Anda di halaman 1dari 125

BIODATA

 Nama : Uus Kuswanto, SE Ak


 Alamat : Jl Permata Raya I/27 Komp.Permata Cimahi
Cimahi - Bandung Barat
 TTL : 17 Juli 1960
 Status : Menikah
 Pengalaman Kerja :
1. Auditor di BPKP Perwakilan Prov KalSel (1984-1990)
2. Auditor di Deputi Pengeluaran II BPKP Pusat (1990-1991)
3. Auditor di BPKP Perw Prov Jabar (1991-2003)
4. Auditor di BPKP Perw Prov NTT (2004-2007)
5. Auditor di Inspektorat BPKP Pusat (2007-2010)
6. Auditor di BPKP Perw Jabar (2011- sekarang)
7. Menjadi Pemberi Keterangan Ahli di Pengadilan Tipikor.
8. Menjadi Instruktur untuk Penjenjangan Sertifikasi Auditor.
TEKNIK KOMUNIKASI AUDIT
PENGERTIAN
Menurut lexicographer (ahli kamus bahasa),
komunikasi adalah upaya yang bertujuan
berbagi untuk mencapai kebersamaan. Jika dua
orang berkomunikasi maka pemahaman yang
sama terhadap pesan yang saling dipertukarkan
adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya.

Webster’s New Collegiate Dictionary edisi tahun


1977 antara lain menjelaskan bahwa komunikasi
adalah suatu proses pertukaran informasi
diantara individu melalui sistem lambang-
lambang, tanda-tanda atau tingkah laku.
KOMUNIKASI ADALAH SUATU PROSES MELALUI MANA SESEORANG
(KOMUNIKATOR) MENYAMPAIKAN STIMULUS (BIASANYA DALAM BENTUK
KATA-KATA) DENGAN TUJUAN MENGUBAH ATAU MEMBENTUK PERILAKU
ORANG-ORANG LAINNYA (KHALAYAK).
HOVLAND,JANIS&KELLEY:1953

KOMUNIKASI ADALAH PROSES PENYAMPAIAN INFORMASI, GAGASAN, EMOSI,


KEAHLIAN DAN LAIN-LAIN. MELALUI PENGGUNAAN SIMBOL-SIMBOL SEPERTI
KATA-KATA, GAMBAR-GAMBAR, ANGKA-ANGKA DAN LAIN-LAIN.
BERELSONDANSTAINER,1964

KOMUNIKASI PADA DASARNYA MERUPAKAN SUATU PROSES YANG


MENJELASKAN SIAPA, MENGATAKAN APA, DENGAN SALURAN APA, KEPADA
SIAPA?
DENGAN AKIBAT APA ATAU HASIL APA?
(WHO? SAYS WHAT? IN WHICH CHANNEL? TO WHOM? WITH WHAT
EFFECT?)
LASSWELL, 1960
PENGERTIAN
Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari yang semula
dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua
orang atau lebih.
Gode, 1959

Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi


rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau
memperkuat ego.
Barnlund, 1964

Komunikasi adalah suatu proses yang menghubungkan satu bagian


dengan bagian lainnya dalam kehidupan.
Ruesch, 1957

Komunikasi adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran seseorang dapat


mempengaruhi pikiran orang lainnya.
Weaver, 1949
DEFINISI KOMUNIKASI

Secara umum adalah suatu proses


pembentukan, penyampaian, penerimaan
dan pengolahan pesan yang terjadi di
dalam diri seseorang dan atau di antara
dua atau lebih dengan tujuan tertentu.
Definisi tersebut memberikan beberapa
pengertian pokok yaitu komunikasi adalah
suatu proses mengenai pembentukan,
penyampaian, penerimaan dan pengolahan
pesan.
PROSES KOMUNIKASI MELIPUTI
7 (TUJUH) BAGIAN, YAKNI :
1. Sumber komunikasi;
2. Pengkodean;
3. Pesan;
4. Saluran;
5. Pendekodean;
6. Penerima;
7. Umpan balik.
(Stephen P.Robbins)
PROSES KOMUNIKASI

Komunikator Encoding
Umpan
Balik

Komunikator

Komunikator Decoding
SETIAP PELAKU KOMUNIKASI AKAN MELAKUKAN
EMPAT TINDAKAN:

1. MEMBENTUK PESAN ,
2. MENYAMPAIKAN PESAN ,
3. MENERIMA PESAN , DAN
4. MENGOLAH PESAN.

KOMUNIKASI MEMPUNYAI TUJUAN


TERTENTU. ARTINYA KOMUNIKASI YANG
DILAKUKAN SESUAI DENGAN KEINGINAN DAN
KEPENTINGAN PARA PELAKUNYA.
Pesan berupa lambang-lambang yang
menjalankan :
- ide/gagasan,
- sikap,
- perasaan,
- praktik atau tindakan.

Bisa berbentuk :
- kata-kata tertulis,
- lisan,
- gambar-gambar,
- angka-angka, benda,
- gerak-gerik atau tingkah laku dan
- berbagai bentuk tanda-tanda lainnya.
PENGERTIAN DAN KONSEP
KOMUNIKASI AUDIT

Komunikasi dapat didefinisikan sebagai


transmisi informasi dan pemahaman
melalui penggunaan simbol-simbol biasa
atau umum.

Proses komunikasi merupakan


tahap-tahap antara komunikator dengan
komunikan yang menghasilkan
pentransferan
dan pemahaman makna
JENIS
KOMUNIKASI
Komunikasi dapat diklasifikasikan dalam 3 sudut
pandang saja, yaitu :
1. Menurut cara komunikasi, :
a. Komunikasi lisan
b. Komunikasi tulisan

2. Pihak yang terlibat dalam komunikasi,


a. Komunikasi intrapersonal
b. Komunikasi interpersonal
c. Komunikasi Massa

3. Kode yang digunakan.


a. Komunikasi verbal
b. komunikasi non verbal
BENTUK TEKNIK
KOMUNIKASI AUDIT
1. Wawancara
2. Daftar pertanyaan (kuesioner)
3. Konfirmasi

4. Data terbuka

5. Presentasi

6. Rapat

7. Laporan Hasil Audit


PENGERTIAN WAWANCARA

 sesi tanya-jawab
 untuk memperoleh informasi
 memiliki bentuk tersendiri
 terstruktur
 memiliki tujuan.

