Anda di halaman 1dari 21

REAKSI TANAH:

KEMASAMAN DAN KEBASAAN

Ir. Suli Suswana, M.Si.


Figure. The pH scale. A value of 7.0 is considered neutral.
Values higher than 7.0 are increasingly alkaline or basic.
Values lower than 7.0 are increasingly acidic. The illustration
above also describes the pH of some common substances.
Reaksi (pH) tanah merupakan salah satu sifat fisiologik tanah
yang mencolok. Tanaman dan jasad mikro memberikan respons
nyata terhadap kondisi kimia tanah, reaksi tanah, dan faktor-faktor
yang berkaitan dengan reaksi tanah tsb.
SUMBER ION HIDROGEN:
1. Kation hidrogen terjerap
2. Kation aluminium terjerap
Cara kedua kation itu dalam mempengaruhi kemasaman tanah berbeda.
Perbedaan itu berhubungan dengan sumber dan sifat muatan yang mengikat
ion-ion tsb.

SUMBER MUATAN NEGATIF:


a. Muatan permanen (akibat substitusi isomorfik dalam liat silikat)
b. Muatan bergantung pH (muatannya rendah pada pH sangat masam dan
menaik dengan meningkatnya pH). Muatan ini berasal dari SiOH dan AlOH
pada pinggiran patahan & permukaan liat silikat; dan dari kelompok
karboksil (COOH) dan fenol (fenil-OH) pada koloid humus. Dengan
meningkatnya pH, hidrogen yang terikat secara kovalen itu berdisosiasi
dengan meniunggalkan muatan negatif pada koloid. Muatan negatif itu
diimbangi oleh kation logam yang selanjutnya dapat dipertukarkan.
Kation pada titik muatan permanen dapat dipertukarkan pada setiap tingkat pH.
Dalam tanah masam, ion-ion kompleks Al dan hidroksi Fe dijerap kuat di dalam unit
kristal liat tipe 2:1 tertentu khususnya vermikulit. Ion-ion itu menutupi titik muatan
negatif dari koloid, shg menurunkan KTK. Dengan naiknya pH, ion-ion kompleks itu
hilang krn membentuk Al(OH)3 dan Fe(OH)3 yang tdk larut, dan dg demikian
membuka titik pertukaran.
Perbandingan relatif antara muatan permanen dan yang bergantung pH ditentukan
oleh macam koloid yang terdapat di dalam tanah. Umumnya tipe liat 2:1 mempunyai
muatan permanen yang tinggi, sedangkan humus didominasi oleh tipe muatan
bergantung pH. Kaolinit berada diantara kedua itu.

TANAH SANGAT MASAM. Dalam tanah sangat masam banyak dijumpai kation Al dan
hidroksi Al dalam larutan tanah. Al dalam larutan tanah merupakan sumber kemasaman
karena ia cenderung berhidrolisis. Al yang terjerap berada dalam keseimbangan
dengan Al dalam larutan tanah. Kejadian tsb secara sederhana dpt dilukiskan sbb.
Misel Al Al3+
Terjerap Larutan tanah
Al dalam larutan tanah kemudian dihidrolisis:
Al3+ + H2O Al(OH)2+ + H+
Ion H yang dibebaskan itu akan menghasilkan nilai pH rendah
Hidrogen terjerap merupakan sumber hidrogen kedua dalam tanah sangat masam.
Akan tetapi, sebagian besar ion hidrogen bersama dengan beberapa ion besi dan
aluminium terikat kuat secara kovalen dalam bahan organik dan pada pinggiran
kristal liat, shg sedikit pengaruhnya thd larutan tanah. Hanya pada kelompok
humus yang sangat masam dan bbrp titik pertukaran muatan permanen dari liat ion
hidrogen dpt dipertukarkan:

