit kardiovaskular
Aterosklerosis
– Awal: akumulasi kholesterol dan kholesterol
ester dalam makrofag pada tunika intima
– Kholesterol dalam sel otot polos
– Lesi lanjut: deposisi kholesterol ekstrasel
KHOLESTEROL (2)

Beberapa kelainan yang ditandai dengan


kenaikan kadar kholesterol dalam darah –
makrofag mengandung kholesterol (misal:
hiperkholesterol familial dan sirosis biliar
primer)
Kelompokan makrofag yang mengandung
kholesterol pada jaringan subkutan dan
makroskopis tampak - xanthoma
Akumulasi
kholesterol ester
PROTEIN ABNORMAL

Akuisita maupun diturunkan


Penyimpangan struktur tersier protein
disebabkan
– Mutasi yang diturunkan – perubahan urutan
asam amino primer normal
– Defek akuisita pelipatan (folding) protein
PROTEIN ABNORMAL (2)
Defisiensi α1-antitrypsin
– Diturunkan
– Mutasi gena pengkode α1-antitrypsin – protein tak larut – tak
bisa dibuang oleh hepatosit  jejas & sirosis
Penyakit prion
– T.a. kelompok penyakit neurodegeneratif (spongiform
encephalopathies) – akumulasi protein terlipat abnormal –
konversi struktur α-heliks normal menjadi lembaran β-pleated
(terlipat-lipat)
– Sebab: mutasi yang diturunkan, atau paparan bentuk protein
yang abnormal
Badan Lewy (α-synuclein)
– Terlihat di substansia nigra pada penyakit Parkinson
Kekusutan neurofibrilar (protein tau)
– Pada neuron korteks pada penyakit Alzheimer
Badan Mallory (filamen intermediate)
– Inklusi hepatoselular pada jejas hati alkoholik
Liver - Mallory hyaline - Alcoholism
PROTEIN ABNORMAL (3)

Protein yang misfolded dapat menyebabkan


jejas pada sel dengan cara:
– Kehilangan fungsi
1. Mutasi protein kanal ion – cystic fibrosis
2. Mutasi resptor LDL - hiperkholesterolemia
3. Mutasi ATPase transport tembaga – penyakit Wilson
– Pembentukan protein yang toksik
Penyakit Alzheimer & Parkinson
– Retensi protein sekretorik
Akumulasi protein α1-antitrypsin mutan - sirosis
– Deposisi ekstraselular protein yang teragregasi
Konversi struktur α-heliks normal menjadi lembaran β-
pleated (terlipat-lipat) - agregat protein yang tak larut –
tampak sebagai deposit ekstraselular (akumulasi
ekstraselular)  amiloidosis & penyakit neurodegeneratif
LIPOFUSCIN
Disebut pula pigmen wear and tear,
tersusun atas granula coklat keemasan,
ditemukan tu pada sel-sel yang
terdiferensiasi terminal (sel neuron atau
sel otot jantung) dan sel hepatosit.
Komponen normal pada kebanyakan sel,
jumlahnya meningkat dengan
bertambahnya umur. Lebih jelas pada
organ yang mengalami atrofi
LIPOFUSCIN (2)

Berasal dari turn over normal komponen


membran sel
Terbentuk kompleks protein-lemak
heterogen yang lebih tahan digesti –
produk tak larut – disimpan sebagai
lysosome-derived residual bodies
Pigmen tidak mengganggu fungsi sel
Lipofuscin - Wear & Tear pigment - Age
MELANIN

Pigmen coklat kehitaman, tak larut


Tu ditemukan di sel epidermis kulit dan
mata, juga organ lain
Terletak di organela intrasel (melanosom),
hasil polimerisasi produk oksigenasi
tertentu tirosin
Pigmen melanin pada nevus pigmentosus
PIGMEN EKSOGEN
Antrakosis: akumulasi pigmen karbon di
dalam paru dan limfonodi regional
– Pigmen masuk melalui inhalasi umumnya
berasal dari pembakaran bb fosil
– Pigmen terakumulasi dalam makrofag di
alveolus paru dan limfonodi hilus dan
mediastinum
Tatto: masuknya pigmen logam tak larut,
dan imen tanaman ke dalam kulit. Pigmen
difagosit makrofag dan menetap seumur
hidup
BESI DAN LOGAM LAIN
25% besi total dalam tubuh tersimpan
dalam sel sebagai ferritin dan hemosiderin
Sebagian hemosiderin merup bentuk
denaturasi ferritin
Normal, hemosiderin ditemukan tu di lien,
sumsum tulang, sel Kupfer hati
Kandungan besi total meningkat pada
kenaikan absorbsi (pd anemia) atau
tranfusi
Besi dan logam lain (2)

Kenaikan kadar total besi progresif 


akumulasi  hemosiderosis
– Besi dapat ditemukan pula di kulit, pankreas,
jantung, ginjal, organ endokrin
Iron overload syndromes = kenaikan kadar
total besi sangat ekstrim  merusak
jantung, hati dan pankreas
Overload besi berat
– Kelainan genetik (hemokhromatosis
herediter)  absorbsi besi berlebihan
– Transfusi berulang-ulang - hemofilia
Besi dan logam lain (3)

Siderosis meningkatkan risiko kanker paru


Hemokhromatosis meningkatkan risiko
kanker hati
Akumulasi timbal yang berlebihan (tu pada
anak) – meningkatkan risiko retardasi
mental dan anemia
Penyakit Wilson – gangguan
metabolisme tembaga herditer –
akumulasi tembaga di hati dan otak 
penyakit kronik pada oragan tersebut.
Akumulasi pigmen hemosiderin