Anda di halaman 1dari 33

Referat

Oleh :

Ike Ummi Mahmudatul A

Pembimbing :
dr. Nuryatien Husna, Sp. KFR

KEPANITRAAN KLINIK MADYA


LABORATORIUM ILMU REHABILITASI DAN
KEDOKTERAN FISIK
FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS ISLAM
MALANG
RSUD SYARIFAH AMBAMI RATO EBU
2019
LATAR BELAKANG
Cervical Root Syndrome (CRS) atau servikal radikulopati adalah salah satu penyebab
utama nyeri leher yang menjalar ke arah lengan sesuai dengan dermatom saraf servikal.

AS  insiden CRS pada 107,3 orang per 100.000 penduduk pria dan 63,5 orang per 100.000
peduduk wanita, dimana sebagian besar terjadi pada pasien di atas usia 54 tahun

Manifestasi klinis: nyeri, gangguan motorik, dan gangguan sensorik


Etiologi: herniasi saraf servikal akut, spondilolistesis kronis, spondilosis uncocervicalis, hipertrofi
ligament faset, penebalan diskus, aktivitas angkat benda berat, menyelam, menyetir dalam jangka
waktu lama, bermain golf, trauma, ras kulit putih dan merokok

Tatalaksana : terapi operatif dan non operatif. Terapi non operatif meliputi terapi medikamentosa
dan terapi rehabilitatif

Terapi rehabilitatif banyak dipilih  biaya yang relatif terjangkau dan kenyamanan selama
prosedur

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai terapi rehabilitasi pada pasien dengan CRS
sehingga referat ini dibuat berdasarkan studi literatur.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi dan Biomekanik Servikal

Gambaran anterior dan lateral servikalis (Standring, 2009)


Gambar 2.2. Atlas vertebrae (Paulsen & Wasche, 2010)
Gambar 2.3. a. Aksis dan Atlas; b. Aksis ventral; c. Aksis dorsokranial (Paulsen & Wasche, 2010)
a
b

Gambar 2.4. a. Vertebra C3-6 (vertebra servikalis tipikal); b. Vertebra C7 (vertebra prominens) (Paulsen & Wasche, 2010)
Gambar 2.5. Diskus intervertebralis (Paulsen & Wasche, 2010).
Gambar 2.6. Artikulasio servikalis (Paulsen & Wasche, 2010)
Gambar 2.7. Muskulus servikalis (Paulsen & Wasche, 2010)
Gambar 2.8. Vaskularisasi dan inervasi servikalis posterior
(Paulsen & Wasche, 2010)
FISIOLOGI CERVICAL
• Menopang dan memberi stabilitas pada kepala
• Memungkinkan kepala bergerak di semua bidang gerak
• Melindungi struktur yang melewati spina, terutama
medula spinalis, akar saraf, dan arteri vertebra.
Definisi
• Cervical root syndrome (CRS) atau sindrom radiks
servikal adalah kondisi klinis akibat penyempitan radiks
saraf servikal (Lyer & Kim, 2016).
• CRS yaitu sindrom defisit sensorimotorik dan/atau nyeri
yang disebabkan oleh kompresi radiks saraf servikal
(John et al., 2017).
ETIOLOGI
• Kompresi yang terjadi dapat diakibatkan oleh
spondilosis herniasi diskus, instabilitas, trauma, atau
tumor (John et al., 2017).
• Faktor resiko terjadinya CRS dapat berupa ras putih,
merokok, dan riwayat radikulopati sebelumnya (Wong et
al., 2014), mengangkat beban berat, menyelam,
mengemudi dengan adanya getaran, dan bermain golf
(Kelsey et al., 1984).
Patogenesis
Manifestasi Klinis
• Nyeri tengkuk serta kaku pada otot leher
• Nyeri biasanya timbul pada pergerakan kepala dan leher disertai
adanya penjalaran ke lengan sesuai dengan persarafan radiks
• Keterbatasan dalam lingkup gerak
• Gangguan sensibilitas (dermatome) dan motorik (myotome)
(Abbed & Coumans, 2007)
Diagnosis

Pemeriksaan Pemeriksan
Anamnesis Fisik Penunjang

• Identitas, serta • Inspeksi • Plain X-Ray


riwayat hidup seperti • Palpasi • Mielografi
umur, riwayat trauma • MMT • CT Scan
sebelumnya, riwayat
• Pemeriksaan level • MRI
pekerjaan
saraf • EMG
• Keluhan : ciri nyeri,
• Special test
parastesi, defisit
sensorik, dan defisit
motorik
Pemeriksaan Neurologi

(Lyer & Kim, 2016)

(Hoppenfeld, 1976)
Special Test

Gambar 2.15. Tes Valsava (Hoppenfeld, 1976)