Misel H H+
hidrogen terjerap hidrogen dalam larutan

TANAH BERKEMASAMAN SEDANG. Tanah-tanah ini mempunyai persentase KB


dan pH yang lebih tinggi. Aluminium tdk lagi dijumpai sebagai Al3+ tetapi telah
berubah menjadi ion hidroksi aluminium:
Al3+ + OH- Al(OH)2+
Al(OH)2+ + OH- Al(OH)2+
Ion hidroksi aluminium
Sebagian dari ion hidroksi aluminium terjerap yang berfungsi sebagai kation yang
dpt dipertukarkan berada dalam keseimbangan. Dalam larutan tanah mereka dpt
menghasilkan ion hidrogen melalui reaksi hidrolisis:
Al(OH)2+ + H2O Al(OH)2+ + H+
Al(OH)2+ + H2O Al(OH)3 + H+
Dalam tanah berkemasaman sedang ion H terjerap juga merupakan penyumbang
ion H dalam larutan tanah. Sebagai tambahan, dengan meningkatnya pH, bbrp
ion H yang ditahan kuat melalui ikatan kovalen oleh bahan organik dan liat
menjadi mudah dilepaskan. Sumbangan mereka pada larutan tanah dpt
dilukiskan:
H
Misel H + Ca2+ Misel Ca2+ + 2H+
Hidrogen terikat Kalsium dapat Hidrogen dalam
(tdk didisosiasikan) dipertukarkan larutan

TANAH NETRAL HINGGA ALKALIN. Tanah-tanah ini tidak didominasi lagi oleh ion
hidrogen atau aluminium. Titik-titik pertukaran dari muatan permanen pada tanah
demikian diduduki terutama oleh basa-basa dapat dipertukarkan; sebagian besar
dari ion hidrogen dan aluminium telah digantikan. Ion hidroksi Al telah diubah
menjadi gibsit melalui reaksi sbb:
-
Al(OH)2+ + OH Al(OH)3
Gibsit tidak larut
Pada tanah demikian lebih banyak muatan bergantung pH menjadi tersedia bagi
pertukaran kation, dan hidrogen yang dibebaskan bergerak ke larutan tanah.
Tititk-titik pada kompleks pertukaran diduduki oleh Ca, Mg, dan basa-basa lain.
100
Persen Kapasitas Jerapan Kation

80
Kation Basa dapat
dipertukarkan
H dan Al terikat
60
Ion H dpt
dipertukarkan

40

20 Al3+ dapat
Ion
dipertukarkan
Al(OH)x
0
0 4 5 6 7 8
pH Tanah
Gambar ... Hubungan umum antara pH tanah dan kation-kation yang ditahan koloid tanah.
Dalam keadaan sgt masam ion Al-dd, H dan Al terikat memainkan peranan dominan. Pada pH
lebih tinggi, basa-basa dd menjadi dominan, sdgkn pd pH intermedier ion hidroksi Al menonjol.
SUMBER ION HIDROKSIL. Bila ion H dan Al terjerap dari tanah masam
digantikan oleh Ca, Mg, dan K, maka konsentrasi ion H dalam larutan tanah akan
berkurang. Sebagai akibatnya, konsentrasi ion hidroksil naik. Jadi, seolah-olah
kation-kation basa menjadi sumber ion hidroksil, yaitu dengan menggantikan ion
hidrogen yang dijerap.

Kation logam spt Ca, Mg, dan K langsung mempengaruhi konsentrasi ion
hidroksil dlm larutan tanah. Reaksi alkalin akan diperoleh dari hidrolisis
koloid jenuh dengan kation basa, sbb:
-
Ca Misel + 2H2O H
Misel + Ca2+ + 2 (OH)
H

Dalam tanah yang mengandung Ca dan H, pembentukan ion hidroksil


diimbangi oleh ion hidrogen. Ion hidrogen dan kation lainnya dijerap pada
kompleks jerapan pada saat yang sama. Oleh krn itu, pH larutan tanah
akan sangat bergantung dari jumlah ion hidrogen dan kation lainnya yang
dijerap. Bila ion hidrogen dominan, hasilnya reaksi masam. Kelebihan
kation basa menghasilkan reaksi alkalin, bila seimbang diperoleh pH 7.
PENGENDALIAN KOLOIDAL REAKSI TANAH

PERSENTASE KEJENUHAN BASA. Nisbah hidrogen dan kation basa yang


dijerap pada kompleks koloidal ditunjukan oleh persentase Kejenuhan Basa. Dg
demikian: %KB rendah berarti reaksi masam;
%KB mendekati 100% mencerminkan reaksi reaksi basa atau netral.
Nilai pH yang sebenarnya, disamping bergantung pada KB, juga ditentukan oleh
2 faktor lagi yaitu:
1) Sifat misel
2) Macam kation yang dijerap.