14
KARAKTERISTIK WAWANCARA
YG BAIK

 Cukup waktu dan mendalam

 Memilah informasi relevan dan tidak relevan

 Sedekat mungkin dengan saat kejadian

 Obyektif

15
PERSIAPAN
 Mempelajari berkas
 Menetapkan tujuan informasi yang akan
digali dalam wawancara
 Mempelajari informasi apa yang dapat
diperoleh
 Mempersiapkan poin-poin yang akan
ditanyakan
 Tempat untuk wawancara saksi kooperatif di
kantor atau tempat menyimpan dokumen
 Untuk saksi yang tidak kooperatif, tidak
perlu dijadualkan terlebih dahulu
 Mempersiapkan tempat untuk wawancara
16
RUANG WAWANCARA

 Pintu tertutup namun tidak terkunci,

 Tidak ada halangan bagi responden untuk


meninggalkan ruang wawancara,

 Ruangan bersih.

17
18
PIHAK YG DIWAWANCARAI
 Saksi
Pihak Ketiga yang Netral (Neutral
Third-Party Witness)

 Saksiyang Dapat Membenarkan


(Corroborative Witness)

 PihakYang Diduga Ikut Terlibat (Co-


Conspirators)

 PihakYang Diduga Melakukan


19
Penyimpangan (Subject/Target)
KARAKTERISTIK PEWAWANCARA
YANG BAIK
1. Mudah bergaul
2. Bisa membuat orang lain ingin
berbagi informasi
3. Tidak banyak interupsi
4. Menunjukkan keseriusan
5. Tidak menyalahkan/memihak
6. Tepat waktu, berpakaian rapi
20
FAKTOR PENTING
DALAM KOMUNIKASI

Dua faktor penting yang harus


diperhatikan dalam komunikasi:
1. Faktor manusia,
2. hambatan dalam proses
komunikasi
FAKTOR MANUSIA DIPENGARUHI OLEH :

 Ciri Fisik…ras,suku bangsa


 Konsep Diri… persepsi seseorang thd dirinya sendiri
 Keyakinan…sikap mental atas sgl sesuatu yg diyakini
bnr/slh

 Kepribadian…introverse,ekstroverse,ambiverse
 Sikap dan Perilaku…ditentukan oleh konsep diri
dan keyakinan
Hambatan dalam proses komunikasi.

1. Hambatan pada komunikator dan komunikan


Perbedaan invidu, peran , kedudukan dan budaya

2. Hambatan pada kode-kode yang digunakan


Tiap profesi memiliki istilah teknis yang berbeda

3. Hambatan pada saluran komunikasi


Hambatan yang bersifat
teknis
4. Hambatan situasi komunikasi
Terkait dengan suasana psikologis
BAB 3
MEMPERSIAPKAN DIRI DAN
MEMBANGUN HUBUNGAN
DENGAN PIHAK LAIN
PERSIAPAN BERKOMUNIKASI

Tujuannya adalah “ agar seseorang dapat


mengendalikan dirinya dengan baik saat
melakukan komunikasi, terutama komunikasi
lisan
1. Memeriksa keyakinan tentang komunikasi.
Bersifat netral, tdk ada yg baik dan tdk ada yg buruk

2. Membangun konsep diri yang positif


Konsep diri mempengaruhi prilaku kita

3. Melepaskan ketegangan dan kecemasan


Diatasi dgn kendali atas situasi
MENGEKSPRESIKAN DIRI SECARA EFEKTIF

1. Wajah adalah cermin pikiran

2. Senyum itu menular, jadilah penyebarnya

3. Tataplah seseorang tepat di matanya

4. Berkomunikasilah dengan berhadapan


langsung dengan lawan bicara

5. Postur tubuh yang baik menunjukkan


rasa percaya diri

6. Berikan jabat tangan yang


meyakinkan

7. Berpenampilan sebagai seorang


pemenang
KEAKRABAN AKAN TERBANGUN BILA
KOMUNIKAN MERASA:

1. DIMENGERTI/DIPERHATIKAN
2. DISAMBUT BAIK
3. MERASA PENTING , DAN
4. MERASA AMAN DAN NYAMAN
LANGKAH MEMBANGUN KEAKRABAN

 Tersenyumlah
 Sapalah nama (jika sudah kita kenal)

 Ucapkan salam

 Bicarakan hal ringan untuk menciptakan


suasana nyaman
 Jaga jarak nyaman

 Utamakan mendengar kawan komunikasi


kita berbicara
 Berusahalah mencari persamaan
BAB IV
KOMUNIKASI EFEKTIF,
EMPATIK DAN PERSUASIF
KOMUNIKASI EFEKTIF ADALAH KOMUNIKASI
YANG BERTUJUAN AGAR KOMUNIKAN DAPAT
MEMAHAMI PESAN YANG DISAMPAIKAN OLEH
KOMUNIKATOR DAN KOMUNIKAN MEMBERIKAN
UMPAN BALIK YANG SESUAI DENGAN PESAN
2 HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN AGAR
KOMUNIKASI EFEKTIF TERJADI, YAITU:

 Keselarasan elemen-elemen komunikasi


dengan pesan. komunikator, encoding,
saluran, decoding, dan komunikan

 Minimalisasi hambatan komunikasi


KOMUNIKASI EMPATIK

adalah komunikasi yang menunjukkan


adanyasaling pengertian antara komunikator
dengan komunikan.

