Anda di halaman 1dari 58

Standar & Toleransi

Integrated Construction Company

Head Office, 24 September 2018


Umum

2
STANDAR & TOLERANSI pekerjaan konstruksi dibuat dengan maksud agar dicapai suatu
kualitas hasil pelaksanaan pekerjaan yang sesuai dengan peraturan-peraturan yang
berlaku. Hal-hal yang diuraikan adalah tentang jenis pekerjaan, standar pemeriksaan
pekerjaan termasuk pengujian lapangan dan laboratorium, toleransi pengukuran dan
dimensi pekerjaan.
STANDAR & TOLERANSI ini melengkapi spesifikasi teknis dimana spesifikasi teknis belum
menjelaskan tentang standar & toleransi kualitas hasil pekerjaan atau pemasangan.
Tujuan dibuat STANDAR & TOLERANSI ini adalah sebagai berikut :
1. Biaya : digunakan sebagai acuan penawaran harga satuan pekerjaan
sesuai dengan target satandar mutu yang ingin dicapai.
2. Mutu : Digunakan sebagai acuan pelaksanaan pekerjaan untuk
menghasilkan mutu produk pekerjaan.
3. Waktu : Digunakan sebagai acuan waktu pelaksanaan pekerjaan yang
diperlukan untuk menghasilkan mutu produk pekerjaan yang
ditentukan.
Sehingga dicapai suatu produk pelaksanaan proyek dengan hasil : Biaya yang efisien, Mutu
yang baik, Waktu penyelesaian yang tepat.

3
STANDAR & TOLERANSI ini dibuat berdasarkan peraturan-peraturan Standar Nasional
Indonesia untuk konstruksi, Standar International untuk konstruksi yang umum digunakan
dalam pelaksanaan proyek konstruksi di Indonesia, International Standarization
Organisation (ISO) yang digunakan oleh PT. ACSET Indonusa Tbk.
STANDAR & TOLERANSI juga mengatur tahapan kerja pelaksanaan pekerjaan dan tahapan
uji suatu pekerjaan sebelum dilakukan pekerjaan selanjutnya.
STANDAR & TOLERANSI ini diharapkan dapat mengurangi perbedaan pandangan antara
pemberi tugas dengan PT. ACSET Indonusa Tbk. atas standar mutu yang harus dicapai dalam
suatu proyek.
Pemberi tugas dapat menambahkan atau mengurangi hal-hal yang ada di dalam STANDAR &
TOLERANSI ini dengan persetujuan bersama antara pemberi tugas dan PT. ACSET Indonusa
Tbk. Penambahan atau pengurangan tersebut harus tertulis dan terdokumentasi dengan
baik dan digunakan menjadi lampiran dokumen yang mengikat dalam menentukan biaya,
mutu dan waktu suatu pekerjaan.
Setiap personel yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan proyek baik dari pemberi tugas
(MK dan konsultan) maupun PT. ACSET Indonusa Tbk. tidak diperbolehkan membuat
ketentuan-ketentuan pekerjaan diluar yang telah disepakati.
4
Standar & Toleransi
Gedung

5
1. Alat Ukur
1.a. Teodolite Laser Digital / Total Station
• Diketahui nilai akurasi alat dari pabrik
pembuat alat.
• Sertifikat kalibrasi yang diperbaharui setiap
6 bulan.
• Dilakukan kalibrasi sebelum 6 bulan, jika
diketahui terjadi penyimpangan hasil
pengukuran lebih besar dari akurasi alat
yang dijinkan. Maksimum toleransi : 1 mm
per 50 meter’.

1.a.1. Cek akurasi alat Teodolit method intersection

6
1. Alat Ukur

1.b. Waterpass Auto Level


• Diketahui nilai akurasi alat dari pabrik
pembuat alat.
• Sertifikat kalibrasi yang diperbaharui setiap
6 bulan.
• Dilakukan kalibrasi sebelum 6 bulan, jika
diketahui terjadi penyimpangan hasil
pengukuran lebih besar dari akurasi alat
yang dijinkan. Maksimum toleransi : 1 mm
per 50 meter’.

