Anda di halaman 1dari 14

Pengertian

Penyakit Addison adalah suatu kelainan endokrin atau hormone yang


terjadi pada semua kelompok umur yang menimpa pria dan wanita
sama rata. Penyakit ini dikarakteristikan oleh kehilangan berat badan,
kelemahan otot, kelelahan, tekanan darah rendah, dan adakalanya
penggelapan kulit pada kedua bagia tubuh yang terbuka dan tidak
terbuka.
Klasifikasi
Berdasarkan tingkat keparahan , penyakit addison di bagi menjadi dua, yaitu:
1.Akut
Krisis adrenal. Terjadi apati, koma, dan nyeri epigastrik. Kadar gula darah rendah.
Keadaan ini timbul setelah terjadi trauma, hipotensi berat dan sepsis.
Yang lebih jarang, keadaan ini bisa timbul pada pasien yang sebelumnya (dalam
waktu 1-1,5 tahun) atau baru-baru saja mendapat pengobatan kortikosteroid
dimana terdapat trauma, pembedahan atau infeksi akut, atau saat penghentian
gangguan steroid. Bisa timbul setelah pembedahan untuk mengangkat adrenal
pada sindrom cussing, atau pada pengobatan kanker payudara kecuali jika
dilakukan terapi penggantian yang adekuat.
2.Kronis
Terdapat kelemahan dan kelelahan yang onsetnya perlahan-lahan disertai gejala
gastrointestinal berupa anoreksia, penurunan berat badan dan diare. Hipotensi
sering kali postural, dan takikardia timbul pada tahap lanjut dari penyakit.
Hiperpigmentasi terjadi pada tempat yang terpapar matahari, daerah yang
mengalami gesekan, lipatan tangan dan mukosa bukal.
Etiologi
Etiologi dari penyakit Addison bentuk primer :
1.Infeksi kronis, terutama infeksi-infeksi jamur
2.Sel-se kanker yang menyebar dari bagian-bagian lain tubuh ke
kelenjar-kelenjar adrenal
3.Amyloidosis (sekelompok keadaan yang di cirikan oleh
penimbunan protein fiblirer yang tidak larut dalam berbagai
organ)
4.pengangkatan kelenjar-kelenjar adrenal secara operasi
Etiologi dari penyakit Addison bentuk sekunder :
1.Tumor-tumor atau infeksi-infeksi dari area
2.Kehilangan aliran darah ke pituitary
3.Radiasi untuk perawatan tumor-tumor pituitary
4.operasi pengangkatan bagian-bagian dari hypothalamus
5.operasi pengangkatan kelenjar pituitary
Patofisiologi
Penyakit Addison, atau insufisiensi adrenokortikol,
terjadi bila fungsi korteks adrenal tidak adekuat untuk
memenuhi kebutuhan pasien akan hormon-hormon
korteks adrenal.
Gejala insufisiensi adrenokortikal dapat pula terjadi
akibat penghentian mendadak terapi hormon
adrenokortikol yang akan menekan respond normal
tubuh terhadap keadaan stress dan mengganggu
mekanisme umpan balik normal. Terapi dengan
pemberian kortikosteroid setiap hari selama 2 hingga 4
hingga dapat menekan fungsi korteks adrenal; oleh
sebab itu, kemungkinan penyakit Addison harus
diantisipsi pada pasien yang mendapat pengobatan
kortikosteroid.
Tanda dan gejala
1.Gejala awal : kelemahan, fatique, anoreksia, hausea,
muntah, BB menurun, hipotensi, dan hipoglikemi.
2.Astenia (gejala cardinal) : kelemahan yang berlebih
3.Hiperpiqmentasi : menghitam seperti perunggu,
coklat seperti terkena sinar matahari, biasanya pada
kulit buku jari, lutut, siku
4.Rambut pubis dan aksilaris berkurang pada
perempuan
5.Hipotensi arterial (td : 80/50 mmHg/kurang)
6.Abnormalitas fungsi gastrointestinal
Komplikasi
1.Syok, (akibat dari infeksi akut atau penurunan
asupan garam)
2.Kolaps sirkulasi
3.Dehidrasi
4.Hiperkalemiae
5.Sepsis
6.Ca. Paru
7.Diabetes mellitus
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ditinjau dari tingkat keparahan:
1.Kegagalan adrenal kronis: penggantian
glukokortikoid dengan hidrokortison 20 mg/hari
dalam dosis terbagi, ditambah dengan terapi
terhadap infeksi atau penyakit penyrta, atau
pembedahan. Pengganti mineralokortikoid
(fludrokortison) hanya dilakukan pada kegagalan
adrenal primer.
2.Kegagalan adrenal akut: merupakan sebuah
kegawat daruratan medis. Cairan intravena (NaCL
fisiologis) dalam jumlah besar dan hidrokortison
diberikan dengan dosis yang tinggi. Faktor pemicu
(infeksi dan lain-lain) ditangani. Pantau kadar
elektrolit dan glukosa.
Penatalaksanaan secara medic
1.Terapi dengan pemberian kortikostiroid setiap hari
selama 2 sampai 4 minggu dosis 12,5 – 50 mg/hr
2.Hidrokortison (solu – cortef) disuntikan secara IV
3.Prednison (7,5 mg/hr) dalam dosis terbagi diberikan
untuk terapi pengganti kortisol
4.Pemberian infus dekstrose 5% dalam larutan saline
5.Fludrukortison : 0,05 – 0,1 mg/hr diberikan per oral
Pengkajian
1.Data Demografi
Identitas pasien: nama, alamat, umur (semua usia), jenis kelamin (laki-
