Anda di halaman 1dari 24

MEDIA PEMBELAJARAN

Nama : Sri Suryaningsih Djunu, S.Pt,MP


Fak :Ilmu-Ilmu Pertanian
Jurusan : Peternakan

Mata Kuliah : Teknologi Hasil Ternak

Kode Matakuliah : 621351053


SKS : 3 sks Teori 1 (sks) Praktek 2 (sks)

Deskripsi Mata Kuliah

Mata kuliah ini memberi,kan pengetahuan tentang Penaganan pasaca pada ternak meliputi :

Teknik penyembelihan ternak, Karkas, Pengolahan Daging, Telur, Susu, kulit dan limbah hasil olahannya.
STANDAR KOMPOTENSI

Setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa


semestar III Program Studi Teknologi Produksi Ternak Jurusan
Ilmu-Ilmu Pertanian Universitas Negeri Gorontalo,
mampu menjelaskan dan menerapkan tentang Teknik
penyembelihan/Pemotongan dan pengolahan Hasil Ternak
BAB I
RUMAH POTONG HEWAN
A. Konstruksi Dan Tata Ruang
1. lokasi
Rumah potong hewan dibangun di daerah yang bukan pemukiman
penduduk, tidak menimbulkan gangguan pencemaran lingkungan dan mudah
dicapai dengan kendaraan atau dekat jalan raya.
2. Rumah Potong Hewan (RPH)
a. Tempat Pemotongan
1. Tempat penyembelihan hewan
penjepit sapi
pemingsan sapi

pisau penyembelih
penampungan saluran darah
2. Tempat proses penyelesaian penyembelihan:
Hoist
2.meja/jarak pengulitan
gergaji atau pisau pengulitan & pengeluaran jeroan
gerobak transportasi
gergaji pembelah karkas
tangga untuk membelah karkas
3. Tempat pemeriksaan kesehatan daging
4. Penimbangan
Persyaratan Konstruksi RPH

 Ruang kerjanya yang cukup untuk setiap jenis pekerjaan


 Tata ruang beserta perlengkapan memudahkan
 Terdapat pemisahan yang jelas antara daerah bersih dan darah kotor
 Diding dan lantai bagian dalam RPH terbuat dari semen, porselin atau bahan
sejenis yang mudah dibersihkan dandi bebas hamakan
 Lantai kedap air landai kearah saluran tidak licin dan sedikit kasar
 Pertemuan antara dinding dan lantai mempunyai sudut lengkung 75 mm
antar diding dengang dinding berjari-jari 25 mm
 Langit-langit terbuat dari bahan yang mencegah menumpuknya kotoran dan
debu serta mudah dibersihkan
 Atap dibuat dari bahan yang layak dibangun secara benar dengan kedap air
 Peintu terbuat dari bahan tahan karat dan tahan lamapermukaan rata
berwarna terang mudah ditutup dengan baik dan terbuka keluar.
 Jendela yang dibuka harus harus mempunyai tirai yang dapat dibersihkan
atau dilepaskan
 Ventilasi cukup mencegah kelebihan panas, uapdan pengembunan,
menjamin didalam ruangan tidak tecemar bau
 Penerangan tersedia dengan cukup
 Saluran pembungan dibuat dan harus mencegah terjadi genangan air.
 Sistim pembuangan limbah harus melalui proses pengolahan kolam limbah
yang
Perlengkapan RPH

Rel Sistem
1. Alat penjepit Hewan : terdapat diruang penyembelihan sebelum
hewan dipingsankan sebelum disembelih
2. Alat pemingsangan : dengan menggunakan voltage dengan
waktu tertentu
3. Meja pengulitan : meja yang dibuat sedemikian rupa
tempat pengulitan ternak
4. Gergaji : digunakan untuk membelah karkas
5. Tangga : untuk operator pembelah karkas
6. Gerobak Jeroan : gerobak yang digunakan untuk
mengangkut jerowan keruang penanganan. Selanjutnya dilakuakan
pemeriksaan kesehatan
BAB II
PENYEMBELIHAN TERNAK UNGGAS