7
1. Alat Ukur
1.c. Prisma
• Dipastikan masih dalam kondisi baik/tidak
rusak.
• Sertifikat kalibrasi yang diperbaharui setiap
6 bulan.

1.d. Statif/ Baak ukur


• Dipastikan masih dalam kondisi baik/tidak
rusak.
• Sertifikat kalibrasi yang diperbaharui setiap
6 bulan.
• Disiapkan Master Statif/baak ukur yang
disimpan dan digunakan hanya untuk cek
akurasi statif/baak ukur yang digunakan di
lapangan.
8
1. Alat Ukur
1.e. Meteran
• Dipastikan masih dalam kondisi baik/tidak
rusak.
• Sertifikat kalibrasi yang diperbaharui setiap
6 bulan.
• Disiapkan Master Meteran yang disimpan
dan digunakan hanya untuk cek akurasi
Meteran yang digunakan di lapangan.

9
1. Alat Ukur
1.f. Laser Level
• Diketahui nilai akurasi alat dari pabrik pembuat
alat.
• Sertifikat kalibrasi yang diperbaharui setiap 6
bulan.
• Dilakukan kalibrasi sebelum 6 bulan, jika
diketahui terjadi penyimpangan hasil
pengukuran lebih besar dari akurasi alat yang
dijinkan. Maksimum toleransi : 1 mm per 50 m’.

10
1. Alat Ukur

1.g. Alat Bantu

1.g.1. Unting-unting 1.g.3. Kompas


1.g.2. Waterpass

1.g.4. Selang timbang air


11
2. Setting Out Bangunan
A. Gambar Site Plan Rencana
Di dalam gambar terdapat informasi sbb :
- Koordinat-koordinat titik-titik bangunan.
- Level bangunan
- Kontur tanah
- As bangunan
- Jarak antar as bangunan.
- Garis Sepadan Bangunan
- Saluran
- Jalan
B. Bench Mark Utama
- BM Nasional/pemerintah yang terdekat
dengan lokasi bangunan.
- Dilengkapi informasi koordinat & Level BM
Utama yang dibuat oleh Pemerintah.

2.B.1. Bench mark Nasional


12
2. Setting Out Bangunan
C. Bench Mark Bantu
- Menghubungkan BM Utama dengan BM Bangunan.
- Jumlah BM Bantu tergantung tingkat kesulitan & jarak BM Utama ke lokasi
proyek.
- Dilengkapi dengan koordinat & level dengan acuan BM Utama
- Jarak maksimum BM Bantu dengan BM Utama : 1 Kilometer.
- Jarak maksimum antara BM Bantu : 1 Kilometer

D. Bench Mark Bangunan


- Berdasarkan BM Bantu dan BM Utama.
- Jarak maksimum dengan BM Bantu : 1 Kilometer.
- Minimal terdapat 2 buah dalam satu proyek (kebutuhan,disesuaikan dengan
luas area dan bentuk bangunan).
- Lokasi harus aman dari gangguan selama pengerjaan proyek.
- Dilakukan cek berkala setiap bulan

13
2. Setting Out Bangunan

2.D.1. Pembuatan bench mark proyek


14
2. Setting Out Bangunan
E. Gambar Site Plan Existing (digunakan sebagai acuan konstruksi bangunan)
Di dalam gambar terdapat informasi actual sesuai hasil pengukuran/pemetaan
lapangan sbb :
- Koordinat-koordinat titik-titik bangunan.
- Level bangunan
- Kontur tanah
- As bangunan
- Jarak antar as bangunan.
- Garis Sepadan Bangunan
- Saluran
- Jalan
- Bangunan sekitar lokasi proyek.