SIFAT MISEL. Pada %KB yang sama, kompleks koloid yang berbeda akan
mempunyai nilai pH yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh tingkat disosiasi hidrogen
yang dijerap dari berbagai koloid. Umpamanya, hidrogen terjerap pada kompleks
organik dengan mudah berdisosiasi ke dalam larutan tanah. Krn alasan ini, maka pH
tanah organik pada persentase KB tertentu lebih rendah dibandingkan dg tanah
mineral.
Sebaliknya disosiasi H yang terjerap dari Fe atau Al-hidro oksida sgt rendah.
Akibatnya, tanah yag banyak mengandung tipe koloid demikian mempunyai nilai pH
tinggi pada persentase KB tertentu. Tingkat disosiasi hidrogen dari liat silikat berada
diantara humus dan hidro oksida. (Mis. KB=50%: pH 4,5-5,0; 5,2-5,8; 5,0-7,0).
Tingkat hidrolisis liat silikat: kaolonit < hidrus mika < monmorilonit.
MACAM KATION YANG TERJERAP.
Tanah jenuh dengan Na mempunyai nilai pH lebih tinggi dari tanah jenuh dengan Ca
dan Mg. Jadi, umpamanya pada KB 70%, ada ion Ca:Mg:K:Na = 10:3:1:1 akan
memberikan nilai pH lebih rendah bila dibandingkan dengan proporsi
Ca:Mg:K:Na = 9:1:1:9.
Dengan demikian reaksi larutan tanah ditentukan oleh 3 faktor:
1. Persentase KB
2. Sifat misel
3. Kation yang terjerap.
Karenanya sulit melihat hubungan antara KB dengan pH apabila kita
membandingkan tanah secara acak. Tetapi, tanah bertekstur dan
berbahan organik serupa dpt menunjukkan adanya hubungan tsb.
Namun demikian, dua tanah bernilai pH sama jarang mempunyai
persentase KB yang sama, demikian pula sebaliknya.
PERUBAHAN UTAMA DALAM pH TANAH
Ada 2 faktor yang menyebabkan pH tanah dpt berubah:
1. Yang menghasilkan tambahan hidrogen yang terjerap
2. Yang menaikan jumlah basa terjerap

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBENTUK REAKSI MASAM.


Dalam proses pelapukan bahan organik terbentuk asam organik dan inorganik.
Bentuk sederhana yang banyak dijumpai adalah asam karbonat (H2CO3), yang
merupakan hasil reaksi antara CO2 dan air.
H2CO3 dapat melarutkan batu kapur. Atau kalsium karbonat. Pengaruh yang lama
dan terus menerus merupakan penyebab utama tercucinya basa-basa dari tanah.
Karena H2CO3 merupakan asam lemah, maka sumbangan thd penurunan pH sgt kecil
dan tdk dpt dipakai sbg penyebab pH rendah di kebanyakan tanah.
Asam inorganik spt H2SO4 dan HNO3 merupakan asam penyumbang ion hidrogen
dalam tanah. Asam-asam itu bersama dengan asam keras lainnya merupakan
penyebab terbentuknya kemasaman sedang hingga sangat masam. Selain dari
pelapukan bahan organik, asam sulfat dan nitrat juga terbentuk dari kegiatan jasad
mikro yang menggunakan pupuk, spt belerang dan Asam-sulfat.
Proses lain yang menimbulkan suasana masam adalah pencucian. Basa-basa yang
tergeser dari kompleks jerapan dan berada dalam larutan tanah tercuci bersama air
drainase. Proses ini secara tdk langsung menimbulkan kemasaman dg
menghilangnya basa-basa yang dpt bersaing dengan hidrogen untuk menduduki
kompleks jerapan.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBENTUK REAKSI ALKALIN
Setiap proses yang membantu mempertahankan atau memperbanyak basa
yang dpt dipertukarkan spt Ca, Mg, K, dan Na akan menaikan alkalinitas, spt:
 Proses hancuran iklim yang membebaskan basa-basa dari mineral primer
 Penambahan bahan yang mengandung basa, spt kapur, merupakan cara
yang biasa dilakukan untuk mengimbangi kekurangan kation tsb.
 Irigasi yang banyak mengandung basa yang dapat dijerap.
 Keadaan yang memungkinkan basa-basa dd tetap berada dalam tanah
(pH tanah di daerah agak kering dan kering bernilai tinggi).

