Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PASIEN

TERSEDAK
Disusun Oleh :
• Aji Hadi Wijaya NIM (201511001)
• Antika Nisa Sifa NIM (201511003)
• Ertanti Rizky Nurahma NIM (201511008)
• Multi Agustin NIM (201511014)
• Nadia Dara Tamara S NIM (201511015)
• Nadinda Berliana NIM (201511016)
• Nadya nurhasah NIM (201511017)
• Qory Febriana R NIM (201511022)
• Riska Dwi Jayanti NIM (201511023)
• Rosa Amelia NIM (201511024)
• Siti Wulandari NIM (201511O27)
• Wiwi Setia Wati NIM (201511030)
• Yofi Amirul Hizam NIM (201511031)
Definisi Tersedak

 Tersedak merupakan suatu kegawatdaruratan yang sangat berbahaya, karena


dalam beberapa menit akan terjadi kekurangan oksigen secara general atau
menyeluruh sehingga hanya dalam hitung menit klien akan kehilangan reflek
nafas, denyut jantung dan kematian secara permanent dari batang otak, dalam
bahasa lain kematian individu tersebut (Arora, 2011).
 Tersedak menyebabkan tersumbatnya saluran pernafasan disekitar tenggorokan
(laring) atau saluran pernafasan (trakhea). Aliran udara menuju paru-paru pun
terhambat sehingga aliran darah yang menuju otak dan organ tubuh lainnya
terputus. Karena itu perlu dilakukan tindakan pertama yang efektif untuk
menyelamatkan nyawa dengan tindakan Sandwich Manuver dan Heilmich
(Jaelani, 2012).
Gejala Tersedak

 Menurut Emedicinehealth (2009) antara lain :


• Batuk
• muntah
• tangan memberikan sinyal ke tenggorokan
• sulit bicara
• sesak nafas
• dan kadang saat bernafas mengeluarkan bunyi
PATHWAY
Klasifikasi Tersedak

 Berdasarkan klasifikasinya tersedak dibagi menjadi dua yaitu (Edwina, 2010) :


1. Obstruksi Total
2. Check valve atau parsial
Faktor-Faktor Penyebab Tersedak

 Faktor-faktor yang mempengaruhi tersedak meliputi saat makan sambil tertawa,


makan sambil ngobrol, makan sambil jalan dan lain-lain. Faktor dari riwayat
meliputi usia, factor kejiwaan, faktor fisik, factor personal, proses menelan belum
sempurna dan lain-lain (Adyatmaka, 2008).
 Faktor lain yang sangat penting yaitu pengetahuan orang tua mengenai perannya
terhadap tingkat kesehatan anak terutama dalam menjaga kebersihan mulut dan
masakan yang dimakan oleh anak. Orang tua yang dominan dalam hal ini yaitu
ibu, pada masa ini ibu berperan sebagai guru pertama anaknya, ibu yang memiliki
pengetahuan kurang mengenai kesehatan anaknya dan mengabaikan hal tersebut
sehingga mengakibatkan tingginya resiko anak mengalami tersedak (Maharani,
2012).
Perilaku Ibu Saat Tersedak

 Dengan kesibukan setiap para anggota keluarga tidak menutup kemungkinan


mereka akan lalai serta tidak memprhatikan saat mengasuh buah hatinya dan
semakin bertambah pula yang mengalami tersedak. Sebagian besar yang
mengasuh anaknya adalah ibunya, maka dari itu sebagai ibu lebih baik mengawasi
dan memperhatikan tingkah laku dari anaknya (Arora, 2011).
 Hal ini bisa mengurangi resiko kematian pada anak. Itu terjadi akibat kurangnya
pengetahuan yang berdampak pada perilaku ibu dalam menangani tersedak pada
anak. Bila perilaku ibu dalam penanganan tersedak pada anak betul maka anak
akan terhindar dari ancaman kematian dan tidak ada luka dalam setelah dilakukan
tindakan, sebaliknya bila perilaku ibu dalam penanganan tersedak pada anak salah
maka akan terjadi luka dalam yang ibu tidak tahu sehingga menyebabkan
kematian pada anak tersebut (Hull, 2010).
Komplikasi Tersedak

 Tersedak merupakan salah satu kegawatdaruratan yang sangat berbahaya, karena


dalam beberapa menit akan terjadi kekurangan oksigen secara general atau
menyeluruh sehingga hanya dalam hitungan menit klien akan kehilangan refleks
nafas, denyut jantung dan kematian secara permanent dari batang otak (Arora,
2011).
Penatalaksanaan Tersedak

