Anda di halaman 1dari 28

CIRI-CIRI

KEPEMIMPINAN YANG
IDEAL
 Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, Kartini
Kartono memberitahukan bahwa “Kepemimpinan
merupakan kekuatan aspirasional, kekuatan
semangat, dan kekuatan moral yang kreatif,
yang mampu mempengaruhi para anggota
untuk merubah sikap, sehingga mereka menjadi
konform dengan keinginan pemimpin.”
 Sedangkan ungkapan ideal berarti “sesuai
dengan yang dikendaki.”
 Kepemimpinan yang ideal, berarti berbicara
tentang model kepemimpinan seperti apa yang
“dikehendaki” (bisa terkait dengan situasi-situasi
tertentu).
1. Model Kepemimpinan
pada umumnya.
 Beny Iskadar mengemukakan, secara
sekuler ada 4 model kepemimpinan yakni
model diktator, otoriter, konsultatif dan
partisipatif. Masing-masing model
kepemimpinan itu mempunyai kelemahan
dan kekuatan, dan kapan masing-masing
model tersebut dapat dipakai.
 Beny Iskandar juga mengemukakan 3
model kepemimpinan Kristiani, yakni model
“AKU”, model “MEREKA” dan model “KITA”.
1) Diktator
CIRI:
 Kekuasaan, wewenang dan DIGUNAKAN:
pengambilan keputusan dari  Keadaan krisis dan
pemimpin mendesak.
 Keputusan disertai perintah  Ketika tindakan
yang tidak jelas, tidak penertiban yang keras
masuk akal, tanpa perlu dilakukan.
perikemanusiaan, diwarnai  Catatan:
emosi, marah utk menakuti Para pemimpin harus
bawahan agar takut. selalu ingat dan waspada
 Menghukum bawahan yang bahwa gaya diktator
tidak dapat melakukan dapat digunakan dalam
keputusan keadaan darurat dan
 Tidak ada kompromi dengan hanya bersifat sementara.
bawahan
2) Otoriter
CIRI:
DIGUNAKAN:
 Menganggap dirinya adalah segala-
 Jika bawahan terus menerus
galanya: Paling: kuat, benar, pandai,
ahli, mampu, banyak pengalaman menyalahgunakan kekuasaan.
dst.  Digunakan pada karyawan