GEJOLAK pH TANAH
Larutan tanah mengalami gejolak kadar ion hidrogen dari waktu ke waktu.
 Pengeringan tanah, terutama bila melebihi suhu lapang, menyebabkan
kenaikan kemasaman tanah nyata.
 Dalam musim panas pH tanah sering turun akibat kegiatan jasad mikro.

KERAGAMAN ION HIDROGEN DALAM LARUTAN TANAH


Kedadaan kemasaman di dalam tanah rtidaklah seragam. Perbedaan pH akan
dijumpai dari titik satu ke titik yang lain. Hal ini disebabkan oleh:
 Kegiatan jasad mikro setempat
 Penyebaran bahan organik yang tidak merata di dalam tanah.
KEMASAMAN AKTIF VS KEMASAMAN DAPAT DIPERTUKARKAN
Dalam tanah masam ada 2 kelompok ion hidrogen:
 Yang terdapat dalam larutan tanah Berada dalam keseimbangan
(Kemasaman Aktif) dan dianggap sbg faktor yang
 Yang terjerap dalam kompleks koloidal mengendalikan nisbah ion H
(Kemasaman cadangan) dan OH dlm larutan tnh.

Misel H Misel + H+
Ion H yang terjerap Ion H dalam larutan Tanah
(Kemasaman cadangan) (Kemasaman aktif)
JUMLAH KEMASAMAN AKTIF DAN KEMASAMAN CADANGAN.
Besaran nisbi dari kemasaman aktif dan cadangan mempunyai arti praktikal
penting dan menarik. Suatu tanah dikatakan masam, bukanlah berarti bahwa
kemasaman aktifnya sangat tinggi, tetapi justru sebaliknya.
Sbg contoh:

Nilai pH Tanah Kebutuhan Kapur untuk Kebutuhan kapur yang


menetralkan kemasaman aktif senyatanya
pH 6,0 1/50 kg CaCO3 2 ton kapur/ha
pH 5,0 1/5 kg CaCO3 4 ton kapur/ha
pH 4,0 2 kg CaCO3 6 ton kapur/ha
Perhitungan kasar menunjukkan bahwa kemasaman potensial:
 1000 kali lebih kuat dari kemasaman aktif pada tanah berpasir
 50.000 – 100.000 kali lebih kuat dari kemasaman aktif pada tanah berliat dan
kaya bhn organik.

SIFAT SANGGAAN TANAH (BUFFER)


Tanah memperlihatkan sifat menghambatnya terhadap perubahan pH. Hambatan
ini disebut sanggaan, suatu sifat umum dari campuran asam lemah dengan
garamnya. Secara singkat, pada dasarnya tanah disangga oleh liat dan humus.
Mekanisme sanggaan tanah dapat dijelaskan secara sederhana, terutama bila kita
dasarkan atasdisosiasi ion H+ dari asam koloidal lemah, sbb:

Ion H yang terjerap Ion H dalam larutan tanah


(Kemasaman cadangan) (Kemasaman Aktif)

