Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KEUANGAN FISKAL

Nama : Mega Edvriyanti Ningrum


NPM : 0227 1511 112
Matkul : Perencanaan Pajak
STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN
 Laporan keuangan fiskal adalah laporan keuangan
yang disusun sesuai peraturan perpajakan dan
digunakan untuk keperluan penghitungan pajak.
 Dalam kerangka dasar Standar Akuntansi
Keuangan (SAK) disebutkan bahwa tujuan laporan
keuangan adalah untuk menyediakan informasi
yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan
yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai
dalam pengambilan keputusan ekonomi.
PENGHASILAN
 Penghasilan (income) adalah penambahan aset atau
penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan
ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman
modal.
 Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari aktivitas
perusahaan yang biasa dikenal dengan berbagai sebutan
yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fees),
bunga, dividen, royalti, dan sewa.
 Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang
diterima atau yang dapat diterima. Jumlah pendapatan
yang timbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh
persetujuan antara perusahaan dengan pembeli atau
pengguna aset tersebut. Pada umumnya imbalan tersebut
berbentuk kas atau setara kas.
BIAYA
Biaya (cost) adalah semua pengurang terhadap
penghasilan. Sehubungan dengan periode akuntansi
pemanfaatan pengeluaran dipisahkan antara
pengeluaran atau belanja modal (capital expenditure)
yaitu pengeluaran yang memberikan manfaat lebih dari
satu periode akuntansi dan dicatat sebagai aset, dan
pengeluaran penghasilan (revenue expenditure) yaitu
pengeluaran yang hanya memberi manfaat untuk satu
periode akuntansi yang bersangkutan yang dicatat
sebagai beban.
PERATURAN PERPAJAKAN INDONESIA
• PENGHASILAN
Menurut Pasal 4 ayat (1) UU Pajak
Penghasilan, penghasilan adalah setiap
tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh WP, baik yang berasal
dari Indonesia maupun dari luar Indonesia,
yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk
menambah kekayaan WP yang bersangkutan,
dengan nama dan dalam bentuk apa pun.
• BIAYA
Biaya yang boleh dikurangkan dalam menghitung
penghasilan kena pajak sebagai berikut :
1. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan
dengan kegiatan usaha.
2. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta
berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk
memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai
masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun.
3. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan.
4. Kerugian karena penjualan atau penagihan harta yang
dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang
dimiliki untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan.
5. Kerugian dari selisih kurs mata uang asing.
6. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang
dilakukan di Indonesia.
7. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan.
8. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih, dengan
syarat.
9. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana
nasional yang ketentuannya diatur dengan peraturan
pemerintah.
10. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan
yang dilakukan di Indonesia yang ketentuannya diatur
dengan peraturan pemerintah.
11. Biaya pembangunan infrastruktur sosial yang
ketentuannya diatur dengan peraturan pemerintah.
12. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur
dengan peraturan pemerintah.
13. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang
ketentuannya diatur dengan peraturan pemerintah.
REKONSILIASI LAPORAN KEUANGAN AKUNTANSI
DENGAN LAPORAN KEUANGAN FISKAL

Adanya perbedaan pengakuan penghasilan dan biaya


antara akuntansi komersial dan fiskal menimbulkan
perbedaan dalam menghitung besarnya penghasilan kena
pajak. Perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan
kepentingan antara akuntansi komersial yang mendasarkan
laba pada konsep dasar akuntansi yaitu penandingan antara
pendapatan dengan biaya - biaya terkait (matching cost
against revenue), sedangkan dari segi fiskal tujuan
utamanya adalah penerimaan negara. Dalam penyusunan
laporan keuangan fiskal, wajib pajak harus mengacu kepada
peraturan perpajakan, sehingga laporan keuangan
komersial yang di buat berdasarkan SAK harus disesuaikan
atau dibuat koreksi fiskalnya terlebih dahulu sebelum
menghitung besarnya penghasilan kena pajak.
PENYEBAB PERBEDAAN AKUNTANSI PAJAK
DENGAN AKUNTANSI KOMERSIAL

• Adanya Pengeluaran / Beban yang Tidak Dapat


Dikurangkan dari Penghasilan Bruto (Dilakukan
Koreksi Fiskal Positif).
• Adanya Pendapatan yang Tidak Ditambahkan
dengan Penghasilan Lainnya (Dilakukan Koreksi
Fiskal Negatif).
• Adanya Transaksi yang Terutang Pajak, Namun
Tidak atau Belum Tercatat sebagai Penghasilan
yang Berkaitan dengan PPN ( Dilakukan Koreksi
Fiskal Positif).