Komunikasi ini menciptakan interaksi yang


membuat satu pihak memahami sudut
pandang pihak lainnya.
AGAR KOMUNIKASI EMPATIK TERCIPTA, MAKA
KOMUNIKATOR HARUS MEMPERLIHATKAN:

 Ketertarikan terhadap sudut pandang komunikan


 Sikap sabar untuk tidak memotong pembicaraan

 Sikap tenang, meskipun menangkap ungkapan


emosi yang kuat
 Bersikap bebas prasangka, atau tidak evaluatif,
kecuali jika sangat
diperlukan.
 Sikap awas pada isyarat permintaan pilihan atau
saran
 Sikap penuh pengertian.
KOMUNIKASI PERSUASIF

KOMUNIKASI YANG BERTUJUAN AGAR


KOMUNIKAN MEMBERIKAN UMPAN BALIK
SESUAI KEINGINAN KOMUNIKATOR.
AGAR KOMUNIKASI PERSUASIF TERJADI, MAKA KOMUNIKATOR
PERLU MENGEMBANGKAN KOMUNIKASI EFEKTIF DAN EMPATIK.
KOMUNIKASI PERSUASIF DAPAT DIKEMBANGKAN MELALUI:

 Kejelasan penyampaian pesan


 Pemahaman sudut pandang dan keinginan
komunikan
4 PENDEKATAN YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK
MENDENGARKAN SECARA AKTIF, YAITU MENDENGARKAN
UNTUK:

 Pemahaman

 Empati

 Evaluasi

 Kesepakatan (biasa digunakan untuk


rapat, negosiasi, dan pengambilan keputusan
kelompok)

(Charles J. Stewart dan William B. Cash, Jr3)


MEMAHAMI EKSPRESI WAJAH
DAN
BAHASA TUBUH
PEMAHAMAN ATAS EKSPRESI WAJAH DAN BAHASA
TUBUHAKAN MEMBANTU KOMUNIKATOR UNTUK:

1. Menjaga keselarasan kode verbal dalam pesan


dengan kode nonverbal ekspresi wajah dan bahasa
tubuh agar komunikasi efektif.

2. Memahami umpan balik komunikan.

3. Menilai kesesuaian kode verbal dan nonverbal


komunikan untuk menentukan
validitas informasi.
EMOSI-EMOSI YANG DAPAT DIKENALI DARI
EKSPRESI WAJAH ADALAH:

1. Senang / Bahagia.
2. Sedih.
3. Marah.
4. Tidak suka.
5. Jijik.
6. Takut.
7. Terkejut.
BAHASA TUBUH ADALAH GERAKAN-
GERAKAN ANGGOTA TUBUH YANG
MERUPAKAN PERWUJUDAN DARI
“INFORMASI DAN PERINTAH” OTAK.
CONTOH-CONTOH SEDERHANA
BAHASA TUBUH:

 Kita mengangguk jika setuju.


 Kita berjongkok karena ketakutan.

 Kita tertunduk dan menggelengkan kepala saat


merasa prihatin.
 Kita membusungkan dada dan mencondongkan
badan ke depan untuk
memberikan tantangan atau menyatakan
siap menyambut tanta
KOMUNIKASI SELAMA
PELAKSANAAN AUDIT
 KOMUNIKASI INTERNAL TIM

 KOMUNIKASI
ANTARA AUDITOR
DENGAN AUDITAN

 KOMUNIKASI AUDITOR DENGAN


PIHAK LAIN YANG TERKAIT
KEBERHASILAN KOMUNIKASI INTERNAL
DALAM SATU TIM AUDIT DITENTUKAN
OLEH:

 Penggalangan kerjasama yang sehat

 Memiliki rasa kebersamaan dan rasa


kekeluargaan
KOMUNIKASI INTERN TIM
TERJADI MULAI DARI
TAHAP PERENCANAAN AUDIT
HINGGA PELAPORAN
KOMUNIKASI PADA
TAHAP PERENCANAAN AUDIT
 Pengarahan oleh pengendali mutu tentang bagaimana
melakukan audit yang baik, cara menjalin hubungan yang
sehat dan harmonis dengan pihak auditan dan pihak ketiga
yang relevan.

 Pemberian motivasi oleh pengendali teknis agar tiap anggota


tim dapat bekerja secara maksimal dan kompak. Kerjasama
yang sehat dan kekompakan akan memudahkan usaha
pencapaian tujuan-tujuan audit.

 Penyamaan persepsi antara pengendali teknis, ketua tim, dan


anggota tim tentang tujuan, ruang lingkup, dan metodologi audit
yang dilakukan.

 Penyusunan audit program oleh ketua tim dibantu para anggota


tim yang menjadi sarana pembagian tugas dan pengendalian
pelaksanaan audit
KOMUNIKASI SELAMA PELAKSANAAN
AUDIT.
Tujuan komunikasi selama pelaksanaan audit
antara lain untuk mengetahui apakah tim audit:

 Melaksanakan program audit sebagaimana


mestinya;
 Mengidentifikasi permasalahan yang dijumpai
dalam audit; dan
 Mengatasi masalah yang dijumpai dalam
audit.
KOMUNIKASI INTERN TIM YANG TERJADI PADA
TAHAP INI ADALAH

 Cetusan keluhan tentang kesulitan kerja dari anggota tim kepada ketua
tim atau dari ketua tim kepada pengendali teknis.

 Pembahasan kemajuan pekerjaan audit oleh ketua tim atau pengendali


teknis.

 Pengarahan oleh ketua tim atau pengendali teknis sebagai umpan balik
atas keluhan tentang kesulitan kerja yang dihadapi tim.

 Tukar menukar informasi antar anggota tim.

 Pemecahan masalah yang ditemui tim.

 Penyamaan pengertian atau pemahaman tentang suatu permasalahan.

 Upaya untuk menjembatani perbedaan antara anggota tim supaya tidak


timbul konflik dalam pelaksanaan audit.

 Rekonsiliasi data antar anggota tim agar didapat informasi yang benar

 Pengembangan rasa kebersamaan atau kekompakan.


KOMUNIKASI PADA PENYIAPAN KONSEP
LAPORAN HASIL AUDIT BERTUJUAN :

 Untuk mencapai kata sepakat mengenai seluruh


temuan audit final;

 Untuk memperoleh tanggapan dan persetujuan final


dari pengendali teknis bahwa seluruh temuan audit
itu obyektif dan rekomendasi yang diberikan layak
dan dapat dilaksanakan;

 Untuk memastikan bahwa kertas kerja audit telah


disusun secara memadai dan substansi kertas kerja
auditnya cukup sebagai bahan
untuk menyusun laporan hasil audit .
KOMUNIKASI YANG TERJADI PADA
TAHAP PENYUSUNAN KONSEP LAPORAN
ADALAH:

 Kesepakatan tim atas hasil-hasil audit.

 Penyusunan laporan hasil audit.