KOMPOTENSI DASAR

Mampu memahami dan menjelaskan tentang


Penyembelihan ternak Unggas

Pemeriksaan Kesehatan :
 Pemeriksaan kesehatan bertujuan untuk memastikan apakah ternak yang disembelih
dalam keadaan sehat
 Mencegah terjadinya penularan penyakit dari ternak kemanusia
 Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara eksterior pada bagian luar
PROSES PEMOTONGAN TERNAK UNGGAS
Penerimaan Hewan

Pemeriksaan Antemortem
dan Pengistirahatan Hewan (> 12 jam)

Penyembelihan (Halal)

Pengeluaran Darah

Pemanasan 60°C
Curring (pengeluaran Bulu)

Mesin Pencabut bulu


Ruang Kotor
Ruang Bersih
K a r k a s

Pemisahan Kepala,
Kaki (s/d Tarsus dan Karpus)

Pengeluaran Jeroan
(Rongga Perut dan Rongga Dada)

Pemeriksaan Postmortem

Karkas “Panas”
Pencucian
Jeroan
Pendinginan
(Karkas Dingin)

Pembekuan
(Daging Beku) Cold Storage

Distribusi
Pengistirahatan Hewan

 Tujuan untuk mengembalikan kondisi/kesegaran/


kebugaran hewan.
 Cadangan glikogen hewan lelah/stres sangat sedikit.
Jika hewan tersebut disembelih, maka kualitas
daging yang dihasilkan akan buruk.
 Babi yang mengalami stres, jika disembelih akan
menghasilkan daging yang pucat, lembek dan basah
(eksudatif) atau dikenal Pale, Soft and Exudative
(PSE)
BAB 3
PENYEMBELIHAN TERNAK RUMINANSIA

Kompotensi Dasar :
1. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang teknik penyembelihan
2. Mahasiswa mampu menerapkan teknik penyembelihan pada
ternak
3. Mampu memahami dan menjelaskan tentang Penyembelihan
ternak Ruminansia
PROSES PEMOTONGAN SAPI/KERBAU
Penerimaan Hewan

Pemeriksaan Antemortem
dan Pengistirahatan Hewan (> 12 jam)
Pemingsanan
Penyembelihan (Halal)

Pengeluaran Darah
Stimulasi Listrik
Pemisahan Kepala,
Kaki (s/d Tarsus dan Karpus) Ekor
Ruang Kotor

Ruang Bersih
Pengulitan

Pengeluaran Jeroan
Rongga Perut dan Rongga Dada)

Pemeriksaan Postmortem

Karkas “Panas”

Pencucian
Jeroan
Pendinginan
(Karkas Dingin)

Pembekuan
(Daging Beku)
Cold Storage

Distribusi
Pemuasaan Hewan
 Hewan yang akan disembelih sebaiknya
dipuasakan tidak makan (tetapi harus tetap
diberi/disediakan air minum ad libitum).
 Tujuannya adalah agar sanitasi dan higiene
pemotongan tetap terjaga (karena isi saluran
pencernaan relatif kosong).
 Jika hewan tinggal >24 jam, maka hewan

harus diberi makan.


Pemingsanan Hewan Sebelum Pemotongan (Stunning)
Pemingsanan secara mekanis:  Pemingsanan dengan Listrik:
 Alat yang digunakan:  Pertama kali digunakan tahun 1930-an
 Captive bolt pistol (penetrative, non-  Menggunakan arus listrik bolak-balik atau AC
penetrative) (alternating current)
 Untuk sapi, kerbau, babi, domba
 Pemukul khusus (misalnya kayu): di Indonesia  Arus listrik yang digunakan: >250 mA dan >
 Untuk babi 75 Volt, selama 10 detik (yang dianjurkan):
 Jika jarak waktu (interval) antara pemingsanan  1. Low-voltage electrical stunning
dan pengeluaran darah relatif lama   Dua elektrode dijepit pada kedua sisi kepala.
menyebabkan blood splashing (hemoragi).
 75 V (50Hz), <7 detik
 2. High-voltage electrical stunning
 300 V, 2-3 detik
 Aplikasi: head-to-back/leg stunning,
Pemingsanan dengan Gas: biasanya menggunakan restrainer conveyor.
 Gas yang digunakan CO2 berkadar 65 –  Butuh tenaga terampil dan terlatih (karena
70% menggunakan arus listrik sehingga resiko
tinggi): masalah keselamatan kerja.
 Hewan harus segera disembelih atau
dikeluarkan darahnya setelah pemingsanan 
jika tidak, akan terjadi blood splashing.
 Diterapkan pada babi, sapi, domba/kambing
BAB 5
DAGING DAN OLAHANNYA