laki dan perempuan).
2.Riwayat Penyakit
Penyakit sekarang
Pada pasien dengan penyakit Addison gejala yang sering muncul ialah
pada gejala awal : kelemahan, fatiquw, anoreksia, nausea, muntah, BB
turun, hipotensi dan hipoglikemi, astenia (gejala cardinal). Pasien lemah
yang berlebih, hiperpigmentasi, rambut pubis dan axila berkurang pada
perempuan, hipotensi arterial (TD : 80/50 mm/Hg)
Penyakit dahulu
Perlu dikaji apakah klien pernah menderita tuberkulosis, hipoglikemia
maupun Ca paru, payudara dan limpoma.
Penyakit keluarga
Perlu dikaji apakah dalam keluarga ada yang pernah mengalami
penyakit yang sama / penyakit autoimun yang lain.
Pemeriksaan Fisik (ADL)
Aktivitas/istirahat
Gejala:
- Lelah, nyeri/kelemahan pada otot (terjadi perburukan setiap hari)
- Tidak mampu beraktivitas atau bekerja.
Tanda:
- Peningkatan denyut jantung/denyut nadi aktivitas yang minimal.
- Penurunan kekuatan dan rentang gerak sendi.
- Depresi, gangguan kosentrasi, penurunan inisiatif/ide.
- Latergi.
Sirkulasi
Tanda:
- Hipotensi termasuk hipotensi postural.
- Takikardia, disritmia, suara jantung melemah.
- Nadi perifer melemah.
- Pengisisan kapiler memanjang.
- Ekstermitas dingin, sianosis, dan pucat. Membran mukosa hitam keabu-abuan (peningkatan pigmentasi).
Integritas ego
Gejala:
- Adanya riwayat faktor stres yang baru dialami, termasuk sakit fisik/pembedahan, perubahan gaya hidup.
- Ketidakmampuan menghadapi stres.
Tanda:
- Ansietas, peka rangsang, depresi, emosi tidak stabil.
Eleminasi
Gejala:
- Diare sampai dengan adanya kontipasi
- Kram abdomen.
- Perubahan frekuensi dan karateristik urine.
akanan/cairan
Gejala:
- Anoreksia berat (gejala utama), mual/muntah
- Kekurangan zat garam
- Berat badan menurun dengan cepat.
Tanda:
- Turgor kulit jelek, membran mukosa kering.
Neurosensori
Gejala:
- Pusing, sinkope (pingsan sejenak), gemetar.
- Sakit kepala yang berlangsung lama yang diikuti oleh diaforesis, kelemahan otot.
- Penurunan toleransi terhadap keadaan dingin atau stres. Kesemutan/baal/lemah.
Tanda:
- Disorentasi terhadap waktu, tempat, dan ruang (karna kadar natrium rendah), latergi, kelemahan
mental, peka rangsang, cemas, koma (dalam keadaan krisis)
- Parastesia, paralisis (gangguan fungsi motorik akibat lesi), astenia (pada keadaan krisis).
- Rasa kecap/penciuman berlebihan, ketajaman pendengaran meningkat.
Nyeri/kenyamanan
Gejala:
- Nyeri otot, kaku perut, nyeri kepala.
- Nyeri tulang belakang, abdomen, ekstermitas (pada keadaan krisis).
Pernapasan
Gejala:
- Dipsnea
Tanda:
Keamanan
Gejala:
- Tidak toleran terhadap panas, cuaca (udara) panas.
Tanda:
- Hiperpigmentasi kulit (coklat, kehitaman karena kena sinar matahari atau hitam seperti
perunggu) yang menyeluruh atau berbintik-bintik.
- Peningkatan suhu, demam yang diikuti dengan hipotermia (keadaan krisis).
- Otot menjadi kururs
- Gangguan tidak mampu berjalan.
Seksualitas
Gejala:
- Adanya riwayat menopouse dini, amenorea.
- Hilangnya tanda-tanda seks sekunder (misal: berkurangnya rambut-rambut pada tubuh
terutama pada wanita.
- Hilangnya libido.
Penyuluhan/pembelajaran
Gejala:
- Adanya riwayat keluarga DM, TB, kanker
- Adanya riwayat tiroiditis, DM, TB, anemia pernisiosa.
Pertimbangan:
- DRG menunjukkan rerata lama dirawat; 4,3 hari.
Rencana pemulangan
- Membutuhkan bantuan dalam hal obat, aktivitas sehari-hari, mempertahankan
kewajibannya.
Pemerikasaan diagnostik
Kadar hormon
Kortisol plasma: menurun dengan tanpa respond pada pemberian ACTH
secara IM (primer)atau ACTH secara IV.
ACTH: meningkat secara mencolok (pada primer) atau menururn (sekunder).
- ADH: meningkat.
- Aldesteron: menurun.
Elektrolit: kadar dalam serum mungkin normal atau natrium sedikit menururn,
sedagkan kalium sedikit meningkat. Walaupun demikian, natrium dan kalium
yang abnormal dapat terjadi sebagai akibat tidak adanya aldesteron dan
kekurangan kortisol (mungkin sebagai akibat dari krisis).
Glukosa: hipoglikemia.
Ureum/kreatinin: mungkin meningkat (karena terjadi penurunan perfusi
ginjal).
Analisis gas darah: asidosis metabolik.
Eritrosit: normositik, anemia normokromik (mungkin tidak nyata/terselubung
dengan penurunan volume cairan) dan hematokrit meningkat (karena
hemokosentrasi). Jumlah limfosit mungkin rendah, eosinofil meningkat.
Sinar x: jantung kecil, klasifikasi kelenjar adreanal, atau TB (paru, ginjal)
mungkin akan ditemukan. (Doenges, Marilynn. 2000)