 Menerima pendapat orang lain jika


baru yang belum tahu keadaan
sependapat dengannya, mengkritik dan peraturan organisasi.
pendapat yang tidak sependapat,  Ketika tata tertib dan peraturan
marah jika orang lain tidak organisasi dilanggar.
sependapat.  Ketika pemimpin memang
 Tidak percaya terhadap kemampuan hanya bertugas membuat dan
orang lain melaksanakan keputuasn.
 Memanfaatkan orang lain.
 Mementingkan diri sendiri.
 Jarang memberi
penghargaan/pujian.
 Iri jika orang lain berprestasi
3) Konsultatif
CIRI: DIGUNAKAN:
 Selalu meminta masukan dari
bawahannya.  Dalam membuat program
 Melibatkan bawahan untuk jangka panjang.
mengatasi dan menyelesaikan  Ketika dibutuhkan
permasalahan. penyelesaian masalah yang
 Mau mendelegasikan sebagian kreatif.
wewenangnya untuk mengambil  Organisasi melatih orang
keputusan-keputusan, namun mengemban tanggungjawab
keputusan final dan tanggungjawab kepemimpinan.
akhir berada di tangannya.  Ketika menyelenggarakan
 Mau mempertimbangkan berbagai berbagai fungsi dan tugas
alternatif. sehari-hari.
 Memberikan pujian dan apresiasi
kepada bawahan yang berprestasi
 Menganggap gagasan-
gagasan/nasihat bawahan penting
untuk dipertimbangkan dan
diputusakan.
4) Partisipatif
KEUNIKAN: DIGUNAKAN:
 P hampir menyerahkan sebagian  Pada waktu orang-orang
besar kekuasaannya kepada “tim mampu menjalankan tugas
bawahannya”, namun ia tetap rutunnya.
sebagai pemimpin tim yang akan  Ketika menyusun perencanaan
mengambil keputusan final. dan evaluasi organisasi.
CIRI:  Pada waktu para bawahan
 Saran dan usul dari bawahan telah jenuh dengan pekerjaan
dianggap sama kedudukannya rutin, maka pemimpin
dengan pemimpin. memberikan semacam
 P bertindak sebagai kapten pemain motivasi.
dan fasilitator tim.  Setiap kali ada kebutuhan akan
 P berusaha membangkitkan pekerjaan yang sangat kreatif
kreatifitas dan inivasi para dan inovatif.
bawahannya, shg dapat diambil
manfaatnya untuk mengambil
keputusan yang penting.
2. Model Kepemimpinan
Kristiani
 Ada 3 model yang diangkat dari
Alkitab oleh Benny J. Iskandar
mengenai model kepemimpinan
Kristiani, yakni: kepemimpinan model
“AKU”, kepemimpinan model
“MEREKA” dan Kepemimpinan model
“KITA”. Namun, tidak semua cocok
diterapkan dalam kepemimpinan
Kristiani:
1) Model “AKU”
CIRI: KEKUATAN ><
 Model kepemimpinan KELEMAHAN
“AKU”, adalah sistem  Kepemimpinan Militer.
kepemimpinan  Tidak demokratis.
komando/perintah
 Tidak ada sistem gotong
“komandan”, sehingga
bawahannya langsung royong.
bersiap untuk  Tidak Kristiani (Band. Ef

melaksanakan tugasnya 4:11-13).


dengan tepat, pada saat
dan tempat yang tepat.
2) Model “MEREKA”
 Tidak memimpin kelompok yang sama
terus menerus.
 Dia memberikan pemikiran-pemikiran
dan sumbangan-sumbangan
konseptual kepada kelompok yang
berbeda-beda.
 Gaya “MEREKA” persis seperti yang
telah dilakukan oleh Rasul Paulus
kepada jemaat-jemaat di Korintus,
Efesus, Tesalonika, Galatia, Roma dll.
3) Model “KITA”

 Memimpin dalam kelompoknya.