KOMPOTENSI DASAR

 Mampu menjelaskan tentang Pengolahan Daging dan


hasil olahannya
 Mammpu menerapkan tentang pengolahan daging
BAB VI
TELUR

 Mampu menjelaskan tentang Telur dan hasil olahannya


 Mampu mempraktekkan tentang pengolahan Telur
Bagian Telur :
1. Kulit Telur 11 %
2. Putih telur 57 %
3. Kuning Telur 32 %

Nilai Nutrisi telur

No Komponen Putih Telur (%) Kuning Telur (%) Telur(%)

1 Protein 10,11 16.5 12,7


2 Lemak sedikit 32 11,3
3 Hidrat Arang 1 1 1
4 Air 87 49 74
Komponen Telur
1. Kulit telur
2. Membran Kulit luar
3. Membran Kulit dalam
4. Albumen tipis
5. Albumen tebal
6. Kalaza
7. Albumen yang melapisi kuning telur
8. Albumen
9. Kuning telur yang gelap
10. Kuning telur yang terang
11. Bagian embrio
12. Calon embrio
13. Membran vitelin
14. Rongga udara
Pengolahan dan Pengawetan

Pengolahan dan pengawetan


Untuk memperpanjang masa simpan telur dalam rangka
menjaga mutu dari pada telur

 Perlakuan Pendahuluan :tahap pemisahan telur yang retak dengan telur yang utuh
 Dry packing : melapisi telur dengan bahan bahan tertentu
 Immersion Liquid : perendaman telur dalam cairan yang dapat menutupi pori-pori telur
 Shell Shealling : penutupan permukaan telur dengan bahan pengawet sehingga uap air dan gas
CO2 tidapat atau hanya sedikit yang menguap
 Cold storage : penyimpanan telur pada suhu dingin
Susu Dan Pengolahannya

Kompotensi Dasar
 Mampu menjelaskan tentang Pengolahan susu dan hasil
olahannya
 Mampu mempraktekkan tentang pengolahan dan
pengawetan air susu
Proses pembentukkan Air Susu
Pakan Ternak
Rumen (protein mikroba)
VFA propionat
butirar
asetat

Ambing Rangsangan

Alveoli

Saluran air susu

Putting Susu

Air Susu
Sifat Fisik Air Susu :

 Warna Air Susu


 Bentuk air susu
Sifat Kimia Air Susu :

 Titik didih
 Titik beku
 Kekentalan
 Struktur kimia air susu
 Protein globular
Pengolahan dan Pengawetan Air Susu

Pasteurisasi :
1. Pasteurisasi dengan suhu Rendah
Pemanasan air susu dengan menggunakan suhu 40°C -
50°C dengan waktu yang lama
2. Pasteurisasi dengan suhu tinggi
Pemanasan air susu dengan menggunakan suhu yang
tinggi 70°C - 80°C dengan waktu yang cepat
Susu Bubuk
Air Susu

Pasteurisasi

Pemasakan/pemanasan
Prosesing
Penambahan cita rasa

Pengentalan air susu

Pengeringan
Prosesing
Penghalusan

Pengepakan Pemasaran
Susu kaleng
Air Susu

Pasteurisasi

Pemasakan/pemanasan
Prosesing
Penambahan cita rasa

Pengentalan air susu

Pengeringan
Prosesing
Penghalusan

Pengepakan Pemasaran