 Reviukertas kerja audit dan laporan


oleh pengendali teknis dan pengendali
mutu.
KOMUNIKASI ANTARA
AUDITOR DENGAN AUDITAN

SANGAT PENTING KARENA KEBERHASILAN


PELAKSANAAN AUDIT
MEMERLUKAN DUKUNGAN DAN KERJASAMA
DARI AUDITAN
AGAR TERWUJUD KOMUNIKASI
YANG BAIK DENGAN AUDITAN,
SETIAP AUDITOR PERLU
MEMERHATIKAN ATURAN PERILAKU
AUDITOR DALAM INTERAKSI
DENGAN PIHAK AUDITAN
Agar interaksi terwujud dengan baik beberapa hal
yang perlu diperhatikan , diantaranya :

1. Menjaga penampilan sesuai dengan tugasnya


sebagai auditor.
 Berpakaian rapi, sederhana, sopan sesuai
dengan kelaziman;
 Gaya bicara yang wajar, tidak berbelit-belit
dan menguasai pokok permasalahan;
 Rambut tersisir rapi;

 Nada suara yang wajar, sopan, dan tidak


membentak-bentak;
 Cara duduk yang sopan.
2. MENJALIN INTERAKSI YANG SEHAT
DENGAN AUDITAN

 Berkomunikasi secara persuasif;

 Memperlakukan pihak auditan sebagai


subyek, bukan obyek;

 Memahami kesibukan auditan dengan tetap


menjaga kelancaran dan

 ketepatan pelaksanaan audit.


3. MENCIPTAKAN IKLIM KERJA YANG SEHAT
DENGAN AUDITAN

 Menjaga independensinya terhadap auditan dengan


cara menolak melaksanakan penugasan audit
terhadap auditan yang memiliki hubungan pribadi
atau kekeluargaan, keuangan, dan hubungan
lainnya dengan dirinya;

 Tidak memanfaatkan auditan sebagai sumber untuk


memeroleh keuntungan pribadi;

 Mencari informasi atau data dengan tidak berbelit-


belit atau mengadaada;

 Menumbuhkan dan membina sikap positif.


4. MENGGALANG KERJA SAMA YANG
SEHAT DENGAN AUDITAN

 Tidak mencari informasi dari pihak yang tidak kompeten tentang


masalah dan atau orang yang diaudit;

 Tidak membicarakan hal-hal negatif pihak auditan kepada pihak


yang tidak berkepentingan;

 Saling memercayai, menghargai dan dapat bekerja sama dengan


auditan sesuai dengan tujuan audit;

 Bersifat mendidik atau membina terhadap auditan dengan cara


membantu, mendorong, dan membimbing bila ada permasalahan
yang timbul dalam pekerjaannya dengan tidak merusak integritas
dan obyektivitas dalam pelaksanaan audit;

 Tidak memberikan perintah yang sifatnya pribadi kepada auditan.


1. KOMUNIKASI PADA
AWAL PELAKSANAAN AUDIT

a. Datang ke tempat pertemuan tepat waktu.

b. Menjaga penampilan dengan sebaik-baiknya, antara


lain: kerapihan berpakaian dan kesopanan dalam
sikap duduk dan berbicara.

c. Selalu mengingat kesepakatan tentang pembagian


tugas dan mekanisme jalannya pembicaraan.

d. Pembicaraan perlu diawali dengan perkenalan dan


pembicaraan hal-hal umum yang menarik agar
tercipta suasana yang akrab dan santai.
e. Kepada pihak auditan perlu diberikan kesempatan untuk
menyampaikan hal-hal yang menurut pendapatnya perlu
disampaikan, namun apabila pembicaraan telah
menyimpang terlalu jauh dari tujuan
pertemuan,auditor perlu mengusahakan agar
pembicaraan kembali ke jalur yangseharusnya.

f. Tim audit harus menghindari pembicaraan yang dapat


memersulit ataumenyinggung perasaan pihak auditan.

g. Auditor yang ditunjuk sebagai notulen hendaknya


mengikutipembicaraan dengan cermat.

h. Sebelum pembicaraan diakhiri oleh pemimpin tim audit


yang hadir, halhalpenting yang muncul dimintakan
peneguhan dari pihak auditan.

i. Pada akhir pembicaraan perlu disampaikan kata penutup


berupa ucapanterima kasih dari tim audit atas kesediaan
bekerja sama dari pihakauditan.
2. KOMUNIKASI SELAMA
PELAKSANAAN AUDIT

Komunikasi selama pelaksanaan audit


antara auditor dengan auditan pada
dasarnya bertujuan agar auditor dapat
memeroleh bukti audit yang cukup,
kompeten, dan relevan sebagai dasar untuk
menyusun kesimpulan dan rekomendasi.
PERTIMBANGAN TENTANG WAKTU DILAKUKANNYA
KOMUNIKASI ANTARA LAIN DENGAN
MEMERHATIKAN HAL-HAL BERIKUT:

a. Komunikasi yang terlalu dini akan berakibat


kurang tuntasnya penyelesaian masalah,
sedangkan bila terlalu lambat akan berakibat
telah basi (out-of-date) nya masalah yang
bersangkutan.

b. Komunikasi yang terlalu sering akan dapat


mengganggu kesibukan auditan, sedangkan bila
terlalu jarang dapat berakibat bertumpuknya
masalah yang dikomunikasikan sehingga
penyelesaiannya menjadi tidak tuntas
5. KOMUNIKASI TINDAK LANJUT HASIL AUDIT
DILAKUKAN SEJAK DITERBITKANNYA
LAPORAN HASIL AUDIT BESERTA DOKUMEN
PERMINTAAN INFORMASI PELAKSANAAN
TINDAK LANJUT
HASIL AUDIT DARI APARAT PENGAWASAN
INTERNAL PEMERINTAH (APIP) KEPADA
PIHAK AUDITAN.
3. KOMUNIKASI PADA
AKHIR PELAKSANAAN AUDIT.

Tujuannya :

“ untuk mendapatkan tanggapan dan


persetujuan final dari pihak auditan atas
seluruh temuan dan rekomendasi
audit yang diperoleh yang nantinya akan
dimuat di dalam laporan hasil audit “
4. KOMUNIKASI TINDAK LANJUT HASIL AUDIT.