Perhatikan bahwa asam lemah ini mempunyai tingkat disosiasi yang lemah dan
sebagian besar dari ion hidrogen tetap terjerap.
Bila ditambahkan sejumlah kapur untuk menetralisasikan ion hidrogen yang
terdapat dalam larutan tanah, maka segera reaksi akan bergeser ke kanan,
dengan akibat lebih banyak ion hidrogen memasuki larutan tanah. Karenanya
kenaikan pH hanya sedikit sekali dan dapat diabaikan. Perubahan ini akan tetap
kurang nyata, dan baru berubah nyata bila cukup banyak kapur ditambahkan untuk
menghabiskan ion hidrogen yang dapat dipertukarkan (cadangan).
KAPASITAS SANGGAAN TANAH
Dengan asumsi faktor-faktor lain sama, makin tinggi KTK makin besar kapasitas
sanggaannya.
Makin berat tekstur dan makin tinggi kadar bahan organik suatu tanah, makin
banyak kapur harus ditambahkan untuk mengubah pH tanah tsb.

ARTI SANGGAAN
STABILISASI pH TANAH.
Adanya perubahan pH yang nyata merupakan petunjuk adanya perubahan radikal
dalam tanah terutama sehubungan dengan hara tanaman. Bila gejolak pH terlalu
besar maka tanaman dan jasad mikro akan sgt menderita sebelum mereka
menyesuaikan diri seperlunya.
Pengaruh penurunan pH tanah:
 Pengaruh langsung, melalui bertambahnya ion hidrogen
 Pengaruh tidak langsung thd penyediaan unsur hara.
Stabilisasi pH tanah oleh adanya sifat sanggaan merupakan penyangga yang sgt
efektif terhadap kesukaran-kesukaran tsb di atas.

KORELASI REAKSI TANAH


Hubungan pH tanah dengan : (1) mudah tidaknya Ca dan Mg dipertukarkan,
(2) kelarutan Al, Fe, dan unsur mikro, (3) ketersediaan P, (4) kegiatan
jasad mikro.
pH
4 5 6 7 8 9

Fungi

Bakteri dan Aktinomicetes

Nitrogen

Kalsium dan Magnesium

Fosfat

Kalium

Belerang

Fe, Mn, Zn, Cu, Co

Molibdenum

Boron

Hubungan antara pH dengan kegiatan jasad mikro dan ketersediaan


berbagai unsur hara
KALSIUM DAN MAGNESIUM. Hilangnya Ca dan Mg dari kompleks jerapan karena
pencucian, akan menyebabkan pH tanah berangsur-angsur akan menjadi lebih masam.
Krnnya, di daerah basah terdapat korelasi nyata anyata pH dan kedua basa tsb yang
dapat ditukar.

ALUMINIUM DAN UNSUR MIKRO. Bila pH tanah mineral rendah, sejumlah Al, Fe, dan
Mn menjadi larut sedemikian, shg mereka merupakan racun bagi tanaman tertentu.
Dengan meningkatnya pH , jumlah ion-ion tsb dalam larutan tanah berkurang. Pada pH
netral atau sedikit di atasnya, tanaman tertentu dpt menderita kekurangan Fe dan Mn.
Pada tanah masam Mo tidak tersedia. Bila pH naik hingga 6 atau lebih ketersediaannya
meningkat.

