Anda di halaman 1dari 49

NILAI-NILAI

BUDAYA YANG
BERPENGARUH
TERHADAP
ORGANISASI
GEREJA
A. MEMAHAMI NILAI-NILAI
DAN BUDAYA
1. Nilai- Nilai
 sesuatu yang baik, yang kita iakan atau
aminkan, menarik bagi kita, sesuatu yang kita
cari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu
yang disukai dan diinginkan. Nilai sellalu
mempunyai konotasi positif (K. Bertens).
 1) sesuatu yang menyangkut tentang
keyakinan yang benar, yang baik dan yang
tepat, 2) sesuatu yang dijunjung tinggi yang
mewarnai dan menjiwai tindakan seseorang
(Eka Darmaputera).
 Sesutu yang memberi makna kepada
hidup; yang memberi kepada hidup ini
titik-tolak, isi dan tujuan (Steeman dalam
Eka Darmaputera)
 7 langkah yang membuat sesuatu
merupakan nilai dalam arti yang
sebenarnya (Louis Raths, Values and
Teaching, dikutip Eka Darmaputera):
1) kita hargai dan junjung tinggi.
2) bersedia untuk mengakui dan
menyatakan di depan orang lain.
3) memilih nilai dengan bebas, tidak
dengan terpaksa diantara banyak
pilihan.
4) nilai yang dipilih setelah
mempertimbangkannya dengan sadar.
5) nilai dipilih dengan bebas dan sadar dari
banyak pilihan yang ada.
6) nilai itu dinyatakan melalui tindakan.
7) nilai itu dinyatakan dalam tindakan bukan
hanya sesekali tetapi berulang-ulang dan
terus menerus.
 Tertarik untuk mengetahui salah satu
nilai di dalam diri Anda?
1) Ambil secarik kertas
2) Catat apa yang Anda lakukan selama
24 jam, dengan lengkap jam per jam.
3) Lakukan seperti ini beberapa kali.
4) Bacalah catatan Anda itu.
 Waktu adalah komoditi yang paling berharga
dalam hidup ini. Waktu terbanyak yang Anda
pakai untuk sesuatu, itulah nilai diri Anda. Di
sini Anda tidak mungkin membohongi diri.
Sebab nilai telah diukur melalui tindakan Anda
sendiri.
 Dua hal yang penting:
1) Kita tidak mungkin tidak mempunyai nilai,
sebab itu kita tahu dengan pasti apa nilai
kita itu.
2) Tindakan kita mencerminkan apa nilai kita.
2. Norma (K. Bertens)
 1) Dari bahasa Latin yang artinya
carpenter’s square: siku-siku yang
dipakai tukang kayu untuk mencek
apakah benda yang dikerjakannya
(meja, kursi, dsb) sungguh-sungguh
lurus.
2) Norma: aturan atau kaidah yang kita
pakai sebagai tolok ukur untuk menilai
sesuatu.
 Ada 3 macam norma umum: norma kesopanan
(etiket), norma hukum, dan norma moral.
3. Kebudayaan
 Kebudayaan dari kata budi = roh atau akal
(jamak) & daya (kuasa atau kekuatan)
 Macam-macam definisi:
1) Secara gramatikal, kebudayaan: segala
sesuatu yang dipikirkan, diusahakan
dan dikerjakan oleh manusia dalam
konteks (lingkup) hidupnya secara utuh
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan.
2) Kebudayaan: “jumlah keseluruhan
dari semua yang timbul secara spontan
guna kemajuan kehidupan material dan
sebagai suatu ekspresi dari kehidupan
spiritual dan moril – semua pergaulan
sosial, teknologi, seni, sastera dan ilmu
pengetahuan. Kebudayaan adalah
bidang dari yang berbeda, bebas, tidak
harus universal, dari semua hal yang tak
dapat menuntut untuk dorongan
kekuasaan.” (Force and Fredom dikutif
Richard Niebuhr)
3) Kebudayaan adalah ‘lingkungan
buatan, lingkungan kedua yang
ditumpukan di atas yang alami. Cakupan
kebudayaan meliputi bahasa, kebiasaan,
ide, kepercayaan, adat-istiadat,
organisasi sosial, hasil buatan manusia
yang diwariskan, proses-proses teknis
dan nilai-nilai.’ (Malinowski dikutip
Richard Niebuhr)
4) Kebudayaan adalah bagian dari
warisan manusia di setiap tempat atau
waktu yang sudah diberikan kepada kita
secara teratur dan kerja keras orang lain
… Sebab itu, di dalamnya termasuk
pembicaraan, pendidikan, tradisi, mitos,
ilmu pengetahuan, filsafat, pemerintahan,
hukum, upacara, kepercayaan,
penemuan dan teknologi (Richard
Niebuhr).
 Ciri Kebudayaan (R. Niebuhr)
1) Ia terjalin erat dengan kehidupan
manusia dalam masyarakat; ia selalu
bersifat kemasyarakatan.
2) Hasil prestasi manusia.
B. ALKITAB & KEBUDAYAAN
(H. RICHARD NIEBUHR)