15
2. Setting Out Bangunan
F. Monitoring Selama Konsctruksi
- Settlement Monitor.
- Vertikaliti Monitor.
- Horisontal/Leveling Monitor.
- Inclonometer (D-wall).
- Building perimeter (end of slab)

2.F.1. Monitoring Vertikaliy

16
2. Setting Out Bangunan

2.F.2. Pembuatan Point Reference di Bangunan Existing (Free Station Points)

17
3. Toleransi Penyimpangan Bangunan Berdasarkan
ISO 4463
3.a. Horizontal Building Layout
Right angle as offset

Steel tape : ±3/4’’ (19) in 100’ (30.5 m)


(Latta)
Micropter transit : ±1/8’’ (3) in 100’
(30.5 m) (Latta)
Construction laser : ±1/32’’ (0.74) in
100’ (30.5 m) (Latta)

Deviasi yang disetujui ISO 4463 : ±1.5√L


mm

Sebagai contoh pada 30.5 m (100’)


Offset tolerance is ±8.3 mm (±3/8’)

18
3. Toleransi Penyimpangan Bangunan Berdasarkan
ISO 4463
3.b. Vertical Building Layout
Accuracy in plumbness: (Latta)
Spirit level: ±1/4’’ (6) in 10’ (3m)
Plumb bob: ±1/8’’ (3) in 10’ (3m)
Transit: ±1/8’’ (3) in 100’ (30.5m)
Optical plumbing device: ±1/16’’ (1.6) in 100’ (30.5m)

Smart tool: ±1/32’’ (0.8) in 2’ (600) or 0.1°


Laser plumb: ±1/32’’ (0.8) in 100’ (30.5)

19
B. Struktur

1. Material
1.1. Besi Beton
1.1.1. Material
A. Penyimpanan besi
dikelompokan berdasarkan :
• Diameter besi
• Mutu besi
• FIFO (First In First Out)

B. Spesifikasi besi :
• Tensile
• Bending
• Toleransi berat : minimal 94% dari berat nominal
• Diameter & Panjang besi.
• Marking : Mill, diameter, type, mutu.

20
B. Struktur
1.1.2. Alat Pabrikasi

A. Bar Cutter:
Pisau potong harus mampu
memotong besi sesuai ukuran besi &
kualitas besi.

B. Bar Bender:
Diameter Roll Bender harus sesuai
dengan radius bending besi yang
ditentukan BBS (toleransi ± 2 mm,
ACI 318).

21
B. Struktur

1.1.3. Hasil Pabrikasi Besi

Hasil potong dan tekuk besi harus sesuai


dengan :
• Bar Bending Schedule (BBS).
• ACI 315-99 (terlampir)
• ACI 117-90 (terlampir)

1.1.4. Pemasangan besi


Pemasangan besi, beton deking, ikatan
besi, kaki ayam/rebar support, harus
sesuai dengan :
• Bar Bending Schedule (BBS).
• ACI 315-99 (terlampir)
• ACI 117-90 (terlampir)

22
B. Struktur

1.1.5. Test material


• Mill sertificate.
• Pengambilan jumlah sample uji sesuai spesifikasi teknis.
• Laboratorium uji sample sesuai dengan spesifikasi teknis.
• Laporan resmi uji sample dari laboratorium pelaksana test.

23
B. Struktur

C. Air
• Cek sumber/asal air.
• Cek kapasitas supplai air.
• Uji laboratorium air.

D. Additif
• Cek produsen additive.
• Cek kapasitas supplai additive.
• Cek spesifikasi additive.
• Uji laboratorium additive.

24
B. Struktur
1.2.2. Beton
1. Uji campuran beton (mix design).

25
B. Struktur
2. Uji slump dengan langkah sebagai berikut

26
B. Struktur
1.2.2. Beton
3. Uji flow (untuk beton flowcrete).
4. Metode perawatan sample beton.
5. Uji tekan hancur beton, cek capping pada sample beton.
6. Uji serapan air (untuk beton kedap air).
7. Uji waktu setting beton segar.
8. Uji workability beton, sesuai kebutuhan dan peralatan
pengecoran.
9. Jumlah sample beton sesuai spesifikasi teknis.

27
B. Struktur
1.2.3. Pengiriman Beton
1. Cek kapasitas batching plant dan jumlah armada truk mixer.
2. Cek lokasi, jarak tempuh dan waktu tempuh dari batching
plant ke lokasi proyek.
3. Cek peralatan batching plant (kalibrasi alat dan kelayakan alat)
4. Cek logistic plant, batching plant.

