Anda di halaman 1dari 16

KELOMPOK 1:

1. ALFIYANI MEILASARI
2. M. ALI FAUZI
3. NUR CHOLIFAH
4. PAQUITA CHANDAR N
5. RACHMANDANI LILIK N
6. RIZQI LUTFI
7. TIYAS PITRIYANI
8. RUDI YANTO
Asfiksia Neonatorum
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan
asidosis, bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan
kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi
fungsi organ vital lainnya. (Saiffudin, 2001)
Jadi, Asfiksia neonatorum adalah keadan bayi baru lahir yang
tidak dapat bernapas secara spontan dengan ditandai adanya
hipoksemia (penurunan PaO2), hiperkarbia (peningkatan PaCO2),
dan asidosis (penurunan PH).
2. Asfiksia dalam persalinan
Etiologi a. Kekurangan O2.
I. Partus lama (CPD, rigid serviks dan atonia/
1. Asfiksia dalam kehamilan insersi uteri)
a.Penyakit infeksi akut II. Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus
b. Penyakit infeksi kronik yang terus-menerus mengganggu sirkulasi
c.Keracunan oleh obat-obat bius darah ke uri.
d.Uraemia dan toksemia gravidarum III. Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada
e.Anemia berat plasenta.
f. Cacat bawaan IV. Prolaps fenikuli tali pusat akan tertekan
g.Trauma antara kepaladan panggul.
V. Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak
tepat pada waktunya.
VI. Perdarahan banyak : plasenta previa dan
solutio plasenta.
VII. Kalau plasenta sudah tua : postmaturitas
(serotinus), disfungsi uteri.
b. Paralisis pusat pernafasan
I. Trauma dari luar seperti oleh tindakan
forceps
II. Trauma dari dalam : akibat obat bius.
Patofisiologi
Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah
rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung
janin) menjadi lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka
nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini
rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih
cepat akhirnya ireguler dan menghilang.
Manifestasi klinik
1. Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari
100 x/mnt, halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
a. Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia
b. Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia
c. Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat

2. Pada bayi setelah lahir


a. Bayi pucat dan kebiru-biruan
b. Usaha bernafas minimal atau tidak ada
c. Hipoksia
d. Asidosis metabolik atau respiratori
e. Perubahan fungsi jantung
f. Kegagalan sistem multiorgan
g. Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik,
kejang, nistagmus dan menangis kurang baik/tidak baik
Penatalaksanaan Medis
Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan
untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin muncul.
Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi :
1. Memastikan saluran nafas terbuka :
•Meletakan bayi dalam posisi yang benar
•Menghisap mulut kemudian hidung kalau perlu trachea
•Bila perlu masukan Et untuk memastikan pernapasan terbuka
2. Memulai pernapasan :
•Lakukan rangsangan taktil Beri rangsangan taktil dengan menyentil atau menepuk telapak
kakiLakukan penggosokan punggung bayi secara cepat,mengusap atau mengelus tubuh,tungkai
dan kepala bayi.
•Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif
3. Mempertahankan sirkulasi darah :
• Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu
menggunakan obat-obatan
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
a. Sirkulasi
i. Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. Tekanan darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).
ii. Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV.
iii. Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
iv. Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena.
a. Eliminasi
Dapat berkemih saat lahir.
a. Makanan/ cairan
i. Berat badan : 2500-4000 gram
ii. Panjang badan : 44-45 cm
iii. Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi)
a. Neurosensori
• Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
• Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas).
Penampilan asimetris (molding, edema, hematoma).
• Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik yang memanjang)
a. Pernafasan
i. Skor APGAR : 1 menit......5 menit....... skor optimal harus antara 7-10.
ii. Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
iii.Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
PENGKAJIAN FUNGSIONAL (GORDON)
1. Pola persepsi Manajemen Kesehatan: Jika ada keluarga yang sakit maka langsung di bawa ke
mantri/ bidan terdekat.
2. Pola Nutrisi/Metabolik: Diit ditunda
3. Pola Eliminasi: bayi sudah BAK 3x bau khas, warna kuning jernih dan BAB 1x mekonium warna hijau
kehitaman
4. Pola Aktivitas dan Latihan: bayi belum bergerak aktif disebabkan tonus otot masih lemah ,
gerakannya masih lemah
5. Pola Tidur/Istirahat: bayi tidur selama ±5jam dan terbangun menangis jika BAB/BAK atau sebab lain
yang mengganggu kenyamanan bayi
6. Pola Persepsi Kognitif: tidak terkaji
7. Pola Konsep Diri: tidak terkaji
8. Pola Peran dan Hubungan: Bayi adalah anak pertama yang kelahirannya sangat diharapkan oleh
kedua orang tuanya dan keluarga lain, hubungan dengan ibunya kurang karena harus terpisah
dengan ibunya sementara waktu untuk menjalani perawatan di ruang peristi.
9. Pola Seksualitas/Reproduksi: Alat reproduksi lengkap yaitu antara testis dan penis ada dan sudah
terbentuk alat kelamin yang sempurna, tidak ada kelainan pada lubang saluran urinnya, dapat BAK
tanpa kesulitan dan kesakitan.
10. Pola Koping dan Toleransi Stress: bayi selalu menangis jika merasa tidak nyaman
11. Pola Nilai dan Kepercayaan: Setelah bayi lahir di adzani, bayi beragama islam sama dengan orang
tuanya.
Tujuan utama mengatasi asfiksia ialah untuk mempertahankan
kelangsungan hidup bayi.
 Jangan dibiarkan bayi kedinginan (balut dengan kain),
 bersihkan mulut dan jalan nafas
 Lakukan resusitasi untuk mengalirkan oksigen
 Dapat juga dilakuakn menekan dan melepaskan dada bayi.
 Gejala perdarahan otak biasanya timbul pada beberapa hari
setelah postpartum. Jadi kepala dapat direndahkan supaya
lendir yang menyumbat pernafasan dapat keluar
Diagnosa
Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak

Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi

Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi


Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan
pada agen-agen infeksius
n Diagnosa Keperawatan dan Tujuan Intervensi Rasional
o
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d 1. Tentukan kebutuhan oral/ 1. Untuk memungkinkan reoksigenasi.
produksi mukus banyak suction tracheal. 2. Pernapasan bising, ronki dan mengi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 2. Auskultasi suara nafas menunjukkan tertahannya secret.
keperawatan, bersihan jalan nafas sebelum dan sesudah 3. Membantu memberikan informasi yang
kembali efektif. suction. benar pada keluarga.
Dengan kriteria hasil : 3. Beritahu keluarga tentang 4. Mencegah obstruksi/aspirasi.
a. Tidak menunjukkan demam suction. 5. Membantu untuk mengidentifikasi
b. Tidak menunjukkan cemas 4. Bersihkan daerah bagian perbedaan status oksigen sebelum dan
c. Rata-rata repirasi dalam tracheal setelah suction sesudah suction.
batas normal selesai dilakukan.
d. Pengeluaran sputum melalui 5. Monitor status oksigen
jalan nafas pasien, status
e. Tidak ada suara nafas hemodinamik segera
tambahan sebelum, selama dan
f. Mudah dalam bernafas. sesudah suction
g. Tidak menunjukkan
kegelisahan.
h. Tidak adanya sianosis.
i. PaCO2 dalam batas normal.
j. PaO2 dalam batas normal.
k. Keseimbangan perfusi
ventilasi
2. Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ 1. Pertahankan kepatenan jalan 1. Untuk menghilangkan mucus yang terakumulasi
hiperventilasi nafas dengan melakukan dari nasofaring, tracea.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan pengisapan lender 2. Bunyi nafas menurun/tak ada bila jalan nafas
keperawatan selama proses keperawatan 2. Auskultasi jalan nafas untuk obstruksi sekunder. Ronki dan mengi menyertai
diharapkan pola nafas menjadi efektif mengetahui adanya penurunan obstruksi jalan nafas/kegagalan pernafasan.
Kriteria hasil : ventilasi 3. Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja
a. Pasien menunjukkan pola nafas yang 3. Berikan oksigenasi sesuai nafas.
efektif kebutuhan
b. Ekspansi dada simetris
c. Tidak ada bunyi nafas tambahan
d. Kecepatan dan irama respirasi dalam
batas normal
3. Kerusakan pertukaran gas b.d 1. Kaji bunyi paru, frekuensi nafas, 1. Penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan
ketidakseimbangan perfusi ventilasi kedalaman nafas dan produksi atelektasis. Ronki, mengi menunjukkan akumulasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan sputum secret/ketidakmampuan untuk membersihkan jalan
keperawatan selama proses 2. Pantau saturasi O2 dengan nafas yang dapat menimbulkan peningkatan kerja
keperawatan diharapkan pertukaran oksimetri pernafasan.
gas teratasi 3. Berikan oksigen tambahan yang 2. Penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan/atau
Kriteria hasil : sesuai. saturasi atau peningkatan PaCO2 menunjukkan
a. Tidak sesak nafas kebutuhan untuk intervensi/perubahan program
b. Fungsi paru dalam batas terapi.
normal 3. Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat
terjadi sekunder terhadap penurunan
ventilasi/menurunnya permukaan alveolar paru.
4. Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak 1. Cuci tangan setiap sebelum dan 1. Mengurangi kontaminasi silang.
terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada sesudah merawat bayi 2. Mencegah penyebaran infeksi/kontaminasi silang.
agen-agen infeksius 2. Pakai sarung tangan steril 3. Untuk mengetahui apakah ada kelainan pada bayi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3. Lakukan pengkajian fisik secara 4. Membantu keluarga untuk mendapatkan pendidikan
selama proses keperawatan diharapkan risiko rutin terhadap bayi baru lahir, dan pengetahuan yang benar tentang tanda dan gejala
cidera dapat dicegah perhatikan pembuluh darah tali infeksi begitu juga dengan penanganan yang benar.
Kriteria hasil : pusat dan adanya anomaly 5. Membantu memberi kekebalan anak terhadap agen
a. Bebas dari cidera/ komplikasi 4. Ajarkan keluarga tentang tanda infeksi.
b. Mendeskripsikan aktivitas yang tepat dari dan gejala infeksi dan
level perkembangan anak melaporkannya pada pemberi
c. Mendeskripsikan teknik pertolongan pertama pelayanan kesehatan
5. Berikan agen imunisasi sesuai
indikasi (imunoglobulin hepatitis B
dari vaksin hepatitis B bila serum
ibu mengandung antigen
permukaan hepatitis B (Hbs Ag),
antigen inti hepatitis B (Hbs Ag)
atau antigen E (Hbe Ag).