1. SIKAP KONFRONTATIF/RADIKAL
(Kristus Menentang Kebudayaan)
 Kristus dianggap berlawanan dengan
kebudayaan. Manusia harus memilih
Kristus atau kebudayaan, ia tidak dapat
memilih Kristus dan Kebudayaan.
DUNIA GEREJA

Gereja perlu menolak dunia/kebudayaan dan


menjauhkan diri dari dunia
 Iman sangat bertentangan dengan
budaya. Budaya berasal dari bawah, dari
dunia, bahkan dari setan. Iman berasal
dari atas, dari sorga bahkan dari Tuhan.
 Tujuan hidup manusia bukanlah dunia
sekarang ini, melainkan dunia “seberang
sana.”
 Dasar Alkitabiah:
- Manusia tidak dapat mengabdi kepada
dua tuan. … tidak dapat mengabdi
kepada Allah dan Mamon (Mat 6:24).
Orang yang mengasihi Kristus harus menolak dunia, tidak
dapat mengasihi Kristus dan dunia bersama-sama,
“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada
di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka
kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab
semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan
daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup,
bukan berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (1 Yoh
2:15-16)
 Contoh praktik radikal:
- Dalam Gereja Katolik: gerakan kerabian yang
mengasingkan diri dari lembaga-lembaga masyarakat
duniawi supaya mereka dapat menciptakan
masayarakat baru di biara-biara. Rahib- rahib itu
berusaha mematuhi Kristus secara sempurna terpisah
dari gangguan-gangguan dunia.
Gereja Protestan: sekte-sekte dan pietisme yang
menekankan pengalaman, emosi religius dan sikap
batin manusia. Mereka menjauhkan diri dari
kebudayaan; bahkan ada yang tidak berpartisipasi
dalam politik atau kesenian masyarakat. Tekanan,
memperbaiki diri sendiri dan menolong orang-orang
lain untuk berubah secara pribadi.
 Kekuatan sikap radikal:
- satu kata antara ucapan dan tindakan.
- bersedia menderita, dianiaya dan difitnah karena
kesetiaannya kepada Kristus.
- memegang teguh suatu kebenaran yang berbeda
dengan pikiran masyarakat mereka, dan kebenaran itu
menjadi kuasa yang mengubah masyarakat.
 Kritik terhadap sikap radikal:
- Kristus menuntut kepatuhan kita sebagai
manusia yang berbudaya. Kepribadian kita
diwarnai oleh kebudayaan kita. Cara kita
berpikir dipengaruhi oleh pandangan dunia
dalam kebudayaan kita. Dan kebudayaan itu
juga ada di dalam batin kita.
- Dalam memberitakan berita tentang Kristus-
pun perlu memakai kata-kata dan pikiran-
pikiran dari kebudayaan, yang tentu saja
disesuaikan dengan norma-norma Alkitab.
2. SIKAP AKOMODATIF: Kristus
berasal/milik Kebudayaan.

