Anda di halaman 1dari 11

PEMERIKSAAN DAN PENYIDIKAN PAJAK

Nama : Mega Edvriyanti Ningrum


NPM : 0227 1511 112
Matkul : Perencanaan Perpajakan
PEMERIKSAAN PAJAK
Sejak reformasi perpajakan tahun 1983,
sistem pemungutan pajak di Indonesia
berubah dari offical assessment menjadi self
assessment. Karena tujuan utama dari
pemeriksaan pajak adalah meningkatkan
kepatuhan (tax compliance), melalui upaya-
upaya penegakan hukum (law enforcement)
sehingga dapat meningkatkan penerimaan
pajak.
TUJUAN PEMERIKSAAN
• Tujuan pemeriksaan adalah sebagai berikut :
1. Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan WP dan untuk tujuan lain dalam
rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
a. SPT lebih bayar dan/atau rugi
b. SPT tidak disampaikan atau terlambat
c. SPT memenuhi kriteria yang ditentukan Dirjen Pajak untuk diperiksa
d. Adanya indikasi tidak dipenihi kewajiban-kewajiban selain kewajiban pada huruf b

2. Tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan


perpajakan. Pemeriksaan meliputi pemeriksaan yang dilakukan dalam rangka :
a. Pemberian atau pencabutan NPWP
b. Pemberian Pengukuhan Penghasilan Kena Pajak
c. Penentuan besarnya angsuran pajak suatu masa untuk WP baru
d. WP mengajukan keberatan dan banding
e. Pengumpulan bahan guna menyusun norma penghitungan
f. Pencocokan data dan/atau keterangan
g. Penentuan WP berlokasi di daerah tertentu
h. Penentuan satu atau lebih tempat terutang PPN dan atau PPh Pasal 21
i. Tujuan perpajakan lainnya selain a sampai h
HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN
DALAM PEMERIKSAAN
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah sebagai berikut .
1. Untuk keperluan pemeriksaan, petugas pemeriksa harus memiliki tanda pengenal pemeriksa dan
dilengkapi dengan Surat Perintah Pemeriksaan serta memperlihatkan kepada WP yang diperiksa.
2. WP yang diperiksa wajib
3. Buku, catatan, dan dokumen, serta data, informasi, dan keterangan lain wajib dipenuhi oleh WP
paling lama 1 (satu) bulan sejak permintaan disampaikan.
4. Dalam hal WP Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas tidak
memenuhi ketentuan di atas (No. 1) sehingga tidak dapat dihitung besarnya penghasilan kena
pajak, penghasilan kena pajak tersebut dapat dihitung secara jabatan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan.
5. Apabila dalam mengungkapkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen apabila dalam
mengungkapkan pembukuan, pencatatan, dan dokumen serta keterangan yang di minta, wajib
pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakan itu ditiaakan oleh permintaan untuk
keperluan pemeriksaan.
6. Dirjen pajak berwenang melakukan penyegelan tempat atau ruang tertentu serta barang
bergerak dan/atau tidak bergerak apabila wajib pajak tidak memenuhi kewajiban.
MEKANISME PEMERIKSAAN PAJAK
SEBAGAI TINDAKAN PENGAWASAN
• Mekanisme pemeriksaan pajak sebagai
tindakan pengawasan atas pelaksanaan sistem
self assessment, untuk menumbuhkan
kepatuhan wajib pajak pada dasarnya
merupakan rangkaian kegiatan yang berproses
secara terpadu, sehingga membentuk suatu
sistem yang khas dalam rangka mewujudkan
efektivitas dan efesiensi pemeriksaan.
RUANG LINGKUP PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan sederhana, yaitu pemeriksaan yang dilakukan
terhadap wajib pajak dalam rangka kerja sama operasi atau
konsorsium, untuk seluruh jenis pajak atau jenis-jenis pajak
tertentu, termasuk Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
(BPHTB), baik untuk masa pajak atau tahun berjalan dan/atau
masa pajak/tahun-tahun sebelumnya, yang dilaksanakan dengan
menerapkan teknik-teknik pemeriksaan dengan bobot kedalaman
yang sederhana.
2. Pemeriksaan Lengkap (PL), yaitu pemeriksaan yang dilakukan
terhadap wajib pajak dalam rangka kerjasama operasi atau
konsorsium, di lapangan dan di kantor unit pelaksana pemeriksaan
Pajak Lengkap, untuk seluruh jenis pajak, termasuk Bea perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan (BHTB), baik untuk tahun berjalan
dan/atau tahun-tahun sebelumnya, yaitu yang di laksanakan
dengan menerapkan teknik-teknik pemeriksaan pada umumnya.
JENIS DAN PRIORITAS PEMERIKSAAN
Jenis pemeriksaan antara lain sebagai berikut.
1. Pemeriksaan Rutin, yaitu pemeriksaan yang bersifat rutin dilakukan terhadap Wajib Pajak sehubungan dengan
pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak yang bersangkutan.
2. Pemeriksaan Khusus, yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak berkenaan dengan adanya
masalah dan/atau keterangan yang secara khusus berkaitan dengan Wajib Pajak yang bersangkutan.
3. Pemeriksaan Bukti Permulaan, yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak untuk mendapatkan
bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan.
4. Pemeriksaan Wajib Pajak Lokasi, yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap cabang, perwakilan, pabrik, atau
tempat usaha dari Wajib Pajak Domisili, yang lokasinya berada di luar wilayah kerja unit pelaksana pemeriksaan