28
B. Struktur
1.2.4. Pengecoran
1. Buat & cek rencana pengaturan lalu lintas mobil pengecoran
dalam proyek.
2. Cek kapasitas alat untuk pengecoran : concrete pump, tower
crane, placing boom, vibrator beton, bucket cor, compressor.
3. Buat dan cek area pengambilan sample beton dan
penyimpanan sample beton.
4. Cek interval waktu bongkar beton dari dalam truk mixer.
5. Cek interval waktu antar truk mixer.
6. Cek waktu setting time beton.
7. Cek waktu pengiriman dari batching plant ke proyek.
8. Cek visual fisik beton dan workability beton.

29
B. Struktur
1.3. Begisting
1.3.1. Material Cetak Plywood
Jenis dan kualitas material cetakan (plywood)
harus disesuaikan dengan rencana hasil
permukaan beton yang disepakati antara
pemberi tugas dan kontraktor, sebagaimana
disebut di Bagian 5 : Permukaan Beton.

1.3.2. Perancah dan peralatannya


1. Jenis dan sistem perancah yang akan
digunakan sesuai dengan bentuk komponen
struktur dan metode kerja.
2. Perhitungan kekuatan sudah disetujui oleh
pemberi tugas.
3. Cek kualitas bahan perancah.
4. Jumlah/volume perancah sesuai dengan
kebutuhan schedule proyek.

30
B. Struktur
1.3.3. Pemasangan begisting
A. Bekisting Horisontal atau lantai/ slab.
(ACI 347.3R-13 & ACI 117)
• Cek kelurusan dan kerapihan perancah.
• Cek kekuatan perancah.
• Cek level begisting lantai.
• Cek dimensi balok.
• Cek jarak antar balok.
• Cek kemiringan tembereng balok.
• Cek panjang diagonal dua arah bidang slab antar balok (ukuran
harus sama).
• Cek batas tepi lantai.
• Cek posisi dan dimensi opening.

31
B. Struktur
B. Bekisting Vertikal atau kolom dan dinding.
(ACI 347.3R-13 & ACI 117)
• Cek ketegakkan/vertikaliti begisting.
• Cek dimensi begisting kolom/dinding.
• Cek diagonal begisting.
• Cek batas atas/level begisting.
• Cek posisi dan dimensi opening.
• Cek kekuatan begisting.

32
B. Struktur
1.3.4. Minyak begisting
1. Spesifikasi minyak begisting.
2. Tidak merusak mutu beton.
3. Tidak merusak cetakan/ plywood.
4. Aplikasi minyak begisting rata.
5. Plywood harus bersih sebelum aplikasi
minyak begisting.

1.3.5. Penutup celah begisting


1. Terpasang rapi dan kuat.
2. Material tidak tembus air semen.
3. Tidak masuk ke dalam beton.

33
B. Struktur

2. Permukaan Beton
2.1. Mutu tampak muka beton hasil cor setelah buka begisting
2.1.1. Umum
a. Tidak tampak agregat kasar yang
terlihat karena kebocoran sambungan
begisting.
b. Tidak ada penonjolan elemen struktur
akibat kegagalan perkuatan begisting.
c. Sisa potongan bekisting, paku, seng
strip, dll harus dibersihkan dari
permukaan beton.
d. Tidak ada retak atau kerusakan beton.
e. Tidak ada sampah dalam beton
(pembersihan sebelum cor harus
dilakukan dengan baik).
f. Tidak ada keropos beton akibat kurang
pemadatan.
34
B. Struktur
2.1.1. Khusus
Finishing Tampak muka beton yang dihasilkan harus sesuai dengan
yang ditentukan, berdasarkan kategori finishing yang dipilih dalam
standar ACI 347.3R-13 & ACI 117.
I. Bare Finish
a. Finish permukaan beton yang akan diterapkan penutupan
material finishing (Plaster, Cat, Keramik, Marmer, Bata, dll).
b. Texture permukaan :
• Selisih pertemuan/celah pada sudut begisting antar
komponen struktur (kolom-balok, balok-lantai) maks. 19
mm.
• Kedalaman keropos beton/mortar loss maks. 13 mm.
• Ketidaklurusan antar panel/plywood maks.25 mm.
• Ketidaksejajaran dengan bidang lain maks.25 mm.
• Material panel cetak tidak menggunakan plywood filmed.
• Diijinkan ada cetakan begisting yang membekas pada
permukaan beton.