GEREJA

DUNIA

Gereja adalah sebagian dari dunia, walaupun bagian yang paling


agung, Gereja adalah sama dengan unsur-unsur kebudayaan yang
paling baik.
 Menyesuaikan diri dengan kebudayaan.
 Tidak ada pertentangan iman dengan
budaya.
 Nilai-nilai yang menjadi dambaan
masyarakat dianggap sebagai nilai-nilai
yang juga dikejar dalam penghayatan
iman.
 Tidak melihat ketegangan antara gereja
dengan dunia, adat dengan Injil, kasih
karunia Allah dengan perbuatan
manusia.
 Mereka menyambut baik budaya yang berlaku
di dalam masyarakat bisa sekaligus menganut
sikap radikal terhadap budaya yang berlaku
dalam masyarakat bisa sekaligus menganut
sikap radikal terhadap budaya lain.
 Ayat sebagai refrensi sikap akomodatif:
- Terkait dengan budaya, “Dan ketika genap
delapan hari dan ia harus disunatkan, Ia diberi
nama Yesus, …” (Luk 2:21).
- Politik, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang
wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada
Allah apa yang wajib kamu berikan kepada
Allah.” (Mat 22:21).
- Kepatuhan kepada pemerintah (Rom 13:1-7).
 Ciri pengajaran aliran akomodatif menekankan
pengajaran Yesus bukan inkarnasi,
penyaliban, dan kebangkitan. Yesus dilihat
sebagai Pengajar Agung daripada Juru
Selamat atau Tuhan.
 Manusia dilihat bukan sebagai orang berdosa,
tetapi sebagai orang yang memerlukan
pengetahuan dan pendidikan, bukan
pengampunan.
 Hubungan manusia dengan alam:
- Manusia bertentangan dengan alam.
- Pekerjaan Kristus bukan menyatukan
manusia yang berdosa dengan Allah, tetapi
membimbing perjuangan manusia yang
spiritual budaya untuk menaklukkan alam
 Hubungan dengan agama & masyarakat:
- Sinkretisme: kecenderungan untuk menggabungkan
unsur dari beberapa agama lain & memakai unsur-
unsur dari agama lain agar menarik penganut-
penganut agama itu.
- Mereka tidak segan meminta pertolongan dukun,
walaupun tetap melakukan kebiasaan-kebiasaan
kristiani, misalnya, melakukan ibadah pada hari
minggu.
- Cenderung menujukan usaha mereka kepada
pemimpin-pemimpin masyarakat.
- Dapat bekerjasama dengan orang-orang non Kristen
untuk membangun masyarakat, menentang
ketidakadilan, dan mengembangkan kesenian dan ilmu
pengetahuan.
 Kekurangan sikap akomodatif:
- Jarang berhasil memenangkan pengikut-
pengikut Kristus baru.
- Lebih melunakkan tuntutan-tuntutan Tuhan
supaya sesuai dengan keinginan masyarakat.
- Kekristenan dianggap sama dengan
kebudayaan; kalau kekristenan itu dianggap
sama dengan kebudayaan, maka orang itu
barangkali akan bertanya mengapa ia perlu
menjadi orang Kristen (Band. Mat 5:13-16).
- Cenderung mengubah pandangan Alkitab
tentang Yesus.
3. SIKAP SINTETIK (PERPADUAN):
Kristus di atas Kebudayaan.
Gereja melengkapi dunia