 Dia yang menyebabkan segalanya
dapat terlaksana dengan tepat,
dengan orang yang tepat dan pada
saat dan tempat yang tepat.
Kepemimpinan ini, menurut Beny J.
Iskandar adalah model kepemimpinan
Tuhan Yesus.
3. KEPEMIMPINAN YANG
MENGHAMBA
 Beny J. Iskandar menyarankan agar orang-
orang Kristen menggunakan model
kepemimpinan “KITA”, yang merupakan
model kepemimpinan Tuhan Yesus.
 Tentang model kepemimpinan Tuhan Yesus,
adalah bentuk kepemimpinan yang ideal
bagi gereja, dengan harapan dapat dipakai
sebagai patron kepemimpinan hamba-
hamba Tuhan masa kini.
 Robert A. Orr dalam bukunya The
Essentials for Effective Christian
Leadership Development,
mempertanyakan seperti apa
kepemimpinan “rohani” dengan jawaban
bahwa “aset pemimpin terbesar adalah
orang-orang dapat bekerja hanya oleh
karena melalui dan pimpinan Roh Kudus”.
 Pola kepemimpinan itu akan kita lihat
keistimewaan, inti kepemimpinan,
tantangan dalam kepemimpinan dan
kepemimpinan yang sulit tetapi harus
dicari jalan keluarnya.
1) KEISTIMEWAAN
KEPEMIMPINAN ROHANI
 Aset pemimpin terbesar adalah orang-orang
yang dalam kepemimpinannya mengandalkan
Roh Kudus.
 Para pemimpin yang memiliki Visi.
 Alkitab berbicara tentang Visi, “Bila tidak ada
wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah
orang yang berpegang pada hukum.” (Ams.
29:18).
 Ketika mempunyai visi, maka dapat dengan
penuh percaya diri untuk mengemudikan
kepemimpinan ke arah kepemimpinan rohani
yang benar.
2) INTI KEPEMIMPINAN
ROHANI
 Kepemimpinan gerejawi adalah kepemimpinan
rohani.
 Kita harus menyadari bahwa, dengan ringkas
dan jelas, seorang pemimpin Kristen
mempunyai hati pelayanan—seperti Tuhan
kita Yesus Kristus.
 Kepemimpinan dan pelayanan adalah konsep
Alkitab yang kelihatannya bertolak belakang,
tetapi keduanya harus berjalan bersama,
“Barang siapa ingin menjadi besar diantara
kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan
barang siapa ingin menjadi yang terkemuka
diantara kamu, hendaklah ia menjadi hamba
untuk semuanya.”(Mrk 10:43)
 Gambaran Alkitab tentang profil kepemimpinan
(kualitas dan kemampuan) yang selain berperan
sebagai “Gembala” (Yoh 21:15-17) tetapi juga
“Pelayan” (Luk 12:35-48).
 “Gembala” merupakan gambaran seorang
pemimpin yang memiliki nilai-nilai kemampuan
terkait dengan orang-orang.
Kepemimpinan gembala terfokus pada orang-
orang.
Pemimpin memelihara kesejahteraan orang-
orang dan ia memudahkan kerja tim.
Pemimpin harus mempunyai hati gembala dan
harus mengembangkan ketrampilan.
 “Pelayan”, gambaran kepemimpinan dalam
Alkitab yang terkait dengan suatu “hasil”
yang diorientasikan pemimpin. Makna ini
pada dasarnya ia terikat dengan memberi
pertanggungjawaban kepada Tuan-nya
atas pekerjaan yang dipercayakan
kepadanya.
 “Pelayan”, pemimpin yang menggunakan
pemberian wewenang (mandat) dan
sumber daya (kemampuan) untuk
menghasilkan hasil yang bermanfaat bagi
orang lain.
3) Ciri seorang pemimpin pelayan
(C. William Pollard)
 Memiliki komitmen yang tinggi.
 Perlu mendengar dan belajar dari yang
memimpin.
 Pintu mereka selalu terbuka.
 Sifat pemberi, bukan pengambil (peminta)
 Mempunyai perencaan untuk regenerasi dan
pengembangan kepemimpinan masa depan.
 Hanya mau memberikan regenerasi kepada
pemimpin yang dikenalinya.
 Mempromisikan orang lain (Pkh 4:9-12)
 Menghargai yang memimpin dan berorientasi
pada pencapaian.
4) Kriteria Potensi Kepemimpinan –
Bil. 13:2, (J. Oswald Sanders)
 Untuk dapat memimpin orang lain, seorang
pemimpin harus menguasai diri terlebih dulu.
 Kritik diubah sebagai suatu yang
menguntungkan.
 Bisa bekerjasama.
 Tidak rasial dalam pergaulan.
 Bijaksana, berkemauan teguh dan optimis.
 Bersikap membina orang, membangun,
memberi dorongan dan perhatian.
4. TANTANGAN DALAM
KEPEMIMPINAN (ada 3).
1) Seleksi:
Dalam memilih orang-orang untuk
tanggung-jawab pada posisi tertentu
adalah tantangan. Kita harus
mengetahui/menemukan kepribadian,
bakat, ketrampilan, kemampuan dan
mengalami akan situasi. Untuk dapat
memprediksi kemampuan yang tersembunyi
di dalam diri “seorang muda” adalah suatu
tantangan, namun yang sangat penting ke
adalah suksesi kepemimpinan.
2) Pengembangan:
Orang-orang harus mengembangkan
talenta dan kemampuan pemberian
Tuhan; Tuhan tidak memberi hadiah
rohani untuk orang-orang yang tidak mau
mengembangkannya. Seorang pemimpin
harus memastikan bahwa orang-orang
mempunyai kesempatan untuk menjadi
pelayan yang baik dari kemampuan dan
talenta mereka dan untuk pengembangan
potensi mereka.
3) Enablement (Kemungkinan).
Seorang pemimpin harus sedapat mungkin dan
memperlengkapi orang-orang untuk
menggunakan talenta dan kemampuan mereka,
dan kemudian ia menolong orang lain untuk
mengembangkan dan menggunakan
kemampuan dan taalenta mereka juga.
Penting:
Tantangan kepemimpinan dan pengembangan
para pemimpin adalah suatu ministri tidak bisa
ditawar. Para pemimpin memberikan teladan
kepada pemimpin yunior. Ini adalah ketetapan
Injil. Itu yang berkenan dengan Injil. Itu adalah
disiplin.
5. JIKA DALAM KEADAAN
SULIT

