Anda di halaman 1dari 20

SEMINAR EVIDENCE BASED NURSING

PENGARUH COLD COMPRESSION THERAPY TERHADAP


PROSES PENYEMBUHAN PASIEN PASCA OPEN
REDUCTION INTERNAL FIXATION (ORIF) EKSTREMITAS
BAWAH
Disusun oleh :
DESI ARYANI
DWI INTAN Y
ENDANG SULISTYAWATI
KETTY ANNE RAE M
MASDONO
RACHMAD HIDAYAT
RACHMAWATY
VIKA YOLANDA
WIWIK NURHABIBAH
LATAR BELAKANG
ORIF (Open Reduksi Internal Fiksasi) adalah sebuah prosedur bedah
medis, yang tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk
mengatur tulang, seperti yang diperlukan untuk beberapa patah
tulang, fiksasi internal mengacu pada fiksasi sekrup dan plate untuk
mengaktifkan atau memfasilitasi penyembuhan (Brunner & Suddarth,
2003).
Trauma akibat pembedahan pada tulang, otot, jaringan atau sendi
akan mengakibatkan nyeri secara signifikans. Pembedahan dapat
menimbulkan trauma jaringan lunak dan struktur yang sebelumnya
tidak mengalami cidera. Nyeri pasca pembedahan ekstremitas bawah
memiliki intensitas nyeri hebat dengan kejadian sampai 70% dengan
durasi 3 hari (Smeltzer&Bare,2005). Nyeri pada pasca bedah ortopedi
saat berada diruang perawatan adalah 4-7 dengan menggunakan skala
0 sampai 10 dan nyeri berkontribusi terhadap paska operasi (Morris,et
al,2010).
Data yang didapatkan di Ruang Bugenville dari dari bulan Januari
– Maret 2019, di dapatkan 47 pasien di rawat dengan fraktur
extremitas bawah dan dilakukan tindakan ORIF, saat dikaji
didapatkan keluhan bengkak dan nyeri post ORIF.
Perawatan fase paska operasi ortopedi merupakan upaya
untuk menanggulangi efek operasi dan meningkatkan
penyembuhan. Manajemen trauma jaringan lunak
meliputi proteksi, istirahat, kompres dingin (Cold
compression) dan elevasi. Cold Compression Therapy
merupakan terapi modalitas yang digunakan pada
berbagai manajemen operasi dengan berbagai variasi
prosedur ortopedi dimana pembedahan menghasilkan
kerusakan jaringan yang sama tetapi berat ringannya
tergantung gejala (Block,2010).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Candra Bagus
Ropyanto yang berjudul “Pengaruh Cold Compression
Therapy terhadap proses penyembuhan pasien paska Open
Reduction Internal Fixation (ORIF) Ekstremitas Bawah” di
RSUP Fatmawati Jakarta Tahun 2013 didapatkan hasil
bahwa setelah dilakukan Cold Compression Therapy pasien
merasa cukup nyaman dan menyatakan nyeri berkurang.
Cold compression therapy merupakan kombinasi antara
terapi dingin dan kompresi balutan pada area pembedahan.
Cold compression therapy merupakan penggunaan es atau
cold gel pack secara aman pada sisi anatomis dengan
balutan elastis (Block, 2010).
Hal inilah yang melatarbelakangi kelompok kami untuk
mempresentasikan seminar EBN dengan judul ini.
Analisa PICO
Problem
Efek pasca pembedahan orthopedi yaitu
nyeri, perfusi jaringan, promosi kesehatan,
mobilitas fisik dan konsep diri.
Intervention
Cold compression therapy merupakan kompres dengan
menggunakan ice cold pack serta kompresi dengan
elastis verban dilakukan 3 x seharidengan durasi 15
menit selama 24 – 48 jam pasca operasi.
Comparasion
Therapeutic touch dan nyeri pasca pembedahan
Peneliti: Mumpuni, Uun Nurulhuda, Elsa Roselina.
Hasil: hasil dengan uji Wilcoxon Signed Rank menunjukkan adanya perbedaan
yang signifikan antara skala nyeri sebelum dan sesudah tindakan baik pada
kelompok intervensi maupun kelompok kontrol (nilai p = 0, 000). Hasil uji
Mannwhitney adanya perbedaan pada penurunan skala nyeri antara
kelompok intervensi dan kelompok kontrol (nilai p = 0,000)
Pengaruh slow deep breathing terhadap intensitas nyeri pasien post ORIF di
RS Telogorejo Semarang
Peneliti: Ismonah, Dian Ayu Cahyaningrum, M. Syamsul Arif
Hasil: hasil analisis uji wilcoxon didapatkan p value 0,000 ada pengaruh slow
deep breathing terhadap intensitas nyeri pada pasien post ORIF di SMC
Rumah Sakit Telogorejo.