GEREJA

DUNIA/KEBUDAYAAN
 Sikap ini tidak harus memilih apakah Kristus atau
kebudayaan, namun mengakui kedua-duanya.
 Kristus relevan kepada kebudayaan, tetapi Ia juga
Tuhan di atas kebudayaan, Allah yang ada di dalam
Kristus juga hadir dalam kebudayaan, Kristus
menggenapi kebudayaan.
 Sikap terhadap kebudayaan:
- Injil melebihi kebudayaan.
- Kebudayaan berasal dari Allah dan dari manusia,
karena itu kebudayaan perlu dilihat dalam terang ilmu
pengetahuan dan penyataan Tuhan.
- Kebudayaan itu suci tetapi sekaligus diwarnai oleh
dosa.
 Sikap terhadap hidup:
- Hidup tidak terbatas di dunia ini tetapi juga
perlu mencari kehidupan kekal setelah di dunia
ini.
- Tujuan utama dalam kehidupan tidak dapat
dicapai oleh manusia dengan usahanya
sendiri, tetapi perlu campur tangan Allah.
- Ia bertanggungjawab terhadap dunia ini,
mengasihi sesama dan membangun
masyarakat, berdasarkan rencana Tuhan.
- Kebajikan-kebajikan kodrati sangat dihargai,
tetapi ada tahap moralitas lebih tinggi yang
tidak dapat dicapai oleh usaha manusia namun
perlu ditambahkan kepadanya oleh Tuhan.
 Tentang hukum dan lembaga sosial:
- Ada hukum kodrati yang diciptakan oleh
manusia, tetapi ada hukum illahi yang
tidak dapat ditemukan oleh manusia.
- Lembaga-lembaga sosial perlu untuk
mengatur dan memelihara masyarakat.
 Kelemahan:
- Kalau gereja menganggap masyarakat
selaras dengan Injil, gereja cenderung
memelihara masyarakat itu dan tidak
berusaha memperbaikinya.
4. SIKAP DUALISME: Kristus dan
kebudayaan dalam paradoks

TUHAN

GEREJA DUNIA

Tuhan berkuasa atas dunia dan gereja walaupun kedua kerajaan itu
terpisah, orang Kristen wajib melayani Tuhan dalam dunia dan gereja
 Orang mengakui adanya hidup dalam
dua dunia, yakni dunia Kerajaan Allah
dan dunia masyarakat. Orang Kristen
adalah warga Kerajaan Allah dan
sekaligus warga masyarakat.
 Diantara Kerajaan Allah dan masyarakat
tidak ada sangkut paut apapun.
 Pandangan terhadap hidup:
- Hidup spiritual tidak menjadi pedoman bagi hidup
material dan hidup material tidak melengkapi hidup
spiritual, tetapi keduanya berjalan secara otonom dan
paralel di dalam kehidupan sehari hari.
- Nilai-nilai, masing-masing tidak pernah dibayangkan
dapat berhubungan satu dengan yang lain. E.G.
Singgih mengambil contoh ttg “sintua”yang hari Minggu
mengamini semua yang diikrarkan serta berkelakuan
seperti yang diharapkan daripadanya pada hari
Minggu, tetapi pada hari senin sampai Sabtu dengan
tenangnya memenuhi transaksi dagang dan atau politik
yang belum tentu cocok dengan apa yang diamini tadi.
5. SIKAP TRANSPORMATIF: Kristus
Membaharui Kebudayaan