1) Perumpamaan sejenis semak duri


(Hak. 8:28 – 9:21) merupakan
contoh dalam Alkitab atas
kepemimpinan. Pemimpin Bangsa
Israel, Gideon, meninggal dan Israel
perlu suatu seorang pemimpin yang
akan memimpin mereka dalam
rencana Tuhan.
2) Sungguhpun Gideon sebagai utusan Tuhan, ia
telah gagal mempersiapkan seorang pemimpin
pengganti. Nabi Yotham yang dengan trampil
mendiagnose situasi yang tidak baik dan
menyampaikan perumpamaan sejenis semak
duri untuk mengajar orang-orang merupakan
suatu pelajaran penting.
3) Kita belajar dari peristiwa ini yang ketika
para pemimpin yang baik lambat
ditampilkan ke depan, orang-orang jahat
masuk menyerbu dan mengambil tempat
mereka.
4) Jika Anda gagal untuk menerima suatu
tanggung jawab tertentu atau Tuhan
meminta Anda untuk menerimanya,Anda
mungkin merasa bersalah atas
tanggungjawab itu seperti semak duri.
Dalam organisasi manapun, jika yang
baik, orang-orang yang bertalenta, orang
berbakat tidak dapat menerima tanggung-
jawab itu, kemudian akan datang
kejahatan/malapetaka dan orang-orang
tidak baik akan menerima. Kemudian
melihat keluar! Gangguan tersembunyi!
6. PERBEDAAN KEPEMIMPINAN ROHANI
& KEPEMIMPINAN ALAMIAH (Sanders)
ALAMIAH ROHANI
 Percaya kepada diri sendiri.  Percaya kepada Allah.
 Mengenal orang.  Juga mengenal Allah.
 Menganbil keputusan-  Berusaha mencari
keputusan sendiri kehendak Allah.
 Ambisius  Tidak menonjolkan diri
 Menciptakan cara-caranya sendiri
sendiri.  Mencari dan mengikuti
 Suka menyuruh orang lain cara Allah.
 Didorong oleh  Suka mentaati Allah.
pertimbangan-pertimbangan  Didorong oleh kasih
pribadi. kepada Allah dan
 Berdiri sendiri. manusia.
 Bergantung pada Allah.
Buku Acuan:
Orr, Robert A. The Essentials for Effctive
Christian Leadership Development, Denyse
O’Leary ed, Canada: Leadership Essentials
Press, 1998.
Barna, George. Mengejawantahkan Visi ke
dalam Aksi, trans. Tanto Handoko, Jakarta:
Metanoia, 1998.
Sander, Oswald J. Kepemimpinan Rohani,
trans. Chris J. Samuel, Bandung: Yayasan
Kalam Hidup.
Iskandar, Benny J. Management According to
the Bible: Manajemen Alkitabiah, Jakarta;
Kalam Indah Publishing, 2009.
SAMPAI JUMPA