Anda di halaman 1dari 32

Pengelolaan Limbah Industri Farmasi

Pendahuluan
Dampak Kegiatan Industri Farmasi
1. Dampak Positif
 Wujud nyata pembangunan di bidang kesehatan untuk
menyediakan obat sebagai sarana meningkatkan derajat
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
 Membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar baik secara
langsung maupun tidak langsung
 Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah melalui pajak
 Meningkatkan roda ekonomi di daerah sekitar lokasi industri
 Dan lain-lain
2. Dampak Negatif
HARUS
 Adanya pencemaran/limbah udara (gas)
Dikelola
 Adanya pencemaran/limbah padat
 Adanya pencemaran/limbah cair Shg
 Adanya kebisingan (limbah suara) dan getaran
Dampak
Sekecil
mungkin
2
1. Profil Industri Farmasi
 Berdasarkan karakteristik produk yang
dihasilkan, industri farmasi berbeda dengan
industri yang lain, sekalipun dibandingkan
dengan industri kimia misalnya. Produk
industri farmasi mempunyai nilai terapetik
bagi manusia dan atau hewan.
 Produk terapetik yang dihasilkan:
a. Senyawa kimia dan produk botani yang
digunakan dalam pengobatan.
b. Sediaan farmasi (tablet, kapsul, sirop,
injeksi, salep, krim, dll)
c. Produk biologi seperti vaksin
2. Karakteristik Proses
 Proses dan kegiatan yang dilakukan
industri farmasi sangat beragam
tergantung pada produk yang dihasilkan.
 Berdasarkan jenis dan produk yang
dihasilkan, industri farmasi dibagi menjadi:
a. Sintesis kimia
b. Ekstraksi bahan alam
c. Fermentasi
d. Formulasi/sediaan farmasi
e. Riset dan pengembangan
3.Karakteristik limbah industri farmasi
a. Industri farmasi sintesis kimia
 Jenis, komposisi, dan jumlah limbahnya sangat
kompleks dan beragam tergantung pada reaksi
kimia dan pemurnian yang terlibat dalam proses.
 Setiap tahapan proses menggunakan bahan kimia
tertentu dan menghasilkan produk utama, produk
antara, hasil samping, tumpahan, pereaksi dan
pelarut.
 Komponen limbah yang mungkin:
1) Senyawa asam, basa, garam dan katalis,
misalnya logam berat.
2) Pelarut organik yang digunakan dalam pemurnian
3) Deterjen yang digunakan dalam pencucian alat-
alat.
b. Industri farmasi ekstraksi bahan alam
 Untuk memperoleh senyawa kimia obat
dilakukan dengan cara ekstraksi dari bahan
alam: akar, daun, kulit batang, rimpangan dari
tumbuhan dan hewan.
 Karakteristik khasnya adalah jumlah produk
akhir sedikit dibandingkan bahan-bahan yang
digunakan sebagai bahan baku.
 Komponen Limbahnya Adalah:
1) Ampas bahan alam yang digunaan
2) Pelarut-pelarut ( air atau bukan air)
3) Uap pelarut
4) Air limbah berupa air pencucian bahan dan
peralatan, juga tumpahan
c. Industri Farmasi Fermentasi
 Industri fermentasi menghasilkan produk
yang khas, sedikit tapi nilai ekonominya
tinggi, seperti antibiotika, vitamin dan
hormon tertentu.
 Komponen Limbahnya Adalah:
1) Medium fermentasi (jumlahnya banyak)
2) Sel dan misel dalam bentuk padat
3) Pelarut organik yang dipakai ekstraksi
4) Senyawa kimia dan pelarut pada
pemurnian/kristalisasi
5) Air buangan berupa hasil pencucian
peralatan dan tumpahan
d. Industri Farmasi Formulasi
 Industri farmasi formulasi menghasilkan
sediaan farmasi. Tablet merupakan produk
yang paling banyak (90%)
 Komponen Limbahnya Adalah:
1) Produk yang gagal dan terbuang
2) Tumpahan bahan-bahan
3) Debu ( dari pencampuran dan pencetakan
tablet)
4) Air buangan dari pencucian peralatan dan
sterilisasi
5) Buangan dari laboratorium
6) Bahan kemasan yang tak terpakai
e. Laboratorium R & D
 Adakalanya industri farmasi hanya melibatkan
riset dan pengembangan (R & D) saja.
 R & D yang dilakukan sangat beragam: kimia,
mikrobiologi, farmakologi, pengembangan
formula dan metode analisis
 Limbahnya mengandung: bahan kimia,
pelarut yang digunakan, bangkai hewan,
jaringan dan air buangan cucian peralatan,
alat laboratorium, dll.
 Jenis limbah industri farmasi meliputi limbah
padat, cair, dan gas/debu/uap/partikulat.
 Limbah tersebut termasuk limbah berbahaya
dan beracun
 Limbah-limbah Farmasi perlu dan harus
dikelola dan di olah