Gereja harus hidup dalam dunia dan memperbaharui dunia

GEREJA DUNIA/BUDAYA
 Orang mengakui bahwa budaya telah
dicemari oleh dosa. Tidak semua hal di
dunia ini baik-baik saja, bahkan yang
terbaik sekalipun dari manusia, tetap
penuh dengan dosa. Karena itu, orang
tidak perlu mengagung-agungkan
peradabannya, sebab banyak praktik
gelap bekerja secara terselubung di balik
kemajuan peradaban.
 Orang beriman harus yakin bahwa Yesus
sudah menang atas dosa dan bahwa
Roh Kudus bekerja membaharui dan
mentransformasikan budaya dan adat-
istiadat.
 Kita bisa menerima adat-istiadat di dalam
keterbukaan iman, sekaligus kita
menyoroti budaya dan adat-istiadat dan
mengevaluasi serta kalau perlu
menghakiminya.
 Iman harus menjadi warna atau nafas
kebudayaan.
 Pandangan terhadap Kristus:
- Kristus sebagai penebus, menghakimi
dan mengampuni dosa,mati demi
kepentingan manusia dan bangkit untuk
menyatakan kasih karunia Allah.
 Pandangan terhadap kebudayaan:
- Kebudayaan menyimpang dari
kehendak Allah dan patut dihakimi oleh
Allah.
C. “NILAI DAN BUDAYA
GEREJA.”
Sejak lahirnya, gereja memiliki “nilai dan
budaya, termasuk peraturan-peraturan”
yang menjadi “kanon” dalam pelayanan
sehingga gereja satu dengan yang lain
mempunyai “perbedaan”. Walaupun
gereja memilki peraturan, J.L. Ch.
Abineno mengingatkan, bahwa peraturan
“sebagai alat dan wahana Roh Kudus.
Dan Roh Kudus tidak bisa kita ikatkan
pada peraturan-peraturan kita. Ia bebas.”
1. Gereja Mula-mula Sebagai Contoh
1) Jemaat Yerusalem: pada mulanya ia
melanjutkan tradisi Yahudi dan tidak
berusaha untuk menggunakan bentuk-
bentuk – peraturan-peraturan – baru,
walaupun kemudian hubungan yang erat
(dengan bangsa dan kultus Yahudi) ini
menjadi reanggang. Sebagai contoh
yang jelas dari hal ini adalah: ia
menggunakan rabi-rabi, tua-tua
(penetua-penetua) dan mungkin juga
imam-imam (Band. Kis.6:7)
2) Jemaat Korintus.
Roh Kudus memainkan peranan penting, tiap-
tiap jemaat mendapat karunia Roh, karena itu
tiap-tiap anggota Jemaat terpanggil untuk trut
mengambil bagian dalam pelayanan Jemaat.
Namun demikian, dalam 1 Kor 14 Rasul
Paulus memberikan beberapa peraturan untuk
ibadah jemaat.
3) Jemaat-jemaat Asia-Kecil.
Situasi jemaat ini banyak menyerupai Jemaat
Yerusalem dan jemaat-jemaat Rasul Paulus (1
Pet 2:4-10). Jemaat adalah “bangsa yang
terpilih, imamat rajani dan umat yang kudus (1
Pet 2:9)
4. Jemaat dalam surat-surat pastoral.
Dalam jemaat ini terdapat pengajar-pengajar
bidaah yang berusahamenyesatkan anggota-
anggota Jemaat. Karena itu Rasul Paulus
terus-menerus menasihatkan pemimpin-
pemimpin Jemaat itu (Timotius dan Titus) dan
anggota-anggota jemaat untuk tetap
memelihara ajaran (berita) yang murni, Yaitu
Injil yang diberitakan.
Sama seperti Jemaat Yerusalem, demikian
juga Jemaat ini mempunyai “penatua-penatua”
(Kis 20:28 dst, identik dengan “penilik-penilik
Jemaat” dlm Tit. 1:5-7).
 Dari contoh di atas, bagaimana caranya
Jemaat-jemaat itu dalam situasinya
masing-masing pada waktu itu mengatur
diri (hidup) dan pelayanannya dengan
berdasar pada Kitab Suci.
2. BUDAYA “PEMERINTAHAN”
GEREJA
Memperhatikan contoh-contoh gereja
purba di atas, bahwa budaya
(pemerintahan) gereja berpengaruh