Outcome
Hasil pengukuran setelah diberikan cold compression therapy, pasien merasa
cukup nyaman dengan suhu ice cold pack serta menyatakan nyeri berkurang
(nyeri pre CCT 6,6 dan nyeri post CCT 3,2), edema berkurang (edema pre CCT
49,3cm sedangkan edema post CCT 48,2cm), sirkulasi lebih lancar dan otot-
otot nya berkurang ketegangannya (rentang gerak sendi pre CCT 25º
sedangkan rentang gerak sendi post CCT 44º
ANALISA SWOT
Strength
Kekuatan dalam program inovasi yang akan dilaksanakan di
ruang Bugenville RS. Pertamina Balikpapan antara lain :
Cold Compression Therapy dapat dilakukan dengan mudah dan
alat-alat yang digunakan mudah didapatkan.
Perawat diruangan dapat mendorong partisipasi aktif pasien dan
keluarga dalam proses pemberian asuhan keperawatan demi
tercapainya kemandirian pada pasien post ORIF.

Weakness
Untuk pasien yang sensitif terhadap rasa dingin dapat
menimbulkan ketidaknyamanan
Perawat harus selalu memonitor waktu pemberian kompres
dingin yang akan membutuhkan waktu.
Opportunities
Mahasiswa Ners STIKes diberikan kesempatan
untuk mempresentasikan / memaparkan EBN
tentang Cold Compression Therapy terhadap
Proses Penyembuhan Pasien Pasca Open
Reduction Internal Fixation (ORIF).
Terdapat pasien dengan kasus Pasien Pasca Open
Reduction Internal Fixation (ORIF) di ruang
Bugenville RS. Pertamina Balikpapan.

Threats
Keluarga menolak karena tidak mengerti tentang
prosedur yang akan dilakukan.
Manfaat Kompres Dingin
Menurut Mubarak, Indrawati, dan Susanto (2015),
secara umum tujuan dari penggunaan kompres
dingin adalah:
1. Menurunkan suhu tubuh pada kasus hipertermi
2. Mencegah peradangan meluas
3. Mengurangi kongesti
4. Mengurangi perdarahan lokal
5. Mengurangi rasa sakit lokal
6. Agar luka menjadi bersih
Mekanisme Kompres Dingin
• Aplikasi dingin dapat mengurangi sensitivitas dari akhiran saraf yang berakibat terjadinya
peningkatan ambang batas nyeri. Respon neurohormonal terhadap terapi dingin adalah
pelepasan endorphine, penurunan transmisi saraf sensoris, penurunan aktivitas badan sel
saraf, penurunan iritan yang merupakan limbah metabolisme sel, dan peningkatan
ambang nyeri (Arovah, 2010).