Wajib Pajak Domisli.
5. Pemeriksaan Tahun Berjalan, yaitu pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang dilakukan dalam tahun berjalan
untuk jenis-jenis pajak tertentu dan untuk mengumpulkan data atau keterangan atas kewajiban pajak lainnya.
Prioritas pemeriksaan di tetapkan sebagai berikut.
1. Pemeriksaan rutin terhadap SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi atau Badan yang menyatakan lebih
bayar dan/atau SPT Tahunan pph pasal 21 yang menyatakan lebih bayar dan/atau SPT Masa PPN yang
menyatakan meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak.
2. Pemeriksaan Bukti Permulaan
3. Pemeriksaan Wajib Pajak Lokasi
4. pemeriksaan
JANGKA WAKTU PENYELESAIAN
PEMERIKSAAN
Jangka waktu penyelesaian pemeriksaan ditetapkan sebagai berikut.
1. PSK harus diselesaikan dalam jangka waktu 2 (dua) minggu, terhitung sejak saat
surat panggilan dikirimkan kepada Wajib Pajak.
2. PSL harus diselesaikan dalam jangka waktu 1 (satu) bulan, terhitung sejak saat
Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Pajak (Pemeriksaan Sederhana Lapangan) di
sampaikan kepada Wajib Pajak.
3. PL harus diselesaikan dalam jangka waktu 2 (dua) bulan, terhitung sejak saat
surat Pemberitahuan Pemeriksaan Pajak (Pemeriksaan Lengkap) di sampaikan
kepada Wajib Pajak.
4. PSK terhadap SPT Masa PPN yang menyatakan meminta pengembalian kelebihan
pembayaran pajak yang diajukan oleh pengusaha Kena Pajak Eksportir Tertentu
(PET) harus diselesaikan dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) hari, terhitung
sejak tanggal permohonan diterima, dan jangka waktu tersebut tidak dapat
diperpanjang.
5. PSL sehubungan dengan pelaksanaan pemeriksaan Wajib Pajak Lokasi harus
diselesaikan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari, terhitung sejak
tanggal Surat Perintah Pemeriksaan Pajak (SP3) Wajib Pajak Lokasi di terbitkan,
dan jangka waktu tersebut tidak dapat diperpanjang.
PEMERIKSAAN ULANG
Pelaksanaan Pemeriksaan Ulang diatur sebagai berikut.
1. Pemeriksaan ulang hanya dapat dilakukan berdasarkan instruksi atau persetujuan dirjen pajak.
2. Instruksi atau persetujuan dari dirjen Pajak untuk melaksanakan pemeriksaan ulang dapat
diberikan apabila:
a. Terdapat indikasi bahwa Wajib Pajak melakukan tindak pidana di bidang perpajakan;
b. Terdapat data baru dan data yang semula terungkap yang dapat mengakibatkan penambahan
pajak terutang;
c. Terdapat sebab-sebab lain berdasarkan instruksi Dirjen Pajak.
3. Sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) undang-undang Nomor
6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah
terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun2000, yang dimaksud dengan data baru
adalah data yang belum dilaporkan oleh Wajib Pajak dalam Surat Pemberitahuannya, sedangkan
data yang semula belum terungkap adalah data yang sudah dilaporkan oleh Wajib Pajak dalam
Surat Pemberitahuan namun tidak diungkapkan secara jelas.
4. Dalam kebijakan pemeriksaan tahun 2000, pemeriksaan ulang merupakan pemeriksaan Bukti
permulaan atau pemeriksaan ulang tersebut.
TATA CARA PEMERIKSAAN
Sesuai dengan Pasal 7 Keputusan Menteri Republik Indonesia Nomor: 625/KMK.04/1994 Tanggal 27 Desember 1994,
hak dan kewajiban Wajib Pajak dalam pemeriksaan pajak adalah sebagai berikut.
1. Dalam hal Pemeriksaan Lapangan (PL) dan Pemeriksaan Sederhana Lapangan (PSL), Wajib Pajak berhak meminta
kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Kartu Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan Surat Perintah
Pemeriksaan Pajak (SP3).
2. Wajib Pajak berhak meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan
pemeriksaan.
3. Wajib Pajak berhak meminta kepada Pemeriksa Pajak rincian yang berkenaan dengan hal-hal yang berbeda antara
hasil pemeriksaan dan Surat Pemberitahuan (SPT).
4. Dalam hal Pemeriksaan Sederhana Kantor (PSK), Wajib Pajak Wajib memenuhi panggilan untuk datang menghadiri
pemeriksaan sesuai dengan waktu yang ditentukan.
5. Dalam hal Pemeriksaan Lapangan (PL) dan Pemeriksaan Sederhana Lapangan (PSL), Wajib Pajak wajib
menandatangani Surat Pernyataan Persetujuan Wajib Pajak apabila seluruh hasil Pemeriksaannya disetujui.
6. Dalam hal Pemeriksaan Sederhana Lapangan (PSL), Wajib Pajak wajib menandatangani Berita Acara Hasil
Pemeriksaan apabila hasil pemeriksaan tersebut tidak atau tidak seluruhnya di setujui.
7. Wajib Pajak wajib memenuhi permintaan peminjaman buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen yang
diperlukan untuk Kelancaran pemeriksaan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak tanggal surat
permintaan dan apabila permintaan tersebut tidak dipenuhi oleh Wajib Pajak, maka jumlah Pajak dapat dihitung
secara jabatan.
8. Wajib Pajak wajib melaksanakan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 28, Pasal 29, dan Pasal 30 Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah
terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000