35
B. Struktur

c. Lubang pada permukaan beton (bug holes) :


• Maksimum diameter 19 mm.
• Luas area yang berlubang maksimum 1,2% dari luas bidang
permukaan.
• Tidak perlu menggunakan minyak begisting.
• Kebersihan begisting tidak diharuskan dengan sempurna.
• Bekas lubang pada panel begisting diijinkan.
d. Warna permukaan beton boleh tidak seragam.

36
B. Struktur
II. Ready to Paint
a. Finish permukaan beton yang diterapkan penutupan finishing
cat.
b. Texture permukaan :
• Selisih pertemuan celah pada sudut begisting antar
komponen struktur (kolom-balok, balok-lantai) maks. 13
mm.
• Kedalaman keropos beton/mortar loss maks. 10 mm.
• Ketidak lurusan antar panel/plywood maks. 13 mm.
• Ketidaksejajaran dengan bidang lain maks. 13 mm.
• Material panel cetak menggunakan plywood filmed.
• Diijinkan ada cetakan begisting yang membekas pada
permukaan beton.

37
B. Struktur
c. Lubang pada permukaan beton (bug holes) :
• Maksimum diameter 16 ~ 19 mm.
• Luas area yang berlubang maksimum 1% ~ 1,2% dari luas
bidang permukaan.
• Harus menggunakan minyak begisting.
• Permukaan begisting harus bersih.
• Bekas lubang pada panel begisting harus ditutup.
d. Warna permukaan beton boleh tidak seragam.

38
B. Struktur
III. Fair Face Finish
a. Finish permukaan beton yang tidak akan diterapkan
penutupan material finishing.
b. Texture permukaan :
• Selisih pertemuan/celah pada sudut begisting antar
komponen struktur (kolom-balok, balok-lantai) maks. 6
mm.
• Kedalaman keropos beton/mortar loss maks.6 mm.
• Ketidak lurusan antar panel/plywood maks.6 mm.
• Ketidaksejajaran dengan bidang lain maks.6 mm.
• Material panel cetak menggunakan plywood filmed.
• Diijinkan ada cetakan begisting yang membekas pada
permukaan beton.

39
B. Struktur
c. Lubang pada permukaan beton (bug holes) :
• Maksimum diameter 9,5 ~ 16 mm.
• Luas area yang berlubang maksimum 0,6% ~ 1% dari luas
bidang permukaan.
• Harus menggunakan minyak begisting.
• Permukaan begisting harus bersih.
• Bekas lubang pada panel begisting harus ditutup dengan
rapi dan kuat.
• Mutu beton harus mendukung tidak timbulnya bug holes.
• Pemadatan beton harus diperhatikan dan dilakukan
dengan baik.
d. Warna permukaan beton harus seragam, terdapat sedikit titik
warna gelap (akibat paku plywood), tidak ada cold joint, tidak
ada bekas kotoran atau karat.

40
B. Struktur
IV. Exposed Finish
a. Finish permukaan beton yang tidak akan diterapkan
penutupan material finishing.
b. Texture permukaan :
• Selisih pertemuan/celah pada sudut begisting antar
komponen struktur (kolom-balok, balok-lantai) tidak
diijinkan.
• Kedalaman keropos beton/mortar loss tidak diijinkan.
• Ketidak lurusan antar panel/plywood maks. 3 mm.
• Harus sejajar dengan bidang lain.
• Material panel cetak menggunakan plywood filmed, PVC
panel board, aluminium.
• Tidak diijinkan ada cetakan begisting yang membekas pada
permukaan beton.