FOSFOR TERSEDIA. Bentuk ion fosfor yang terdapat dalam tanah bergantung pada
pH larutan tanah. Bila tanah bereaksi basa, ion HPO42- dominan. Dengan menurunnya
pH bentuk H2PO4- dan HPO42- akan dijumpai dalam tanah. Makin masam tanah bentuk
H2PO4- makin dominan.
Dalam keadaan yang semakin masam, fosfor akan diikat sebagai senyawa kompleks
Fe, Al, atau Mn yang tidak larut dalam air. Fiksasi menghjebat bila pH kurang dari 5.
Bila pH tanah mineral melebihi 7, fosfor menjadi tidak tersedia, karena:
 membentuk senyawa Ca-fosfat yang tidak larut
 kelebihan Ca dapat mengganggu serapan dan penggunaan P oleh tanaman.
JASAD TANAH DAN pH
 Pada umumnya, bakeri dan aktinomicetes beraktifitas lebih baik pada tanah
mineral dengan pH sedang sampai tinggi. Aktivitasnya akan sgt menurun bila
pH turun hingga kurang dari 5,5.
 Fungi bersifat fakultatif, berkembang baik pada tiap pH tanah. Namun,
pada pH sedang atau tinggi mendapat saingan keras dari bakteri dan
aktinomicetes.
 Nitrifikasi dan fiksasi nitrogen berlangsung cepat pada pH tanah mineral
lebih dari 5,5.
 Pelapukan, aminisasi, dan amonifikasi akan tetap berlangsung walaupun pH
lebih rendah, karena sebagian dari fungi dpt melakukan transfer enzimatik
pd pH rendah.

Ditinjau dari segala sudut, tanah ber-pH antara 6 – 7 memberikan suasana


biotik yang terbaik. Dalam suasana ini keadaan hara sangat menguntungkan dan
fosfor tersedia mencapai jumlah maksimum.
HUBUNGAN TUMBUHAN DENGAN REAKSI TANAH
Terdapat 3 keadaan fisiologis dalam tanah yang dpt dibedakan dengan
jelas:
1) Keadaan tanah sangat masam
2) Keadaan tanah sedikit basa
3) Keadaan tanah dengan reaksi sedang
Tanah sangat masam:
 pH rendah (katakan 4,5)
 Ca dan Mg dapat ditukar sedikit
 Al, Fe, Mn, dan B larut banyak
 Mo larut sedikit
 P dan N-tersedia sedikit
Tanah sedikit basa:
 Mempounyai nilai pH 7,5
 Ca, Mg, dan Mo banyak
 Al sedikit
 N-tersedia cukup
Tanah reaksi sedang:
Merupakan suasana rata-rata yang baik bagi tanaman,
keadaan kimia maupun biologi berada pada titik optimum.
CARA MENETAPKAN pH TANAH
1. CARA ELEKTROMETRIK
Cara pengukuran pH yang akurat dengan
pH-meter. Kadar ion H dalam larutan tanah
dibandingkan dengan suatu baku elektrode
hidrogen. Mekanisme pengukuran sgt
kompleks, dan harus dilakukan oleh orang
yang mahir.

2. METODE WARNA
Sangat sederhana dan mudah, tetapi kurang akurat. Menggunakan berbagai
indikator sebagai petunjuk pH, yang akan berubah bila pH berubah. Titik
perubahan warna dipakai unt memperkirakan kadar ion H dalam larutan
tanah. Dg cara ini kisaran pH 3 sampai 8 dpt diperoleh.

CARA-CARA MENINGKATKAN KEMASAMAN TANAH


Penurunan pH tanah kadang-kadang dikehendaki dan diperlukan. Contoh, di
daerah kering penurunan pH tanah alkalin sering dilakukan agar tanaman bisa
tumbuh.
1. BAHAN ORGANIK MASAM.
Bahan organik masam spt daun vinus dan serbuk gergaji sering igunakan sbg
bahan kompos untuk tanaman hias yang memerlukan suasana masam.
2. PENGGUNAAN BAHAN KIMIA.
Untuk tanaman yang memerlukan Fe banyak spt rhododendron, azalea, dll dapat
menggunakan ferosulfat. Hidrolisis garam ini akan menghasilkan asam sulfat
yang dapat menurunkan pH.
Bahan yang lebih baik lagi ad belerang. Bhn ini akan dioksidasikan ol jazad mikro
tertentu dlm tanah, dan mempunyai efek pemasaman 4 smp 5 kali lebih efektif
dari ferosulfat.
Penurunah pH tanah dengan pemberian belerang dapat menekan penyakit yang
disebabkan oleh aktinomicetes, karena aktinomicetes tdk dapat berkembang
dalam suasana masam. Biasanya, bila pH diturunkan sampai 5,3 serangannya
sangat menurun.