Gambar 2.16. Tes Menelan (Hoppenfeld, 1976)
Gambar 2.12. Tes Distraksi (Hoppenfeld, 1976)
Gambar 2.13. Tes Kompresi Axial Loading (Hoppenfeld, 1976) Gambar 2.14. Tes Kompresi Ekstensi-Rotasi (Hoppenfeld,
1976)
Gambar 2.17. Tes Adson (Hoppenfeld, 1976)
Tatalaksana
Medikamentosa Non Medikamentosa
• Analgesik • Rehabilitasi medik
• Ibuprofen 400 mg, tiap 4-6 jam (PO) • Traksi
• Naproksen 200-500 mg, tiap 12 jam • Imobilisasi dengan Cervical collar
(PO) • Terapi latihan
• Fenoprofen 200 mg, tiap 4-6 jam • Terapi Modalitas
(PO) • Operasi (pada pasien dengan defisit
• Indometacin 25-50 mg, tiap 8 jam neurologis yang progresif, mielopati,
(PO) lesi osseous, fraktur dan
• Kodein 30-60 mg, tiap jam ketidakstabilan servikal, atau
(PO/Parentral) destruksi )
• natrium diklofenak 25 mg tiap 6-8
jam
• Vit. B1, B6, B12
• Inj kortikosteroid spinal epidural
Traksi
Oleh : terapis atau mekanik
Beban : sekitar 5 sampai 12 kg.
Indikasi : jika nyeri tidak berkurang dengan
istirahat atau gejela memberat.
Durasi : 3x sehari selama 15 menit
Kontraindikasi : spondilosis berat dengan mielopati dan
artritis dengan subluksasi atlanto-aksial

(Jellad et al., 2009).


Imobilisasi
Tujuan : meringankan gejala dengan
Cervical collar
Durasi : 1 sampai 2 minggu
Jika nyeri hilang, tanda spurling juga
hilang, dan perbaikan defisit motorik
dapat maka collar dapat dilepas

(Mercer & Bogduk,1999)


LATIHAN FISIK
Tujuan :
-mengurangi rasa nyeri
-mengurangi lordosis servikal
-memperbaiki kekuatan otot, meningkatkan postur pada
aktifitas sehari-hari
-mempertahankan fleksibilitas atau rentang sendi (ROM)
Latihan Penguatan
Stretching otot Latihan Postur
Otot
• Cara : fleksi, lateral • Tujuan : menambah • Tujuan :
bending, ekstensi axial, fleksibilitas dalam fleksi, mengembalikan ROM
rotasi. ekstensi, rotasi dan lateral normal
• Intensitas (beban) : fleksi secara aktif. • Edukasi :
100% dari kontraksi • Cara : • (1) cara mengangkat
maksimum • (1) Menekuk leher ke depan barang dengan lutut fleksi
• Durasi : 5 detik tiap dan belakang • (2) hindari hiperekstensi
kontraksi, • (2) menekuk kepala ke leher dan forward-head
• Repetisi : 5-10 lateral kanan dan kiri, posture yang terlalu lama
kontraksi merotasikan kepala pada dan berlebihan
• Frekuensi : 5 hari tiap masing-masing sisi, • (3) perbaiki lingkungan
minggu • (3) Putar bahu, elevasi, pekerjaan penderita
• Lama program: 4 minggu retraksi kemudian relaksasi
atau lebih dari scapula
• (4) Putar secara melingkar
lengan mengelilingi bahu
dengan siku fleksi dan
ekstensi
• Durasi 2-3 kali sehari
Terapi Modalitas
Terapi modalitas adalah terapi yang melibatkan perlakuan terhadap fisik
pasien, seperti pemberian elektroterapi, kemoterapi, krioterapi, dan tindakan
pembedahan
Manfaat : mengurangi rasa nyeri, memperbaiki vaskularisasi dan
meningkatkan metabolisme jaringan.
Terapi modalitas yang banyak digunakan pada penderita Cervical Root
Syndrome antara lain :
•Short Wave Diathermy (SWD)
•Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)
SWD
SWD : elektroterapi dengan menaikan temperatur jaringan melalui pemberian gelombang
frekuensi tinggi

Fungsi : meningkatkan metabolisme, meningkatkan sirkulasi darah, menurunkan


kontraksi otot, menurunkan rasa nyeri, meningkatkan elastisitas dan oksigenasi jaringan

Prinsip : mengembalikan potensial membran ke tingkat semula pada jaringan inflamasi


yang potensial membran selnya turun, mengembalikan keseimbangan dan transpor ion di
membran sel.

Indikasi : inflamasi, spondylosis cervical, osteoarthritis lutut, sprain ligament pada tumit,
dan sinusitis

Kontraindikasi : tumor ganas, inflamasi akut, penggunaan pacu jantung, perdarahan dan
demam tinggi

Durasi : 5-30 menit tergantung derajat penyakitnya


TENS
TENS adalah terapi modalitas yang tidak invasif dan tidak adiktif.

 Manfaat : analgesia

Metode : pemberian arus listrik ke saraf dan menghasilkan panas untuk mengurangi
kekakuan, meningkatkan mobilitas dan menghilangkan nyeri

Mekanisme kerja : pengaturan neuromodulasi seperti menghambat nyeri di nosiseptik


presinaps medulla spinalis, melepas endorfin tubuh, dan menghambat langsung pada saraf yang
terangsang secara abnormal

Indikasi : rasa nyeri tidak berat, dismenore dan inkontinensia

Kontraindikasi: pasien penggunan pacu jantung, defisit neurologis dan kehamilan