41
B. Struktur
c. Lubang pada permukaan beton (bug holes) :
• Maksimum diameter 6 ~ 9,5 mm.
• Luas area yang berlubang maksimum 0,3% ~ 0,6% dari
luas bidang permukaan.
• Celah antara panel begisting harus tertutup rapat.
• Harus menggunakan minyak begisting.
• Permukaan begisting harus bersih.
• Bekas lubang pada panel begisting harus ditutup dengan
rapi dan kuat.
• Mutu beton harus mendukung tidak timbulnya bug holes.
• Pemadatan beton harus diperhatikan dan dilakukan
dengan baik.
d. Warna permukaan beton harus seragam, tidak ada cold joint,
tidak ada bekas kotoran atau karat, tidak spot hitam atau
tonjolan beton.

42
B. Struktur

2.2. Perbaikan Beton


1. Indetifikasi kerusakan beton (retak, keropos, kebersihan, penyimpangan
dimensi akibat gagal begisting.
2. Evaluasi penyebab kerusakan beton.
3. Metode perbaikan beton dan material untuk perbaikan disetujui oleh
pemberi tugas.
4. Monitor, dokumentasi dan laporan proses dan hasil perbaikan,
disaksikan dan disetujui oleh pemberi tugas.
5. ACI 224.1R.

43
B. Struktur

2.3. Beton lantai (Floor/Slab)


1. Metode pelaksanaan dan hasil akhir permukaan beton pada beton lantai
mengacu pada standar ACI 302.1R, ACI 224.3R
2. Stop cor pada pengecoran lantai tidak boleh pada area basah dan area
struktur yang kritis terhadap beban.

44
B. Struktur

2. Toleransi Dimensi Struktur


2.1. Vertical alignment (terhadap garis acuan) ACI 117
Toleransi untuk vertikal :
- Untuk tinggi ≤ 3 meter :
• Baris, sisi muka, tepi…………..20 mm
• Sudut luar kolom, pertemuan alur beton
exposed ………………………..12 mm
- Untuk tinggi > 3 meter :
• Baris, sisi muka,tepi…………1/1000 x h,
maksimum 150 mm
• Sudut luar kolom, pertemuan alur beton
exposed …………….1/2000 x h, maksimum 75
mm

45
B. Struktur

2.2. Lateral alignment (terhadap garis acuan) ACI 117.


Untuk semua komponen struktur : 25 mm.
Letak as lubang/opening shaft pada lantai : 12 mm
Kelurusan potongan, sambungan & tepi begisting : 20 mm

Top slab.
• Slab on grade : 20 mm
• Permukaan slab beton, sebelum bongkar perancah : 20 mm
Permukaan beton (selain slab) sebelum bongkar perancah : 20 mm

46
B. Struktur

1. Material
2. Permukaan Beton
3. Pondasi
4. Pile Cap, Raft Foundation
5. Struktur Baja
6. Beton Pratekan

47
B. Struktur

1. Material
2. Permukaan Beton
3. Pondasi
4. Pile Cap, Raft Foundation
5. Struktur Baja
6. Beton Pratekan

48
C. Arsitektur

1. Dinding
2. Plafond
3. Lantai
4. Pintu & Jendela
5. Pekerjaan Atap
6. Pekerjaan Eksternal

49
D. Mekanikal & Elektrikal

1. Pekerjaan Elektrikal
2. Pekerjaan ACMV
3. Pekerjaan Proteksi Kebakaran
4. Pekerjaan Pipa & Sanitari
5. Fitting Dasar M & E

50
Standar & Toleransi
Jalan & Jembatan

51
A. Survey Pemetaan

1. Alat Ukur
1.a. Teodolite Laser Digital / Total Station
1.b. Waterpass Auto Level
1.c. Prisma
1.d. Statif/ Baak ukur
1.e. Meteran
1.f. Laser Level
1.g. Alat Bantu

2. Setting Out Bangunan


3. Toleransi Penyimpangan Bangunan Berdasarkan ISO 4463

52
B. Material

1. Besi Beton
2. Beton
3. Begisting

53
C. Pekejaan Tanah

1. Grade
2. Sub-Grade
2. Sub-Base
3. Base

54
D. Lapis Permukaan Jalan

1. Lentur (Fleksibel)
2. Kaku (Rigid)

55
E. Struktur Jembatan/Jalan Layang

56
F. Precast & Prestress

57
G. Pekerjaan Penunjang

58