besar dalam organisasi dan pelayanan
gereja. Demikian juga berlaku untuk
gereja-gereja saat ini.
Kini pemerintahan gereja secara garis
besar terbagi dalam tiga bentuk:
1) PRELACY
a) Gereja Roma Katolik dengan Paus sebagai
kepala gereja (Wakil Allah),
b) Gereja Anglikan di Inggris dengan Raja/Ratu
sebagai kepala gereja yang berhak
mengangkat Archbishop (Uskup: seorang
imam yang tinggi kedudukannya, bertugas
mengorganisasi pekerjaan dan tugas gereja
dalam suatu wilayah tertentu–monsinyur;
bishop),
c) Gereja Episcopalian (misal, Methodist)
dengan Episcopos/Bishop sebagai kepala
dari pendeta–pendeta yang lain.
2) PRESBYTERIAL (Presbiter)
a) Pemerintahan gereja didasarkan pada kepercayaan
bahwa dalam sejarah gereja, Kristus tidak
mempercayakan kepemimpinan pada satu orang
wakil-Nya, tetapi pada beberapa orang, misalnya,
mengangkat 12 rasul sebagai wakilNya. Kemudian
Rasul–rasul juga mengangkat tua–tua atau presbiteros
di gereja–gereja lokal (Kis 14:23; 20:17, dsb)
b) Gereja dengan sistem ini, setiap gereja dipimpin
oleh banyak tua–tua, bahkan Pendetanya pun
termasuk salah seorang dari tua–tua dan
kedudukannya tidak lebih tinggi dari tua–tua yang
lain, (I Pet 5:1)
c) Pemerintahan Presbiterial dibagi menjadi 2 :
- Presbiterial Sinodal: Sinode merupakan
tempat presbiteros – presbiteros bersidang
dan memerintah gereja. Sekum hanya
sebagai pegawai.
- Sinodal Presbiterial : sinode merupakan
tempat (yang lebih permanen) dari presbiteros
-presbiteros (tua–tua) yang memerintah gereja.
Oleh sebab itu sebagai pemerintahan gereja,
presbiteros-presbiteros memilih, mengangkat
wakilnya yang akan duduk sebagai ketua sinode
dan BPH sinode. Merekalah yang secara praktis
memimpin seluruh gereja dalam satu sinode.
3) CONGGREGATIONAL (Konggres)
a) Pemerintahan gereja didasarkan pada
kepercayaan bahwa setiap anggota jemaat
adalah imam (I Pet 2:9-10, I Pet 2:9-10, dsb).
Kristus telah menggenapi hukum Taurat (Mat
5:19; Yoh 19:30) sehingga dalam Dia setiap
orang percaya dapat bersekutu dan beribadat
kepada Allah tanpa mediator yang lain.
b) Sistem pemerintahan Conggregational
dapat ditemukan di gereja–gereja Pentakosta,
dimana secara praktis gereja dipimpin oleh
Jemaat.
D. Kesimpulan
Budaya (pemerintahan) Gereja Anda
mempengaruhi organisasi dan
pelayanan Anda,
Dengan mengetengahkan bahwa
HIDUP KRISTUS, PERKATAAN
KRISTUS, DAN TUJUAN KRISTUS
sebagai sumber organisasi dan
pelayanan.
Refrensi:
Bertens, K. Etika, Jakarta: PT Gramedia Pustakan
Utama, 1994.
Darmaputera, Eka. Etika Sederhana untuk Semua:
Perkenalan Pertama, Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2009.
Brownlee, Malcolm. Tugas Manusia Dalam Dunia Milik
Tuhan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.
Singgih, Emanuel Gerrit. Iman dan Politik dalam Era
Reformasi di Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2004.
Niebuhr, H. Richard. Kristus dan Kebudayaan, trans.
Yayasan Satya Karya (Jakarta: Petra Jaya, tt), at. all.
Verkuyl, J. Etika Kristen Kebudayaan
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1979.
Abineno, J.L. Ch. Garis-Garis Besar
Hukum Gereja, Jakarta: BPK. Gunung
Mulia, 1994.
Susabda, Yakub B. Administrasi Gereja,
Malang: Gandum Mas, 1981.
SAMPAI JUMPA