Anda di halaman 1dari 14

DEFINISI

• Penyakit campak adalah penyakit menular akibat infeksi virus akut


dengan gejala kemerahan berbentuk mukolo papular selama tiga hari
atau lebih yang disertai panas 380C atau lebih dan disertai salah satu
gejala batuk, pilek dan mata merah dengan 3 stadium kataral, erupsi
dan kovalensi
ETIOLOGI
Virus campak adalah anggota genus morbillivirus dari family
paramiksovirus. Penyakit pada anjing, rinderpest (plak ternak) dan hewan
pemamah biak peste des petiis adalah morbillovirus lain yang
memberikan derajat keterkaitan imunologi yang jelas dengan campak,
memberikesan adanya suatu jalur evolusi bersama lebih awal dalam hal
kemunculannya pada pejamu yang spesifik (anjing, ternak, kambing,
manusia).
GAMBAR 2 : VIRUS CAMPAK.
Droplet infection
penyimpangan
Patofisiologi &
Morbili memasuki airan darah

mengendap pada organ degradasi pada jar tubuh

infeksi bronkus pelepasan toksin


KDM

pagosit o/ leukosit, limfosit &


radang bronkus
makrofag
pengeluaran & pelepasan perogen
↑ jum sel globet
ke dlm cairan tbh
mencapai hipotalamus
hiper sekresi mukus
(merangsang set point)

bronkus menyempit & tersumbat Reaksi peningkatan SB

btuk produktif Hipertermi

pola nafas tdk efektif hospitalisasi

stres psikologi bg kelg

perasaan kawatir/takut

cemas
penyimpangan
Infeksi pada mulut infeksi pada kulit
Patofisiologi &
stomatitis proliferasi sel2 endotel kapiler
Infiltrasi sel2 rdg mononuklear pd Terjadi eksudasi serum & kdg2
kel mukosa mulut eritrosit dlm epidermis
rasa skt pd saat mengunyah &
KDM

rash/ruam kulit
menelan
nafsu mkn ↓ gangguan integritas kulit

intake inadekuat
nutrisi kurang dari kebutuhan
metabolisme glukosa terganggu
tubuh
pertukaran ATP/ADP terganggu

sup nutrisi ke jar tubuh ↓

energi berkurang

kelemahan otot

intoleransi aktivitas
MANIFESTASI KLINIS

Memiliki masa tunas 10 - 20 hari, dibagi dalam tiga stadium, yaitu :


Stadium kataral ( prodromal ).
Biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari disertai panas, malaise,
batuk, fotofobia, konjungtivitis dan koriza. Menjelang akhir stadium kataral
dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang
patognomonik bagi campak, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik
berwarna putih kelabu, sebesar jarum dan dikelilingi oleh
eritema.Lokalisasinya dimukosa bukalis berhadapan dengan molar
bawah.Jarang ditemukan dibibir bawah tengah atau palatum.Kadang-kadang
terdapat macula halus yang kemudian menghilang sebelum stadium erupsi.
CONT’D… (MANIFEST
Stadium erupsi
Koriza dan batuk-batuk bertambah.Timbul enantema atau titik merah di
palatum durum dan palatum mole.Kadang-kadang terlihat pula bercak
koplik.Terjadinya eritema yang berbentuk macula papula disertai menaiknya
suhu badan.Diantara macula terdapat kulit yang normal.Mula-mula eritema
timbul dibelakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut
dan bagian belakang bawah.Kadang-kadang terdapat perdarahan ringan
pada kulit.Rasa gatal, muka bengkak. Ruam mencapai anggota bawah pada
hari ketiga dan akan menghilang dengan urutan seperti terjadinya
CONT’D… (MANIFES)
Stadium konvalensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua
(hiperpigmentasi) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Selain
hiperpigmentasi pada anak indonesia sering ditemukan pula kulit yang
bersisik.Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk
campak.Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema
ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi.Suhu menurun sampai
normal kecuali bila ada komplikasi.
KOMPLIKASI