Tujuan:

“ untuk meyakinkan bahwa auditan


benar-benar telah melakukan tindak lanjut
rekomendasi audit secara tepat waktu
sesuai dengan kesanggupan dari auditan”
C. KOMUNIKASI AUDITOR DENGAN
PIHAK LAIN YANG TERKAIT
1. Komunikasi auditor dengan Instansi
Teknis
2. Komunikasi auditor dengan pihak
ketiga yang ada hubungan kerja
dengan Auditan
3. Komunikasi auditor dengan nara
sumber/Pakar
4. Komunikasi auditor dengan instansi
penyidik (Kejaksaan/ Kepolisian)
BAB 6
TEKNIK KOMUNIKASI
A. TEKNIK
AUDIT
WAWANCARA
B. TEKNIK
PRESENTASI
C. KOMUNIKASI
TERTULIS
A. TEKNIK WAWANCARA
Wawancara merupakan :
- Suatu proses interaksi yang dilakukan
dengan secara lisan dengan menggunakan
metode tanya jawab yang mempunyai tujuan
untuk memeroleh data ataupun fakta yang
diperlukan untuk mencapai tujuan.

- Alat yang sangat baik untuk memeroleh


informasi, pendapat, keyakinan, perasaan,
motivasi, masa depan ataupun tanggapan
seseorang mengenai sesuatu hal
Dalam audit, wawancara memiliki fungsi sebagai berikut:

1. Sebagai metode primer. Apabila wawancara dijadikan satu-


satunya alat pengumpul data atau metode utama dalam
serangkaian metode pengumpulan data lainnya, maka
metode wawancara memiliki ciri sebagai metode primer.

2. Sebagai metode pelengkap. Apabila wawancara digunakan


sebagai alat untuk mencari informasi yang dapat diperoleh
dengan cara lain, maka ia akan berfungsi sebagai metode
pelengkap.

3. Sebagai kriterium. Apabila wawancara digunakan orang


untuk tujuan menguji kebenaran dan kemantapan suatu
yang telah diperoleh dengan cara lain, seperti: observasi,
daftar pertanyaan, pengujian, maka ia akan berfungsi
sebagai kriterium.
BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
DALAM WAWANCARA:

1. Penampilan pewawancara akan menimbulkan kesan baik atau


buruknya pihak pewawancara dari pihak yang diwawancarai.
2. Pembicaraan pembukaan yang ramah tamah pada permulaan
wawancara.
3. Kemukakan tujuan wawancara dalam bahasa yang mudah
dimengerti oleh pihak yang diwawancarai dan kemukakan dengan
segala kerendahan hati dan bersahabat
4. Tariklah minatnya ke arah pokok-pokok persoalan yang akan
ditanyakan.
5. Timbulkan suasana yang bebas sehingga pihak yang diwawancarai
tidak merasa tertekan, baik oleh pertanyaan yang diajukan
maupun oleh suasana wawancara yang berlangsung.
6. Pewawancara tidak boleh memerlihatkan sikap yang tergesa-gesa,
sikap kurang menghargai jawaban atau sikap yang kurang
percaya.
7. Berikan dorongan kepada pihak yang diwawancarai, yang dapat
menimbulkan perasaan bahwa ia adalah orang yang penting dan
diperlukan sekali dalam kerjasama serta bantuannya untuk
memberikan informasi.
TEKNIK WAWANCARA
1. Pertanyaan Pembukaan..
2. Gaya Bicara..
3. Nada dan Irama.
4. Sikap Pewawancara..
5. Uraian dengan kata-kata sendiri (paraphrase).
6. Mengadakan Penggalian (Probing).
7. Membuat Catatan.
8. Menilai Jawaban, 2 (dua) hal penting berkaitan
dengan menilai jawaban:

a. Sikap phenomenologi, artinya: kesediaan untuk


menanggalkan semua konsepsi awal (preconceptions),
prasangka (prejudice), dan motif subyektif lainnya.
b. Sikap faktual, artinya: tidak terkurung oleh jalan pikiran
(reasoning) sendiri serta tidak menarik kesimpulan tanpa dasar
suatu fakta yang obyektif.
BEBERAPA TEKNIK PERTANYAAN
PEMBUKAAN

 Kontak fisik
 Bahasa tubuh untuk menciptakan kepercayaan
 Jangan mewancarai lebih dari satu orang
 Pribadi/Privacy
 Menghindari pernyataan-pernyataan Sensitif
 Memperoleh komitmen untuk membantu

69
MENGHINDARI PERTANYAAN SENSITIF
Contoh :
- Apakah saudara tahu bahwa kasus yang sekarang kami
tangani,saudara ternyata terlibat.
- Tolong jawab pertanyaan kami, dan jangan memberikan
keterangan yang berbelit belit
- Mengapa saudara melakukan kesalahan seperti ini

70
PERTANYAAN-PERTANYAAN
INFORMASIONAL

Dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang


faktual, ttg SPM, dokumen, sistem operasi dll:

 Pertanyaan terbuka

 Pertanyaan tertutup

 Pertanyaan mengarahkan (leading)

71
PERTANYAAN TERBUKA

Suatu pertanyaan yang sulit dijawab dengan


“ya” atau “tidak”, Contoh:
 Coba ceritakan tentang pekerjaan/tugas saudara
 Bagaimana pendapat saudara tentang permasalahan ini?

 Menurut saudara, bagaimana permasalahan tersebut


dapat terjadi?

72
PERTANYAAN TERTUTUP

Suatu pertanyaan yang menghendaki jawaban


Singkat dan tepat, biasanya “ya” atau “tidak”,
Contoh:
 Apakah saudara bekerja disini?
 Apakah saudara mengetahui hal ini?

73
PERTANYAAN MENGARAHKAN

Suatu pertanyaan yang mengandung jawaban


Sebagai bagian dari pertanyaan. Biasanya
untuk mengkorfimasi fakta yang telah dike
tahui. Contoh:
 Jadi saudara menerima bagian uang itu dari
saudara A?
 Saudara selama ini mendapatkan penghasilan dari
berbagai sumber, kan?

74
JENIS PERTANYAAN YANG HARUS DIHINDARI
 Pertanyaan negatif ganda (double
negative)
Tidakkah saudara curiga bahwa uang
yang Saudara terima itu berasal dari
transaksi yang tidak benar?

75
JENIS PERTANYAAN YANG HARUS DIHINDARI

 Pertanyaan Rumit/Kompleks

Apa tugas saudara, sudah berapa lama


Saudara bekerja disini, siapa saja kawan
kerja saudara disini dan bagaimana
menurut saudara mengenai kondisi
kerja disini?

