Anda di halaman 1dari 15

ETIKA DAN PERILAKU

KEPEMIMPINAN
GEREJAWI
A. ARTI DAN PENTINGNYA ETIKA
DALAM KEPEMIMPINAN
ORGANISASI
1. Arti Etika
a. Etika berarti moral.(K. Bertens).
b. Etika adalah penyelidikan filosofi
mengenai kewajiban-kewajiban manusia,
dan tentang hal-hal yang baik dan buruk.
Etika didefinisikan sebagai filasafat
tentang bidang moral (Kartini Kartono).
c. Etika didefinisikan sebagai penyelidikan
tentang apa yang baik atau benar atau
luhur dan apa yang buruk atau yang salah
atau jahat dalam kelakuan manusia
(Malcolm Brownlee)
d. Dalam tugasnya, etika tidak membahas
kondisi/keadaan manusia melainkan
tentang bagaimana manusia itu
seharusnya bertingkah laku. Dalam hal ini,
etika adalah filsafat mengenai praksis
manusia yang harus berbuat menurut
aturan dan norma tertentu (Kartini
Kartono).
2. PEMIMPIN dan KEPEMIMPINAN (Kartini
Kartono)
a. Pemimpin sebagai “fokus”
Dalam perjalanan sejarah manusia,
pemimpin selalu menjadi fokus dari semua
gerakan, aktivitas, usaha, dan perubahan
menuju pada kemajuan (progress) di
dalam kelompok atau organisasi. Dia
merupakan agen primer untuk
menentukan struktur kelompok/organisasi
yang dipimpinnya; juga memberikan
motiovasi kerja, dan menentukan sasaran
bersama yang akan dicapai.
Pemimpin merupakan inisiator, moptivator,
stimulator, dinamisator, dan inovator
dalam organisasinya.
b. Kepemimpinan merupakan kekuatan
aspirasional, kekuatan semangat, dan
kekuatan moral (etik) yang kreatif, yang
mampu mempengaruhi para anggota
untuk mengubah sikap, sehingga mereka
menjadi konform (sejalan) dengan
keinginan pemimpin.
c. Makna etisnya, bahwa dalam kondisi
kepemimpinan sebagaimana di atas,
terdapat kesukarelaan yang dipimpin
terhadap pemimpin; khususnya dalam
usaha mencapai tujuan bersama, dan
pada proses pemecahan masalah-
masalah yang harus dihadapi secara
kolektif. Di sini tidak diperlukan
pemaksaan atau keterpaksaan,
pendesakan, penekanan, intimidasi,
ancaman atau paksaan tertentu.
2. POLA PERILAKU
KEPEMIMPINAN (Kartini Kartono)
Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa
“gerakan/jalannya” organisasi sangat
dipengaruhi oleh kepemimimpinan yang
berlaku.
Pola perilaku kepemimpinan biasanya dipengaruhi
oleh bentuk kepemimpinan yang dianut,
misalnya pola otoriter, pola diktator, pola
konsultatif, pola partisipatif atau pola
kepemimpinan yang menghamba.Beberapa
kriteria perlu kita lihat:
1) Kriteria Etika Profesi Kepemimpinan:
 Pemimpin harus memiliki satu atau beberapa
kelebihan dalam pengetahuan, ketrampilan
sosial, kemahiran teknis, serta pengalaman,
 Kompeten melakukan kewajiban dan tugas-
tugas kepemimpinannya.
 Dewasa dalam sikap dan tanggungjawab
moral, sehingga pemimpin selalu
bertanggungajawab secara etis, mampu
membedakan hal-hal yang baik dan buruk, dan
memiliki tanggungjawab sosial yang tinggi.
Tanggungjawab moral itu menuntut kepada
pemimpin agar terus-menerus memperbaiki
segala sesuatu yang ada, baik yang ada pada
diri sendiri maupun di luar dirinya – supaya
dapat lebih ditegakkan unsur keadilan-
kebahagiaan-kesejahteraan yang ideal.
 Memiliki kemampuan mengontrol diri, yakni
mengontrol pikiran, emosi, keinginan dan
segenap perbuatannya, sehingga
memunculkan sikap moral yang baik dan
bertanggungjawab.
 Selalu melandaskan diri pada nilai-nilai etis
(kesusilaan, kebaikan) dan sekaligus dapat
menciptakan nilai-nilai yang berarti.
 Bersedia dikontrol, baik kontrol diri maupun
kontrol sosial. Kesalahan-kesalahan harus
segera dibetulkan, pelanggaran-pelanggaran
dihukum dan ditindak dengan tegas.
3) Landasan Etika Profesi pemimpin:
 Bersikap kritis dan rasional, berani
mengemukakan pendapat sendiri dan
berani bersikap tegas sesuai dengan
rasa tanggungjawab etis sendiri,
termasuk di dalamnya norma tradisi,
hukum, etik kerja, dan norma-norma
sosial lainnya.
 Bersikap otonom (bebas, tanpa dipaksa
atau “dibeli”, mempunyai “pemerintahan -
diri”, berhak untuk membuat norma dan
hukum sendiri sesuai dengan suara hati
nurani yang tulus bersih), tetapi bukan
berarti dapat bertindak semaunya.
 Memberikan perintah-perintah dan
larangan-larangan yang adil.
 Memupuk/menghargai “moralitas tinggi”
dari anggota-anggotanya bukan
mematikan.
4) Etiket Pemimpin
 Seorang pemimpin perlu memiliki etiket.
Etiket adalah “unggah-ungguh” atau
aturan-aturan konvensional mengenai
tingkah laku individu dalam masyarakat
beradap merupakan tata krama lahiriah
untuk mengatur relasi antar pribadi,
sesuai dengan status sosial masing-
masing individu.
 Mengenal dan menerapkan etiket
terhadap anggota kelompoknya guna
menjamin relasi saling hormat-
menghormati dan saling menghargai.
 Pada umumnya etiket didukung oleh:
- nilai-nilai kesejahteraan dan kebaikan,
- nilai kepentingan umum
- nilai kejujuran, kebaikan dan
keterbukaan,
- nilai kesederhanaan, penuh pikir, mampu
membedakan apa yang patut dikatakan
dan apa yang harus dirahasiakan,
- nilai kesopanan, bisa menghargai orang
lain dan diri sendiri.
Refrensi:
Browlee, Malcolm. Pengambilan Keputusan Etis dan
Faktor-faktor di Dalamnya, Jakarta: BPK. Gunung Mulia,
2006.
Bertens, K. Etika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994.
Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpinan: Apakah
Kepemimpinan Abnormal itu?, Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2009.
Benge, Eugene J. Pokok-pokok Manajemen Modern, trans.
Rochmulyati Hamzah, Jakarta: PT. Pusaka Binaman
Presindo, 1983.
Iskandar, Benny J. Management According to the Bible:
Manajemen Alkitabiah, Jakarta; Kalam Indah Publishing,
2009.
SAMPAI JUMPA