10
Dasar Hukum
 Undang – Undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan
 Undang – Undang No. 23 tahun 1999 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup
 Peraturan Pemerintah (PP) No. 27 tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) beserta petunjuk
pelaksanaannya
 Keputusan Meneg LH No. 17 tahun 2001 tentang Jenis Usaha
dan/atau kegiatan yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
 Keputusan MenLH No. 86 tahun 2002 tentang Pedoman
Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL- UPL)
 Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
No. 09 tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL)
11
Pengertian Istilah
AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau
kegiatan

Dampak Lingkungan Hidup


Pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu
usaha dan/atau kegiatan

Dampak Besar dan Penting


Perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh
suatu usaha dan/atau kegiatan

Kriteria Dampak Besar dan Penting


 Jumlah manusia yang terkena dampak
 Luas wilayah sebaran dampak
 Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
 Banyaknya komponen lingkungan lainnya yg terkena dampak
 Sifat Kumulatif dampak
 Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak
12
Limbah Industri Farmasi
Sumber Pencemaran/Limbah Industri Farmasi :
- Limbah Gas/Pencemaran udara
- Limbah Padat
- Limbah Suara dan Getaran
- Limbah Cair

HARUS DIKELOLA

DAMPAK SEKECIL
MUNGKIN
13
Pengelolaan & Pemantauan Pencemaran Udara
Sumber Pencemaran :
- Debu selama proses produksi
- Uap lemari asam di laboratorium
- Uap solvent proses film coating
- Asap Steam boiler, generator listrik dan incenerator

Tolak Ukur Dampak :


SK Men LH No. 13/MENLH/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak
Bergerak

Upaya Pengelolaan Lingkungan


 Lemari asam dilengkapi dgn exhaust fan dan cerobong + 6 m dilengkapi dgn
absorbent
 Solvent di ruang coating digunakan dust collector (wet system)
 Debu disekitar mesin produksi dipasang penyedot debu dan dust collector unit
 Asap dari Genset dan Incenerator dibuat cerobong asap + 6 m

Pemantauan
Kualitas udara di dalam dan diluar lingkungan industri, meliputi kadar H2S,
NH3, SO2, CO, NO2, O3, TSP (debu), Pb
14
Pengelolaan & Pemantauan Limbah Padat
Sumber Pencemaran :
- Debu/serbuk obat dari sistem pengendalian debu (dust collector)
- Obat rusak/kadaluwarsa/obat sub standart (reject)
- Kertas, karton, plastik bekas, botol dan aluminium foil dan sampah Rumah
tangga
- Lumpur dari proses Instalasi Pengolahan Air Limbah

Tolak Ukur Dampak :


SK Men LH No. 50/MENLH/1995 tentang Baku Mutu Tingkat Kebauan
Lingkungan pabrik yg bersih, tidak berbau, tidak ada limbah B-3, sampah tertata
rapi

Upaya Pengelolaan Lingkungan


 Sampah domestik dibuatkan tempat sampah
 Sisa – sisa kertas, karton, plastik dan aluminium foil dikumpulkan kemudian
dijual ke pengumpul sampah (perusahaan daur ulang sampah)
 Debu/sisa-sisa serbuk, obat rusak/kaduwarsa serta lumpur dari IPAL di bakar
di incenerator

Pemantauan
Kualitas lingkungan (kebersihan) di dalam area industri dan kadar H2S di sekitar
area pabrik

15
Dust Collector Unit (dry system)
Filter Bag

Dari Ruang Produksi

Dust Collecting Bag


Aksial Fan

16
Pengelolaan Limbah Padat

incenerator
17
Pengelolaan & Pemantauan Limbah Suara &
Getaran
Sumber Pencemaran :
- Suara dan getaran dari mesin-mesin pabrik, genset, dan steam boiler
Tolak Ukur Dampak :
 SK Men LH No. 48/MENLH/1996 tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan
 SK Men LH No. 49/MENLH/1996 tentang Baku Mutu Tingkat Getaran

Upaya Pengelolaan Lingkungan


 Untuk menanggulangi kebisingan yg ditimbulkan oleh genset, dibuat
ruangan berdinding dua (double cover) dan dilakukan perawatan mesin
secara berkala
 Untuk menanggulangi getaran yg ditimbulkan oleh mesin genset dan
mesin-mesin lain, mesin-mesin ditempatkan pada lantai yang telah
dicor beton dan diberi penguat (pengunci antara mesin dan lantai)

Pemantauan
Angka kebisingan dan getaran di dalam dan diluar area pabrik
Kebisingan : max 65 dB
Getaran : max 7,5 Hz
18
Pengelolaan & Pemantauan Limbah Cair
Sumber Pencemaran :
Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya sesuatu ke
dalam air yg menyebabkan air tersebut menurun kualitasnya atau
tidak sesuai dg peruntukkannya.
Limbah Industri Farmasi berasal dari :
 Bekas cucian peralatan produksi, laboratorium, laundri dan
rumah tangga
 Kamar Mandi dan WC
 Bekas reagensia di Laboratorium
Tolak Ukur Dampak :
 SK Men LH No. 51/MENLH/1995 tentang Baku Mutu Limbah
Cair Industri
 Perda masin-masing daerah