• Prasetyo (2010) menjelaskan bahwa stimulasi kutaneus termasuk kompres dingin, akan
merangsang serabut-serabut saraf perifer untuk mengirimkan impuls melalui dorsal horn
pada medulla spinalis, saat impuls yang dibawa oleh serabut A-Beta mendominasi maka
mekanisme gerbang akan menutup sehingga impuls nyeri tidak dihantarkan ke otak. Hal
ini sesuai dengan teori gate control. Keuntungan teknik ini adalah mudah untuk
diimplementasikan pada klien, dan mudah untuk diajarkan pada klien dan keluarga.

• Menurut Arovah (2010), secara fisiologis pada 15 menit pertama setelah pemberian
aplikasi dingin pada suhu 100 C terjadi vasokontriksi arteriola dan venula secara lokal.
Vasokontriksi ini disebabkan oleh aksi reflek dari otot polos yang timbul akibat stimulasi
system saraf otonom dan pelepasan epinephrine dan norepinephrine. Walaupun
demikian apabila aplikasi dingin tersebut terus diberikan selama 15-30 menit akan timbul
fase vasodilatasi yang terjadi intermitten selama 4 sampai 6 menit.

• Periode ini dikenal sebagai respon hunting. Respon hunting terjadi untuk mencegah
terjadinya kerusakan jaringan akibat dari jaringan mengalami anoxia jaringan. Pada 5-12
menit pemberian aplikasi dingin akan menimbulkan respon anastesi relatif pada kulit.
PENATALAKSANAAN
Aplikasi cold compression yang Kontra indikasi therapi dingin :
paling sederhana, murah, dan • Raynaud’s Syndrome
mungkin dilakukan diruangan • Vasculitis
adalah kompres dingin dengan ice • Gangguan sensasi saraf
cold pack serta kompresi dengan • Cryoglobulinemia
elastis verban • Paroxysmal cold hemoglobinuria
Cold compression therapy • Resiko therapi dingin :
merupakan kombinasi antara • Hypotermia
terapi dingin dan kompresi • Excema kulit
balutan pada area pembedahan. • Frosbite
Cold compression therapy
merupakan penggunaan es atau Persiapan alat :
cold gel pack secara aman pada sisi • ICE COOL PACK suhu 2’C-5’C
anatomis dengan balutan elastis • TISSUE / KAIN YG MENYERAP AIR
• ALKOHOL DAN CHLORHEXIDINE 2 %
(Block, 2010).
• ELASTIS VERBAND
LANGKAH – LANGKAH :
1. Terapi dingin dilakukan dengan kompres es, dilakukan saat 24 – 48
jam pasca operasi sebanyak 3 kali perhari dalam waktu 15 menit
2. Lakukan pengukuran awal tingkat nyeri, edema, dan rentang gerak
sendi.
3. Desinfektan ice cool pack dengan alkohol dan chlorhexidine 2 %.
4. Bungkus ice cold pack dengan tissue / kain yang mudah menyerap
air
5. Kompres dilakukan pada area sekitar luka pasca operasi tanpa
membuka elastis verban
6. Lakukan kompres ice cool pack selama 15 menit .
7. Saat dilakukan kompres, respon pasien dan sensasi suhu ice cold pack
dimonitor.
8. Setelah selesai kompres ice cold pack dilakukan, disinfektan ice cool
pack dengan alkohol dan chlorhexidine 2 %., simpan kembali di
freezer
9. Terapi dingin yang dilakukan dengan kompres es dilakukan saat 24 –
48 jam pasca operasi sebanyak 3 kali perhari dalam waktu 15 menit
10. Lakukan evaluasi pengukuran akhir tingkat nyeri, edema, dan rentang
gerak sendi.
PERSIAPAN ALAT
PENGKAJIAN AREA LUKA
BALUT LUKA DENGAN ELASTIS
BANDAGE
DESINFEKSI COLD PACK
BUNGKUS COLD PACK
KOMPRES LUKA DENGAN COLD PACK
(SUHU 2-5’c)
SETELAH SELESAI TINDAKAN
DESINFEKSI ULANG