 Tindakan Sandwich back slap and chest thrust maneuver usia 0-1 tahun pada bayi
atau pada anak dibawah usia lima tahun dilakukan dengan cara segera (Lansky,
2007) :
• Menelentangkan penderita dipangkuan penolong
• Berikan pukulan ringan namun cepat pada punggung penderita diantaranya
kedua tulang belikat sebanyak 4 atau 5 kali
• Lakukan upaya ini beberapa kali hingga penolong yakin benda asing
penyebab tersedak telah keluar yang ditandai dengan membaiknya kesadaran
penderita, tak tersumbatnya pernafasan mengakibatkan rasa lega saat bernafas,
hilangnya bunyi mengi pada waktu bernafas.
 Bila klien anak-anak maka dilakukan chest trush (Lansky, 2007):
• Tidurkan klien di pangkuan dengan terlentang
• Pegang leher klien dengan tangan kiri
• Tekan dada dengan jari tangan kanan tekan dengan 3 jari sebanyak 4 kali
• Tekan dada, ulangi hentakan sampai berhasil atau penderita sampai sadar
KASUS
KASUS
PEMBAHASAN
 Pengkajian
Dalam pengkajian perlu ditanyakan riwayat dari pasien seoerti penyakit paru
sebelumnya yang nanti akan mempengaruhi tindakan pengobatan dan riwayat alergi
yang akan membantu menentukan penyebab dari kondisi pasien. Dalam kasus, pasien
adalah seorang anak berusia 1 tahun maka tidak dikaji riwayat pekerjaan pasien,
tetapi jika pasien dewasa yang sudah bekerja maka hal ini perlu ditanyakan karena
dapat membantu melihat pola kehidupan sehari-hari pasien dan jika ada aktivitas
pasien yang mempengaruhi kondisi kesehatannya. Pasien dalam kasus tidak
mempunyai riwayat alergi dan riwayat penyakit paru sebelumnya maupun didalam
keluarga pasien.
Selanjutnya hal yang paling penting dalam pengkajian adalah pengkajian yang
terkait dengan sistem pernafasan dan difokuskan pada ventilasi, perfusi, kognisi, dan
kondisi pernapasan. Pada pasien terdengar bunyi nafas stridor, hal ini dikarenakan
adanya aspirasi benda asing di jalur pernafasan. Pola pernapasan pasien seperti papan
jungkit (see-saw breathing) dan menggunakan otot bantu pernafasan. Frekuensi
pernapasan pasien 32x/menit. Pasien tidak memproduksi sputum dan pasien
mengalami dyspnea.
 Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan prioritas diagnosa keperawatan dalam teori, diagnosa keperawatan
yang dapat muncul pada pasien tersedak adalah gangguan pertukaran gas, bersihan
jalan nafas tidak efektif, resiko terhadap aspirasi, dan cemas pada orang tua dan
anak. Sementara pada kasus, kelompok menarik kesimpulan prioritas diagnosa
keperawatan yang muncul adalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas, gangguan
pertukaran gas dan defisiensi pengetahuan.
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas menjadi diagnosa utama pada kasus kali
ini karena pasien sedang dalam situasi darurat yaitu tersedak saat sedang makan
bakso sehingga jalan nafasnya terhalang oleh benda asing. Hal ini menjadi penyebab
utama masalah pernafasan yang mengancam nyawa pasien. Maka dari itu kelompok
berpendapat bahwa penyelesaian kondisi darurat bersihan jalan nafas menjadi hal
utama yang harus dilakukan untuk menyelamatkan pasien.
Gangguan pertukaran gas adalah masalah kesehatan selanjutnya yang
mengancam nyawa pasien. Hal ini disebabkan oleh adanya sumbatan di jalan
pernafasan pasien dan menyebabkan terjadinya gangguan pertukaran udara (O2
dan CO2). Hal ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan asam-basa dalam darah,
penurunan suplai oksigen di jaringan dan pada akhirnya dapat menimbulkan
kerusakan pada jaringan bahkan kematian. Kelompok mengangkat diagnosa
keperawatan gangguan pertukaran gas sebagai diagnosa keperawatan kedua
setelah ketidakefektifan bersihan jalan nafas sebagai langkah tindak lanjut dalam
memantau kondisi pasien secara keseluruhan setelah keadaan darurat berhasil
diatasi.
Defisiensi pengetahuan diambil sebagai diagnosa keperawatan ketiga sebagai
upaya peningkatan pengetahuan keluarga dan mengatasi rasa cemas orang tua
pasien terhadap kondisi anaknya. Data dasar diagnosa keperawatan ini adalah
keterangan dari ibu pasien yang mengatakan tidak tahu apa yang harus dilakukan
untuk membantu anaknya yang tersedak, dan ibu pasien terlihat panic dan
menangis melihat keadaan anaknya sekarang.
 Intervensi Keperawatan
Tujuan, kriteria hasil dan rencana tindakan keperawatan dibuat dengan NIC dan
NOC sebagai panduannya.
Pada diagnosa keperawatan ketidakefektifan bersihan jalan nafas dilakukan
penatalaksanaan darurat berupa tindakan sandwich back slap and chest thrust
maneuver karena pasien adalah anak berusia 1 tahun sehingga belum bisa dilakukan
Heimlich maneuver yang digunakan pada orang dewasa. Setelah dipastikan bahwa
benda asing sudah keluar dari jalan napas pasien, maka tindakan selanjutnya berfokus
pada tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran pasien.
Rencana tindakan keperawatan yang terakhir adalah untuk mengatasi defisiensi
pengetahuan dan rasa cemas keluarga. Masalah keperawatan ini diatasi dengan
pemberian pendidikan kesehatan tentang informasi dasar penyakit pasien. Informasi
tentang kondisi pasien, perkembangan pasien dan pilihan tindakan kepada pasien
juga diberikan pada keluarga pasien agar keluarga pasien dapat merasa lebih tenang
dan dapat memilih sendiri tindakan yang terbaik untuk pasien dan keluarganya.