19
Pengelolaan & Pemantauan Limbah Cair
Upaya Pengelolaan Lingkungan
 Pembuatan saluran drainase sesuai dengan sumber limbah :
 Saluran air hujan langsung dialirkan ke selokan umum
 Saluran dari kamar mandi/WC dialirkan ke septic tank
 Saluran dari tempat pencucian produksi dan laboratorium dialirkan
ke IPAL
 Membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)  lihat diagram
 Khusus untuk limbah cair yang berasal dari golongan β Laktam :
sebelum dicampur dengan limbah non β Laktam, ditambahkan
NaOH (hingga pH 10-11) untuk untuk memecah cincin β Laktam

Pemantauan
 Kualitas badan air permukaan inlet dan outlet saluran limbah,
meliputi kadar COD, BOD, pH, TSS, N total serta parameter
lain termasuk indikator biologis dan mikrobiologi
 Kualitas badan sungai sebelum dan sesudah outlet IPAL

20
Sistem Pengelolaan Limbah Cair (IPAL)
Tujuan :
Menurunkan kadar zat pencemar yg terkandung dalam air limbah sehingga
memenuhi syarat baku mutu yg telah ditetapkan
Hal yg Perlu Diperhatikan:
 Kharakteristik Limbah
 Kemampuan Badan Air (assimilative capacity)
 Peraturan tentang Limbah yg Berlaku
Prinsip Pengolahan Limbah :
 Pengolahan limbah primer
Tujuan : menghilangkan buangan yg tidak larut
Tahap : Screening, Canal Longitudinal, Oil Trap, Padatan tersuspensi
 Pengolahan Limbah Sekunder
Tujuan : menghilangkan kontaminan lain (solid suspended, senyawa
organik dan anorganik terlarut)
Tahap : koagulasi, flokulasi (dgn senyawa kimia mis. Al2O3, kaporit)
 Pengolahan Limbah Tersier
Tujuan : menurunkan COD dan BOD menambah DO
Tahap : fisik (aerasi), biologis (bakteri aerop/active slugde)
21
Sistem Pengelolaan Limbah Cair (IPAL)
Saluran pembuangan

II

VII VI V IV III

I
Limbah dari produksi
Keterangan:
1. Penampungan Awal & Filtrasi 5. Bak Aerasi
2. Bak Netralisasi 6. Bak Sedimentasi Bak Destruksi
(β Laktam)
3. Bak Koagulasi dan flokulasi 7. Bak Penampungan akhir dan bio indikator
4. Bak Filtrasi (pasir kwarsa) 22
LOKASI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH ( IPAL )
23
OLI

PENJERAT OLI 24
PENJERAT OLI

PENJERAT OLI

&

BAK AERASI

25
AERATOR & PROSES AERASI

26
FLOKULASI & FLOKULAN

27
PASIR PENYARING
&
AIR SIAP KE SALURAN
UMUM

28
LOKASI INSTALASI PENGOLAHAN PENJERAT OLI AERATOR & PROSES AERASI
AIR LIMBAH ( IPAL )

AIR SIAP KE SALURAN UMUM BAK PASIR PENYARING FLOKULASI & FLOKULAN
Pengertian beberapa istilah
• DO (Dissolved Oxygen) adalah banyaknya oksigen (O2) yang terlarut
dalam air dan dinyatakan dalam mg/L.
• COD (Chemical Oxygen Demand) adalah banyaknya oksigen (O2) yang
digunakan untuk mengoksidasikan senyawa organik dan anorganik yang
bisa teroksidasi dalam air dan dinyatakan dalam mg/L.
• BOD (Biological Oxygen Demand) adalah banyaknya oksigen (O2) yang
dibutuhkan oleh bakteri aerobic untuk menguraikan dan menstabilkan
sejumlah senyawa organik dalam air melalui proses oksidasi biologis aerobic
dan dinyatakan dalam mg/L.
• BOD5 (Biological Oxygen Demand) adalah banyaknya oksigen (O2) yang
dibutuhkan dalam kondisi penetapan inkubasi selama 5 hari dalam suhu
20oC dan dalam kondisi yang gelap. Pengujian ini untuk menyatakan
degradasi zat organik melalui cara biologis dan dinyatakan dalam mg/L

30
Contoh Hasil Pengujian

31
Organisasi Pengelolaan Limbah
Penanggung Jawab : Direktur Pabrik
Supervisi : Technical Manager, atau General Affair Manager
Pelaksana : HSE (Health, Safety and Environment) Officer

Tugas dan Tanggung Jawab HSE Officer :


 Menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan didalam area pabrik
 Bersama – sama dengan konsultan, menyusun dokumen AMDAL
 Melalukan swapantau terhadap parameter-parameter lingkungan
dan melaporkan kepada instansi yang terkait
 Bertanggung jawab terhadap berbagai instalasi pengelolaan
lingkungan (Incenerator, IPAL, dll)
 Bersama-sama dengan Kepala Bagian Teknik, mengupayakan
minimalisasi berbagai sumber pencemaran lingkungan
 Melakukan pemantauan terhadap berbagai dampak pencemaran
industri terhadap kesehatan karyawan dan masyarakat sekitar
 Berhubungan dengan masyarakat sekitar lokasi industri untuk
bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan

32