76
TEKNIK MENGAJUKAN PERTANYAAN
INFORMASIONAL

a. Mulailah dengan pertanyaan yang tidak akan membuat


responden menjadi defensif atau menarik diri.
b. Ajukan pertanyaan dengan cara yang akan membangun
fakta berdasarkan urutan kejadiannya atau cara yang
sistematis lainnya.
c. Ajukan hanya satu pertanyaan pada suatu saat,
perjelaslah pertanyaannya sehingga hanya ada satu
jawaban yang diperoleh.
d. Bertanyalah dengan lugas dan apa adanya, hindari
pendekatan yang kasar.
e. Beri responden waktu yang cukup untuk menjawab,
jangan tergesa-gesa.
f. Bantulah responden untuk mengingat, tapi jangan
menyarankan jawaban; Ulangi atau tekankan 77
pertanyaannya, jika perlu, untuk mendapatkan fakta
yang diinginkan.
TEKNIK MENGAJUKAN PERTANYAAN
INFORMASIONAL

h. Pastikan anda mengerti jawaban-jawaban yang diberikan, jika


ada yang kurang jelas, minta responden untuk menjelaskannya
saat itu juga, jangan ditunda.
i. Beri kesempatan responden untuk mengklarifikasi jawabannya.
j. Pisahkan fakta dari opini.
k. Untuk memastikan keakuratan, minta responden untuk
membandingkan dengan cara persentase, pecahan, taksiran
waktu dan jarak.
l. Peroleh semua fakta; hampir semua responden dapat
memberikan informasi lebih dari sekedar informasi awal.
m. Setelah responden menjelaskan secara naratif, ajukan
pertanyaan atas semua hal yang telah didiskusikan.
n. Untuk menyimpulkan hasil wawancara, mintalah responden
untuk menyarikan informasinya; sarikan fakta-fakta, minta
responden untuk memverifikasi bahwa simpulan yang diambil
adalah tepat.
78
o. Apabila membuat catatan, catatlah hal-hal penting saja.
Mencatat terlalu banyak akan menyulitkan responden.
MENGAMATI REAKSI RESPONDEN
Pewawancara harus memiliki pengetahuan tentang tingkah laku
seseorang dalam situasi wawancara:
 proxemic, memanfaatkan jarak antar personal untuk
memperjelas maksud/ arti
 Chronemics (Pacing; Silent Probe), pemanfaatan waktu oleh
seseorang untuk mengerti, bersikap, dan berkeinginan.
 Kinetics, penggunaan gerakan badan dalam menyampaikan
maksud
 Paralinguistics, hal-hal yang mencakup volume, nada, dan
kualitas suara untuk menyampaikan maksud
79
MENYIASATI KEENGGANAN
(RESISTENCE)
 Suatu keengganan atau kemungkinan
penolakan jawaban dari reponden

 Semakin suatu topik tidak menyenangkan,


semakin responden akan menolak.
CARA MENGATASI JAWABAN RESISTANCE
“Saya sangat sibuk……”
Cara mengatasinya …:

 Wawancara akan singkat saja


 Pewawancara sudah siap di tempat

 Ini adalah sesuatu yang penting

 Wawancara akan gampang-gampang saja

81
CARA MENGATASI JAWABAN RESISTANCE
“Saya tidak tau apa-apa tentang hal ini”
Cara mengatasinya kembalikan dengan pertanyaan:

 “Baiklah, jadi apa yang menjadi tugas saudara?”


ATAU
 “Baiklah. Itu memang salah satu yang ingin saya
ketahui, tetapi, saudara tahu mengenai pengendalian
intern, kan?”

82
MENGHADAPI ORANG ‘SULIT’
Kadang-kadang responden tidak bereaksi tanpa
alasan yang jelas.

 Tidak bereaksi - harus sabar

 Ubah taktik - solusi versi responden

 Usahakan agar pertanyaan dijawab ‘ya’ dan


sulit dijawab ‘tidak’

83
WAWANCARA VOLATILE
Wawancara dengan seseorang yang dapat
menimbulkan reaksi emosional yang kuat bagi
responden: Sahabat, keluarga, pacar dsb.
 Dapat menimbulkan reaksi keras
 Biasanya menjaga jarak/keberatan untuk
diwawancarai
 Sulit diwawancarai

 Biasanya dilakukan oleh 2 orang pewawancara

84
PSIKOLOGI KEBOHONGAN
(PHYSIOLOGY OF DECEPTION)
Tubuh menunjukkan stress melalui isyarat.
Isyarat Verbal, al:
 Berubahnya nada bicara
 Sering meminta pengulangan pertanyaan untuk
mengarang jawaban
 Mengomentari hal-hal yang berhub dg wawancara.
Misalnya ia komplain dengan lingkungan tempat
wawancara.
 Memilah-milah ingatan: Untuk pertanyaan yang
tidak signifikan, dia akan lancar menjawab, tetapi
untuk pertanyaan yang siginifikan dia akan bilang
“lupa”
 Mencari alasan
 Bersumpah 85
PHYSIOLOGY OF DECEPTION
Tanda-tanda fisik orang berbohong
Isyarat Verbal, al:
 Menunjuk Kesaksian
 Menjawab dengan pertanyaan
 Kadar penyangkalan melemah
 Gagal menyangkal
 Menghindari kata-kata yang bermakna
emosional, seperti kata-kata “mencuri”,
dan “kejahatan” 86
PHYSIOLOGY OF DECEPTION
Tanda-tanda fisik orang berbohong
Isyarat Verbal, al:
 Menolak menunjuk keterlibatan orang
lain
 Sikap toleran
 Cenderung memperpanjang wawancara
 Menunjukkan ketidakperdulian

87
PHYSIOLOGY OF DECEPTION
Tanda-tanda fisik orang berbohong
Isyarat NonVerbal, al:
 Gerakan badan
 Respon/ekspresi anatomi: ekspresi yang timbl
spontan. Misalnya meningkatnya denyut jantung,
menarik nafas panjang dll.
 Ilustrator: gerakan tangan untuk
mendemonstrasikan sesuatu saat berbicara
 Menutupi mulut dengan tangan: orang yang
bersalah menutupi mulut dengan tangan saat
berbohong
 Bereaksi terhadap bukti: perhatian terhadap bukti
yang disodorkan 88
WAWANCARA UNTUK MEMPEROLEH PENGAKUAN

Tujuan:
 Untuk membedakan pihak yang bersalah

dengan yang tidak.