• Yang terkena paling sering adalah traktus respiraturius, tetapi


gastroenteritis berat juga terjadi
• Laringotrakeobronkitis
• Bronkiolitis
• Pneumonia
• Keratokonjungtivitis asimptomatik jinak
Diagnosa Tujuan dan KH Intervensi Rasional
Keperawatan
Hipertermi b/d Pemeliharaan 1. Kaji sejauh mana 1. Mengetahui kebutuhan
penyakit yang (mempertahankan) pengetahuan keluarga dan infomasi dari pasien dan
dialami. suhu tubuh anak tentang hyperthermia keluarga mengenai
dalamrentang yang perawatan pasien dengan
normal. 2. Monitor perubahan suhu hypertemia
Dengan criteria hasil : tubuh, denyut nadi 2. Sebagai pengawasan
 Suhu tubuh anak terhadap adanya perubahan
dalam rentang keadaan umum pasien
yang normal. sehingga dapat diakukan
 Anak bebas dari penanganan dan perawatan
demam. secara cepat dan tepat
3. Lakukan tindakan yang dapat 3. Upaya-upaya tersebut dapat
menurunkan suhu tubuh membantu menurunkan
seperti lakukan kompres suhu tubuh pasien serta
hangat, berikan pakaian tipis meningkatkan kenyamanan
dalam memudahkan proses pasien.
penguapan
4. Libatkan keluarga dalam 4. Meningkatkan rasa nyaman
perawatan serta ajari cara anak
menurunkan suhu dan
mengevaluasi perubahan
suhu tubuh.
5. Kolaborasi dengan dokter 5. Antipiretik menurunkan/
dengan memberikan mempertahankan suhu
antipiretik dan antibiotic tubuh anak
sesuai dengan ketentuan.
Bersihan jalan Bersihan jalan napas 1. Kaji fungsi pernapasan, contoh 1. Ronci, mengi menunjukkan
napas tidak efektif efektif bunyi napas, kecepatan, irama akumulasi secret/
b/d penumpukan Dengan criteria hasil : dan kedalaman dan penggunaan ketidakmampuan untuk
secret pada  Tidak mengalami otot aksesori membersihkan jalan napas yang
nasofaring. aspirasi dapat menimbulkan
 Menunjukkan batuk penggunaanotot aksesori
yang efektif dan pernapasan dan peningkatan
peningkatan kerja pernapasan.
pertukaran udara 2. Bersihkan secret dari mulut dan 2. Mencegah obstruksi atau
dalam paru. trakea ; pengisapan sesuai aspirasi. Pengisapan dilakukan
keperluan. bila klien tidak mampu
mengeluarkan secret
3. Berikan posisi semi fowler tinggi. 3. Posisi membantu
Bantu klien untuk batuk dan memaksimalkan ekspansi paru
latihan napas dalam. dan menurunkan upaya
pernapasan.
4. Catat kemampuan untuk batuk 4. Pengeluaran secret sulit bila
efektif. secret sangat tebal( mis. Efek
infeksi dan atau tidak adekuat
5. Pertahankan masukan cairan hidrasi ).
5. Pemasukan tinggi cairan
membantu untuk mengencerkan
secret.
6. Berikan lingkungan yang aman 6. Meningkatkan kenyamanan
untuk anak
Kerusakan Keutuhan structural 1. Pantau kulit dari adanya: 1. Mengetahui perkembangan
integritas kulit dan fungsi fisiologis ruam dan lecet, warna dan penyakit dan mencegah
b/d infeksi virus dari kulit dan suhu, kelembaban dan terjadinya komplikasi
morbili. membrane mukosa. kekeringan yang berlebih, melalui deteksi dini pada
Dengan Kriteria hasil : area kemerahan dan rusak. kulit.
o Terbebas dari 2. Balikkan atau ubah posisi 2. Meningkatkan sirkulasi dan
adanya lesi dengan sering mencegah tekanan pada
jaringan. kulit / jaringan yang tidak
o Suhu, perlu.
elastisitas, 3. Mandikan dengan air hangat 3. Mempertahankan
hidrasi dan dan sabun ringan kebersihan tanpa
warna mengiritasi kulit.
jaringan 4. Dorong klien untuk 4. Membantu mencegah friksi
dalam rentang menghindari menggaruk dan / trauma kulit
yang menepuk kulit.
diharapkan. 5. Ajarkan anggota keluarga / 5. Mengetahui terjadinya
member asuhan tentang infeksi / komplikasi lebih
tanda kerusakan kulit, jika cepat.
diperlukan.
6. Konsultasi pada ahli gizi 6. Perbaikan nutrisi klien agar
tentang makanan tinggi terhindar dari infeksi karena
protein, mineral, kalori dan kulit dapat menjadi barier
vitamin. utama yang dapat
memperberat kondisi anak.
Kekurangan Intake cairan 1. Observasi turgor 1. Hipovolemia,
volume cairan seimbang, kulit/membrane mukosa perpindahan cairan dan
tubuh b/d keseimbangan untuk mencegah kekurangan nutrisi
demam, volume cairan kekeringan. memperburuk turgor
diare, dalam tubuh. kulit
muntah. Dengan Kriteria 2. Ubah posisi baring dengan 2. Adanya gangguan
hasil: sering, berikan perawatan sirkulasi cenderung
Memperlihatkan kulit dan pertahankan merusak kulit.
tidak adanya tanda tempat tidur kering dan
dan gejala bebas lipatan.
kekurangan volume 3. Pantau berat badan, suhu, 3. Mengontrol
cairan. kelembaban pada rongga keseimbangan output.
oral, volume konsentrasi
urin.
4. Berikan bentuk-bentuk 4. Menarik minat anak agar
cairan yang menarik (sari mau minum banyak.
buah, sirup tanpa es,
susu)
5. Ukur berat jenis urine 5. Menunjukkan status
hidrasi dan perubahan
pada fungsi ginjal, yang
mewaspadakan
terjadinya gagal ginjal
akut pada respon
terhadap hipovolemia.