 Untuk memperoleh pengakuan secara


sukarela.

 Untuk memperoleh pengesahan dari


terdakwa.
89
TAHAPAN WAWANCARA UNTUK
MEMPEROLEH PENGAKUAN

1. Dakwaan/Tuduhan Langsung (Direct


Accusation)
2. Mengulang sangkaan
3. Menyela penyangkalan
4. Memperlihatkan bukti fisik
5. Memperkuat penjelasan
6. Memperkuat pemikiran
90
7. Pengakuan verbal
1. SANGKAAN LANGSUNG - DIRECT
ACCUSATION

 Kami memiliki alasan bahwa Saudara telah


menyalahgunakan wewenang untuk .....…
 Kami pikir Saudara mungkin telah
melakukan……..

91
1. SANGKAAN LANGSUNG - DIRECT
ACCUSATION

 Kami telah melakukan pemeriksaan ke seluruh


perusahaan dan Saudara jelas-jelas orang yang
tidak bisa kami hilangkan dari daftar orang-orang
yang harus bertanggung jawab atas kejadian itu.

92
2. MENGULANG SANGKAAN

 Jika tersangka tidak secara jelas menolak


sangkaan,
 Sangkaan diulang secara seimbang.

“Seperti yang saya ucapkan tadi, pemeriksaan


kami menyimpulkan bahwa saudara termasuk
Orang yang bertanggungjawab. Mengapa saudara
melakukan hal itu?
93
3. MENYELA PENYANGKALAN
 Penundaan Penyangkalan. Contoh:
“Linda, saya mendengar apa yang anda
katakan tetapi tolong biarkan saya
menyelesaikannya dulu, baru saudara
bicara”
 Interupsi
 Pengungkapan alasan, perlihatkan
sebagian bukti pendukung
 Rasionalisasi: penjelasan yang dapat
diterima secara moral yang akan
menyebabkan terdakwa mengakui
94
kesalahan yang diperbuatnya.
RASIONALISASI

memaksimalkan simpati dan


meminimalkan pemahaman
pelaku atas kesalahan yang
dilakukan

95
TEMA DLM RASIONALISASI
 Responden diperlakukan tidak adil oleh tempat
bekerjanya
 Tidak memperoleh penghargaan yang layak dari
tempat bekerjanya
 Masalah Keuangan yang menimpanya
 Penyimpangan perilaku responden
 Masalah Keluarga
 Stres, Obat-obatan dan Alkohol
 Balas Dendam

96
4. MEMPERLIHATKAN BUKTI FISIK
 Orang bersalah cenderung ingin tahu buktinya
 Perlihatkan dokumen dengan urutan
berkebalikan
 Tarik dokumen jika punya beberapa alibi

97
TEKNIK BILA ALIBI TAK TERARAH
 Mendiskusikan kesaksian para saksi
 Mendiskusikan kecurangan terdakwa

 Menyajikan pertanyaan alternatif

 Memperkuat penjelasan

 Memperkuat pemikiran

 Pengakuan verbal

98
5. MEMPERKUAT PENJELASAN
Contoh:

“Saya gembira sekali Saudara


memutuskan bersedia berbicara
dengan kami, bahwa Saudara terlibat
masalah ini karena Saudara dalam
kondisi yang tidak biasa........
Kapan pertama kali Saudara lakukan
ini?”

99
6. MEMPERKUAT PEMIKIRAN
Contoh:
“Linda, saya memahami bahwa saudara
mempunyai alasan untuk melakukannya.
Hal ini akan memperkuat apa yang telah
saya pikirkan selama ini bahwa saudara
berada dalam keadaan yang luar biasa.
Kapan hal ini kali kamu lakukan?.”

100
7. PENGAKUAN VERBAL
Informasi yang seharusnya diperoleh selama pengakuan
verbal:

 Tersangka tahu bahwa perbuatannya adalah salah.


 Fakta-fakta yang hanya diketahui oleh responden
tergali
 Intensitas perbuatan kecurangan yang dilakukannya.
Perkiraan sesuatu : Dalam hal permasalahan kecurangan, mulailah
dari besar ke kecil. Misal: Apakah sebanyak 100 kali kecurangan?
Kalau dijawab “nggak”, lontarkan pertanyaan lagi: “Mungkin 75
kali?”
 Motif melakukan fraud
 Keterlibatan orang lain
 Bukti fisik yang dimiliki responden
 Penempatan hasil kecurangan 101
TEKNIK WAWANCARA KOGNITIF

A. FASE NARASI

B. FASE MENGGALI INFORMASI YANG


SPESIFIK

102
FASE NARASI

1. Merekonstruksi suatu kejadian dan


hal-hal yang berhubungan dengan
kejadian tersebut
2. Menginstruksikan saksi mata untuk
melaporkan segala sesuatunya
dengan lengkap
3. Mengingat kembali kejadian dalam
bentuk yang berbeda
4. Mengubah Perspektif
103
FASE MENGGALI INFORMASI YANG
SPESIFIK

1. Penampilan Fisik
2. Nama
3. Jumlah
4. Karakter Bicara
5. Percakapan

104
Interogasi merupakan proses wawancara yang bertujuan untuk
memeroleh pengakuan dari tersangka serta mendapatkan
penjelasan mengenai fakta-fakta penyimpangan/ kejahatan yang
terjadi.

Tujuan interogasi terdiri dari tujuan primer dan tujuan sekunder.


Tujuan primer dari teknik interogasi adalah:
1. Memastikan secara rinci kapan dan bagaimana suatu
kejahatan/penyimpangan terjadi;
2. Untuk mengetahui berapa orang yang tersangkut dalam
kejahatan/penyimpangan itu dan peranan masing-masing;
3. Untuk memperoleh data yang cukup sebagai dasar melakukan
interogasi lanjutan jika diperlukan;
4. Untuk mempersempit ruang lingkup orang-orang yang diduga
melakukan kejahatan/penyimpangan, sehingga tercegah
penindakan terhadap orang yang tidak bersalah.
Sedangkan tujuan sekundernya adalah:

1. Mengungkapkan pola kejahatan/penyimpangan


yang dilakukan seseorang yang bersalah dan
pelaku peserta yang bekerja untuk pelaku
utama yang mungkin adalah residivis;

2. Untuk menemukan hasil-hasil kejahatan.


Jenis pertanyaan yang biasa dipakai dalam
BAPK adalah:

1. Pertanyaan umum/biasa (general questions).


2. Pertanyaan khusus (specific questions).
3. Pertanyaan bersifat umpan (bait questions).
B. TEKNIK PRESENTASI

Media lain dalam berkomunikasi adalah presentasi,


yaitu menyampaikan pesan berupa ide atau
gagasan kepada khalayak atau sekelompok orang
melalui teknik presentasi
Beberapa keuntungan dilakukannya penyampaian suatu pesan
melalui presentasi, yaitu:

1. Teknik presentasi merupakan teknik yang efisien.


2. Teknik presentasi adalah teknik yang efektif.
3. Teknik presentasi adalah teknik yang memiliki pengaruh yang
besar.

Antusiasme, penampilan, isyarat vokal, dan faktor-faktor lain


dapat meningkatkan kelebihan teknik ini sehingga teknik
presentasi ini memiliki tingkat probabilitas keberhasilan yang
lebih tinggi dibandingkan dengan teknik lain.
Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam
merencanakan suatu presentasi antara lain:

1. Kaji tujuan anda.


2. Menganalisis khalayak.
3. Mengembangkan gagasan utama.
4. Mengembangkan pokok-pokok utama.
5. Mengkonsultasikan sumber-sumber
informasi.
6. Mencatat data.
7. Membuat sketsa presentasi.
Pada saat melakukan presentasi, keterampilan
mengekspresikan diri secara efektif dan
membangun keakraban tetap penting. Sebagian
kesuksesan presentasi ditentukan oleh
keterampilan-keterampilan tersebut di samping
kejelasan isi.
KOMUNIKASI TERTULIS

Komunikasi tulisan adalah


komunikasi yang diungkapkan
kepada komunikan dengan cara
tertulis. Komunikasi tertulis ini
dituangkan dalam bentuk surat,
kertas kerja, memo, dan laporan.
Persyaratan penulisan yang baik adalah:

1. Ditulis dalam format atau bentuk yang menarik;


2. Memiliki maksud dan tujuan;
3. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti;
4. Penggunaan bahasa yang baik dan benar;
5. Penggunaan bahasa disesuaikan dengan
kemampuan pemahaman dari pihak pembaca;
6. Mencerminkan pengertian terhadap masalah-
masalah yang dihadapi atau yang dituju;
7. Hindari penggunakan kata atau kalimat yang
dapat membingungkan pembaca; dan
8. Menunjukkan budi bahasa dan kewibawaan
penulis.
Bentuk-bentuk komunikasi tertulis dalam
audit antara lain adalah:

1. Laporan Hasil Audit.

2. Kertas Kerja Audit.

3. Daftar Pertanyaan (Kuesioner).

4. Konfirmasi.
Apabila tim audit secara geografis berjauhan atau
apabila dibutuhkan data kuantitatif, teknik
kuesioner dapat menjadi media yang paling
berguna.

Daftar Pertanyaan memungkinkan individu anggota


tim untuk menuliskan apa yang mereka rasa tidak
pantas untuk diungkapkan secara lisan.

Lebih dari itu, kuesioner dapat dianalisis secara


akurat dan dapat memberikan data kuantitatif yang
solid untuk mendukung temuan data kualitatif
Konfirmasi adalah surat permintaan
penegasan dengan pihak ketiga mengenai
suatu data atau informasi sehingga auditor
akan meyakini kebenaran dari angka-angka
pembukuan, bukti-bukti pengeluaran maupun
bukti-bukti penerimaan dan bukti-bukti
lainnya.
BAB 7

MENGELOLA KONFLIK
Konflik adalah suatu pertentangan antara
sedikitnya 2 (dua) pihak yang saling memiliki
ketergantungan satu sama lain namun
mempunyai tujuan atau sasaran yang tidak
sama, memiliki keterbatasan sumber daya, dan
campur tangan pihak lain dalam mencapai
sasarannya masing-masing.
(William dan Hocker5 dalam bukunya Interpersonal Conflict
(2001))
Untuk mencapai suatu kerjasama yang harmonis
dalam pelaksanaan audit, seorang auditor harus
mewaspadai terjadinya konflik karena akan
dapat merusak keharmonisan kerja, dan
memiliki keterampilan untuk merespon konflik
dengan baik.
Sumber konflik atau pemicu terjadinya
konflik:

1. Perbedaan kepentingan atau tujuan.

2. Perbedaan individual.

3. Perbedaan nilai dan keyakinan.

4. Keterbatasan sumberdaya.
Beberapa bentuk konflik yang mungkin timbul
dalam pelaksanaan audit adalah:

1. Konflik di dalam individu sendiri.

2. Konflik antar pribadi


(konflik individu dengan individu).

3. Konflik antar kelompok.

4. Konflik antar organisasi.


5 (lima) macam gaya manajemen konflik,
yaitu:

1. Tindakan menghindari.

2. Kompetisi atau komando otoritatif.

3. Akomodasi atau meratakan.

4. Kompromis.

5.Kolaborasi (kerjasama) atau pemecahan


masalah.
(Prof. DR. Winardi, SE dalam bukunya
Manajemen Konflik)
Beberapa hal yang harus diperhatikan seorang auditor
dalam memecahkan suatu konflik meliputi:

1. Identifikasi sumber konflik atau ketegangan.

2. Tindakan yang perlu dilakukan oleh pemimpin saat


terjadinya konflik,
a. Hindari sikap mencari “kambing hitam” tetapi
mencari inti permasalahan.
b. Pengendali teknis diminta melakukan komunikasi
secara sportif..
c. Penyampaian notisi audit atau temuan audit kepada
auditan untuk memeroleh tanggapan.
d. Pengendali teknis atau ketua tim tidak
mempermasalahkan siapa yang kalah atau siapa
yang menang.
TERIMA KASIH
WASSALAMUALAIKUM, WR WB

Anda mungkin juga menyukai